Sabtu, 02 Agustus 2014

[FF KRIS EXO] Defence Mechanisme

Defence Mechanisme
Author:  Mei F.D
Main cast :
Wu Yi Fan/ Kris EXO M
Min ah
Dennis Kane
Lee Hyuk Jae
Other cast

Length : oneshot
Genre : married life, family, romance, series.
PG : 15+

Hai author datang lagi dengan segala kegajean dari keluarganya Kris dan ditengah segala mcam pemikiran yang alay yang sedang melanda ini(?)  ._. 
Jangan lupa follow twitter ane :3 @meiokris
***
Author's POV
"Kris.. Dennis... Habiskan sarapannya dulu" teriak Minah dari dapur.
"Iya sayang. Sudah. Kami berangkat dulu ya. Dadah" Kris langsung menyambar roti yang dibuat Minah dan menandaskan segelas susu yang telah dibuat istrinya. Buru-buru disambarnya dasi dan langsung berlari ke pintu depan.
"Kayak ada yang kurang tapi apa yaa.." Kris langsung menghentikan langkahnya dan mengecek perlengkapannya untuk meeting hari ini. Berkas sudah siap di kantor, dasi juga sudah rapi, pakaian sudah siap. "Huh. Jam weker keparat. Sudah tau tadi malam bekas olahraga malam dan hari ini harus meeting masih saja tidak berbunyi" gerutunya seraya memutar kenop pintu.
Kris pun langsung kembali melangkah begitu dipikirnya semuanya telah siap. "Ah mungkin aku gugup karena ingin bertemu paman Sam yang dari Canada itu mungkin jadi aku seper......"
"Kris..." sebelum Kris menyelesaikan ucapannya, seseorang yang diyakininya bidadari pemilik hatinya itu memanggilnya dan membuat Kris dengan senang hati membuat gerakan memutar.
"Ya istriku. Apa kau mau...Hhaaaa...." Ia terkesiap begitu melihat seonggok. Bukan. Sesosok makhluk menggemaskan yang berada dalam gendongan istrinya tengah menatapnya sengit.
"Kau melupakan anakmu sendiri Kris" sindir Minah.
Buru-buru ia menguasai ekspresi keterkejutannya dan langsung terkekeh malu, “Hehehe, maaf sayang, aku kira kita belum punya anak” dipindahkannya Dennis dari gendongan Minah ke gendongannya.
“Yak! Sudah 4 tahun Dennis bersama kita dan kau masih melupakan anakmu sendiri?” cibir Minah.
“Tinju appa” tangan mungil Dennis langsung mendarat mulus di hidung mancung Kris.
“Aww...Aduh...Aduhh sakit” Kris pura-pura berteriak kesakitan akibat dipukul Dennis.
“Heh sayang tidak boleh begitu dengan appa” Minah mengelus tangan Dennis berusaha menghentikan kelancangan anaknya.
“Awas nanti hidung appa luka..” keluh Kris sambil mengelus-elus hidung mancungnya.

**

Kris’s POV
Huh hah.. huh hah... huh hah... Meeting di mulai 3 menit lagi dan aku harus cepat-cepat menemukan lift terdekat. Aku cepat-cepat berlari ke arah lift tanpa menghiraukan ucapan salam yang di lontarkan dari para pegawaiku.
“Tunggu sebentar” aku langsung berteriak saat pintu lift terdekat hampir menutup.
“Hahh...” aku menghembuskan napasku pelan dan mencoba menetralkan napasku yang masih ngos-ngosan karena berlari dari parkiran menuju ke lift.
“hhh... appa” aku terkesiap begitu melihat penghuni lift yang aku teriaki tadi adalah ayahku sendiri.
“Kenapa?” kening ayahku berkerut heran.
Aku memandang ayahku heran. Seorang mantan pemimpin perusahaan ikut datang ke tempat meeting? “Appa, kau mau ikut meeting?” tanyaku tak kalah heran.
“Meeting dengan Sam yang dari Canada itu? Astaga. meeting hari ini dibatalkan”
“MWOO???” aku menatap ayahku horor.
“Ya.. hari ini kita kedatangan Belinda Lee, sepupumu yang dari Canada itu. Jadi kubatalkan saja meeting hari ini” jawab ayahku kalem.
“Appa! Kau membatalkan meeting kepada seluruh klien penting tapi aku yang anakmu sendiri tidak kau kabari??” yah, terus aku capek-capek bangun pagi dan kesiangan ini hanya untuk menerima kabar pembatalan meeting?
“Untuk apa? Kau kan anakku” kata ayahku santai dengan wajah tanpa rasa berdosa sedikitpun.
Aiissshh, apa?? jangan mentang-mentang aku bukanlah ‘orang lain’ dan bukan orang penting dalam meeting kali ini bukan berarti aku diberikan pengecualian mengenai kabar pembatalan meeting ini. ini namanya diskriminasi.
Pintu lift pun terbuka perlahan bersamaan dengan munculnya sosok wanita anggun nan cantik yang tengah menyeringai jahat kepadaku.
“Be...Belinda....”
"Hah? makh..." sebelum aku menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba Belinda langsung meneriakiku.
"Kris Wu Faaaan" teriaknya.
Aku memutar bola mataku dan mendapati orang yang sedang kubicarakan menatapku, "apa?" sahutku malas. Gadis ini, selalu saja merecokiku kalau saja bertemu denganku.
"Lihat ayaaah, dia bahkan tidak membalas sapaanku dengan baik" rengeknya. Apa dia bilang? ayah?
"Wu Fan aah. bersikaplah lebih baik pada sepupumu" tegur ayahku.
"Setelah kedatangan dadakannya yang membuat meeting di tunda dan aku masih harus bersikap manis padanya? Siapa dia? Putri Presiden? Huh?!" protesku.
"Wu Fan-ahh.. kau jahat sekali, kau tidak merindukanku?!?!??!?" tanyanya lagi.
"Tidak" sahutku jujur, astaga gadis ini benar-benar tahan banting ya.
"Bahkan sekalipun juga tidak?" tanyanya lagi.
"Ya" jawabku sadis.
“Kau masih tidak berubah ya, masih cuek terhadap wanita” gerutunya.
“Iya”
"Padahal aku merindukanmu"
"Iya aku tahu" sahutku asal.
“Padahal aku tidak sabar bertemu denganmu”
“Iya aku tahu”
"Dan aku membawakan bayi ini untukmu"
"Iya aku ta.... APA???" Kulirik lengannya yang ternyata tengah memeluk seorang bayi berusia sekitar 6 bulanan.
"Rencananya aku mau bulan madu lagi dengan suamiku dan aku tidak yakin pengasuhku akan merawatnya dengan baik, kau tahu kan sekarang ini banyak sekali penculikan massal dan daripada aku takut anakku diculik, lebih baik aku menitipkannya saja padamu" jelasnya.
Aku mendengus. Anak? Lagi? Dennis yang berasal dari bibitku saja sudah membuatku kalang kabut menjaganya bagaimana dengan bayi ini? Aku melihatnya sekilas, bayi itu bergelung hangat di dalam gendongan Belinda yang kuyakini adalah ibunya.
"Berapa lama?" tanyaku lagi.
"Hanya 3 hari kok, kami hanya merayakan bulan madu dengan beberapa keluarga di sini setelah itu kami akan kembali ke Kanada"
“Hmmm..”
“Kau kan tidak datang saat pernikahanku, anggap aja ini merupakan penebus dosamu” ujarnya mantap.
“Kau juga tidak datang saat pernikahanku” protesku.
“Yah, kau tahulah, mencari cuti pada saat perkuliahan semester akhir itu sangat berbahaya, pokoknya kau harus menebus dosamu karena tidak datang ke pernikahanku” paksanya.
“Sejak kapan aku berdosa dengan wanita kelebihan hormon sepertimu?” gerutuku.
“Ayolah... kau tidak mau kan aku melakukan ini di hadapan istrimu” bisik Belinda yang mulai memainkan sebelah tangannya yang bebas untuk membelai dasi Kris.
“Jangan mencoba menggodaku Belinda...” desisku.
“Kenapa? Kita kan sepupu jauh, bahkan ayahpun takkan keberatan kalau kita menikah nanti, iya kan ayah??”
“Ap... apa??”
“Apa??” tantangnya lagi.
"Aiiishhh... kapan kau akan menitipkannya padaku?" tanyaku  lagi.
"Sekarang" jawabnya cepat.
"APA? Aku bahkan belum berbicara dengan istriku, bagaimana kau...aiiishhh"
"Tenang saja aku yang akan meminta izin kepada istrimu, tinggal kau antarkan aku saja kesana"
Ayahku langsung terkekeh mendengar perdebatan kami yang membuatku tersadar kalau ada ayahku yang menyaksikan perbuatan Belinda, "Antar saja, Belinda memang susah di kalahkan" ayahku menengahi. "Minah kan suka dengan anak kecil" tambah ayahku. Aiishhh, aku juga suka, sayangnya mereka kadang mengganggu aktivitas mesra-mesraanku dengan Minah.
"Tapi appa, membiarkan seorang Belinda bertemu dengan istriku itu bukanlah hal yang baik" protesku lagi. Mengingat Belinda pernah mengacaukan hidupku dengan mengaku-ngaku sebagai pacarku.
“Sudahlah, astaga Kris, iyakan saja permintaan sepupu jauhmu itu, hoho” sahut ayahku seraya berlalu dari hadapanku dan Belinda. “Mendengar anak muda bertengkar membuatku seperti muda kembali” ia mencelos.
“Kalau sepupuku tidak seekstrim ini sih aku takkan keberatan” gerutu Kris.
PLAKK!!
“YAAKK!!!”
“APAA!!”
“KAU INI!!”
PLAKK!!
**

Author’s POV
“Dennis, jangan dipetik dong bunganya nanti bunganya nangis” seorang wanita paruh baya meminta Dennis untuk tidak memetik bunga marigold yang baru saja mekar.
“Dennis tidak pernah melihat bunga lagi nangis” celotehnya.
“eh, bunganya nangis pas Dennis sudah pergi sayang, kasihan bunganya kan mau ngumpul sama teman-temannya” katanya lembut.
“Dennis juga temannya” bantah Dennis lagi.
“eh??” belum sempat wanita paruh baya itu menyahut, Minah sudah lebih dulu menyapa Dennis.
“Sayang, eomma datang” teriaknya dari kejauhan seraya merentangkan kedua tangannya.
“Dennis pulang dulu ya Bu, annyeong” pamit Dennis sambil membungkuk sebelum berlari mengejar Minah.
“Terima kasih Bu, sudah menjaga Dennis hari ini” sapa Minah yang berjalan mendekati wanita paruh baya itu, Ree Ni.
“Sudah sepantasnya bu, saya berlaku selayaknya guru TK yang menjaga anak-anak seperti anak saya sendiri.. Ngomong-ngomong kenapa ibu tidak datang pada saat pengambilan raport?” tanya Ree Ni.
“Hah? Memangnya hari ini ada acara pengambilan raport ya?” tanya Minah bingung, sementara Dennis yang sudah berada di dalam gendongan Minah mulai bergerak-gerak.
“Raport Dennis ada di dalam tas lho..” sahutnya senang.
“Iya bu, mungkin ibu lupa membaca pengumuman yang tertera di dekat gerbang sekolah.” Jelasnya.
Minah memasang raut wajah kecewa, “maafin eomma ya” bisiknya sambil mengelus punggung Dennis.
“es krrrrrrrriiiim” teriak Dennis sambil menunjuk-nunjuk depot es krim di seberang sekolah.
“hahhaha, Dennis semenjak bisa mengucapkan huruf ‘r’ jadi sering membanggakan dirinya karena teman-temannya tidak bisa mengucapkannya” puji Ree Ni.
“ahh ya, dia memang begitu” puji Minah tak kalah bangga kepada buah hatinya. Setelah berpamitan pun akhirnya Minah dan Dennis menuju ke sebuah depot es krim di perempatan jalan.
“Kenapa tidak di es krim yang tadi ma?” tanya Dennis.
“Hari ini eomma ingin bertemu dengan teman eomma” jelas Minah sambil menuntun Dennis ke sebuah pondok es krim yang bertuliskan ‘Baby Zee’
Minah dan Dennis pun berjalan masuk ke pondok es krim milik teman SMA-nya itu.
“Bang Min Ah-ssi” teriak seseorang saat Minah menyuruh Dennis untuk duduk di sebelahnya.
“Song Ah Ra” balas Minah berteriak sambil melambaikan tangan kanannya ke arah Ah Ra.
“Sudah lama sekali kau tidak mampir ke sini” Ahra memandang Minah takjub.
“Ahh. Aku sibuk mengurus rumah dan keluargaku” kilah Minah, “kau memang berbakat dalam memasak, lihat, kedai es krim ini bahkan sangat penuh” decak Minah kagum.
“omoo.. lihat jagoan ini, siapa namanya??” seru Ahra.
“Dennis auntiee” sapa Dennis riang sambil memamerkan gigi-giginya.
“Aku tak menyangka kau sekarang sudah menikah dengan penerus rumah sakit terkenal itu” Ahra menatap Minah nanar sementara Minah sedang sibuk memesan es krim untuknya dan Dennis, “maksudku, yaaa. Kau dulu orang susah dan dia... seorang presiden direktur yang ganteng itu mau-maunya dengan kau yang....” keningnya mengerut jijik.
“Wae?” tanya Minah bingung.
“Sebentar...” dikeluarkannya  cermin kecil yang menggantung di tasnya. “lihat.. lihat... wajah siapa ini? aigoo.. wajah wanita yang tampak menyedihkan”
“Omoo...”
“Lihatlah, kau tampak sangat menyedihkan untuk bisa dibilang seorang istri presiden direktur. Rambut lurus diikat, kau gunakan uang pemberian suamimu itu kemana saja? Huh? Ke salon lah, keritingkan rambutmu!! pakaian ini... astaga... kau sebut ini pakaian? Pakailah warna-warna cerah untuk pakaianmu, dan lihat tangan-tangan mungil ini yang seharusnya membelai suamimu mesra, dan kau.... astaga... kasar sekali” cerocos Ahra.
“Tapi Kris tak pernah mempermasalahkan pakaianku” sela Minah pelan. Dalam hatinya ia merasa sedikit terluka dengan komentar dari temannya.
“Karena dia terlalu malu untuk mengakui istrinya yang menyedihkan. Asal kau tahu saja ya Minah, wajahmu pun sudah tidak mendukung, maksudku kau tidak cantik, pipi bakpao itu? Kau sudah menentang operasi plastik sejak SMA tapi kau tidak belajar membenahi dirimu sendiri..ckck” decak Ahra, “Kau lihat.. kalung mutiara ini.. suamiku yang pegawai negeri saja mampu membelikannya untukku” pamer Ahra.
Minah tampak berpikir ulang beberapa kali, ia terlihat termenung sambil memakan es krimnya tanpa menyadari Dennis yang sudah menghabiskan es krimnya dan turut memakan es krim eommanya.
“Bawalah majalah ini jika kau membutuhkannya. Bukannya aku bermaksud menghinamu, yah kau tahu kan penguatan negatif yang membuat perubahan pada diri seseorang. Kau itu wanita dewasa. Sudah sepantasnya kau membahagiakan suamimu. Lihatlah mantan suaminya Minjung. Mereka berpisah karena Minjung lebih senang mengenakan celana pendek daripada rok.” Disodorkannya majalah fashion kepada Minah, “jangan sampai orang mengira kau kerja rodi untuk suamimu” ditepuknya bahu Minah perlahan.
**
Kris’s POV
"Gendong bayinya dulu Kris, baru jalan..aku lagi mengambil botol susu!" teriak Belinda saat kami turun dari mobil dan berjalan menuju ke pekarangan rumahku, sementara Deas-anak Belinda- masih tertidur pulas dalam gendonganku.
"Aisshhh kau itu yang merepotkan" gerutuku pelan sambil memasuki pekarangan.
"Anggap saja dia anakmu biar tak merepotkan!" bentak Belinda lagi.
"Astagaaa... Keras kepala sekali yaa!!" teriakku frustasi. Benar-benar ya punya sepupu pemaksa seperti Belinda memang membuat umurku semakin pendek karena melihatnya saja ingin membuatku balas meneriakinya, dan ayah sempat berpikir untuk menjodohkan kami berdua? biar kupastikan rumah kami akan hancur berantakan karena sifat kami bersatu.
"Omooo... Omooo Deasku sayang, kamu kaget ya mendengar bentakan ayahmu?" bisiknya sambil mengusap-usap kepala Deas yang terisak pelan dalam gendonganku.
"Ayah kamu bilaang???"
Krrrieeettt... Pintu rumahpun terbuka dan pertengkaranku bersama Belinda langsung terhenti.
"Sayang.."pekikku begitu melihat Minah yang membukakan pintu untukku dan Belinda.
"Ayah?" ulang Minah lagi dengan wajah tanpa ekspresi.
Bukannya minta maaf, Belinda semakin menjadi-jadi, "Hi aku Belinda. Sepupu jauhnya Kris yang dulu ingin dijodohkan ayahnya Kris denganku. Kau pasti istrinya ya...emmm"
Apa?? seenaknya saja dia membuka aib keluarga di hadapan istriku terseksi, "Belinda!!" bentakku. "Apa yang..."
"Minah.. Bang Minah itu namaku" potong Minah cepat. Uwaaa, aku merasakan aura tidak enak yang menguar dari tubuh istri bohayku.
"Naahh.. Pasti istrimu tak keberatan kan kalau aku menitipkan anak ini padanya?" Ucap Belinda tanpa basa-basi."eh anak siapa ini?? gantengnyaaa... " Ditatapnya Dennis yang tengah bersembunyi dibalik kaki Minah.
"Anakku" jawabku cepat.
"Hii sayang. Ini Aunti Belinda.." lambainya pada Dennis. "Nah. Anakmu kan sudah besar, tentu sudah tidak begitu diawasi lagi kan.." ditatapnya aku dengan pandangan mencela, aku berani bertaruh dia takkan membiarkanku menjadikan Dennis sebagai alasanku untuk menolaknya. Oh ayolah Minah sayang, tolong aku...
Aku langsung menyela ucapan Belinda, "Kau bahkan belum meminta persetujuan dari..."
"Aku setuju." Jawab Minah cepat, diraihnya Deas dari gendonganku."kalian bersenang-senang saja" tambahnya lagi sambil menyunggingkan senyum yang kuyakini adalah senyum palsu, oalah, masalah baru (x.x)
"Bukan aku yang mau bersenang-senang Min.. Tapi Belinda dengan suaminya" bantahku sebelum kemarahan dan kecemburuan istriku semakin menggebu-gebu.
Tiba-tiba ponsel Belinda berbunyi......
"Ya halo sayang?" sapa Belinda begitu melihat layar smartphonenya.
“.....”
 "What?"
“......”
"Aku nggak ngerti dan ga ada urusan sama perusahaan dan klien watdepakmu itu sayang... pokoknya aku mau....."
“.....”
"tapi....."
“.......”
"Okok bye."
“......”
"love u more."
"Suamiku tidak jadi datang" kata Belinda begitu ia mematikan teleponnya.
Apa dia bilang? Tidak jadi datang? Watdahell!! "Mwoooo? Kau bilang suamimu ada di sini" protesku langsung.
"Aku hanya bilang akan berbulan madu dengan suamiku, sayang. Berhubung dia tidak bisa datang jadi kau yang harus menemaniku atas dasar sepupu."
“sepupu gundulmu....” aku langsung menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal itu.
"Apa yang terjadi?" kali ini Minah yang berbicara. Aku langsung membuat tatapan memelas padanya.
"Jadwal meeting dadakan. Biasalah" ujar Belinda sambil mengangkat bahunya.
"Aku.takkan.sudi.menemanimu.Belinda" sengaja kutekan nada bicaraku saat mengucapkan kalimat itu.
"Ayolah hanya 2 hari sayang. Istrimu pasti takkan keberatan kan?" diliriknya Minah yang sedari tadi membisu menyaksikan pertengkaran kami berdua yang berlangsung di depan rumahku ini.
"Belin...."
"Ya halo Ayah? Ini Wufan tidak mau menemaniku.... Suamiku ada meeting dadakan ayah dan aku sudah terlanjur kesini.....”
Apa? dia menelpon ayahku? Demi Tuhan tolong segera lenyapkan wanita biadab di depanku ini. aku langsung mengisyaratkan Belinda untuk menutup teleponnya.
“Ohiya yah jadi aku harus kembali lusa ya? Oke ayah. Tolong kosongkan semua agenda Wufan untuk 2 hari ke depan.. "
"Belindaa!!" desisku tertahan.
"Okee Ayah. Pastikan dia akan sengsara kalau memaksakan diri untuk kerja. Love you"
"Aiishhh" aku mengacak-acak rambutku frustasi.
"Jangan remehkan seorang Belinda" bisiknya di dekat kupingku.
"Kau tidak keberatan kan kalau suamimu kupinjam 2 hari wahai kakak ipar?" tunjuknya ke arah Minah dengan semena-menanya.
"Pinjam saja sesukamu, asal dikembalikan saja." Sahut Minah sembari menyunggingkan senyum ramahnya, tapi dapat kutangkap maksud kata-katanya itu. " lagipula aku takkan sendirian kan. Ada Dennis dan Deas" lanjutnya.
"Hahhaha jelas saja. Aku menitipkan Deas agar bisa menghiburm....awww"
"Berhenti mengoceh Belinda. Kajja..." seretku pada lengan Belinda.
"Mommi pergi dulu sayang" dikecup Belinda puncak kepala Deas yang masih tertidur pulas.
"aku pergi dulu" pamitku pada Minah.
"Yeah" sahut Minah.
"Kiccu?" godaku sambil memonyongkan bibirku.
"No kiccu!!" jeblaaakk... Didorongnya wajahku dan langsung berbalik masuk ke dalam rumah.
“hhhhh... sayaaang...” aku meringis pelan sambil mengusap wajahku pelan.
"Hu...kejam sekali istrimu" cibir Belinda.
"Lebih baik punya istri yang kejam daripada dekat-dekat dengan wanita kelebihan hormon yang pemaksa sepertimu" cibirku.
"Terimalah takdirmu punya sepupu cantik sepertiku Kris Wu Fan." Dibuatnya gerakan menepuk pada bahuku.
"Haaahh...semoga hari ini dan hari besok cepat berakhir" doaku.
"Aku bisa dengar itu WuFan"
"Dasar wanita setan" gerutuku.
"Aku iblis sayang. Muah:*"
"Iyeeekkk...jauhkan bibir beracunmu dari pipiku!!"

---

Minah’s POV

"Haaahh..." Aku menghela napas panjang. Usai memberikan susu formula pada Deas aku langsung menidurkannya. Kasihan anak ini.. Baru 6 bulan tapi sudah diberikan susu formula. Sedangkan Dennis sewaktu kecil lebih banyak kuberi ASI.
"Eomma.. Dennis mau tidur dipangku eomma" rengek Dennis saat aku masih sibuk menimang Deas.
"Ssttt.. Dedek Deas lagi tidur, nanti kalau Dennis tidur di sini dedeknya bangun.. Tidur di kamar sayang" pintaku sambil mengusap kepalanya pelan.
"Ihh. nggak jadi. Dennis mau main dengan eomma saja" ia mulai menggesek-gesekkan badannya padaku. Aigoo~~ anak ini manjanyaa.
"Mana bisa sayang. Eomma lagi gendong Deas" sahutku lagi.
Dennis langsung mencibir dan langsung meninggalkanku masuk ke kamar.
"Haahh... Anak itu...” keluhku.
"Bu..bu...bu..." Deas kembali berceloteh dan mulai menggapai-gapai benda di dekatnya. Aku pun langsung membawanya ke ayunan.
"Darling. Mommy datang."teriak seseorang yang kuyakini adalah Belinda.
"Berisik sekali kau ini. Kau kira istriku tuli ha sampai diteriaki begitu?" kali ini pasti suara Kris.
"Aku memanggil Deas, sayang. For your information."
"Berhenti memanggilku dengan ucapan menjijikan itu. Ini sudah di rumah."
Deg. Ini sudah di rumah? Maksudnya apa? Jadi kalau di luar rumah Belinda bisa memanggil suamiku sesuka hatinya? Buru-buru aku menggendong Deas dan berjalan menuju ke ruang tamu.
"Ooh jadi kau mau kupanggil sayang di luar rumah?"
"You know me right, Belinda." sahut Kris dingin.
"Ehm." aku berdehem pelan menandakan aku sudah mendengar semuanya.
"Hai Minah. Thanks ya sudah menjaga Deas dengan baik. Aku tau kau ibu yang baik." pujinya sambil memindahkan Deas dari gendonganku dan beralih menggendong Deas. Aku tersenyum tipis.
Sementara Kris hanya tersenyum kaku melihatku dan Belinda.
"Sayang. Aku harus mengantar Belinda dan Deas ke bandara dulu." pamitnya kikuk.
Aku tersenyum hangat sambil mengangguk pelan. Yah. Sudah saatnya aku mendewasakan diri di usiaku ini. Mereka saudara sepupu dan untuk apa aku meresahkan suamiku sendiri?
Timbulnya rasa resah itu menumbuhkan bibit ketidakpercayaan pada pasangan. Batinku. Aku sudah cukup matang untuk tidak menyulut api pertengkaran dengan Kris. Aku tahu ia setia, bahkan aku dapat melihat kilat kekhawatiran saat melihat Belinda berbicara denganku.
Tapi.... Apa memang itu kekhawatiran untukku? Atau bahkan karena takut rahasianya dan Belinda kuketahui? Ah. Sejujurnya hatiku tak bisa sepenuhnya tenang....

-----
Kris’s POV
"Belinda sialan. Sialan. Argh." rutukku sambil berjalan memasuki rumahku. Bagaimana bisa dia menjadi cewek yang sangat menyebalkan? Luar biasa menyebalkannya. Sudah menyeretku ke sana kemari. Belanja gila-gilaan. Minta di bayari pula. Sepupu kurang ajar.
Aku bahkan masih ingat ucapan perpisahannya padaku tadi siang.
"See you next yearrrr yeaahh." teriaknya riang.
"Yeah." sahutku sambil melambaikan tangan padanya. Never. Sambungku dalam hati. Next year dia bilang? Kau pikir aku sudi menampung wanita dengan isi otak sebusuk dia? Cih. Mimpi saja. Aku bahkan mati-matian menjaga istriku takut kalau-kalau ia tersinggung dengan ucapan Belinda yang kadang tidak terkontrol itu. Ah.. Meskipun ku maki pun ia pasti akan menuli. Ckck.
Buru-buru kubuka kancing kemejaku dan melonggarkan jam tanganku. Sudah jam 11. See?
Waktu berhargaku di kantor tersita dengan alasan urusan keluarga yang sama sekali tidak menguntungkan bagi diriku. Kalau tidak mengingat ini adalah titah orang tua mungkin aku sudah membiarkan Belinda berjalan sendirian dan membiarkan ia membusuk di kubangan.
Usai membersihkan diri aku pun langsung menuju ke kamarku dan Minah. Kubuka perlahan pintu kamar dan menutupnya kembali. Ku lihat Minah bergelung hangat di atas tempat tidurku dengan baju tidur berwarna pink pucat dengan tali spageti. Tahi lalat di lengannya pun nampak jelas diantara kulit putih meronanya yang terlihat bersinar di bawah pantulan lampu kamar.
Haaaah. Ada apa denganku sih. Kenapa menatap Minah dengan pandangan horor seperti ini? Seperti penjahat yang ingin memerawani anak gadis saja ckck. Boro-boro Minah masih perawan. Sudah keluar anak gajah macam Dennis begitu dan sudah sering tertusuk rudalku pula...ckckck.
Aku mendekatinya dan merebahkan tubuhku di sampingnya. Kulit seputih susu dan tubuh pendek ini.. Sudah pendek. Bantet. Pipinya berisi begini lagi. Kekehku sambil mengecup sudut bibirnya.
Meskipun Minahku tidak secantik. Seseksi atau sepintar perawat-perawat di rumah sakitku. Tetap saja aku mencintainya dari segi kekurangannya.
Mencintai kelebihan orang lain itu menyenangkan. Tapi kalau kau berhasil mencintai kekurangannya, itu akan terlihat jauh lebih menyenangkan daripada hanya melihat kelebihannya saja.
Oke katakanlah aku gila karena mencintai gadis yang mungkin belum tentu menarik di mata orang lain.
Hanya saja.. Menyenangkan melihat kekurangannya dan kekurangan itulah yang menjadikan hidupku sempurna.
Aku tersenyum sambil mengelus pelan pipi gendutnya. Pelan menuruni lehernya dan.....
Ah.. Kenapa aku harus melihat gundukan kenyal itu??? Aku mengerang frustasi dan buru-buru mengalihkan pandanganku.
Kutarik nafasku dan kuhembuskan perlahan. Yah. Aku.tidak.mungkin.memerkosa.wanita.yang.sedang.tidur.
Kubuka pelan celanaku. "Hai burung. Tidurlah. Ini sudah malam. Sangkar emasmu sudah terkunci jadi kau tidak bisa menghangatkan diri." ingatku.
"Engggghhh.. Engghhh..." Minah menggeliat pelan dan merapatkan tubuhnya padaku.
Omo! Omo! Bahkan dalam tidurnya pun ia berusaha menggodaku. Aku mengerang frustasi dan melihat ke dalam celanaku dengan burung yang siap tempur.
"Mungkin ini hukumanku karena meninggalkan istriku sendiri." keluhku frustasi.
"Enggg... Kris....hhh..." Minah mengigau dan kali ini aku melihat sebutir air bening yang mengalir di sudut matanya.
Jadi? Ia tidak sedang berusaha menggodaku? Ia menangis dalam tidurnya sambil memanggil namaku? Kenapa?
"Min.." aku mengelus pipinya dan menghapus airmatanya pelan.
"Kris...." ia kembali memanggil namaku dan menggeliat pelan.
Aku memegang dahinya dan dapat kulihat dengan jelas bulir-bulir keringat di dahinya.
“Sayang. Kamu kenapa?” tanyaku bingung dan akhirnya memutuskan untuk mendekapnya sepanjang malam.
***
Esok paginya...
“Dennisss... mandi dulu!!!” teriak seseorang yang sudah menjadi jam wekerku setiap pagi.
“Appa...” seseorang mulai mengelus-elus kupinngku.
“Hmmmm...” sahutku tak bergerak dari posisi awalku.
“Appa, beruang yang jadi temen Dennis ngompol lagi” lapornya.
“Hmmmm...” sahutku malas lagi. Dasar anak kecil, sejak kapan ada boneka ngompol? Gerutuku dalam hati.
“Appa, ini apa?” tanya Dennis sambil mengguncang-guncang pundakku.
“Hmm.,” aku membuka mataku malas dan melihat apa yang sedang ditanyakan anakku itu, ehh?? Pembalut? “huh? Dapat dari mana itu?” tanyaku kaget.
“Di sini” jawab Dennis polos sambil menunjuk laci dekat tempat tidurku, “ehm.. itu kalau eomma ngompol pakai itu.”sahutku pelan dan langsung merebut pembalut itu dari hadapannya.
“Dennis juga ngompol Appa, Dennis mau pakai itu juga.” Rengeknya.
“Ngompol? Lagi?” tatapku tak percaya, sementara Dennis mengangguk pasti.
“Appa nggak pakai itu juga?”
“Appa sudah besar tidak pakai itu.” Sahutku asal.
“Eomma juga sudah besar.” Protesnya.
“ehm... itu... karena....”
“DENNIS! KRIS! BANGUN DAN MANDI!!” teriak sebuah suara yang langsung diiringi oleh sahutan dan makian yang membuat pagiku jadi sangat menyenangkan!
***
Aku berjalan pelan di koridor belakang rumah sakit dan berhenti untuk memberikan makan ikan mas koki di tamannya.
“Wu Fan, ada istrimu tuh.” Sapa seseorang yang kukenal sebagai pemburu wanita, Hyuk Jae. Hah? Minah? Jangan bilang dia datang ke sini karena ingin menanyakan sesuatu padaku?
“Hah?” buru-buru aku pergi meninggalkan koridor rumah sakit bersama dengan Hyuk Jae hyung yang menyedihkan itu kalau saja ia tidak mencegahku dengan memegang pundakku lagi.
“hahaha, kidding. You know kidding, yeaahh~ kidding beybehh.” Cegahnya yang langsung kuhadiahi dengan pukulan di belakang kepalanya.
“Padahal jantungku sudah mau keluar saking gugupnya,” kupukul kepalanya, “dan kau malah menipuku.” Kupukul lagi kepalanya dan kali ini lebih menyakitkan daripada dua pukulan sebelumnya.
“Wu Fan!” teriaknya tak terima, “Aku hanya sedikit bercanda dan kau malah menghadiahiku benjolan.”
Aku mendengus kesal.
“ohh, oke, aku tahu sepertinya sang pangeran dari rumah sakit ini sedang gundah gulana, secangkir kopi panas dan pelayan cantik cukuplah untuk bisa berkonsultasi dengan pakar percintaan, Lee Hyuk Jae.” Sarannya sambil menaik-turunkan alisnya.

Dan di sinilah aku dengan Hyuk Jae hyung keparat yang tengah sibuk menggoda pelayan di rumah sakit.
“Hyung, kalau aku datang ke sini mentraktirmu dan hanya sibuk melihat pemandangan menjijikan antara kau dengan para pelayan itu, lebih baik aku pergi.” Ancamku.
“Wow, calm down. Aku sedang mencoba menjernihkan otakku agar bisa memberikan solusi yang pas untuk Presiden Direktur kita ini.” sahutnya menyebalkan.
“cih, menjernihkan otak pantatmu!” tatapku gemas.
“Ah, oke baiklah. Kali ini aku akan serius,” ia membuat gerakan tangan mengusir kepada para pelayan yang mengelilinginya, “jadi, apa yang membuatmu gundah?”
“Anakku ngompol lagi dan istriku terlihat sedang ‘baik-baik’ saja.” Sahutku mencoba memberikan clue padanya.
Dan Hyuk Jae keparat tidak mengerti dengan maksudku. Padahal ia cukup pintar karena berhasil masuk ke dalam rumah sakitku dan bisa bekerja di sini. Memang sekali keparat tetaplah keparat.
“Maksudmu? Anakmu kan memang masih kecil dan wajar kalau mengompol lagi.” ia menatapku dengan tatapan yang membuatku ingin menusukkan garpu atau benda tajam lainnya ke dalam matanya.
“Seingatku anak kecil yang sudah berhenti mengompol tidak mengompol lagi, kalaupun ada, paling hanya sekali dua kali sedangkan Dennis sudah hampir setiap hari dan terhitung ini sudah hari ke empat ia kembali mengompol.” Jelasku mencoba untuk meredamkan emosiku yang sudah mulai naik melihat lawan bicaraku setengil ini.
“Oh, Oke baiklah lupakan sebentar masalah Dennis, Minah.... hmmm.. apa yang salah dengan istrimu yang baik-baik saja? Maksudmu, kau ingin dia cemburu dan bertindak berlebihan karena kepergianmu dengan Belinda?”
Aku terdiam. Apa ini puncak permasalahannya?
Apakah perilaku Minah dan Dennis hanya masalah normal?
Mereka sedang tidak baik-baik saja atau aku yang terlalu berlebihan?
Di cemburui? Aku bahkan ingin menertawakan satu kata itu. Cemburu? Ya. Kata biasa yang bahkan definisinya sudah tercantum dalam kamus umum di dunia, namun perilaku orang yang sedang mengalami perasaan ini dapat membuatnya bertingkah irasional.
Apa aku ingin Minah cemburu karena pergi bersama Belinda?
“Tapi entah kenapa aku merasa ia tidak sedang baik-baik saja,” Keluhku lesu. “kemarin malam aku mendapatinya tengah mengigau memanggil namaku sambil menangis, dan bahkan ia tidak menceritakan perihal mimpinya padaku. Aku yakin ada hal yang ia sembunyikan.” Bahuku terkulai sayu saking tidak semangatnya. Ckckck.
“Sebentar, biar aku berpikir. Rasanya aku pernah menonton masalah ini dalam sebuah drama. Iya, drama yang sedang... BOOM!!” ia membuat gerakan berlebihan dengan ucapannya itu.
“Kalau kau ingin memberikan solusi dengan berpatokan drama melankolis dan menjijikan, lebih baik kau tidak usah menampakkan batang hidungmu lagi di depanku.”
“Bukan, aku yakin di drama itu ada sesuatu yang membuatku merasa ada sangkut pautnya dengan masalahmu.” Hyuk Jae masih tetap ngotot dan berusaha mengingat sambil memejamkan kedua matanya.
“Cih. Aku tidak sudi kalau masalah rumah tanggaku----“
“Diamlah, seorang pakar tidak bisa berpikir jernih kalau pasien sepertimu terus-terusan membeo.” Keluhnya.
Aku mencibir kesal dan memutuskan untuk menyesap kopiku menunggu ide dari Hyuk Jae. Kalau kau bertanya kenapa selama ini aku hanya bercerita masalah rumah tanggaku pada Hyuk Jae hyung ataupun ibuku, itu karena mereka sudah mengenalku luar dalam tentang sifatku yang suka mengancam dan tidak sabaran ini. Setidaknya, aku tidak perlu repot-repot berkoar meminta untuk di mengerti kan karena pada dasarnya mereka sudah memaklumiku.
-----
Author’s POV
Minah merasakan tempat tidur di sebelahnya terasa berat. Ia memejamkan matanya dan mencoba berpura-pura tidur.
“Aku tahu kamu masih belum tidur sayang. Nafasmu tidak teratur begitu.” Bisik Kris geli.
Minah masih tidak bergerak dari posisi awalnya dan mencoba untuk membuat nafasnya teratur.
“Semakin kau mencoba menteraturkan nafasmu, itu semakin membuatku yakin kau sedang mendengar ucapanku sayang.” Godanya lagi.
“Aku tidak mood bermesra-mesraan denganmu Kris.” Sahut Minah malas.
“Kenapa? Karena ranjang dingin tanpaku?”
“Kriss...” mau tak mau Minah tersenyum juga dan memukul dada Kris pelan. “mau membicarakan apa?”
“Hmmm...,” Kris menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal, “anak mungkin.”
“Huh?” kening Minah berkerut dan Kris dapat melihatnya karena posisi kepala Minah yang menempel di dada bidangnya.
Hhh. Kenapa semakin diperlakukan Kris seperti ini dadaku terasa semakin sesak? Batin Minah.
“Maksudku, Dennis kembali mengompol itu karena masalah perasaannya.” Jelas Kris yang makin membuat Minah bingung. Perasaan? Apa hubungannya perasaan dengan mengompol?”
“Ya, Mekanisme pertahanan diri. Dennis mengompol karena tidak rela kasih sayangmu terbagi dengan Deas mungkin?” tebaknya.
“Aku...tidak mengerti...”
“Hmm, semacam menunjukkan proses tak sadar yang melindungi si individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan. Semacam proses penipuan diri begitu lah.” Kris terlihat menggaruk-garuk kepalanya mencoba mencari kata yang pas, “jadi, si Dennis mungkin cemas dengan keadaan Deas yang tiba-tiba datang dan langsung merebut perhatianmu darinya, makanya ia kembali ke perilaku awalnya agar dia tidak diperlakukan seperti orang yang lebih dewasa daripada Deas.”
Penipuan diri? Lari dari kenyataan? Berusaha menipu diri atas kenyataan yang sedang terjadi?
Sekelebat pertanyaan yang membuatnya tidak nyaman adalah, “apakah aku benar-benar jadi satu-satunya di hatimu? Bukan salah satunya?”
Dan pertanyaan itu terpaksa ditutupi dengan pernyataan ‘aku baik-baik saja’ namun pada kenyataannya, ‘aku tidak sedang baik-baik saja’
Apakah itu juga termasuk mekanisme pertahanan diri?
Dan panah itu pun menusuk Minah, tepat di jantung hatinya.
“Aku... aku....” Minah bergerak tidak nyaman.
“Kupikir kau sedang berusaha menipu dirimu sendiri dengan bersikap seolah kau baik-baik saja padahal kenyataannya tidak begitu kan?” Kris membuat Minah menatapnya dengan pandangan menusuk yang membuat Minah kehilangan kata-kata.
“Kau cemburu kan melihatku dengan Belinda sama seperti kau cemburu melihat Jessica?” Kris mengangkat dagu Minah dan menyeringai.
Minah menelan ludah dengan susah payah dan berusaha mengumpulkan kata-kata yang berceceran di benaknya.
“Darimana kau tahu?” akhirnya. Hanya pertanyaan itu yang bisa ia keluarkan.
“Bibir mungkin bisa berbohong, ekspresi mungkin bisa di manipulasi. Gerak tubuh bisa di samarkan. Tapi hati? Hati kamu sedang tidak baik-baik saja dan alam bawah sadarmu menyampaikannya padaku. Kau memimpikanku sambil menangis, sayang” diusap Kris pipi Minah pelan, “alam bawah sadar tidak bisa berbohong, Minah.”
“aku....” Minah terisak pelan, “aku hanya tidak ingin terlalu kekanak-kanakan.” Akhirnya airmatanya tumpah juga. Minah tergugu di depan Kris. Hatinya terasa sesak karena ia terus menahan airmata yang sudah lama siap untuk dikeluarkan. Pertahanannya hancur seketika. Ia luluh di samping suami yang amat dicintainya.
Kris sudah berhasil menohoknya. Tepat sasaran. Dan seketika hatinya terasa kosong karena beban yang sudah ia tampung beberapa hari ini sudah keluar juga.
“Aku tidak menganggapmu kekanak-kanakan, semua orang punya cara tersendiri untuk mengekspresikan sifatnya. Aku hanya minta kau lebih transparan padaku, Minah.”
Minah mengangguk pelan, diusapnya airmatanya sudah tumpah kemana-mana dan dengan lancangnya membasahi baju tidur Kris.
“Dalam pernikahan pasti ada suka dan duka, dan aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyakitimu karena dalam setiap pernikahan itu ada kalanya kita saling menyakiti. Tapi selama komitmen ini masih kuat dalam diri kita masing-masing, aku rasa kita bisa saling menjaga diri.” Dikecupnya puncak hidung Minah yang berwarna merah bekas menangis.
“Tapi aku tidak secantik Belinda ataupun Jessica, dan temanku mengatakan kau bisa bosan dengan penampilanku yang seperti ini.”
“ehm,” Kris berdehem, “kau sendiri? Apa kau bosan melihatku setiap hari bolak-balik di depanmu hanya mengenakan baju tanpa lengan, ataupun boxer berwarna-warni dan pulang kerja dengan keringat dan bau tubuh di mana-mana? Apa kau bosan?”
Minah menggeleng dan memeluk tubuh Kris yang terasa pas di lengannya, “aku tidak pernah bosan meskipun kau bau, mesum, dan menyebalkan.”
Kris pun tersenyum puas dan mencium puncak kepala Minah, “begitupun juga denganku, karena aku sudah tak bisa melihatmu dengan mata lagi, tapi dengan hati.”

==THE END==

WOOO~~  TAMAT WOO AKHIRNYA~~ HAHAHA. Njir gue galau nulis partnya, pingin punya suami kaya Kris. Hahaha mati aja lah. Sampai jumpa disekuel gue berikutnya :*

Jumat, 16 Mei 2014

Jangan naksir orang baik!

mungkin para reader bertanya-tanya ya dengan judul saya yang satu ini, ya karena emang gitu kenyataannya. saya ini lagi galau masalah percintaan saya yang emang gak pernah ada ujungnya, dimulai dari kisah percintaan saya yang awal masuk kuliah yang naksir cowok badboy itu.
ya susah lah emang pada dasarnya saya itu cewek baik-baik dan belum pernah terjamah pria tapi suka menjamah pria /ini apa/ jadi saya tidak bisa mengikuti pola pikirnya dan tindak tanduknya, jadi kami gak berjodoh, begitu kata saya yang akhirnya mulai berusaha move on dengan lelaki-lelaki ganteng sebagai objek cuci mata saya.
ternyata akhir-akhir ini saya dekat dengan cowok, sebut saja nama inisialnya E, nah si E ini aduh jadi cowok malaikat banget, udah ganteng baik ramah perhatian aduuh seribu kali aduh, suamiable banget, saya mah rela lahir batin kalau jodoh sama dia, hehehe.
kebetulan dia cuma temen saya kok tapi ya saya gabisa menutup kemungkinan kalau tiba-tiba dia ngelamar saya /teman macam apa ini/, ya niat saya sih pengennya saya dengan dia mau membuka lembaran baru, alias saya mencoba setia (ketauan gak setianya) dan dia juga bisa move on dari mantannya.
tapi itu cuma dalam mimpi ya reader, setelah kencan kami yang sangat menyenangkan itu ternyata dia curhat dengan teman saya kalau dia naksir cewek padahal mereka cuman bertemu 60 detik. gak ngerti? yaudah saya juga gak paham sama jalan ceritanya.
intinya dia lagi naksir cewek 60 detiknya itu, miris kan. tapi doa saya semoga dibelahan bumi sana ada cowok ganteng dan sebaik dan sesuamiable kayak si E ini yang jatuh cinta hanya karena memandang saya selama 5 detik /plak/
jodoh siapa tau, lagian saya dengan dia cuma berteman yang kadang saya agak sedikit berharap teman itu bisa naik pangkat (?)

oke baiklah, itu sisi luar kampus saya/?
nah di dalam kampus saya juga naksir seseorang. errr sebetulnya ini tidak sengaja. jadi ya karena saya suka iseng gitu jahilin teman yang kebetulan naksir kaka tingkat yang berinisial A, saya pun dengan songongnya ngeinbox si A itu dan basa basi, daaaan, akhirnya kita berteman, selama beberapa bulan berselang saya masih biasa aja dengan kakak A ini, yaaah walaupun kadang rada geer juga sama kakak nya karena kakaknya tuh baik banget, perhatian juga, suamiable juga dan parahnya dia yang ngerawat aku ketika aku lagi sakit, so sweet kan... tapi saya biasa aja.
cuma karena suatu insiden, karena saya ngerasa songong dan sombong itu buat pamer dengan teman saya itu, saya pun memberanikan diri menyapa kakak A itu dengan SKSDnya, tau gak reader, dari dekat ternyata kakak nya itu... maniiiiiiiiiiiiiiiiiiis banget, ampun deh berasa dikerubutin semut tuh muka saking manisnya, saya pun dengan tingkat kewarasan yang mengkhawatirkan itu akhirnya memilih untuk tidak menatap wajah manisnya itu karena takut kadar gula meningkat atau yang lebih parah saya mimisan di tempat. hehehehe.
akhirnya mulai ada yang tidak beres dengan hati saya, jreng jreng, entah karma atau apa, saya pun mulai tertarik dengan kakak A ini, apalagi gara-gara saya ketahuan salah tingkat dengan kakak A ini yang akhirnya membuat saya diberikan penguatan positif oleh teman-teman saya untuk bisa bersanding /? emmm maksudnya pacaran dengan si kakak A, padahal saya sudah sadar diri kok saya ini siapa, muka saya bagaimana dan tidak mungkin juga bisa bersanding dengan kakak pembawa diabetes itu, dari segi fisik dan mental juga saya pasti tidak memenuhi kriterianya, cuma yaaa gara-gara diberikan kekuatan seperti itu akhirnya saya sedikit berharap juga, dan yaaah... saya pun mulai memberanikan diri ingin mengenal lebih dalam siapa sih kakak A ini...
alamak...... baru satu langkah saya melangkah saya sudah terhempas ke dalam jurang kekecewaan...
dia sudah punya pacar ternyata...............
HAAHAAHHA
siapa yang mau beliin saya baygon?

yasudah. jadi, siapa yang musti disalahkan dalam insiden percintaan yang gagal ini?
saya atau mereka yang kelewat baik dengan saya?
tenang... yang jadi korban cowok baik kayak mereka itu banyak kok, gadis mana yang gak senang diperlakukan oleh orang seperti itu apalagi yang berbuat baik itu orangnya ganteng dan manis.
silakan kasih komentar selama saya ngemil racun tikus u,u

Minggu, 27 April 2014

ATTENTION PLEASE'-')???

ya.. saya hadir bukan ingin mempost FF. saya hanya sedikit curcol. sumpah ini blog bukan tempat untuk membuang imajinasi nista dan kemesuman saya saja'-')? tapi ini juga tempat curhatku.
hahha. aku merasa bersalah saja sama beberapa orang yang mungkin agak-agak membuatku sedikit bersalah karena tidak melanjutkan FF "Dear, My Aurora" 
emm... sebenernya itu adalah cerita di balik curcol saya, cerita paling mengenaskan yang saya alami semasa SMA, dan saya sekarang sudah move on dengan bangku kuliah.
itupun kalau saya masih kuat untuk mengorek-ngorek luka lama SMA, kalau saya tidak sanggup? bisakah reader merelakan kisahnya 'hanya' sampai di situ?
kalau Kris Family the series beserta cecunguk yang terlibat di dalamnya juga aku masih belum dapat ide brilian, biasanya ide itu datang dengan tiba-tiba. hanya saja sekarang otakku lagi mampet karena tinggal sendirian, semenjak kuliah, jadi tidak menemukan kepala keluarga di dalam rumahku untuk dijadikan objek fantasiku.
dan yaaaah, sebenernya ceritaku di masa kuliah ini lebih greget ketimbang pas SMA. cowok-cowok ganteng berseliweran dan yah, suamiable... dan.. ahh sudahlah, jangan membuat aku berpikiran yang iya-iya. belum lagi dengan kehadiran teman-temanku yang super duper alay dan tidak manusiawi, kupikir kuliah saatnya serius, ternyata kelakuanku lebih nista di tempat kuliah ketimbang di jaman SMA.
ohiya, tempat tinggalku juga, aiiihh... aih... tetanggaku ganteng maaakkk... seumuran lagi... mana suka banget main bola di depan halaman rumahku. aiiihh pengen ikutan main... aiihh.. gantengnya... aiihh imutnya... aiihh.. seribu kali aihhh.......
ohiya ada juga ya beberapa orang yang mau dibikinkan cerita tentang school life gitu ya... hmmm...
aku sih pengen tapi berhubung aku sudah gak sekolah lagi...
aku mau nulis cerita apa? bocah abg yang naksir kakak kelas? atau kisah cinta sekelas? err... rasanya kurang greget kalau gak ada mesra-mesraan ya wkwk. kalau tetep dipaksain ceritanya kan saya berasa berdosa masa anak sekolah dijadikan objek nista saya dalam bermesum ria XD
ya saya cuma ngabarin itu aja. maaf saja kalau saya mungkin bisa dibilang vakum karena tidak bisa menuangkan isi otak saya yang sudah rada-rada ini menjadi sebuah kisah yang cukup rada-rada juga.
kalau ada apa-apa bisa hubungin saya lewat semua akun saya yang berinisial "meiokris" karena semua akun saya baik line, ig dsb menggunakan uname itu. hehehe.
jangan ragu untuk berteman karena saya senang kok berteman. mari meng absurdkan diri bersama '-')/
makasih ^^

Selasa, 18 Februari 2014

[FF EXO] LOS BATU PART 2(END)


Author : @meiokris
Cast :
·         Kris EXO M a.k.a Wu Yi Fan/ Kevin Li
·         Mei a.k.a Mei Li
·         Aleyna Yilmaz a.k.a Aleyna Wu
·         Baekhyun EXO K a.k.a Byun Baekhyun/Bian Bai Xian
·         Chanyeol EXO K a.k.a Park Chanyeol/ Pu Canlie
Genre : romance, drama, angst, hurt, tragic
Rate : 16+
Length : chaptered
***
7 Mei...
Mei’s POV
            “jadi...sebenarnya dia itu siapa?? Anggota teroris? Mafia? Gank terkenal? Buronan polisi??” Xiao Bai masih tercengang mendengar penuturanku.
“aku juga belum bisa memastikan..mungkin semacam masalah dengan keluarga? Dia bilang kemarin sewaktu kami kabur, itu adalah anak buah ayahnya” aku masih berusaha menetralkan suasana.
“kak Mei, kau menyelamatkan nyawa satu orang yang akhirnya mengancam nyawa tiga orang sekaligus..” keluh Bai Xian yang benar-benar dibuat pusing oleh ulahku.
“lebih baik kau berhenti berhubungan dengannya kak. Aku tahu dia anak orang kaya tapi percayalah kita bakalan lebih bahagia kalau tak ada masalah...” saran Bai Xian. Canlie mengangguk setuju. “aku tidak  bisa membayangkan sewaktu kau berjalan-jalan dengannya kau bisa selamat, sungguh keajaiban” decaknya.
“setidaknya dia masih punya hati nurani untuk menyembunyikan kita di rumah sini dan terbebas dari kejaran anak buah ayahnya” belaku.
“kak.. kau pikir lelaki yang kau cintai setelah beberapa menit kau bertemu dengannya di bar itu punya hati nurani? hah? Harusnya dia sebagai lelaki melindungi gadisnya bukan malah menjerumuskannya dalam masalah ini..” Bai Xian masih saja bersikeras menyalahkan Wufan.
“dia tak meminta kita menjadi anggota gank atau organisasi lainnya kok, dia hanya meminta kita untuk tinggal di sini dan merahasiakan keberadaannya” terangku.
“meminta kita untuk tinggal di sini dan mungkin kita disuruh untuk menjaga rahasia mereka?? daan setelah urusan mereka selesai.......” Bai Xian mengacungkan jari telunjuknya dan menekannya di dada Canlie, “dor...!!”
Aku terdiam sesaat, “baiklah kalian bisa meninggalkanku sendiri kalau kalian merasa hidup kalian terancam, lagipula mereka tak mengenal kalian kan? Hanya aku yang berada di lokasi kejadian saat Wufan di serang”
“ahh, sudahlah, sekarang semua pikiran menjadi kacau, nanti saja bahasnya” lerai Xiao Can.
“taurus memang suka keras kepala..” Bai Xian menggerutu kesal begitu mendengar saranku.
“kau juga, kalian lahir di tanggal dan bulan yang sama jelas saja sama-sama keras kepala. Harusnya kau mengalah sedikit padanya.. lagipula kita hanya memikirkan ancaman dibunuh kan tidak benar-benar dibunuh..” celetuk Canlie.
Bai Xian mengedikkan bahunya, meraih koran yang ada di hadapannya dan memutuskan untuk berpura-pura membaca dan tak menghiraukan Canlie, “kau tahu,, tadi Xiu Min mengatakan lusa kita harus pindah. Dia lebih menerima pengontrak rumah yang berani membayar lebih mahal. Padahal kupikir setelah ini kita akan menjadi gelandangan lagi... kalaupun kita pindah dari rumah ini, kita tak mungkin pindah ke rumah lama kita
Canlie terkekeh. Giginya yang rapi dan putih terlihat dengan jelas, “dasar, kalau kita tinggal di jalanan lagi, bagaimana kalau musim dingin nanti? apakah kau tega membiarkan kak Mei mati kedinginan karena salju? Ingatlah, tinggal bersama dengan seorang penjahat dan tinggal di jalanan sama-sama beresiko. Sebaiknya kita lebih memilih cara mati yang tak terlalu menyakitkan kita nanti. Setidaknya kalau pun dibunuh oleh Wufan  kita hanya bisa merasakan sakit sesaat, kau bisa menyuruhnya menembak di kepala atau tepat di jantung saja, kalau di salju? Kita bisa bertahan tanpa makanan dan pakaian layak selama tiga hari, setelah itu aliran darah kita akan membeku barulah malaikat pencabut nyawa sudi mencabut nyawa kita.” Racaunya.
Bai Xian menghela napas panjang, “semua jalan tak ada yang benar, hidup saja susah, ku harap nanti kita tak menyusahkan orang...”
**
Author’s POV
            Seseorang menepuk bahu Aleyna yang tengah sibuk berdoa berharap semoga ibunya baik-baik saja ditangani sang dokter.
“Aleyna... benarkah kau Aleyna?”
Aleyna pun mendongakkan wajahnya berusaha mengenali sosok yang dengan lembutnya meremas bahunya pelan.
Mata hazel yang sangat mirip dengannya kini menatapnya tajam, “kau tidak mengenalku?” alisnya yang rapi kini terlihat saling bertautan menunggu reaksi gadis yang kini sedang membeku menatapnya.
“appa?” ia membulatkan matanya tak percaya.
“hmm” Wufan tak kuasa membendung emosinya, dipeluknya tubuh mungil yang tengah berusaha semakin merapatkan tubuhnya, meminta kehangatan lebih dari seseorang yang sudah sangat lama ditunggunya.
“eomma” bisiknya lirih.
“eomma sakit apa? Kenapa tak ada yang menghubungiku?” Wufan ingin sekali memukul tembok didepannya sampai retak. Ia menangis menahan amarahnya yang sudah lama ia pendam.
“eomma sakit kanker usus, kata eomma kalau appa tahu nanti apa sedih dan tidak mau menemui eomma” katanya polos membuat Wufan menghentikan gerakannya dan mematung, menyesali setiap perbuatannya tapi ia tak menyesali buah cintanya dengan Mei, seorang gadis mungil yang sangat cantik.

23 oktober....
Mei’s POV
“Kenapa kak? Masih memikirkan Wufan?” tanya Xiao Can. Aku mengangguk mengiyakan, sudah beberapa hari ini sejak kejadian pengejaran Wufan dan anak buahnya sekarang ia tak berani lagi menampakkan batang hidungnya di depanku dan yang lainnya.
“apa kubilang, kupikir kalau dia serius dia takkan bersikap pengecut seperti ini” cibir Xiao Bai yang masih sibuk mengangkat jemuran dan membawanya ke ruang tengah.
“diam kau Xiao Bai” bentakku, “kau piikir bagaimana caranya kita bisa hidup dan menyambung usaha kita kalau tanpa uang yang dikirim Wufan setiap bulannya ke rekeningmu?” sahutku sengit.
“well, kuanggap dia hanyalah seorang dermawan baik hati yang suka menghamburkan uangnya untuk hal tidak perlu” Xiao Bai masih tetap bersikeras.
“kak, aku baru saja mendapatkan info dari kepolisian Cina di GuangZhou tentang Wufan. Dia bukanlah lelaki baik seperti kebanyakannya, bahkan orang tua angkatnya adalah seorang imigran gelap, orang tua kandungnya seorang kaya penjudi memiliki aset berharga yang dikelola dengan baik oleh anak buahnya, harta yang tak pernah habis dengan banyak selir, kudengar Wufan juga telah menikah dengan seorang gadis biasa pilihannya...umm.. maksudku... bukankah tidak menutup kemungkinan kalau semua berita itu benar dan... yah... punya banyak istri.. emmm.. darah keturunan dari ayahnya... yah... begitulah” Xiao Can berusaha menyampaikan dengan bahasanya sendiri agar tak menyinggung perasaanku.
“yak yak sudahlah, kakak besar kita otaknya sudah bergeser dengan segala pemikiran roman picisan di otaknya, intinya adalah Wufan bukan orang baik dan kita bertiga sekarang sedang terjebak dan digantung dalam permainannya” papar Xiao Bai, “kak kusarankan sekarang kau ikut denganku untuk membeli keperluan di pasar, setidaknya aku bisa menyarankanmu untuk membeli sebungkus detergen dan mencuci otakmu”
“Baekhyun, jangan terlalu keras dengan kakak” tegur Xiao Can.
“sudahlah, Xiao Bai benar, aku rasa aku harus menenangkan otakku dengan menemaninya berbelanja” aku melerai mereka berdua.
“kau memang harus membantuku berbelanja kak. Aku juga butuh barang untuk di rumah” Xiao Bai menyeret tubuhku yang semakin ringkih karena banyak pikiran ini.

“pa.... pa....”
Ya di sanalah, di pasar itulah nyawaku seakan tercabut dari tubuhku, terjatuh dan menggelepar di lantai pasar. Rasanya aku disentakkan dan berusaha di sadarkan dari mimpi dan khayalanku selama ini.
Suara khasnya... perawakan dan semua itu nampak tak asing di mataku. Kakiku seakan diikat oleh rotan yang menghentikanku berjalan, membiarkan Xiao Bai yang terus melangkah tanpa menyadari sesuatu yang telah kulihat.
Lelaki bertubuh tegap yang tengah menggendong anak kecil yang sangat tampan dengan rambut coklat dan mata hazelnya yang sama persis dengan mata hazelnya Wufan itu tak menyadari keberadaanku.
Akibat adanya turunan jalan aku harus mendongakkan sedikit kepalaku melongok mengecek kebenaran penglihatanku. Perlahan turunan jalan itulah yang menyembunyikan tubuh tegap lelaki yang benar-benar mirip Wufan.
Ya Tuhan dadaku berdegup sangat kencang, aku bahkan dapat merasakan keberadaan seorang Wufan dari jarak sejauh ini, sebelum semuanya lenyap dari pandanganku, mata bocah rupawan yang sedari tadi sibuk memandangi wajah ayahnya kini beralih kebelakang dan memandangku!
Mata hazel yang awalnya bersembunyi di bahu ayahnya kini mulai menampakkan pesonanya. Mata kami saling beradu pandang dan di sanalah matanya memancarkan kedamaian bagai melihat air jernih yang menggelegak di telaga.
25 Oktober....
“Kak, aku mau bicara” Xiao Can mulai mendekatiku perlahan setelah aku selesai mengerjakan shift malamku di cafe. Ya aku kembali ke pekerjaan lamaku dan Yixing, masih dengan sorot mata yang teduh masih memelukku hangat dan memperlakukanku seolah-olah aku adalah seorang gadis yang lemah.
“sudahlah jangan terlalu berbasa basi Canlie. Kak, Cafe itu tidak aman bagimu, apa yang kau harapkan dari sana? Gajimu kecil dan taruhanmu adalah nyawa, tidakkah kau sadari Wufan itu pembawa sial, kalau saja ada anak buahnya yang mengenalimu di cafe, kupastikan kau tidak akan selamat kak, keluarga Wufan benar-benar tidak tersentuh, mereka keturunan mafia dan orang yang tidak mempunyai kepentingan dengan mereka tidak boleh mengetahui kehidupan mereka, dan kau baru saja mengatakan kalau kau itu kekasih Wufan? Gila! Kau masuk ke dalam salah satu neraka di dunia ini!” Xiao Bai meludah dengan mata sarat akan kebencian dan kekhawatiran.
Aku terdiam sesaat, mencerna rentetan kalimatnya yang seakan berdesakan dalam kepalaku, kepalaku rasanya terasa semakin berat sekarang, beban ini, kehidupan rumah tangga dengan kedua adikku yang tiada pernah berujung kalau aku masih bersikukuh membela Wufan.
“kembalilah dan temui kakak kandungmu sendiri kak, kau pasti akan melupakan Wufan dan menemukan kebahagianmu di sana” Xiao Can memelukku haru.
Aku menggeleng dan melepaskan pelukanku dari Xiao Can dan menatapnya tajam, “aku rasa ada yang sedang kusembunyikan dari kalian, tidak mungkin kalian tanpa alasan langsung mengusirku begini kan?”
“kami tidak sedang mengusirmu kak, percayalah”  hibur Xiao Can yang sempat kulihat ia bertukar pandang dengan XiaoBai yang langsung mengangkat bahunya dan pergi meninggalkan kami sebentar.
“bacalah” ia kembali dan menyodorkan selebaran fotocopyan yang sudah usang dan lusuh karena terkena basah dan debu. Aku membacanya secara seksama hingga rasanya aku merasa tak berpijak lagi ditempatku berdiri.
Aku berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya yang bisa kuhirup dengan hidungku, rasanya paru-paruku terasa berlubang, sebanyak apapun aku mencoba bernapas rasanya hampa, aku seperti tak bisa menangkap oksigen yang berkeliaran di sekitarku begitu aku selesai membaca selebaran yang ternyata adalah daftar pencarian orang dengan nama Wufan yang tertera jelas dengan huruf yang bercetak tebal di sana.
“kalau orang tahu kau pernah terlibat dengannya mereka bisa saja memintamu memberikan info dan begitu keluarga Wufan tahu, semuanya akan musnah.
“kak, info yang ku dengar juga ternyata benar, dia benar-benar sudah menikah, ini foto gadis yang sudah dinikahinya dan ini anaknya” susah payah aku meraih kertas yang dipegang Xiao Can, tanganku bergetar begitu melihat wajah anak yang tengah tersenyum dalam gendongan ibunya. Wajah itu... mata hazel itu adalah mata yang kulihat di pasar waktu itu. Aku tersenyum samar hingga tanpa kusadari butir-butir kristal bening itu turun mengaliri pipiku.

Author’s POV
“eomma... ini appa eomma, bangunlah” Aleyna masih sibuk berbisik di depan telinga ibunya sambil menggenggam erat tangannya.
Wufan hanya terpaku menatap sosok tubuh yang terbaring lemah di ranjang rumah saja, ia membuka kacamata hitam dan masker yang sedari tadi dikenakannya. Rambutnya yang berwarna cokelat gelap memancarkan semburat cokelat terang di bawah pantulan cahaya matahari.
Wajah gadis yang dicintainya sedikit berkerut hingga sudut matanya mengalir sebutir air hangat...
“ eomma bisa mendengarku? eomma jangan menangis” bisik Aleyna lagi, ditempelkannya pipi mungilnya ke wajah ibunya.
Tangan Wufan yang bebas kini bergetar saat ia menggenggam tangan pucat Mei, dielusnya tangan Mei berusaha memberikan kekuatan dengan bahasa isyarat. Mulutnya seakan terkunci melihat hasil perbuatannya sendiri yang mencoba membangkang dari kedua orang tuanya, ‘kalau saja aku tak membangkang, maka hanya aku yang sakit di sini, aku yang membiarkan cintaku berkembang saat aku melihatnya dan membiarkannya terjerumus dalam lubang hitam ini, hidupku terlalu keras untuk kubagikan padamu Mei’ ia berujar dalam hati.

15 November 2003...
Mei’s POV
“tok.. tok.. tok...” hujan kali ini begitu deras, aku yang menunggu kakak kandungku pulang dari club akhirnya mendengar suara pintu diketuk.
“kak...” aku baru saja menghentikan alasanku yang ingin menghambur ke pelukan kakakku begitu menyadari kalau yang sekarang berdiri di depanku bukanlah kakakku. Mataku tertuju pada sosok berjaket hitam yang menerobos masuk dan memelukku hangat, “i miss you” desisnya.
Aku langsung menyadari sosok yang tengah memelukku erat ini, namun ungkapan rindu itu kini terasa menyayat. Aku meronta meminta dilepaskan, kata-kata kakak kandungku masih terngiang di benakku.
“kau.. jangan mentang-mentang kita keturunan wanita jalang dengan darah kotor yang mengalir deras di tubuhmu itu kau ingin mengikuti jejak ibu dan aku? Kau pikir menjadi jalang dengan menjajakan tubuhmu ke semua pria itu akan membuatmu bahagia? Apalagi dengan menjadikan dirimu sebagai simpanan tetap lelaki yang sudah beristri dan mempunyai anak? Aissh, masih banyak lelaki single, kaya, tampan dan terhormat yang bisa kau peloroti hartanya tanpa harus menjadi seorang wanita jalang. Tak malukah engkau menjadi seorang simpanan lelaki yang sudah menikah? Tak malukah engkau menjajah lahan orang lain?!”
aku benar-benar merasa tertampar dengan ucapan kakakku, menjadi jalang katanya? Ya. Aku rela menjadi jalang karena cinta...
Aku berusaha melepaskan pelukannya yang semakin erat di tubuhku, “lepaskan” pintaku, nyaris memohon.
“tidak Mei, apa kau tidak tahu betapa tersiksanya aku harus berpisah denganmu?” bisiknya lirih tepat di telingaku. Aku masih berusaha melepaskan pelukannya dan begitu ia lengah aku langsung menampar wajahnya.
“kau!!” tudingku, “dasar lelaki keparat! Kejam! Keji! Busuk! Kau sudah beristri dan masih saja bermain-main dengan wanita lain hah?!” aku ingin sekali mencekik lehernya kalau saja ia dengan sigap memutar tanganku dan menaikkannya ke atas, menahannya di antara tembok dan membuatku sulit bergerak.
“tolooo....hmmpphhh” tanpa memberikan penjelasan ia langsung membungkam bibirku dengan bibirnya.
Aroma wine yang sedari tadi meruak saat ia berbicara denganku kini benar-benar singgah di bibirku, bercampur dengan salivaku, bibirku terasa panas dan berdenyut karena ia menciumku dengan kasar.
Aku masih bersikeras melepaskan ciumannya hingga akhirnya sebelah tangannya menggenggam tanganku dan tangannya yang lain meremas dadaku, membuatku akhirnya membuka mulutku meloloskan desahan yang sedari tadi kutahan karena ciumannya.
Brengsek, lelaki brengsek, umpatku dalam hati. Lidahnya dengan lihainya bermain di rongga mulutku, membelit lidahku dan membuatku terangsang, tanpa kusadari ia sudah menggendongku ke kamar dan menghempaskanku ke ranjang, ia masih sibuk menciumi leherku sambil terus meremas dadaku.
Esoknya...
Aku terbangun  dengan sebuah lengan yang dengan kokohnya melingkari tubuhku. Aku menggeliat perlahan dan merasakan sakit di selangkangan dan kewanitaanku.
Ahh, pipiku langsung memerah begitu mengingat percintaan panasku dengan Wufan.
 Tak terasa butir-butir air mengalir di kedua pipiku, buru-buru kuhapus sebelum ia mendengar isak tangisku, aku melangkah dengan tubuh di tutupi selimut, memungut pakaianku yang berserakan di lantai, aku meraih pulpen dan menuliskan sesuatu padanya.
Dear Wufan..
Mungkin saat kau menemukan note ini aku sudah pergi, aku harap ini akan menjadi hari terakhir pertemuan kita, asal kau tahu saja aku sangat mencintaimu tapi aku takkan sanggup berbagi cinta dengan wanita lainnya.
Jangan khawatir soal kejadian tadi malam, aku takkan menuntutmu, jika aku hamil aku takkan datang dan menghancurkan rumah tangga kalian. Suatu saat nanti kalau kau masih mengingatku dan anak kita, aku pasti akan mempertemukan kalian.
Jangan mencariku.
Mei-
**
Author’s POV
Wufan menggenggam tangan Aleyna, ditatapnya lekat-lekat wajah gadis mungil yang benar-benar mirip dengannya, hanya saja mata hazelnya benar-benar mewarisi dirinya.
“kenapa kau bisa mengenaliku?” tanya Wufan penasaran.
“karena eomma sering memperlihatkan foto appa, kata eomma aku memang benar-benar punya appa, aku juga pernah melihat appa” jawabnya polos.
“dimana?”
“di bandara, tapi appa tidak melihatku”
Mata Wufan semakin memanas, dipeluknya berkali-kali Aleyna, “benar aku ayahmu, maafkan appa, besok-besok kau tidak akan merasa sendirian lagi, appa dan eomma akan menemanimu” bisiknya pelan.

1 Juni 2008....
Mei’s POV
“eommaaaa... aku ingin bertemu appa” Aleyna menunjuk-nunjuk layar datar kecil itu.
Ya, semenjak hubungan Wufan dengan keluarganya membaik, khalayak publik pun makin gencar membicarakannya hingga aku harus menekan dadaku setiap hari merasakan perih di dadaku setiap melihatnya tengah tersenyum bahagia menggandeng wanita yang sudah memberikannya dua orang anak.
Berkali-kali aku menabahkan diri kalau aku hanyalah seorang wanita simpanan yang benar-benar sudah dilupakannya. Aku membesarkan Aleyna dengan uangku sendiri dan sedikit bantuan dari Xiao Bai dan Xiao Can.
“eomma....” Aleyna masih saja sibuk merongrongku dengan pertanyaan kapan ia bisa menemui ayahnya sementara aku gelagapan menjawab pertanyaannya.

Aku rasa inilah saatnya...
“baiklah, kalau kau melihat appa jangan berteriak ya, cukup melihatnya saja” aku memperingatkan pada Aleyna.
“aku tahu eomma, nanti istri dan anak-anak appa akan marah kan?” katanya polos.
Aku mengangguk mengiyakan, ya, aku takkan menutupi keadaan Wufan yang sebenarnya pada Aleyna. Ahh, anak ini bahkan tak pernah dirasakan kehadirannya oleh ayahnya sendiri. Aku menatapnya pilu.
“jangan sedih eomma, Aleyna sudah sangat bahagia bisa melihat appa” hiburnya.
Sementara menunggu Aleyna memakan es krim, aku mendengar bunyi keributan di bandara dan langsung membawa Aleyna dalam gendonganku.
Aleyna tercengang melihat banyaknya pengawal yang mengawal orang yang diyakininya adalah Wufan.
“itu appa? Tampannya” decaknya kagum.
Baru saja aku ingin membawa Aleyna mendekat tiba-tiba kerumunan wartawan dan pengawal mulai memecah membentuk sebuah jalan. Mataku terpaku pada gadis yang tengah memeluk Wufan sementara dua orang anak berjenis kelamin lelaki dan perempuan turut memeluknya. Aku bisa mengenali mereka semua dari foto yang pernah dibawakan Xiao Can.
Aku memeluk Aleyna erat-erat seakan menumpukan sesaknya napasku padanya. Paru-paruku benar-benar terasa hampa, menggapai udara yang kosong tanpa oksigen..
Aleyna masih menatap kepergian ayahnya dengan mata berbinar tanpa merasa iri dengan saudara tirinya yang memiliki keluarga utuh.
“eomma” bisik Aleyna setelah ia puas memandangi ayahnya, “Aley sudah bahagia bersama eomma, eomma segalanya” kemudian ia mencium pipiku pelan.
Aku membawa Aleyna ke ruang tunggu yang di sana mengalun lagu Roxette.
I know there's something in the wake of your smile.
I get a notion from the look in your eyes, yeah.
You've built a love but that love falls apart.
Your little piece of heaven turns too dark.
Listen to your heart when he's calling for you.
Listen to your heart there's nothing else you can do.
I don't know where you're going and I don't know why,
but listen to your heart before you tell him goodbye.
Sometimes you wonder if this fight is worthwhile.
The precious moments are all lost in the tide, yeah.
They're swept away and nothing is what is seems,
the feeling of belonging to your dreams.
And there are voices that want to be heard.
So much to mention but you can't find the words.
The scent of magic, the beauty that's been
when love was wilder than the wind.
-listen to your heart-

Author’s POV

“Siapa keluarganya?” seorang dokter tiba-tiba datang dan menghampiri Aleyna dan Wufan.
“saya....” Wufan berhenti sejenak sebelum akhirnya ia berujar, “saya suaminya, dok”
Dokterpun mengangguk dan menginstruksikan Wufan untuk menemuinya di ruang dokter.
“bapak, sepertinya kanker di ususnya sudah menyebar” dokter itu terlihat prihatin membayangkan nasib Mei Li.
“katakan apa yang bisa kulakukan agar istriku bisa sembuh dok?” Wufan menatap dokter dengan sorot mata sendu, ia semakin menyesali kepasifannya yang hanya membiarkan keadaan berlarut seiring berjalannya waktu.
Dokter itu menggeleng, “kita hanya menunggu keajaiban Tuhan, bahkan persentase hidupnya hanya 20%”
“du...dua puluh” Wufan tersentak hingga dering telpon dokter itu berbunyi.
“halo?” sapa dokter itu.
Setelah mendengar ucapan dari perawat di seberang ia langsung bergegas keluar.
“maaf, istri anda sedang butuh pertolongan sekarang.”
“a...apa? bolehkah aku ikut masuk?”
“maaf” dokter itu langsung meninggalkan Wufan yang terduduk di ruangannya.
“AAAAAAARRGGHHH MEI LI” teriaknya frustasi, “andai kau tahu, kaulah wanita yang satu-satunya kucintai, persetan dengan istri pertamaku. Aku menikah tanpa cinta di sana”

2 tahun kemudian....
“aley,.. sudahkah kau menabur bunga untuk ibumu?” tanya Bai Xian.
“sudah paman, mana pamanku yang satunya? Aku ingin memberinya kecupan sebelum aku pulang bersama appa” Aleyna terlihat mencari sosok Canlie.
“dia masih sibuk mengantri es krim” cibir Bai Xian.
“ah, paman yang satu itu benar-benar” Aleyna berdecak.
“kau menabur bunga mawar? Kenapa wangi mawar ini begitu kuat terasa?” tanya Bai Xian.
Aleyna menggeleng, “sepertinya tidak ada mawar di sana, entahlah”
Sementara Aleyna berlarian menghampiri Canlie, Bai Xian berjongkok di depan makam Mei Li.
“kau tahu kak? Kau benar-benar mewariskan darah seorang wanita yang kuat pada diri Aleyna, dia bahkan tidak menangis begitu tahu kau meninggal, dia mencoba berdamai dengan takdir” Xiao Bai mengelus batu nisan yang berwarna putih itu.
“mungkin Tuhan tidak ingin kau sakit terlalu lama” bisiknya lagi, “ngomong-ngomong Wufan mau merawat Aleyna dan mengurusnya bersama istrinya”
Ia melanjutkan, “semua orang mencoba berdamai dengan takdir, kami merelakanmu, dan istrinya, kau tahu istrinya luar biasa baik bahkan dia memaafkan kelakuan bejat Wufan, dengan lapang dada ia menganggap Aleyna seperti anaknya sendiri, kami bahkan menganggapnya kakak”
“tapi tak ada yang bisa menggantikanmu yang telah bersusah payah merawat aku dan si kutu busuk Chanyeol” lirihnya.
“oh ya, aku baru tahu kalau wanita yang dicintai Wufan itu adalah kau kak, kupikir kalaupun dia mencintai istri pertamanya, cintanya sudah luntur, banyak orang yang mengatakan, ketika ada orang kedua di hidupmu berarti hilanglah sudah cintamu kepada orang pertama”
“hmm” seseorang menyadarkan Bai Xian.
“eh.. kak Wufan, kau sudah datang rupanya” ia mencoba menyapa Wufan.
“iya, mana Aleyna?” tanya Wufan.
“dia sedang bersama Canlie, biar kupanggilkan” Bai Xian langsung bergegas meninggalkan pemakaman karena merasa canggung curhatannya di dengar Wufan.
Sementara Xiao Bai meninggalkannya, Wufan berjongkok menghadap batu nisan Mei.
“bagaimana kabarmu di surga?” bisiknya lirih.
“aku menepati janjiku sayang, aku menjaga anak kita dengan baik” ia tersenyum, “dan kau takkan pernah mati di hatiku, wajah Aleyna benar-benar mirip denganmu” Wufan semakin mendekatkan tubuhnya dengan batu nisan, dikecupnya perlahan batu nisan itu.
“kadang masih terasa nyeri di sini” ia menunjuk dadanya, “kadang aku masih ingin memaki Tuhan, meneriakkan ketidakadilan di hidupmu”
“tapi sekarang berkat Aleyna, aku mencoba berdamai dengan takdirnya” lirihnya.
“baik-baik di sana sayang” bisiknya sebelum meninggalkan area pemakaman untuk menjemput Aleyna pulang.
Jauh di antara rimbunan pohon yang tumbuh di areal pemakaman, ada seorang wanita dengan wajah sendu, kulit yang pucat tengah tersenyum menatap empat orang yang sedang berlarian di sekitar areal pemakaman, saling mengejar satu sama lain.
“aku bahagia di sini, Wufan” bisik Mei Li sebelum ia menghilang dan hidup dengan tenang di alamnya..
-END-