Senin, 17 Februari 2014

[FF KRIS EXO] OTHELLO SYNDROM


Author:  Mei F.D

Main cast :
·         Kris EXO M
·         Kim Jongdae EXO M
·         Bang Min Ah
·         Eunhyuk SJ
·         Dennis Kane
·         Other cast.

Length : oneshot, series

Genre : Family, married life, romance, drama alay

PG : 13+

                Cerita series KrisMinah lanjut ya hehe. Tapi Dennisnya dikesampingin dulu waks.  Jangan lupa follow kkkk รจ meiokris
***
Minah’s POV
                “apa tidak apa-apa membiarkan Dennis bersama eomma selama beberapa hari?” aku menatap putera kesayanganku yang berada dalam gendongan eomma untuk yang terakhir kali sebelum berpisah. Dennis akan ikut bersama eomma dan appa Kris yang sedang bertugas, hitung-hitung liburan berhubung Dennis tak pernah diajak ke luar negeri, begitu sih kata eomma.
                Dennis yang dikenal sangat aktif ini terkadang suka menyusahkan orang dengan sifatnya yang kelewat polos dan serba ingin tahu.
“ah tidak kok, eomma sudah puluhan tahun merawat anak kecil” liriknya pada Kris, yang disindir merasa malu.
“ah eomma, kalau sekarang kan sudah ada yang baru jadi eomma tak perlu merawatku lagi..” sahutnya sambil memeluk pinggangku seenaknya.
“ishh... dasar tidak sopan di hadapan eomma!” protesku.
“appa!! Jangan bikin eomma marah...” Dennis yang biasanya tak mau kalah dari appanya lantas meronta-ronta di gendongan eomma dan memukul-mukul Kris.
“haha, tidak kok appa hanya bercanda.” Aku memandang geli ke arah Dennis dan berusaha melerai mereka.
“jangan banyak bergerak sayang nanti kalau halmeoni jatuh gimana?” Kris melepaskan lingkaran tangannya dari pinggangku dan menatap Dennis dengan pandangan khawatir.
Aku meringis, dasar dua orang mahkota hatiku ini memang tak pernah akur, bisanya Cuma bertengkar memperebutkanku, tunggu saja kalau aku punya anak lagi??!! Eehh??! Mikir apa aku-_- yang ini saja masih belum becus mengurusnya.
“ayo kita pergi... masih banyak yang harus dipersiapkan di sana..” Kris membelai pundakku dan menyuruhku berpamitan.
“ah ya.. eomma sama appa pergi dulu sayang, baik-baik sama halmeoni, saranghae..” aku mengecup puncak kepala Dennis.
Dennis tak berkomentar banyak hanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Akhirnya aku dan Kris berpamitan dengan eomma sebelum akhirnya menuju ke RS.
Begitu aku memasuki mobil dan mengenakan sabuk pengaman tiba-tiba Dennis memanggil.
“appa!! Eomma!!”
Kris yang berniat menjalankan mobilnya menatap bingung ke arah Dennis dan membuka kaca jendela.
“wae?” tanya Kris yang langsung menoleh ke arah sumber suara.
“jagain eomma!!” teriaknya.
“sip..” Kris mengacungkan jempolnya ke udara dan langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit.
Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri membayangkan tingkah Dennis tadi.
“kenapa kau?” tanya Kris yang melirik sekilas ke arahku, “pasti gara-gara morning kiss tadi ya? Atauuu...”
“stop!” ujarku, “siapa yang mikirin itu sih...” aku langsung membayangkan kejadian tadi pagi,ketika aku baru bangun tidur Kris langsung membungkamku dengan bibirnya. Hiiih bisa tidak ia tidak membuat jantungku copot dengan rutinitas pagi yang bisa dibilang agak.... err.....
“hahaha” Kris tergelak, “mikirin Dennis ya? Anak itu memang ada-ada saja..” gumamnya.
Aku tersenyum, “bagus dong nanti Dennis tumbuh jadi anak yang perhatian dan sayang sama wanita bukan orang yang mesum dan sok sepertimu..”
Kris mendelik kesal, “biar saja. Tapi kau tetap saja suka denganku..” sahutnya bangga.
“ugh. Jangan bermimpi..” ucapku sambil tertawa.
Kris berdecak, tangan kirinya mengelus belakang rambutnya,”dasar, kau mengecat rambutmu lagi?” tanyaku yang baru sadar perubahan warna rambutnya yang di cat lebih gelap.
“ne, tampankan?” dia melirikku. Aku mencibir gemas.
“turunkan aku di dekat rumah sakit saja ada beberapa bahan makanan yang harus kubeli untuk Dennis..”
Kris mengangguk kemudian merapatkan mobilnya di dekat trotoar depan supermarket, “mau kutunggui?” tawarnya.
“tak usah, kau duluan saja ke rumah sakit, masih banyak yang lebih membutuhkan tenagamu di sana daripada menungguiku.” Tolakku halus.
Kris tersenyum kemudian menjalankan mobilnya pelan menuju ke rumah sakit pribadinya yang jaraknya sangat dekat itu sementara aku masuk ke dalam supermarket. Malam ini pesta perayaan rumah sakit yang sudah satu dekade itu jadi pantas saja dirayakan besar-besaran karena pesta ultahnya Cuma dirayakan setiap lima tahun sekali, tepat sehari pesta ulang tahun rumah sakit, aku yang ultah. Hehehe.
Kuharap Kris tak melupakan ulang tahunku, dia ingat saja aku sudah sangat senang.
**
“ugh..” aku membawa barang-barang yang tadi kubeli dari supermarket ke ruangan untuk pesta perayaan ulang tahun malam ini.
Dokter Fred Lee sedang ada bisnis di luar negeri yang akhirnya menyuruh Kris untuk menangani urusan perayaan ulang tahun ini sementara beliau tak ada. Mataku mencari-cari sosok suamiku ini sementara aku menaruh barang-barangku di tempat penitipan barang.
“siang min...” sapa Jongdae, supir pribadi keluarga Fred.
“siang..” sapaku riang.
“siang cantik..” Hyukjae menyapaku sambil terus berlalu membawa pot bunga.
“haha siang ya..” aku tersenyum melihat kelakuan sahabat Kris yang ini. dasar penggombal ulung. Olokku dalam hati.
Mana sih Kris? Daritadi aku tak melihatnya. Mataku tertuju pada beberapa perawat yang tidak bertugas memilih untuk membantu mendekor ruangan.
“kenapa datang sendiri-sendiri? Lagi bertengkar ya?” tanya Jongdae yang langsung mendekatiku.
“ah tadi aku bersama Kris kok tapi aku turun di supermarket dekat sini” jelasku.
“Ooh..” aku melihat dia terlihat bingung harus membicarakan topik apa lagi.
“emm.. kau melihat Kris tidak? Aku daritadi tak melihatnya” ujarku bingung.
Ruangannya memang sangat luas. Ada dua ruangan yang dihias di sini, satu untuk acara puncak dan satu ruangan disulap menjadi seperti club malam untuk acara penutup. Warna magenta dari ruangan ini kian bersemarak begitu pita-pita dan dekorasi menarik terpasang di sisi-sisi ruangan.
“mungkin sedang keluar..”
“hmm.. para perawat yang baru ya?” bisikku pada Dae begitu melihat beberapa perawat yang terasa asing di pandanganku berjalan melintas di hadapanku.
Dulu aku sangat ingin menjadi perawat, kalau saja ayah dan ibuku masih hidup mungkin aku sudah menjadi perawat sekarang. Hanya saja takdir berkata lain, toh walaupun aku tak menjadi perawat aku takkan pernah menyesali takdirku menjadi istri seorang laki-laki sok tampan dan mesum seperti Kris, di rumah kan aku sudah menjadi perawat, merawat dua pasien, Dennis dan Kris. Haha.
“iya, beberapa memang dipindahtugaskan ke sini, sekarang kepala perawat juga sudah berganti. Yang terdahulu sudah pensiun..” terang Dae.
Aku membulatkan mulutku membentuk huruf O. Sudah lama sekali aku tak pergi ke sini padahal tempat ini merupakan saksi bisu sejarah pertemuanku dengan Kris.
“aku membantu yang lain dulu ya.” Pamitku pada Dae dan berjalan ke pojok ruangan mendekati pekerja yang lain.
“Minaaah...”
“ya?” aku menoleh ke arah sumber suara.
“kau bisa memindahkan pot bunga yang di dalam ruangan itu ke luar?” dia menunjuk sebuah ruangan, “hanya tiga buah pot kecil lagi. Aku sudah memindahkan pot yang besar-besar. Le...lah.... hah...” Hyukjae mengusap peluh yang mengucur di keningnya.
Aku menyodorkan sebungkus tisu yang kubeli tadi, “nih... pakailah.. tunggu di sini ya. Tenang saja aku yang akan mengambilnya.”
Aku langsung berjalan ke sisi ruangan itu, “permi....si....” napasku langsunng tercekat melihat Kris yang sedang bercengkrama dengan seorang wanita muda sambil menghias ruangan itu.
“eh.. Min... kau sudah datang?” tanya Kris begitu melihatku. Sadar akan tatapan wanita muda yang memandangku seakan berkata –kau menggangguku— membuatku terdiam membisu sejenak. Ada sesuatu dari dalam dadaku yang jatuh terbakar dan terasa panas, hatiku terasa ngilu. Aku mencoba tersenyum dan mengabaikan rasa itu. Tak ada salahnya kan mencoba berfikir positif, mungkin semenjak sudah berkeluarga, Kris mulai membebaskan dirinya dengan mulai mencoba beramah tamah dengan orang di sekitarnya. Mengingat pertemuanku dengan Kris itu sangat tidak menyenangkan. Pandangan jutek dan tatapan dingin itu. Mungkin wanita ini beruntung bisa mengenal Kris dengan keadaan Kris sekarang yang jauh lebih ramah.
Aku mencoba tersenyum, “ne... aku hanya ingin mengambil pot bunga itu..” aku menunjuk tiga buah pot bunga dan bergegas mengambilnya sebelum hatiku semakin terbakar.
“biar kubantu..” tawar Kris. Aku hanya diam, tak menolak tapi tak juga mengiyakan. Tapi sudut mataku menangkap kalau wanita itu tengah mencegah Kris membantuku, “selesaikan ruangan ini dulu Kris..” cegahnya sambil mengusap-usap bahu Kris.
“ah... aku bisa sendiri kok...” ujarku sambil berlalu dari hadapan mereka dan meninggalkan ruangan itu.
“hooii Min... maaf merepotkanmu...” ujar Hyukjae dari kejauhan, tangannya menenteng sebotol air mineral dan mengacungkan padaku, memberi isyarat menyuruhku duduk di sisinya setelah aku memindahkan pot bunga ini.
“tidak apa...” jawabku pendek sambil terus membawa tiga buah pot bunga yang cukup berat dan  menaruhnya di luar.
**
“huft....” membawa pot bunga ini jadi melelahkan karena aku membawanya dengan sedikit tidak ikhlas, membayangkan Kris bersama wanita itu benar-benar menyebalkan.
“minumlah...” Hyukjae menawarkan sebotol air mineral yang tadi sudah dipegangnya padaku.
“ahh ne tidak usah..” tolakku, “di dalam ruangan tadi aku bertemu Kris dengan wanita muda, dia siapa?” tanyaku.
Belum sempat aku menjelaskan secara mendetil tentang wanita muda yang bersama Kris itu, Hyukjae sepertinya sudah mengetahuinya, “ugh bersama Kris? Mungkin kepala perawat baru, namanya Jessica Han. Dia memang dekat dengan Kris karena dia masih perlu banyak belajar tentang rumah sakit ini..” jelasnya. Aku mengangguk-angguk. Kutekan dadaku pelan sambil berkata dalam hati, Cuma rekan kerja,. Rekan kerja....
“dia cantik sekali kan? Pintar lagi, sayang dia galak dengan semua anak buahnya jadi aku tak berani mendekatinya.” Keluh Hyukjae.
Aku menepuk-nepuk pelan bahunya begitu mengetahui Hyukjae menyukai gadis itu, “kalau jodoh tak kemana” hiburku.
“haha kajja. Kita membantu Kris dan Jessica.” Ajak Hyukjae.
Aku mengikuti sambil terus meyakinkan hati bahwa tidak ada hubungan yang spesial antara Kris dan Jessica.
“hooii kami datang~ yoo waddup...!!” Hyukjae menyapa Kris dan Jessica yang masih sibuk menghias ruangan.
“halo nona cantik” Hyukjae menyapa Jessica dengan membelai rambut panjang Jessica diikat rapi ke belakang, yang disapa malah memalingkan muka.
“tidak sopan..” gerutunya.
“Kris mau kugantikan tidak posisimu?” tanya Hyukjae sambil mengedipkan matanya pada Kris.
Belum sempat Kris menjawab Jessica yang masih berdiri di atas tangga langsung menyahut, “tidak usah, aku Cuma mau dibantu sama Kris. Apalagi aku Cuma memakai rok, aku takut matamu mengamati hal yang tidak-tidak.”
Hyukjae nyengir karena niatnya ketahuan, “galak amat sih nona” celetuknya.
“sudah Hyuk, denganku saja” aku menengahi.
Jessica menatapku sambil tersenyum menang. Kris hanya bisa menatapku pasrah, berusaha menyampaikan sesuatu, mungkin lebih seperti, jangancemburu...  aku yang kurang pandai mengartikan tatapan seseorang hanya bisa tersenyum getir.
Aku membantu Hyukjae memasang beberapa kertas warna warni di sudut ruangan. Menggunting beberapa pita dan membentuknya jadi bunga yang cantik.
Tok...tok...tok...
Semua mata tertuju pada seseorang yang mengetuk pintu, “ada apa Hyo?” Jessica yang mengenali anak buahnya ini langsung bergegas ingin turun dari tempat ia berpijak tadi. aku melirik sekilas sebelum akhirnya memutuskan ia pegawai baru di sini.
“kau ke....AAAAAA” Jessica yang tatapannya daritadi mengarah ke arah seseorang yang bernama Hyo itu kehiangan keseimbangan.
BUKK!! Jessica jatuh, bukan.. bukan jatuh ke tanah, tapi jatuh ke gendongan Kris, tangannya yang mulus dan putih bersih itu terlihat melingkar erat di leher Kris sementara Kris –yang melakukan gerak refleks menggendong wanita cantik dan seksi- ini sedikit terhuyung. Aku mengamati ekspresinya, kaget dan... entahlah, aku rasa untuk sekarang aku lebih ingin membutakan mata dan hatiku. Pelupuk mataku terasa panas, oh hey, sejak kapan seorang wanita sepertiku menangis?
“ehemmm...” Hyo mencoba mencairkan suasana yang terlihat membeku ini, apa? Adegan ini terasa seperti slow motion dalam pandanganku, tak ada yang bergeming dari tempatnya dan mata Kris.. mata itu masih menatap Jessica!
Suasana kembali normal, Kris menurunkan Jessica, matanya melirikku sekilas, aku hanya tersenyum, miris...
Asisten itu membicarakan beberapa hal yang tak ku mengerti pada Hyukjae, Kris, dan Jessica. Apa aku wanita paling bodoh di sini? Aku hanya menangkap kalau Jessica dan Kris diminta mengikutinya. Aku mengamati diriku sekilas, membandingkan diriku dengannya, ah rambutnya yang sehat, lurus dan menawan itu, kakinya yang jenjang, wajah cantik ditambah polesan make up tipis, bibir yang selalu merona merah dan.. pintar.... bukankah itu yang pantas di dapatkan dari seorang putra pendiri sekaligus pemilik rumah sakit ini?
“Hyukjae hyung, temani aku...” ajak Kris sementara matanya beralih kepadaku, “kau mau ikut atau...”
“tidak, aku di sini saja” jawabku cepat, semakin sering aku mengikuti mereka maka akan terlihat semakin bodohlah aku.
Jessica menatapku sebal, aku lebih memilih diam.
“jangan menatap Minah seperti itu sayang, Minah kan sudah....”
“hentikan mulut menjijikanmu itu Hyukjae-ssi..” sela Jessica dengan tatapan sinis begitu merasakan tatapannya padaku diperhatikan oleh Hyukjae.
Aku menunduk, berharap Kris akan mengatakan, hei-aku-sudah-menikah. Apa wanita ini tidak tahu hubunganku dengan Kris? Tapi kata-kata itu hanya berputar-putar dalam otakku saja, ia tak mengatakan ataaupun meyakinkanku kalau ia dan Jessica tidak ada hubungan spesial.
“kami pergi dulu..” hanya itu kalimat yang terdengar di telingaku, aku bahkan tak tahu apakah sekarang Kris melihatku atau tidak. Aku mendongakkan kepalaku begitu suara Kris lenyap dari kedua telingaku, hanya ada Hyo, Jessica dan aku di ruangan ini, aku kembali menyelesaikan dekorasiku tanpa memandang sedikitpun pada mereka berdua.
Tak ada sesuatu yang spesial di telingaku saat mereka berdiskusi, hanya sekedar masalah pekerjaan sampai akhirnya celetukan dari Hyo yang membuatku membeku sejenak, mematikan syaraf-syaraf di tubuhku dan membuat rasa nyeri itu kembali menyesakkan dan menghantam hatiku.
“nona, kau mesra sekali dengan Kris, kalian ssangat cocok”
“benarkah? Selama ini aku belum berani menanyakan statusnya, ku harap ia masih sendiri” entah rasa ingin tahuku yang begitu besar aku memberanikan diri memalingkan wajahku menatap mereka, “setidaknya...ia lebih melihat ke arahku daripada seorang wanita yang daritadi diperhatikannya..” sindir Jessica sinis.
“hha, nona lebih baik kita menyusul mereka sekarang” ujar Hyo mengingatkan Jessica.
Sesuatu yang basah dan berair mendesak keluar dari pelupuk mataku dengan lancangnya, wanita ini, wanita ini mengincar suamiku!
Buru-buru aku memalingkan mukaku dan bergegas meninggalkan ruangan ini sebelum wanita itu melihat airmataku.
aku bergegas menyeka bulir-bulir airmataku sampai akhirnya aku berhenti di sebuah cafe.
Aku mengetuk-ngetukkan kesepuluh jari tanganku ke meja cafe, sesekali aku berhenti mengetukkan jariku hanya untuk sekedar menyedot Caramel Macchiato yang berada di depanku.
Sebentar lagi acara akan dimulai, beberapa bagian dari cafe ini juga akan diisi oleh para tamu undangan.
Sepi, bukan... bukan cafenya yang sepi, hanya hatiku yang rasanya kosong, hampa, Kris masih sibuk bertugas dengan Jessica sedangkan aku hanya bisa menunggu, mengusir jenuh sambil mencoba membunuh kebosananku dengan memainkan gadgetku.
Ahh, kenapa Kris tak mengatakan pada Jessica kalau ia sudah mempunyai istri? Apakah aku sangat tidak pantas untuk dikenalkan sebagai istri pewaris satu-satunya rumah sakit ini?
Tring.... sebuah pesan Line masuk dari eomma, Omg! Eomma mengirimkan sebuah video padaku, tanganku bergerak lincah mengklik link yang dikirimkan, Dennis sedang menyanyikan lagu bear song?aku tersenyum begitu melihat aksi dari anakku, buah hatiku.. aku terus memandanginya sampai-sampai aku tak sadar ada seseorang yang duduk di hadapanku
“Minah” sapanya yang membuatku terlonjak kaget.
“Seungho Oppa” pekikku pelan begitu menyadari keberadaannya.
Ia tersenyum manis, “suamimu pemilik rumah sakit ini ya?” tanyanya antusias. Aku tersenyum mengiyakan.
“lantas apa yang sedang kau tertawakan Minah?” tanya Seungho Oppa.
“ini, lihatlah” aku menyodorkan video Dennis yang sedang bernyanyi dengan riangnya, aku tersenyum senang. Kulihat Seunghopun tampak puas dengan perkembangan Dennis sekarang.
“emm... Min. Itu bukannya Kris?” tanya Seungho, aku yang daritadi sibuk memegang gadgetku kini mengarahkan pandangan tepat di manik mata Kris yang ternyata sedang menatapku tajam.
Aku tersenyum mengejek, siapa yang harusnya mencemburui siapa? Aku mencoba bernapas melalui mulutku begitu melihat pasangan Kris dan Jessica yang berlalu di hadapanku, aku rasa ini adalah ulang tahun terburuk yang pernah kutemui.
Kami pun makan dalam diam, Seungho akhirnya menyadari ada yang tidak beres dengan hubunganku dengan Kris, “kau, tidak apa-apa Min?” tanyanya pelan.
Aku yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk makananku akhirnya memilih untuk mengalah dan bertindak. Kutekan dalam-dalam harga diriku dan membuangnya jauh-jauh sebelum akhirnya aku menemui meja Kris yang tengah sibuk bercanda dengan Jessica. Apa peduliku dengan perayaan ulang tahun rumah sakit kalau akhirnya tepat di depan mataku aku melihat suamiku berselingkuh terang-terangan.
“kau” tudingku langsung pada Kris, “lelaki macam apa kau ini?”
Kris menatapku tanpa ekspresi dan akhirnya membuatku gemas, kalau saja dia bukan suamiku mungkin aku sudah menumpahkan wine di depannya.
“yak~ berani sekali kau dengan Pak Kris” kali ini Jessica menegurku. Aku tersenyum sinis,”berani katamu?setidaknya aku tidak sepengecut dia yang tidak mau mengakui istrinya di depan umum” aku berusaha keras menahan airmataku.
Mataku beralih pada Kris, “kenapa kau tak mengatakan padanya kalau aku ini istrimu? Memangnya kau malu?” aku mengepalkan tanganku, “dasar penjahat! Suami bodoh! Tidak setia! Aisssssshhh!!”
                Aku langsung membuang muka da n berlari meninggalkan cafe itu, pesta tetap akan berjalan tanpaku kan? Aku mengasingkan diri di sebuah ruangan yang kuyakini adalah ruang penyimpanan peralatan medis dan menangis tanpa suara, berusaha menahan gejolak yang berlomba-lomba ingin segera dikeluarkan.
                Usai aku menangis, aku melirik jam tanganku yang terlihat mulai kabur karena air mata yang terus menggenang di pelupuk mataku. Sudah jam 11 malam, perayaan utama pasti sudah selesai kan? Setidaknya sekarang aku mengirimkan pesan Line pada Dae supaya mengantarkanku pulang ke rumah.
Aku melangkah pelan melewati ruangan dan menyelinap ke parkiran. Tiba-tiba seseorang mencekal tanganku, memutar tubuhku hingga dadaku berbenturan dengan dadanya.
“jangan pernah kabur dariku tanpa seijinku nona Minah” bisiknya di dekat kupingku, bahkan aku merasakan bau-bauan khas yang menguar dari seseorang yang kukenali adalah Kris.
Aku meronta dalam pelukannya, “lepaskan aku” jeritku.
Dia malah tersenyum dan menggigit pelan kupingku, membuat mulutku meloloskan desahan karena ulahnya.
“apa-apaan ini” jeritku tertahan yang langsung dihentikannya dengan membungkam bibirku, lidahnya yang basah memaksa masuk ke dalam mulutku. Air mataku turun sedemikian derasnya, membiarkan tubuh mungilku terperangkap dalam dekapannya dan membiarkannya mencecap bibirku tanpa ampun.
Begitu dirasanya aku mulai kehabisan napas karena mengimbangi ciumannya, dia melepaskan diri dan langsung berujar, “dengar ya sayang, aku tidak ada niat seeeedikitpun untuk selingkuh darimu jadi tolong hilangkan pikiran-pikiran bodohmu itu” ia menyentil keningku.
Aku masih belum bisa menjawab pernyataannya, napasku semakin terengah-engah akibat ciuman dan pernyataannya tadi.
“Sini kutunjukkan padamu. HUP” dengan satu gerakan tangan dia menggendongku ke atas bahunya.
“yak! Turunkan!”  pukulku pada punggungnya.
“diam sayang, aku mau bernyanyi untukmu” ia bersiul kegirangan, hei apa-apaan ini? jangan bilang ini adalah bagian dari rencana gilanya. Kau ditipu mentah-mentah Bang Min Ah, rutukku dalam hati.
Akhirnya aku memasrahkan diri merasakan tangannya yang menumpu pahaku dan sesekali ia mencubit pantatku dengan gemas. “dasar lelaki sialan! Bejat! Kurang ajar! Mesum! Penjahat kelamin! Sialan!” teriakku berang.
“sssttttt...orang rumah sakit bisa mendengarnya sayang” ia memelankan suaranya dan sekali lagi aku tercekat karena ia membawaku masuk ke aula dan sekarang menuju ke atas panggung.
“wo...woaaah ganas sekali” seseorang yang kuyakini Hyukjae bersuara dari tempat duduknya.
“lepaskan aku Kris ini memalukan” desakku.
“tidak sampai kau mendengarkan permintaan maafku” tolaknya dan langsung mendudukkanku di atas kursi. Dengan cekatan  beberapa perawat pria langsung memegangi kedua tanganku dan mengikatnya di kursi.
“apa-apaan ini?” teriakku marah.
“ini namanya BDSM sayang, masa kau tidak tahu sih? Semakin kau meronta maka akan semakin kencang ikatannya” papar Kris dengan senyum kemenangan.
“suami sialan!” umpatku menahan malu, beberapa pengunjung ada yang berbisik-bisik mengenai percintaanku dengan Kris, ada yang tersenyum, ada juga yang dengan antusiasnya seperti mengatakan, “liar” “panas” “ganas” “amatir” “polos” dan berbagai kata-kata yang teramat sangat menjijikan di telingaku.
“sayang~” Kris memanggilku dan dengan cekatannya ia sudah berada di sebuah piano berwarna putih.
“mau apa kau?” kutekan harga diriku kuat-kuat, rasanya harga diriku sudah jauh terkikis semenjak bersuami dengan lelaki gila seperti Kris.
“aku mau meluruskan, aku tadi hanya berpura-pura dengan Jessica, semua warga dirumah sakit ini juga tahu kalau aku itu milikmu sayang~” ia memamerkan giginya dan mengacungkan tangannya kepada Jessica yang sekarang sedang duduk berdua dengan Hyukjae.
“aku menyayangimu sayang, aku takkan berpaling” ucapnya dengan nada menjijikan yang membuatku membuang muka, “well. Baiklah sudah jam 12, cukup aku berbasa-basinya, happy birthday sayang” ia datang menghampiriku dan mengecup kedua keningku sementara para perawat pun mulai membebaskan tanganku.
Tak terasa airmata pun kembali berjatuhan dari pelupuk mataku, “dasar lelaki jahat” umpatku, benar-benar ya kali ini aku dibuat naik darah hanya karena ulang tahunku sendiri.
“aku kan Cuma bercanda sayang” ia meringis dan langsung membimbingku untuk duduk di sampingnya sambil mendengarkannya bermain piano. Awalnya aku menolak tapi dia mengancam akan memperkosaku di sini kalau aku tidak mau.
“para hadirin, lagu ini khusus untuk istri saya yang sedang berulang tahun” ia tersenyum sumringah, tangannya dengan lincahnya langsung menekan tuts piano.
Ahh, lagu ini... aku memejamkan mataku pelan mendengarkan lagunya.
When your heart is flying away to my heart
I will catch with all my love
Like a ship that sailing on the sea
Is it you where i rest all my heart??
Kris memalingkan wajahnya dan mata kamipun saling bertemu, ia tersenyum, dan mengecup bibirku sekilas.
Im sitting on the parkbench of downtown
Im laughing remember all that you’ve done
There’s a bird is singing on the tree
And you are running around in my head
It is long time since I first met you
I feel my heart is start to grow
Im so happy that I love you with no wonder
And I promise never break it away
Ia meringis sambil menyanyikannya begitu aku mendengar ia mengucap janji yang akan kupegang itu, ahh tapi dulu ia bahkan lebih dulu mewanti-wantiku kalau setiap orang yang berumah tangga itu pasti mempunyai masalah dan ia bisa saja secara tak sadar menyakiti hatiku. Kalau saja ia tidak mengatakan hal semacam itu lebih dulu padaku mungkin aku sudah mencakar wajahnya karena ia melanggar janjinya.
My love is true
There’s a long way to go
There’s a long day to know
My love is true
I love you just as you and please dont gonna be somebody new
Kali ini ia mengecup tanganku mesra dan memandangku lekat-lekat.
“That your love so beautiful and i want it forever” bisiknya lagi. “Happy birthday sayang, I love you” tutupnya yang diiringi teriakan riuh dari penonton.

-END-

Senin, 10 Februari 2014

[FF EXO Kris] Labiletisme



author : @meiokris
Cast :
·         Kris EXO M
·         Min Ah
·         Dennis Wu
·         Lee Hyuk Jae
·         Suho EXO K
·         Deliah M.
Genre : Romance, drama, alay, mesum, gaje, comedy putar/?, married life, family
Length : oneshot
PG : 16


Minah’s POV
Hmmm… aku menghela napas panjang, Jumat pagi yang sangat sibuk untuk seorang ibu rumah tangga sepertiku, ini sudah jam setengah 7 dan Dennis masih belum selesai kudandani untuk pergi ke sekolah.
“Denniiiiiiiiiiiissss…” panggilku. Astaga, Dennis sudah TK tapi masih saja punya kebiasaan buruk yang sulit ditinggalkannya, berlarian sehabis mandi tanpa mengenakan pakaian.
“Dennisss ayoo keluar pakai bajunya” teriakku lagi.
Sekali lagi aku menghela napas, haaaahhhhhhh… ini masih pagi dan tubuhku sudah berkeringat padahal aku sudah mandi. Percintaanku dengan Kris tadi malam membuat tubuhku benar-benar lengket. Aku membayangkan ciuman Kris di seluruh tubuhku dan itu membuat pipiku sukses merona merah, buru-buru kusingkirkan pikiran mesumku itu sebelum Kris mengetahuinya, bisa jadi ia mengurungku seharian kalau aku memikirkan sentuhannya.
Kata siapa setelah menikah segala sesuatunya akan berakhir bahagia? Justru pernikahan itu merupakan awal dari segalanya, tempat dimana dua insan saling bertukar pikiran dan saling melengkapi, bagaimana menyusun strategi saling berkoordinasi untuk mencapai suatu kesepakatan bersama, kadang manusia kembarpun punya sifat yang berbeda padahal mereka tumbuh dan berkembang bersama seiring berjalannya waktu, apalagi kalau yang dalam satu rumah ini dua makhluk berbeda jenis dan keturunan.
Lagipula belum tentu ketika berpacaran kita akan mengetahui segala hal mengenai pasangan kita. Ada orang yang mengatakan kalau pacaran adalah suatu pembodohan belaka. Banyak kebiasaan yang ditutup-tutupi dan itu akan terkuak setelah menikah nanti.
Coba saja kalau kau ingin bertemu pasanganmu, tentu kau akan berusaha berpenampilan semenarik dan bersikap sebaik mungkin kan? Bayangkan saja setelah menikah apa kau akan terus-terusan bersikap sempurna sedangkan suamimu akan dengan mudah melihatmu kapan saja, ketika bangun tidur misalnya, kau takkan bisa menyembunyikan wajah dan penampilanmu yang berantakan kan ketika sang suami sedang bergelung hangat di sampingmu.
Aku memijit keningku pelan. Kris, Dennis. Dua makhluk yang aku bahkan tahu segala kekurangan yang ada pada diri mereka, jangan kau sangka Dennis yang menggemaskan itu terlihat baik-baik saja, dia mungkin lucu kalau kau melihatnya sesekali tapi setelah kau hidup dengannya mungkin kau akan sering berteriak-teriak untuk sekedar menyuruhnya makan atau mandi, begitupun dengan suamiku, Kris. Mungkin dari segi luaran Kris memang sempurna, akupun pernah mengakui itu semasa muda, pemilik sekaligus pimpinan tertinggi di sebuah rumah sakit dengan wajah yang sempurna karena peranakan Chinese-Canadian membuatnya terlihat mencolok akan ketampanannya, namun siapa sangka hidupnya dirumah seperti manusia biasa yang haus akan kasih sayang, atau boleh kubilang sebagai suami ala kadarnya. Dia bukanlah seorang yang perfect, di rumah bahkan otaknya tak lebih pintar daripada Dennis.
 Sewaktu kutinggal pergi dulu dia yang mengurus rumah, ketika aku pulang aku bahkan mengomel panjang. Baju-baju bekas dipakai bertumpuk di atas kasur. Dompet yang hampir ikut terbawa ke mesin cuci kalau aku tidak memperingatkannya. Keran air yang lupa dimatikan, tumpukan piring kotor dan tempat sampah yang penuh. Benar-benar ya, kalau kau pernah merutuki ibumu yang sering mengomel karena kebiasaan burukmu dirumah segeralah bertobat karena kau akan merasakannya ketika sudah berkeluarga nanti.

Kris’s POV
“hmmm..” aku merasakan adanya gerakan-gerakan kecil di atas dadaku. Menggelikan tapi cukup menyenangkan. Pasti Minah masih ingin berusaha menggodaku lagi, tak cukupkah dengan suasana percintaan yang cukup panas tadi malam. Aku bahkan masih bisa membayangkan ketika telapak tanganku memukul pelan dan meremas pantatnya yang padat dan sintal itu sembari kami menyatukan diri. Pikirku.
Dengan semangat aku langsung membelai tubuh mungil yang menindih separuh tubuhku. Tidak salah lagi, ini pasti Minah, aku bahkan dapat merasakan kulit tubuhnya yang sehalus bayi itu. Aku berpikiran mesum seperti biasanya.
Aku terus membelai dan merasakannya……….. ahhh……… eh.. tunggu dulu. Apa ini? Seperti belahan pantat bayi saja. Aku masih memejamkan mataku berusaha memusatkan pikiran dan menerka-nerka bagian tubuh mana yang sedang kupegang. Aku mencubitnya pelan.
“Aww!! Appa!!” seseorang langsung meninju wajahku.
Hah?? Appa??? Aku terkesiap dan langsung bangun dari tempatku. Orang yang kuyakini Minah tadi segera terguling dari dadaku ke sampingku.
“Denniss!!” pekikku kaget ketika menyadari pantat siapa yang kubelai mesra.
“Appa mencubit pantat Dennis” protesnya sambil mengelus pantat kanannya yang bekas kucubit.
“Dennis mau apa kau disini sayang? Cepatlah pakai bajumu” perintahku.
“Appa sendiri tidak pakai baju” protesnya.
Buru-buru aku mengintip di balik selimut yang membungkusku, astaga tubuh polosku yang tampan…
“ohh ini bekas olahraga malam jadi wajar kalau Appa tidak memakai baju” jelasku tak mau kalah.
“olahraga apa Appa?” Tanya Dennis bingung.
“hmmmm… itu sejenis olahra…………..”
“Dennisssssssssss” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku suara istri seksiku kembali terdengar.
“Dennis sana keluar temui eommamu” suruhku sok galak sambil mengibas-ngibaskan sebelah tanganku menyuruhnya keluar.
Dennis menggeleng pelan, tiba-tiba wajahnya berubah sumringah dengan kedua alis yang dinaikkan ke atas dan gigi putih bersih yang ia pamerkan.
“ahaaa” serunya tiba-tiba.
“wae?” tanyaku malas-malasan dan berniat untuk menutup mataku lagi.
“appa kan tidak memakai baju....” ucapnya dengan nada dibuat-buat.
“terus?” sambungku lagi, “jangan bilang kamu mau tidur sama Appa lagi, Dennis kamu kan harus sekolah” aku mengingatkan.
“bukan ituuu” dia menggeleng keras, “Dennis mau lihat burungnya appa” ia mulai menyeringai.
“HAH??!!!” aku menatap Dennis horor. Bocah polos ini.....
“kajja...Appa...” Dennis mulai menyingkap bed coverku.
“omoo Dennis ... andwae Dennis.. “ aku berusaha menahan kedua tangan mungilnya tapi dia tak kehilangan akal. Diterjangnya tubuhku dan ditungganginya pinggangku. Tubuhku yang sedari tadi kumiringkan pun bergoyang menahan berat badan Dennis.
“appa” dia menyeringai pelan.
“andwae sayaang, jangan... Minahh” aku berteriak setengah tersengal sementara Dennis mulai menggelitiku.
Ya Tuhan selamatkanlah aku dari pemerkosaan ini... batinku.
BRAKKK!! Tiba-tiba gerakanku dan Dennis langsung terhenti begitu melihat sosok di depan pintu kamarku.
“DENNIS..KRIS..CEPAT PAKAI BAJU KALIAN!!” teriak Minah geram yang langsung membuat hatiku dan Dennis menciut. Tak ada yang bisa menandingi teriakan singa betina di pagi hari.....
*
“hmmmm”  usai mandi aku langsung menemui Minah dan Dennis di ruang makan. Dennis masih sibuk berceloteh dengan mainan barunya sedangkan aku langsung berjalan mendekati Minah yang masih sibuk memotong sayuran.
“wangi” bisikku tepat di samping telinganya, aroma maskulin dari sabun mandipun langsung menyeruak melingkupi tubuhku dan Minah yang saling merapat.
Kedua tanganku memeluk pinggang Minah dan mengelus perut datarnya, sementara aku menenggelamkan wajahku di antara leher dan bahunya.
“tubuhku bau masakan.. kau tidak kebauan?” tanya Minah yang masih belum bergeming dari tempatnya.
“tidak ada yang seharum tubuh istriku ini” aku mencoba merayunya, namun bukannya membuat pipinya merona merah, Minah malah memutar tubuhnya dan mendorongku pelan, “hentikan bualanmu Kris, duduklah ke kursi makan dan nikmati sarapanmu, hari ini kau ada meeting kan?”
Sial! Hanya gara-gara aku mengatakan ada meeting hari ini bahkan Minah berusaha untuk tidak tertarik dengan rayuanku. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk dan menemani Dennis.
Sementara sudut mataku masih tak lepas dari Minah yang sedang menyeduh kopi.
Ahh... Minah  yang dulu polos dan malu-malu itu sekarang sudah berubah menjadi istri yang kuat dan beringas.
Aku terkekeh pelan mengingat masa-masa pacaranku dengan Minah, memang segala sesuatunya banyak yang berubah ketika kami menikah ini, sekarang Minah tahu bahwa aku sangat pemalas kalau dirumah, untung saja Minah itu istri yang rajin.
Aku tersenyum sambil menatap Dennis yang mulai melahap sarapan paginya, “phhbbtt” cibirnya padaku.
Senyumku pun langsung pudar, bocah ini selalu saja ingin merebut Minah dariku, dia tidak tahu saja kalau tanpa kantong semenku dia tidak akan lahir. Dennis langsung memalingkan wajahnya dan memburu Minah, “eomma” dipeluknya Minah.
“apa sayang?” sahut Minah lembut.
“Dennis hari ini mau ditungguin eomma di sekolah”
“heh?” Minah menatap Dennis heran.
“Dennis nggak mau diantar Appa” rengeknya, “tiap Appa yang mengantar Dennis pasti banyak tante-tante yang lirik-lirik Appa”
Mau tak mau aku langsung berusaha menahan senyumku sambil mengusap belakang kepalaku, wohoo seorang Wu Yi Fan memang selalu membuat wanita mendamba padanya kan?
Tiba-tiba pikiranku langsung buyar begitu aku menyadari adanya tatapan membunuh yang berasal dari istriku.
“jangan salahkan aku kalau wajahku terlalu menarik perhatian” kilahku sambil berusaha tetap tersenyum, istriku cemburu. HA.
Minah berusaha ikut tersenyum, “kalau tidak sama Appa sama siapa dong?” tanyanya lembut.
“hmm appa yang mengantar tapi Dennis ditungguin sama eomma” usulku cepat.
“appa di mobil saja” usul Dennis lagi.
“no...noo” aku membuat gerakan menolak, “appa akan mengantarmu dan eomma sampai gerbang”
“dan membiarkanmu di tatap oleh para istri yang haus belaian?” protes Minah.
“lebih baik aku yang ditatap para wanita haus belaian daripada istriku yang ditatap lelaki yang suka membelai” jawabku enteng.

Minah’s POV
Beginilah aktivitasku sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Tidak ada yang spesial. Hanya saja kedua permata hatiku yang membuatku merasa spesial. Mungkin sesuatu yang terlihat biasa saja di mata orang lain dapat berdampak luar biasa bagi diriku. Sentuhan ringan Kris ataupun perhatian kecilnya secara tidak langsung menunjukkan rasa sayangnya padaku, itu lebih baik daripada lelaki yang suka mengumbar kata sayang namun kenyataannya nihil.
“twinkle...twinkle..little star..” suara Dennis dan Kris yang saling bersahutan di dalam mobil membuatku tersenyum.
“sumbaaaang” protesku sambil mencubit pelan lengan Kris, Kris hanya tertawa dan tetap meneruskan nyanyiannya.
“sudah sampai... kajja” Kris membantu melepas seatbelt dan membantu Dennis turun.
“kita adalah keluarga bahagia” kata Kris sumringah , tangannya yang bebas merangkul pundakku dan tangannya yang lain menuntun Dennis.
“nah” Kris menepati janjinya, mengantarkan kami sampai ke depan gerbang. Aku merasakan beberapa pasang mata mulai menatapku iri atau.... ah mungkin Cuma perasaanku saja, aku mencoba menepis perasaanku dan langsung melepas kepergian Kris.
“siang ini kita makan di luar ya. Usai rapat sama beberapa petinggi rumah sakit aku akan langsung menjemputmu dan Dennis” dia mengecup puncak kepalaku dan mengusap kepala Dennis, “jangan main mata” dia mengedipkan sebelah matanya padaku. Astaga suamiku ini. mau tak mau aku tersenyum melihat tingkahnya.
Usai Kris pergi aku dan Dennis langsung melangkah memasuki gerbang sekolah, tak lama kemudian Dennispun di panggil untuk senam. Aku fokus memperhatikan gerakan Dennis hingga tanpa sadar ada sebuah tangan yang memegang pundakku.
“eghhh” aku berjengit kaget begitu menyadarinya dan refleks menghindar dari tangan itu.
“oh, maafkan aku” kata sang pemilik tangan penuh penyesalan.
Untuk sesaat aku hanya bisa terpana menyadari wajah yang sekarang berhadapan dengan wajahku. Tampan. Hanya itu yang bisa kudeskripsikan padanya hingga aku bahkan hampir lupa untuk menutup mulutku. Dia mungkin bingung melihat ulahku.
“hei..” sapanya lagi.
“oh...hai...tidak apa-apa” buru-buru kusembunyikan ekspresiku takut kalau dia salah paham dan berpikiran yang tidak-tidak. Oh Kris maafkan aku yang sudah bermain mata. Sesalku. Tapi lelaki ini benar-benar tampan dengan wajah Korea asli bukan tampan oplosan seperti suamiku yang berdarah Chinese Canadian.
Aku langsung menghapuskan pikiranku terhadap lelaki di depanku sekarang, ingat aku sudah punya suami dan anak, batinku menguatkan mencoba mengusir pikiran yang mulai melantur kemana-mana.
“hmmm...salam kenal, aku Suho.. mohon bantuannya” dia membungkuk kepadaku yang mau tak mau membuatku balas membungkuk.
“ne... Minah imnida, memangnya mau bantuan apa?” tanyaku.
Lelaki itu tampak grogi mengucapkan pertanyaannya, “saya hanya ingin bertanya kira-kira kapan kelas akan bubar, hehe, saya baru pertama mengantar keponakan saya”
Aku tersenyum geli mendengarnya, “kembalilah ke sini jam 1 nanti”
“ahh...” dia mengangguk, “umm... kalau begitu mau menemaniku ke cafe seberang?” tawarnya.
Aku mengangguk dan mengikutinya untuk sekedar melepas kejenuhan belaka, siapa tahu kami bisa berteman.
*
Author’s POV
Kris meregangkan tangannya sementara cleaning service mulai membersihkan ruangan tempatnya rapat.
“A—yo Kris, whatsup” Hyukjae datang dengan semena-semenanya ke ruangannya dan mulai bertingkah ala boyband Korea.
“hai cantik” dan naluri kelelakiannya mulai beraksi begitu melihat gadis yang sedang membersihkan ruangan.
“Naya, kamu boleh keluar” perintah Kris langsung.
“yak! Aku bahkan belum selesai merayunya” desah Hyukjae.
“aku punya penawaran untukmu” Kris menatap Hyukjae misterius.
“apa?” dia mengibaskan tangannya mencoba mengusir hawa ruangan yang mulai terasa panas ketika Kris mematikan AC.
“kau harus mengantarkanku ke salon” Kris menyeringai, “ kudengar kau punya koneksi bagus dengan para pemilik salon, kurasa aku akan mengubah gaya rambutku dan mengecat ulang rambutku, aku tidak ingin Minah bosan melihatku”
“huh?! Kau ingin membayarku berapa untuk mengantarkanmu?”
“sebuah acara makan malam dengan perawat cantik di sini, itu kalau hasil salonnya bagus” tawar Kris.
“sebagus apapun penampilan rambutmu nanti kau akan mengatakan itu jelek karena tidak mau membayarku” sindir Hyukjae.
Kris terkekeh, “kali ini aku bersumpah”
Akhirnya Kris dan Hyukjae pun melenggang keluar ruangan rapat dan bersiap untuk pergi ke salon.
“kau ingin mengantarkanku ke salon itu??” tunjuk Kris begitu Hyukjae sibuk memutar mobilnya menuju ke sebuah salon yang terlihat sangat sederhana.
“apa kau yakin akan membawaku ke sini?” tanya Kris sedikit memandang miring ke arah salonnya.
“yap, kau tahu perawatan di sini bagus dan kupastikan istrimu tidak akan cemburu kalau aku membawamu ke sini”
“kenapa? Karena pemiliknya tua?” tanya Kris heran.
“bukan, pegawai salonnya semuanya banci” jawab Hyukjae dengan cara bicara yang dibuat-buat.
“HAH??!!”
“waeyo?” Hyukjae tampak tersenyum menang.
“Ya Tuhan ampuni dosaku...” Kris mulai memohon dengan tampang memelas. Dikencangkannya sabuk pengaman yang daritadi masih melekat kuat di tubuhnya.
“tenang Broo... sejak kapan seorang Kris yang dikenal pemberontak jadi pengecut seperti ini” ejek Hyukjae sambil terus menahan tawanya.
“tapi yang ini beda lagi” keluh Kris, ia bergidik membayangkan tangan-tangan besar para wanita setengah pria itu menjamah kulit kepalanya.
“kau bilang ingin perawatan salon yang murah dan memiliki pelayanan bagus” kali ini dia terkekeh.
“rambutkuuu....” keluh Kris lagi sambil bergidik ngeri.
“tenang..Cuma bagian rambut yang dia pegang, yang lainnya milik istrimu” Hyukjae langsung memaksa Kris turun.
“yaaak!! Yaak!!” Kris terpaksa turun dan langsung mengelus tangannya yang ditarik Hyukjae masuk ke dalam salon.
“hai, selamat pagi menjelang siang” sapa seorang wanita errr... mungkin lelaki dilihat dari postur tubuhnya yang bidang dan kakinya yang berotot tapi bergerak dengan sangat luwes dan gemulai dengan pakaian wanita dan stiletto berwarna kecoklatan di kakinya.
“tamatlah riwayatku” keluh Kris dalam hati dan dengan berat hati menyeret langkahnya ke dalam salon yang ditunjuk Hyukjae sementara Hyukjae berbalik ke mobil dan mengemudikannya meninggalkan salon.
**
“awalnya aku dan dia memang sejalur, tapi keadaan yang membuat kami berpisah. Awalnya kami kira pernikahan kami akan selancar seperti yang akan kami berdua bayangkan, banyak yang mengatakan sifatku dan Helena bagai pinang di belah dua. Sama-sama punya kesamaan hanya berbeda gender. Kupikir ini takkan menjadi masalah..” Suho menatap Minah kemudian menyesap Caffe Latte.
Minah mengernyitkan keningnya, bagaimana bisa dua orang dengan sifat yang sama hidup dalam satu rumah juga membawa masalah? Bukankah harusnya mereka saling mengerti satu sama lain, memahami karakter diri sendiri sama halnya dengan memahami karakter pasangan.
Minah membatin.  Setahuku bukankah banyak orang yang berbeda pendapat dengan pasangan yang rentan mengalami perceraian? Lantas kalau bukan kesamaan dan perbedaan yang menyebabkan utuhnya sebuah pernikahan, lalu apa?
Suho mendesah pelan, “ ya, karena persamaan itulah yang membuatnya terasa sulit di beberapa sisi. Terkadang ketika aku sedang menyembunyikan sesuatu, di saat yang sama Helena juga menyembunyikan sesuatu, masalah yang terjadi antara kami satu sama lain saling tersembunyi dan seperti tak ada apa-apa dalam rumah kami, hingga suatu saat masalah yang lama disimpan pun terkuak perlahan dan menimbulkan bau busuk, kami sering salah faham dan kadang tidak berakhir dengan damai karena kami masing-masing bersikeras menyembunyikan perasaan masing-masing” sorot matanya nampak terluka, “ kadang salah satu dari kami berpikir untuk mulai mengalah dan mulai menguak masalah kami masing-masing dan berusaha membuat rumah tangga kami terlihat lebih hidup, adakalanya hidup kami terasa sangat datar, pergi ke kantor, membuat sarapan, pulang dari kantor, membersihkan rumah, tidur adalah ritual yang terasa sangat biasa saja dengan tidak adanya sifat dominan dalam keluarga kami.”
Minah terus mendengarkan curhatan dari lelaki tampan yang baru dikenalnya dua jam yang lalu, “kami sama baik dalam hal baik dan buruk, kami sama-sama pekerja keras apalagi istriku adalah wanita karier yang berprofesi sebagai bidan dalam jam terbang tinggi. Akhirnya kadang aku yang mengalah dan berpura-pura cemburu untuk istriku sekedar menunjukkan rasa sayangku padanya” Suho mengaduk-aduk minumannya, “akhirnya kami lelah dengan semuanya, terlalu naif memang membuat sandiwara roman picisan hanya untuk sekedar memberikan kemesraan dan kebahagiaan dalam hidup. Terlalu banyak kepura-puraan.”
Minah mengangguk kecil, pikirannya melayang. Memang benar. Bukankah menikah itu semuanya harus serba transparan agar tidak menimbulkan perselisihan. Dengan terus menerus bersandiwara hanya untuk sekedar menunjukkan perasaan juga membuat lelah, siapa yang sanggup berubah jadi orang lain setiap harinya?
“hmmm, disaat seperti ini kadang aku tidak mensyukuri hidupku sendiri” tanpa sadar Minah menggumam sendiri, memikirkan betapa seringnya ia merasa berdosa di hadapan Tuhan ketika ia sedang berhadapan dengan suaminya yang kadang membuatnya jengkel dan mengeluh meratapi nasibnya. “kadang aku tak menyadari kuasa Tuhan yang jauh di luar pendapatku sendiri. Tuhan memang mempunyai segala cara untuk menyadarkan umatNya” desah Minah tertahan, ia menyadari betapa bodohnya ia mengeluh melihat tingkah Kris yang memang di atas rata-rata.
Suho mengangguk, “begitupun aku, selama hidupku aku tak pernah berpikir untuk mendapatkan istri yang bahkan sifatnya sama persis dengan sifatku. Setidaknya kami masih tetap saja berhubungan baik, kami bercerai dengan baik-baik” kali ini ada nada senang terselip dari ucapannya.
Tak terasa Minah menitikkan airmatanya, Ya Tuhan betapa Engkau sudah menyempurnakan hidupku dengan segala perbedaan antara hidupku dengan Kris, maafkan aku yang terlalu lancang untuk meminta apa yang tak kupunya dariMu, maafkan aku yang tak mensyukuri nikmatMu.
“jadi....mana suamimu Min?” tanya Suho yang hanya bisa membeku menatap Minah yang tengah terharu.
**
 Begitu Deliah –banci seksi- menyelesaikan pekerjaannya. Dia mengelus pipi Kris pelan menatap puas hasil pekerjaannya di cermin.
“sudah selesai ganteng” ucapnya dengan nada sensual yang membuat bulu kuduk Kris meremang karena merasa yang merayunya sekarang bukanlah wanita tulen.
Kris mulai mengalihkan pandangannya dari Mac yang ia mainkan sekali lagi, menatap puas pada hasil karya sang banci. Tapi pandangan sensual dari Deliah benar-benar membuatnya ngeri. Ia mulai merasa tidak enak.
“thanks” balas Kris dengan memasang wajah dinginnya, hal yang dilakukannya ketika ingin menjaga jarak dengan orang lain. Kris merasa suara dinginnya mampu membuat nyali orang  yang berhadapan dengannya menciut. Namun sepertinya dia salah memilih lawan.
Bukannya takut, Deliah makin semangat menggoda Kris, begitu Kris ingin bangkit dari temp-at duduknya, Deliah membuat gerakan tangan yang berupaya untuk menahan Kris.
“apa yang kau lakukan?” bentak Kris.
“kau mau kuberikan service pijat gratis?” tawar Deliah. Bibirnya yang merah merekah mulai membuat gerakan mencium.
“tidak” tolak Kris cepat.
“apa kau tidak merasa rugi tidak sempat menikmati pijatan erotis gratis dariku?” bujuknya lagi sembari memamerkan jari-jari tangannya yang lentik dengan kuku-kuku terawat yang di cat merah.
Pijatan erotis katanya? Yang ada aku yang kehilangan keperjakaanku kalau menikmati pijatan erotis darinya. Batin Kris.. Eh kalau sudah menikah dan sering menggoalkan istriku, apa masih bisa disebut perjaka? Kupikir sih begitu mengingat aku yang selalu membobol istriku, bukan sebaliknya.
“aniyo” kata Kris sambil berusaha menekankan suaranya.
“ayo duduk” paksa Deliah yang langsung menekan bahu Kris, “rileks sayang” suruhnya sambil mulai membelai dada Kris. Dada Deliah yang terlihat padat dan menonjol mulai menekan-nekan daerah di sekitar belakang kepala Kris.
“bagaimana? Enak kan?” bisiknya lembut namun terdengar menjijikan.
Kris makin bergidik ngeri tapi ia merasa percuma saja melawan Deliah, Deliah terlalu mengerikan dengan kekuatan lelaki namun memiliki sifat seperti wanita. Kris menggertakkan giginya berupaya mencari cara untuk meloloskan diri dari sang banci.
“hmm... madam” panggil Kris sambil berdehem, padahal dalam hatinya ia merasa ingin muntah sekarang mengingat betapa lembutnya ia memanggil Deliah.
“nooo... panggil aku Deliah saja baby~” desahnya sambil berusaha untuk menggigit kuping Kris kalau saja Kris tidak menghindar, “harumnya” bisiknya.
Kris langsung terkejut dan refleks berdiri, “a...aku mau ke kamar mandi”
Kris buru-buru pergi tanpa mengindahkan suara Deliah yang memanggilnya, di raihnya Mac yang di letakkannya di atas meja.
Sialan, kenapa aku mendadak gugup seperti ini, bahkan ketika aku memenangkan tender proyekku dengan rumah sakit Stavano aku tidak seciut ini. umpatnya.
Di tekannya nomor Hyukjae, dering pertama Hyukjae langsung mengangkat teleponnya, “bagaimana servicenya yang muda dipertuan Kris” godanya langsung yang kontan membuat Kris ingin mencekik leher lawan bicaranya.
“Hyukjae, aku berencana untuk membunuhmu malam ini” ucap Kris yang dengan sengaja memelankan suaranya namun terkesan ada nada tertekan dari ucapannya.
“hahaha, eottohke?? Bersenang-senanglah dengan gadis barumu” goda Hyukjae lagi.
“aisshh.. jinjja... jemput aku sekarang atau aku akan kabur dari sini dan berlari untuk membunuhmu” ancam Kris lagi.
“aku ingin mendengar berita ‘seorang putra taipan pemilik rumah sakit ternama mati karena diperkosa seorang banci’ hahaha” Hyukjae tidak merasa sedikitpun takut dengan ancaman Kris.
“sebelum itu terjadi kau sudah kupastikan akan menatap bangkai tubuhmu sendiri hangus di tanganku”
Lagi-lagi Hyukjae tertawa, “hahaha OK. OK aku akan menolongmu, ini untuk kebaikan Minah, aku tak ingin melihat dia menangis karena menjadi janda bahkan di usianya yang masih sangat muda itu”
“aisshh.. hentikan omong kosongmu itu Hyukjae! Aku tidak main-main dengan ucapanku” Kris langsung mematikan teleponnya.
“sayang kenapa lama sekali??” tanya Deliah sambil mengetuk pintunya.
Kris menahan napasnya. Lagi-lagi pintu diketuk dengan lebih keras, “sayang kau tidak sedang onani kan?”
“.........”
“sayang?”
“......”
CKLEK. CKLEK. Kali ini Deliah menggunakan kunci untuk membuka pintu kamar mandi, “kalau kau mau, aku bisa memuaskanmu” tawar Deliah.
“hyaaaa toloooong” Kris langsung mendorong Deliah meninggalkan kamar mandi dan pergi ke luar.
*
“baiklah, lantas apa yang harus aku lakukan pada si banci nanti? Berpikir cepat Hyukjae tampan” gumam Hyukjae sendirian.
“kalau aku pergi ke sana sendirian....hmmm” Hyukjae  langsung bergidik ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan Deliah pada tubuhnya, ia melirik bagian bawah pusarnya, “yang sabar yah juniorku, aku takkan membiarkanmu dijamah oleh tangan-tangan keramat seperti wanita setengah jadi itu..”
“ahhaa...sepertinya aku harus menjemput Minah” Hyukjae langsung melajukan mobilnya menuju sekolah Dennis.
“kau tidak bisa kabur sayang” suara Deliah terdengar sangat mesra. Sementara Kris masih berputar-putar mengitari ruangan mencari pintu keluar.
“kau tidak bisa keluar sayang aku bahkan sudah menyembunyikan sepatumu”
“Ya Tuhan selamatkan aku” Kris memohon.
Matanya nyalang mencari pintu keluar, semuanya benar-benar di kunci.
“banci sialan” umpatnya.
“sayang mau kemana?” Deliah tersenyum menang begitu melihat Kris yang sibuk mengumpat.

BRAKK!! Pintu pun di dobrak dari depan. Kris dan Deliah terpaku menatap sosok wanita yang muncul dari luar.
“yaak!! Kris oppa apa yang kau lakukan dengan wanita itu??!!” Minah langsung menatap Kris marah dan menyeret Kris keluar.
“OMG apa yang telah kau lakukan dengan lelakiku!” pekik Deliah tertahan.
“lelakimu kau bilang?” Minah menatap Deliah sinis, “dengar ya Nyonya, dia bahkan sudah menikah dan mempunyai anak”
“sayang, aku bisa je........”
“diam kau Kris, ini urusan wanita” Minah melirik Kris tajam.
“aku tidak percaya” lolong Deliah pilu.
Minah berkacak pinggang, ia menyipitkan matanya, “kau mau bukti? Heh?” dikeluarkannya handphonenya, “ini anakku dan Kris, apa kau tidak melihat kemiripan di antara wajah kami bertiga? Oohh atau kau perlu tes DNA untuk membuktikan kalau dia adalah anak dari lelaki yang kau bilang milikmu itu?” sembur Minah.
Wajah Deliah yang semula tegang mulai berangsur tenang, “baiklah, kau boleh mengambil pelangganku. Aku tak ingin ada anak yang kehilangan ayahnya karena ayahnya lebih memilih wanita seksi sepertiku daripada wanita berdada rata sepertimu” dia menatap sedih.
Minah membulatkan mata. Wanita berdada rata katamu??
kalian boleh pergi, aku tidak akan memungut bayaran sepeserpun pada kalian” ia tersenyum, “aku minta maaf”
Kalaupun harus membayar, aku takkan sudi membayarnya. Ini benar-benar pelecehan seksual. Gerutu Kris dalam hati.
*
Malamnya....
                01.00 A.M
Kris terbangun dari tidurnya dan mendapati Minah yang masih membelalakkan matanya menatap langit-langit kamarnya. Kris mulai melancarkan aksinya untuk menggoda Minah.
“aduh..”
“waeyo??” tanya Minah yang mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamar dan beralih menatap Kris.
“aku merasa bibirku bengkak” goda Kris, “pasti kau mencuri ciumanku diam-diam ya?”
“yakk!” Minah memukulkan guling ke badan Kris, “kau pikir aku sebejat dirimu hah??” dia memanyunkan bibirnya.
“lantas kenapa sampai sekarang belum tertidur?” tanya Kris penasaran.
“hmm... aku hanya membayangkan apa yang sudah kau lakukan dengan Deliah” mata Minah menerawang.
“yak! Jangan mengkhayalkan aku dengan banci sialan itu!” gerutu Kris, “dia hanya mengurungku di sana”
Minah mengangguk-angguk, “kupikir kau akan pasrah” dia terkekeh.
“tapi kau membelaku mati-matian dan itu menyeramkan” goda Kris.
“itu...itu karena aku tak mau suamiku jadi gay”
“huh? Kau sendiri kenapa mendatangiku sendirian? Kenapa malah Hyukjae yang menunggu di dalam mobil?” tanya Kris.
“dia takut dengan banci” Minah mengulum senyumnya. “aku banyak mendapat pelajaran hari ini” kali ini Minah menatap Kris sungguh-sungguh.
“apa?”
Minahpun menceritakan pertemuannya dengan Suho tanpa ada sedikitpun bagian yang ditutup-tutupi.
“Tuhan punya banyak rencana yang lebih indah bahkan dari meskipun itu berasal dari kekacauan yang telah Dennis dan kau buat” Minah tersenyum begitu menutup kisahnya.
“...dan aku juga mendapatkan pelajaran hari ini, pelayanan terbaikpun sebanding dengan harga yang sesuai pula” gumam Kris sambil merapatkan tubuhnya memeluk Minah.
“err..panas Kris, jangan peluk-peluk” protes Minah.
Kris menyeringai, “kau bilang tadi tidak bisa tidur, aku sudah berpikir akan membuatmu tidak tidur semalaman” ditutupnya bed cover sampai menutupi kepala mereka berdua.
“yakkk!! Yakk!! Kris!! Andwae!!!”

-END-

Minggu, 12 Januari 2014

[FF Kris Luhan] Nightmare Side


Author : @meiokris
Cast :
·         Kris EXO M
·         Han Keyla (OC)
·         Lu Han EXO M
Genre : Romance, drama, mystery
Length : oneshot
PG : 15+
Sebenernya ini kisah nyata dari teman saya sewaktu saya masih SMA, karena saya sangat tertarik dengan ‘keadaan’nya /iniapa/ jadilah saya angkat menjadi sebuah FF itupun selama pembuatan FF ini tubuh saya merinding terus menerus dan malamnya saya bermimpi sesuatu. hohoho^^;)
***
Kau tak bisa berpikir dengan jernih ketika khayalan dan kenyataan itu berjalan beriringan
Keyla menutup matanya pelan merasakan hembusan angin semilir yang menelisik telinganya, ia merasakan angin itu menembus perlahan di antara celah-celah rambutnya yang terurai, membawa pergi aroma tubuhnya yang berbau lembut di antara rimbun pohon-pohon di kaki gunung Xi Chu.
“sudah hampir malam, kita harus kembali ke rumah penduduk, kurasa penelitian ini cukup sampai disini” seru Luhan kepada seluruh anggotanya.
Keyla mengangguk pelan, ia menuruti perintah sang ketua dan berjalan menyusuri hutan rimba yang pada bagian kirinya membentuk cekungan yang disebut jurang, Keyla memperhatikan jurang itu sampai akhirnya ketika ia menengok ke barisan di depannya, ia tak menemukan siapa-siapa.
“Luhan…Hana… Liu… Sachi…” Keyla memanggil nama rekan kerjanya satu persatu namun tak ada sahutan.
Lelah berteriak Keyla tak kunjung jua menemukan anggotanya, “kenapa mereka menghilang begitu cepat?” keluh Keyla. Ia ingin menangis tapi di tahannya, seingatnya jalan menuju pemukiman penduduk hanya lurus saja dari tempat ia berada namun kenapa ia tak kunjung menemui cahaya lampu gemerlapan sementara gerimis mulai turun membasahi tubuhnya.
Sinar bulan bahkan tak mampu menembus rimbunnya pohon-pohon yang tumbuh liar di hutan. Keyla mulai merasakan buku-buku tangannya memutih dan ujung tangannya mengkerut karena kedinginan sampai akhirnya sebuah tangan memegang lengannya dan membuatnya tercekat.
“si…siapa kau?” desis Keyla.
Keyla memicingkan matanya berusaha melihat dengan jelas wajah sang pemilik tangan hingga akhirnya dia terpaku menatap sosok di depannya,  ia melihat seorang lelaki tampan dengan wajah nyaris sempurna tanpa cela.
Rambutnya yang berwarna keemasan terlihat berkilau di timpa cahaya rembulan, Keyla menatap ke atas langit melihat bulan purnama yang sekarang bersinar terang dan menimpa tubuh lelaki di depannya.
“sepertinya kau kedinginan” lelaki itu tak menjawab pertanyaan Keyla dan bahkan dengan satu gerakan tangan dia menggendong Keyla.
Keyla berteriak kaget ketika dirasanya tubuhnya sudah tak menginjak tanah dan malah bergelung hangat di gendongan sang lelaki, mulutnya terasa kaku akibat perlakuan yang serba mendadak ini, lelaki itu tersenyum yang malah terlihat seperti seringaian.
“jangan takut, aku takkan menyakitimu” bisiknya pelan, aroma mint dari mulutnya menghipnotis Keyla hingga Keyla hanya mengangguk pasrah, di tatapnya alis sang lelaki yang ternyata berwarna keemasan, tubuh tegapnya menggendong tubuh Keyla tanpa beban.
“namamu siapa?” Tanya lelaki itu.
“K..Ke..Keyla” sahut Keyla yang bahkan terdengar seperti sebuah bisikan.
“aku Kris, aku anak pemilik tempat ini…” ia tersenyum sekali lagi.
Anak pemilik tempat ini?? Tentulah ia anak baik-baik, dilihat dari wajah dan penampilannya ia sepertinya bukan penjahat, tukang kayu yang berusaha menculiknya atau bahkan pemburu liar. Mendengar hal itu membuat hati Keyla menghangat, ia semakin meringkuk dalam gendongan Kris, mendengarkan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari Keyla, Keyla merasakan lengan Kris bahkan lebih lembut dari kulitnya, kulit pucat itu masih berusaha menghangatkan Keyla.
“aku mencium baumu tadi sore dan memutuskan kesini sebelum hujan menenggelamkan baumu” bisik Kris, Keyla hanya terdiam, matanya terasa sangat mengantuk karena hampir 3 jam berteriak di antara hujan dan lelahnya perjalanan yang sudah ditempuhnya hingga akhirnya ia terkulai lemas di gendongan Kris.
**
“Key…”
“Keyla… kau bisa mendengarku?” 
“……..”
Keyla menggerak-gerakkan bola matanya perlahan menjelajahi sudut ruangan yang di dominasi warna coklat hingga akhirnya ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
“Keyla, kau baik-baik saja?” Tanya Luhan memastikan ketika dilihatnya Keyla meringis.
“hmmm” Keyla mengangguk perlahan.
“tenanglah dia hanya sedikit lelah dan pusing” kata seorang wanita yang menjadi tabib kampung di kaki gunung Xi Chu.
“tadi malam kau tergeletak di depan penginapan dengan tubuh basah kuyup sehabis hujan, warga kampung yang menemukanmu, aku pikir kau tak bisa tertolong lagi” Sachi memelukku sambil berderai airmata.
Keyla hanya tersenyum sambil membelai lembut puncak kepalanya.
“kau hilang di tengah perjalanan Key, dan kami berusaha mencarimu namun tak berhasil menemukanmu” sesal Luhan.
 Keyla hanya mengangguk pelan kemudian matanya berkeliling menatap orang yang menjenguknya.
Mana lelaki itu? Batinnya.
“apa ada orang yang mengantarkanku?” tanyaku memastikan.
“tidak ada, kau ditemukan di pekarangan rumah Nyonya Bai di dekat hutan” jelas Luhan.
“kau mencari siapa?” Tanya Liu yang datang sambil membawa baskom kompresan.
Keyla menggeleng dan karena tubuhnya terasa sangat lelah, ia menutup matanya perlahan.
**
“kita mau kemana malam-malam begini?” tanya Keyla yang hanya bisa pasrah ketika tubuhnya yang mungil digendong Kris.
“melihat sesuatu yang menakjubkan” kata Kris.
Keyla hanya mengikuti kemana langkah Kris membawanya pergi, ia menatap semburat kemerahan dari rambut Kris, diacaknya rambut lelaki itu dan malah membiarkan rambut-rambut Kris bermain-main di wajahnya.
Padahal aku baru mengenalnya semalam kenapa aku bisa seakrab ini dengannya? Batin Keyla. Apa ini terlalu mendadak? Dia semacam magnet yang menghancurkan sistem kerja otakku.
Matanya menjelajahi pemandangan sekitar, dilihatnya ratusan pohon driftwood menjulang tinggi dan burung-burung camar beterbangan mengitari sebuah kapal yang melaju di atas permukaan air.
“luar biasa” decak Keyla kagum.
“kau menyukainya?” tanya Kris begitu menurunkan Keyla dari gendongannya dan membiarkannya berputar mengitari bibir pantai.
“hmmm” angguk Keyla senang sementara Kris masih sibuk mengumpulkan ranting-ranting driftwood.
“coba lihat” Kris membuat Keyla menoleh, sekarang Keyla dapat menatap wajah Kris yang tampan karena api hasil pembakaran driftwood.
“kau lihat? Api ini berwarna-warni karena driftwood ini” jelas Kris.
Keyla mengangguk-angguk dan tanpa disuruh ia berlari mengejar Kris dan menyandarkan kepalanya di bahu Kris.
“kenapa kau meninggalkanku waktu itu?” Keyla menatap buku-buku tangannya yang ditempeli butiran pasir.
“hmmm. Tak ada yang membukakan pintu waktu itu dan karena aku memiliki suatu kepentingan, terpaksa aku meninggalkanmu” jelasnya.
“kau jahat” protes Keyla.
“maaf, lain kali aku takkan melakukannya lagi” Kris menatap Keyla menyesali perbuatannya, “apa kau suka laut?” tanya Kris.
“hmmm” Keyla terlihat berpikir, “sebenarnya aku tak begitu suka pantai karena pasir-pasir ini” keluhnya pada butiran halus pasir yang menempel di kakinya. “tapi aku belum pernah melihat pantai seindah ini” decaknya kagum.
“aku lebih suka matahari, setidaknya matahari dapat membuat moodku lebih baik daripada cuaca buruk” keluhnya lagi.”kau suka salju?”
“aku bahkan membenci matahari karenanya dia menyilaukan” gerutu Kris. “aku suka salju dan segala sesuatu yang dingin” jelasnya.
“salju? Ih. Kau akan menyukainya dan akan langsung membencinya begitu salju itu mulai meleleh di kakimu” decak Keyla sementara Kris hanya tersenyum sembari mengacak rambut Keyla pelan.
*
 Ini sudah tiga hari sejak kedatangan Keyla dan teman-temannya di desa Huangzu, namun tabib yang mengurus Keyla malah menyuruh mereka sedangkan penelitian mereka masih tersisa dua hari lagi.
“ini ada hubungannya dengan keselamatan Keyla” hanya itu yang meluncur dari bibir sang tabib.
“bisakah kau menjelaskannya?” Luhan yang terlihat tak terima dengan pengusiran sang tabib meminta penjelasan.
“tidakkah kau merasa kasihan dengan igauan Keyla setiap malam?” todong sang tabib.
Keyla menatap Luhan dan sang tabib bergantian, mengigau? Sejak kapan aku mengigau? Aku berpikir keras, akhir-akhir semenjak lelaki yang kutahu bernama Kris itu menemuiku, aku sangat sering memimpikannya, menghabiskan waktu setiap malam bersamanya dan kuakui, aku jatuh cinta padanya sejak hari pertama dia menemukanku tersesat di hutan.
“mungkin itu hanya bunga tidur dan tak ada hubungannya dengan mitos setempat” protes Luhan.
Mata tabib itu melotot dan menatap Keyla ngeri, “Keyla, apakah di hutan kau bertemu dengan seseorang?”
Keyla bingung harus memberikan jawaban apa, apakah lelaki yang setiap malam menghantui mimpinya itu benar-benar nyata? Apakah kejadian di hutan itu benar-benar nyata? Lantas kalau tidak Kris yang mengantarkannya, siapa lagi?
“apa kau mengenal lelaki yang bernama Kris?” desak Luhan tak sabar.
Keyla tercekat mendengar pertanyaan Luhan, “i..itu lelaki yang kutemui malam di mana aku tersesat. Aku bahkan tak tahu dia nyata atau hanya halusinasiku tapi dia datang setiap malam di mimpiku.”
Rahang sang tabib terlihat mengeras, “tak ada penduduk yang berani menamai anak mereka dengan nama itu”
Ia menghela napas sejenak, “Kris, atau lebih tepat Wu Yi Fan adalah pangeran, anak dari raja siluman harimau putih yang memiliki kekuasaan dari puncak gunung ini sampai di perbatasan GuangZhou, kau harus pergi Keyla sebelum dia jatuh cinta padamu membawamu ke alamnya.”
Keyla mematung mendengar penjelasan dari sang tabib, ia tak menyangka lelaki yang selalu bermain dengannya setiap malam itu benar-benar ada.
“besok pagi kalian sudah harus pergi, malam ini hujan turun sangat lebat dan aku takkan membiarkan kalian pergi karena kekuatan siluman bisa bertambah apabila hujan turun” sebelum tabib itu pergi dia berpesan, “apapun yang terjadi jangan biarkan Keyla sendirian”
**
“Key” sebuah suara beraroma mint itu kembali mengusik pendengaran Keyla, begitu ia membuka matanya ia mendapati wajah tampan yang hanya dimiliki para anak bangsawan itu tengah tersenyum lembut menatapnya.
Keyla mundur perlahan ketika dirasanya pandangan lelaki itu seperti menusuknya.
“jangan takut, sayang” entah darimana datangnya, Kris sudah berada tepat di depannya, di rengkuhnya tubuh mungil Keyla dan ia menyusupkan kepalanya di antara leher dan bahu Keyla.
“kau curang! berusaha membuatku tersiksa karena merindukanmu ya? Kenapa kau tidur lebih lambat dari biasanya?” deru napasnya yang halus menyentuh kulit leher Keyla dan membuatnya merinding.
“kau…benar-benar nyata?” bisik Keyla, ia masih berusaha menetralkan detak jantungnya sejak lelaki itu datang ke hadapannya, ia baru saja menyadari bahwa mimpinya selama ini bukan hanya sekedar bunga tidur.
“tentu saja” Kris tersenyum geli melihat wajah polos Keyla, “aku bahkan sudah jatuh cinta denganmu hanya karena aku mencium baumu”
Kris jatuh cinta padanya?!! Batin Keyla mencelos, di satu sisi Keyla bahagia karena cintanya terbalas dan di sisi lain ia teringat peringatan dari sang tabib.
“apa kau mencintaiku Keyla?” tatap Kris, di dongakkannya wajah Keyla dan menatap tepat di manik matanya.
Keyla menggeleng panik, “tidak, aku tidak mencintaimu Kris” ia berusaha mendorong lelaki di hadapannya namun usahanya bahkan tak bisa membuat Kris bergeser satu cm pun dari tempatnya.
“kau membuatku geli, Key, bagaimana bisa kau berbohong sedangkan sorot matamu bahkan tak bisa membohongi perasaanmu sendiri” Kris mendekatkan wajahnya ke pipi Keyla, dibauinya tubuh Keyla.
“kenapa harus pulang secepat ini?” Kris menatap Keyla sayu.
“memangnya kenapa?” tantang Keyla berusaha tak gentar di hadapan Kris.
 Kris menelusuri wajah cantik Keyla dengan matanya, sampai akhirnya ia menghembuskan aroma napasnya yang berbau mint itu sebelum akhirnya ia merapatkan bibirnya dengan bibir Keyla.
Keyla melonjak kaget mendapat perlakuan Kris, di rasanya lidah itu menelusup masuk ke dalam rongga mulutnya, menjelajah hingga ia menemukan  lidah Keyla dan membelitnya berlahan hingga menimbulkan decakan yang membuat Keyla merinding.
Kris semakin memperdalam ciumannya dengan mengetatkan pelukannya pada pinggang Keyla, “please, stay with me” bisiknya di sela ciumannya.

“Key… bangun Key” Keyla terbangun mendengar suara panik dari Liu.
“ahhh” Keyla membuka matanya perlahan.
“kau…” Liu menatap Keyla dengan pandangan ngeri. “kau mengangkat kedua tanganmu, Key dan itu membuatku takut!” jeritnya di sela tangisannya.
“kenapa?” Tanya Keyla polos.
“kalau aku tak segera membangunkanmu mungkin kau sudah meninggal” detik itu juga Liu memeluk Keyla histeris.
**
“sekarang kau aman Key” Luhan mengusap lembut puncak kepala Keyla. Keyla hanya tersenyum samar, hatinya masih tidak rela harus berpisah dengan desa dan gunung yang sangat menarik lagi. Ia mengusap bibirnya perlahan. Apakah bibir ini masih suci atau Kris memang sudah mencurinya?
Keyla menggeleng pelan ketika di rasanya mimpi dan kenyataan bisa bersatu dalam hidupnya dan membuatnya pusing setengah mati. Apakah rasa cintanya terhadap Kris yang mulai tumbuh perlahan sejak Kris masuk dalam mimpinya setiap malam itu juga tidak nyata?
“kau kenapa?” Tanya Luhan bingung.
“tidak, tadi malam tanganku terangkat keatas dan Liu histeris membangunkanku karena takut aku meninggal” Keyla lagi-lagi tersenyum geli.
“jelas saja aku takut, kata nenekku seseorang yang memimpikan orang yang sudah meninggal dan ketika tangannya terangkat kita harus cepat-cepat membangunkannya sebelum ruhnya ikut terbang mengikuti ruh orang yang sudah meninggal” decak Liu gemas.
“hahahaha nenekmu mengada-ngada” sahut Luhan.
“aku bahkan tak yakin Kris sudah meninggal atau dia bahkan tidak pernah hidup mengingat eksistensinya yang diragukan di dunia nyata” celetuk Hana.
Luhan menatap Keyla yang terdiam di sebelahnya, “kau masih mencemaskan sesuatu terjadi padamu?” tangan Luhan terulur melewati bahu Keyla dan mengusapnya pelan.
“jangan sedih nanti cantiknya hilang” goda Luhan sambil mencubit pipi Keyla.
Tak disangka air muka Keyla berubah, ia menatap Luhan garang dan langsung meninju wajah Luhan dengan satu tangannya.
“Keyla apa yang kau lakukan?!!” jerit Hana histeris.
Mobil pun berhenti karena Keyla masih semangat memukul wajah Luhan, “apa yang kau lakukan??!!” Liu mengerem mobilnya mendadak dan menyuruh Hana untuk melepaskan tangan Keyla yang mulai mencekik leher Luhan.
“uhukk…huk…huk... Key… lepaskan…” pinta Luhan terbatuk-batuk.
“Keyla hentikan” jerit Sachi.
“berhenti menyentuh Keyla, dia gadisku” bibir mungil Keyla bergerak menekankan kata itu di depah wajah Luhan.
“dia…dia bukan Keyla…..” bisik Sachi tertahan.
**
“Luhan!!” Hana datang ke dalam ruang rapat yang sedang dipimpin oleh Luhan.
“kenapa?” Luhan langsung menghentikan kegiatannya, puluhan pasang mata menatap kea rah  Hana.
“Keyla berjalan kearah hutan pinus itu!” tunjuknya pada rimbunan pohon pinus di belakang bangunan rapat.
Dengan sangat terpaksa Luhan menghentikan rapat dan memutuskan untuk mengikuti Hana.
Susah payah Luhan menelan ludah, “kenapa kau tidak mencegahnya?”
“dia tak bisa dicegah, aku sudah beberapa kali meneriakinya namun ia tak juga mendengarkanku!”
*
“kupikir kau tak datang menemuiku” Kris merentangkan tangannya memeluk Keyla.
Keyla terdiam membisu merasakan pelukan hangat dari Kris, perlahan tangannya terulur menyentuh garis-garis wajah Kris yang tampak kokoh dan berkilauan, butir-butir air hujan mulai turun membasahi pipinya.
“kau…tidak hadir dalam mimpiku” bisik Keyla.
“menurutmu?”
Keyla hanya terdiam sampai akhirnya ia menatap mata tajam itu, “mau apa kau ke sini dan menemuiku? Kembalilah ke alammu Kris” pintanya lirih.
“apa?  Aku baru aja datang dan kau malah memintaku pergi?” ia berdecak tak percaya.
“lantas kau mau apa?”
“aku ingin kau menikah denganku, Keyla” bisiknya sambil menghirup aroma tubuh Keyla dalam-dalam.
“a—apa???” Keyla menatap tak percaya.
“kenapa? Bukankah kita sudah saling mencintai? Oh ayolah Keyla bahkan aku sudah menunggu hari ini lama sekali”  Kris menatap Keyla tak percaya.
“kita berbeda alam Kris, aku tak bisa” ada semacam gelenyar aneh saat Keyla mengucapkan kata itu. Bukankah sudah lama sekali ia menginginkan pernikahan? Tapi menikah dengan sesame manusia.
“persetan dengan dunia Keyla, kau bisa menjadi ratuku di sana selamanya dan kau bahkan tak perlu lagi mengurusi kehidupan duniawimu yang bodoh itu” bentak Kris.
“ba…bagaimana dengan keluargaku Kris, aku takkan bisa meninggalkan mereka” jeritku pilu.
“kita bisa membuka lembaran baru Keyla dan kau akan dengan mudah melupakan semuanya” bujuk Kris.
“a…aku tak bisa”
“apa kau tidak bisa membuatku bahagia sedikit saja Keyla? Kau bahkan hampir membuatku gila karena aku hanya bisa menemuimu dalam mimpi, dan aku sudah ratusan tahun lamanya menunggu kehadiranmu” teriak Kris yang terdengar seperti sebuah lolongan yang sukses membuat Keyla membeku.
---
“Key…Key…. Bangun Key….” Bisik Luhan.
“Keylaaaa....” Luhan berteriak memanggil namanya ketika dilihatnya Keyla mulai kejang-kejang di atas ranjang rumah sakit. Ditekannya panic button berkali-kali hingg akhirnya seorang dokter dan beberapa susterpun datang menengok.
“sus tolong pasangkan selang oksigen di hidungnya” perintah sang dokter begitu mengetahui kondisi keadaan Keyla.
Luhan menatap frustasi wajah Keyla yang pucat pasi menahan sakit di tubuhnya, giginya bergemeletuk menahan amarah, mengutuk pangeran hutan yang sudah menyakiti gadis yang dicintainya.
“anda adalah anggota keluarganya?” tanya dokter Suho memastikan.
“ya” dustanya.
*
“itu.....gadis itu.....” napas Keyla terasa sesak begitu melihat gadis yang terbujur lemas tak berdaya di atas ranjang.
Matanya membelalak ketika dilihatnya Luhan duduk di pinggiran kursi di rumah sakit.
“Luhan...Hana” panggil Keyla namun mereka tak membalas panggilan Keyla.
“apa keluarganya Keyla bisa datang secepatnya? Kondisi Keyla semakin kritis” tanya Luhan pada Hana yang tengah sibuk mengutak-atik gadgetnya.
Hana menggeleng lemah, “kedua orangtuanya sedang pergi ke luar negeri menemui nenek mereka yang baru saja meninggal. Mereka akan tiba 24 jam dari sekarang” jelasnya.
Luhan mengacak rambutnya gusar, “ini salahku, aku yang memaksa Keyla untuk ikut ke tempat penelitian itu sementara kondisi tubuhnya tidak mendukung” erangnya.
“sudahlah Luhan, kau menyesali semua yang telah terjadi, semua takkan memperbaiki keadaan” Hana menepuk punggung Luhan, menguatkan “apa hasil diagnosa dokter?”
“penyakit Keyla tidak terdeteksi, awalnya dia hanya pingsan biasa, tapi sekarang keadaannya memburuk, detak jantungnya melemah dan ia kesusahan untuk bernapas”
“lelaki hutan itu.....” bisik Hana lirih.
“kau apakan tubuhku, Kris?” Keyla menatap Kris geram.
“aku tak melakukan apa-apa” Kris berdiri disampingnya, mengangkat kedua bahunya dan melihat seolah ini bukanlah suatu masalah bagi hidupnya.
“itu...tubuhku kan?” tanya Keyla melemas.  Sementara Kris mengangguk mengiyakan.
“apa aku sudah mati?” bisiknya lirih.
“belum, mungkin ragamu akan hancur tapi ruhmu masih bersamaku” jelas Kris tenang.
“kembalikan aku, Kris, aku ingin kembali menjadi manusia” isaknya.
“dan meninggalkanku sendirian?” mata Kris menatapnya sayu, “kau mau masuk kembali ke dalam rongga tubuhmu yang sudah dipenuhi selang itu? Apa enaknya jadi manusia? Manusia itu bodoh, serakah. Kadang rela meninggalkan orang yang mencintainya dan lebih memilih hidup bersama dengan orang yang brengsek, tidak pernah puas dengan hasil yang ia peroleh. Apa kau mau hidup di antara orang yang seperti itu?” Kris menatap Keyla tepat di manik matanya.
“ohh.. apa kau pikir lelaki yang sedang menungguimu di rumah sakit itu akan terus menerus setia padamu ? aku bertaruh dia akan meninggalkanmu apabila ia menemukan gadis yang lebih menarik daripada dirimu”
Baru kali ini Keyla mendengar  ucapan Kris yang terdengar begitu tajam di kupingnya, “ dan bangsa kami, sangat menghormati wanita sekalipun dia bukan dari golongan kami. Kami akan setia pada gadis-gadis kami sampai kiamat memisahkan”
“aku bukan gadismu!” sembur Keyla. “aku manusia biasa dan tidak akan pernah mungkin bersanding dengan pangeran sepertimu”
“jangan merendah Keyla! Aku bahkan sudah melakukan apa saja demi kau!” tegasnya.
“a...apa yang lakukan Kris? Tunggu dulu... jangan bilang kalau orang tuaku....”
“Ya.. orang tuamu bisa saja mengalami kecelakaan pesawat karena perbuatan anak buahku, dan aku bisa dengan mudahnya menghilangkan jejak mereka  sampai akhirnya semua orang di muka bumi beranggapan kalau mereka hilang di segitiga bermuda” jelasnya, “kalau kau mau, aku bisa saja mengajak kedua teman setiamu itu” Kris mengarahkan pandangannya pada Luhan dan Hana.
“tolong jangan sakiti mereka Kris,aku mohon” tubuh Keyla bergetar hebat hingga akhirnya ia terduduk di depan Kris. Ia tergugu meratapi perang batin yang sedang ia alami dengan Kris, “aku mencintaimu Kris, sungguh tapi kita tak bisa bersatu, tolong lepaskan aku, aku ingin kembali ke duniaku” isaknya pilu.
“Key...” Kris memeluk Keyla yang terduduk di hadapannya, ditatapnya tubuh ringkih itu dalam genggamannya dengan tatapan terluka.
“aku mohon” Keyla menenggelamkan kepalanya di dada bidang Kris.
Lama Kris terdiam hingga akhirnya ia memutuskan.
“baiklah aku akan melepaskanmu tapi jangan salahkan aku bila suatu saat nanti kau dicampakkan oleh orang yang kau sayang di dunia. Aku takkan segan-segan menculikmu dan membawamu ke duniaku” ancam Kris.
Keyla mengangguk pasrah, perlahan pelukan Kris mulai mengendur, ditatapnya wajah Kris yang semakin mendekat, ia menutup matanya, menghirup aroma yang menguar dari tubuh Kris dan menyimpan baik-baik harum itu dalam otaknya. Pelan-pelan bibir Kris mulai merapatkan bibirnya pada lekukan bibir Keyla yang mungil. Mengecupnya perlahan hingga kecupan itu berubah menjadi sebuah ciuman yang memabukkan. Keyla hanyut dalam sensasi yang dibuat oleh Kris. Tangannya yang menjuntaipun perlahan mulai naik mengelus leher Kris dan memeluknya erat. Kris semakin memperdalam ciumannya sampai akhirnya seberkas cahaya putih menyilaukan menenggelamkan tubuh mereka berdua dan Keylapun kembali ke dalam tubuhnya.

END

Senin, 30 Desember 2013

2013 akhir tahun kelabu

sebelumnya gue minta maaf karena gue malah curhat bukan ngepost ff atau yang lainnya, mengenai ff gue lagi ga ada ide, sesuatu yang dipaksain itu gabaik dan gue lagi ga punya mood buat lanjutin ff gue, harusnya gue belajar buat final malah galauin yang beginian.

sepanjang tahun 2013 ini dari awal masuk kuliah kan gue emang ga ada niat buat punya pacar, tebar pesona atau gimana lah mengenai perpindahan gue dari SMA - KULIAH yang berarti suasana baru, lingkungan baru, dsb.

disini seperti curhat gue yang sebelumnya, gue punya pujaan hati, bukan cuma satu ya, pujaan hati gue ada tiga di kelas, hehehe. tapi yang lebih dominan sih someone with Kawasaki Ninja Merah ahahahah gila aja.
gue ngebayangin aja bisa duduk naik tuh motor yang menurut gue kece badai (maklum yang ngendarain juga kece badai versi gue yang lagi kasmaran)

yaudah kan bla bla bla akhirnya gue bisa deket sama dia, dia semacam ngajakin gue pacaran gitu padahal gue tahu dia udah punya cewek, semacam selingkuh gitu deh, gue ga ngerti sumpah jalan pikirannya sampe mau selingkuh sama gue yang jelek ini, sumpah gue ngerasa jelek, emg byk yang bilang sih hehehe. gue culun mak, kacamataan, kalo lg mood doang pake softlens.

selama 2013 itu gue deket sama dia, meskipun gue selalu nolakapa yang dia inginin, ya semacam setan gitudeh dianya, menjerumuskan ke hal maksiat dan impian dia ssatu-satunya adalah "pengen ngajakin ke kosan biar bisa nyium" gila aja kan gue ga ngerti dia punya fantasi seliar/? itu sama gue, oke mungkin itu terlihat biasa, menurut gue itu WAW.

ini real man, kalo di ff gue mah nurutin aja apa kata cowok di ff gue, diajak jalan, nginep disini, dijebak disini, tapi hidup cuma sekali woy, realita gabisa diatur sendiri, sekali lo kejebak dan tiba-tiba ada something yang terjadi antara lo dan dia, gue yakin itu punya bekas, dari segi mental atau fisik.

gue udah nyoba move on , berjuang keras buat gak suka lagi sama dia, nyari gebetan baru...
sampai akhirnya gue langsung ganti foto wechat gue sama cowok gebetan gue(tapi dia ngabaikan gue,okesip) dan pas gue ganti, dia langsung ngchat gue
"itu siapa?"
gue jawab , "seseorang"
daaaan dia kira itu cowok gue, taunya dia ngchat gue cuma mau ngasih kabar  dia putus sama ceweknya, gue gatau gue harus sedih atau bahagia dengernya, tapi gue udah terlanjur act like i have a boyfriend. HAHAHA STUPID!
'
udah aja, gak lama kemudian dia balikan sama ceweknya, abis itu ada acara LKKM , sejak saat itu gue sama dia kembali deket, dekeeeet, gue ngerasa bahagia banget waktu itu walaupun cuma bisa meluk2 jaketnya doang, gue gaberani terlalu jauh deket sama dia, takut diapa2in. hahha

di penghujung tahun ini, gue gapunya firasat apa-apa sampai dia ngechatting gue ngajakin gue ketemuan, gue tahu maksud dia ngajakin gue jalan pasti ada maksud, gue takut,
tapi dia bilang tanggal 1 pacarnya bakalan datang ke kosannya, mereka satu kos bareng dan yaaa pacarnya tinggal di kota kami mulai sekarang.
dia pengen bikin kenangan indah sama gue sebelum besoknya kita beneran lost contact, gak mungkin kan dia hubungin gue sedangkan pacarnya deket sama dia..
kenangannya ya, sesuatu yang romantis dan mungkin kisseu *___* jauh di lubuk hati gue yang terdalam, pujaan hati meeen yang lo sayang, yang lo impi-impiin, yang lo kangenin, tiba-tiba dengan satu kata "ya" lo bisa jalan bareng dia, dicium, dipeluk dan yaaa just acting like we r a couple !
tapi, disini gue mikir, gue siapa? hidup gue dimana? ada gak orang tua ngajarin gue buat maksiat kaya gitu? gue wanita baik-baik, gak pernah disentuh2 begitu dan tiba-tiba ......
seseorg yang lo harepin yang lo mimpiin tiap malam datang nawarin semuanya.
but back in reality, akhirnya gue nolak dan milih buat menutup semuanya. mata gue, hati gue, gue gak mau ngecewain orang tua gue. gue mau jaga diri gue, harga diri gue. udah jelek masa gak punya harga diri, malu atuh ;;)
 gue nangis masa saat gue mau say good bye sama dia, hahaha lucu aja, gue pikir gue bisa kuat gak nangis, ternyata................. sama saja

"badai sebelum tahun baru emg berderai airmata. pantaskah dditangisi? mungkin emang niatnya "bikin suatu kenangan manis di penghujung tahun sebelum berpisah" bagaimana kalau kedengarannya "memberikan 'bekas' sebelum akhirnya ditinggalkan dan terlupakan?" --- mei "