Jumat, 02 Agustus 2013

FF KRIS: KNOW ME FIRST KISS ME LATER PART VI

KNOW ME FIRST, KISS ME LATER(PART VI)
Author:  Mei F.D


Cast :

·         Wu Yi Fan/ Kris EXO M as Kristanius A. S.

·         Mello as Priscilla N. Melody

·         Delida Rahardika as Delida

·         Kim Jong Dae as Dae

·         Do Kyungsoo as D.O

·         Oh Sehun as Odult

Length : multichapter

Genre : romance, drama, antara kocak dan ngenes ckck

PG : 15++
Dibaca dulu siapa tau suka, kalau gak suka baru tekan tombol back^^. Klo ff ini dijamin udah tamat hehehe. Jgn lupa follow @meiokris :*
***
Author’s POV
Awan mendung berarak menuju danau karena di tiup angin, di danau inilah air hujan jatuh setetes demi setetes dan perlahan mendarat mulus di kulit Mello. Danau adalah saksi bisu drama menyedihkan antara dia, Miranda dan Kris.
Mello terduduk lemas menahan emosi jiwanya yang menyesakkan, membuat paru-parunya seperti dipukul benda tumpul, tak berdarah namun terasa amat nyeri. Di tatapnya arah kepergian Kris dan Miranda yang menyusulnya itu, sepi... hanya kilasan-kilasan drama beberapa menit yang lalu berkelebat di benaknya.
DO...jemput aku di taman dekat danau ya..
Mello mengirim pesan singkat itu pada DO, ia tahu DO bukanlah lelaki bodoh yang tak bisa menyadari kalau cewek yang sedang di seberang teleponnya sedang terluka, biarlah dia sendiri dulu, ia tak yakin DO akan menyetir dengan selamat kalau tahu keadaan Mello.
Mello menghela napas berkali-kali, berusaha menetralkan pacuan detak jantungnya dan butiran kristal yang mendesak ingin keluar... ia tak tahan lagi...
Mello menangis.. merintih.. meneriakkan nama Kris di sela-sela suara hujan yang dengan kejinya menenggelamkan suaranya. Mello bahkan tak terlalu jelas mendengar rentetan teriakannya, semuanya terlalu berdengung, menyesakkan dan menyakitkan.
Ia berteriak parau meratapi nasibnya sendiri yang ditinggal kekasih yang bahkan cuma dimilikinya beberapa menit itu. Hilang sudah, sia-sia...usahanya membuat seorang Alva jatuh cinta padanya..
“iya aku memang bodoh!! Aku memang bodoh mencintainya!! Aku bodoh terus-terusan menunggunya!! Aku bodoh karena selalu memikirkannya!” suaranya memelan, “kenapa kau tega melakukan semua ini Kris...kenapa...” ia tersedu.
Kepercayaan dirinya sudah benar-benar lenyap, hatinya remuk.. airmata yang mengalir deras di sudut matanya bahkan tak kuasa mewakili kesedihan yang membuncah pada dirinya. Terlalu banyak emosi dan terlalu banyak umpatan yang ingin ia keluarkan.
Hidungnya terasa sakit dan matanya terasa perih karena air hujan yang terus-terusan mengguyur tubuhnya..semua sakit, dingin dan perih yang ia rasakan di tubuhnya kini tak sebanding dengan rasa perih yang menusuk hatinya.
“Melloooo” DO berteriak diantara hujan yang turut menenggelamkan suaranya. Tenggorokannya benar-benar terasa sakit karena harus meneriakkan nama Mello berulang-ulang.
Mello merasakan ada yang memanggilnya, ia menoleh hingga akhirnya ia dan DO bertemu pandang..
“Mello....” DO berlari ke arahnya.
Mello mencoba beranjak dari tempat duduknya, ia mencoba berdiri namun kakinya sudah benar-benar terasa lemas sekarang, ia jatuh terduduk.
Mello meremas rumput di dekatnya, ia merasa tak mempunyai gaya gravitasi lagi, ia tergugu meratapi kepergian Kris, bahkan genangan air yang tercipta di depannya seakan mengejeknya dengan menampilkan refleksi dirinya yang benar-benar kacau. Mello terus menangis hingga akhirnya pandangannya mengabur dan semuanya terasa gelap.
I often close my eyes and I can see you smile
You reach out for my hand and I'm woken from my dream
Although your heart is mine... It's hollow inside
I never had your love and I never will

And every night.. I lie awake
Thinking maybe you love me... Like I've always loved you
But how can you love me... Like I loved you when
You can't even look me straight in my eyes

I've never felt this way to be so in love
To have someone there, yet feel so alone
Aren't you supposed to be the one to wipe my tears
The on to say that you would never leave

The waters calm and still
My reflection is there
I see you holding me but then you disappear
All that is left of you
Is a memory... on that only, exists in my dreams

I don't know what hurts you but I can feel it too and it just hurts so much
To know that I can't do a thing and deep down in my heart
Somehow I just know... that no matter what
I'll always love you...........
So why am I still here in the rain..........

Alva....aku bahkan tak bisa menjangkaumu...
Walaupun saat itu aku sudah memilikimu...
Aku tau kau masih mencintainya dan separuh hatimu masih bersamanya..........
***
DO menatap wajah tenang yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya, di telusurinya wajah Mello, cantik, pujinya.
DO beberapa kali mengompres gadis yang berada di depannya sekarang, Mello demam tinggi semenjak kejadian itu sehingga DO harus memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya.
Diam-diam ia beranjak dari tempat duduknya dan menundukkan wajahnya di depan Mello, dikecupnya pelan bibir gadis yang di cintainya perlahan, di elusnya bibir bawah Mello yang masih pucat.
Mello bergerak-gerak dalam tidurnya yang membuat DO kelabakan karena takut ketahuan telah mencuri ciuman Mello, “mmhhh...gege...” gumamnya dalam tidurnya.
“bahkan kau masih memimpikannya dan dia masih menjadi satu-satunya pangeran bunga tidurmu” DO menatap Mello prihatin.
Ia mengecek ponsel Mello dan mendapati puluhan chatting, puluhan panggilan terjawab dan segalam macam usaha dari Kris untuk menghubungi dan mencari keberadaannya.
Mell...
 Mell maafkan aku...
Mell...kamu di mana sih?!
Mello aku janji akan menemuimu...
Daaaan puluhan pesan dari Kris yang membuat DO ingin meludah di tempat, DO memandang Mello sebentar, di hapusnya seluruh pesan dari Kris dan tak lupa memblacklistnya.
“kau lebih baik tidak usah berhubungan dengan Kris lagi” ujarnya lirih.
“Mello...” DO membangunkan Mello yang masih tertidur, diceknya suhu badan Mello yang masih panas.
“hhhh apa” Mello menggerakkan matanya dan mulai membukanya perlahan
“makan siang dulu ya ntar sambung lagi tidurnya” bujuk DO sambil membetulkan letak bantal Mello.
“nggak mau makan” tolaknya. Ia memejamkan matanya lagi.
“makan sedikit say...err... Mell... baru minum obat” DO bersikeras mendudukkan Mello dan menyuapinya.
Akhirnya Mello mulai membuka mulutnya sedikit dan mulai memakan buburnya dengan wajah yang ditekuk, sesekali DO menyeka bubur yang meleleh di sudut Mello, ia juga yang mengurut pelan punggung Mello ketika Mello terbatuk dan berniat untuk memuntahkan makanannya.
DO beberapa kali harus mengelus dadanya, menahan keinginannya untuk tidak menciumi gadis di hadapannya ini.
*
Setelah DO selesai menyuapi Mello dan membiarkan untuk tertidur lagi, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.
DO langsung mengalihkan perhatiannya dari Mello dan berjalan membukakan pintu, begitu pintu terbuka ia tercekat dengan sosok yang muncul di hadapannya sebagai tamu. DO menyeringai.
BUKKK!! Sebuah tonjokan mendarat mulus di wajah tamunya. Kris jatuh tersungkur. DO kalap dan membabi buta, sebelum tamu yang datang ke rumahnya itu bangkit, ia sudah lebih dulu melayangkan bogem mentah untuk yang kedua kalinya. Napasnya memburu.
DO berusaha mengontrol emosinya, kalau saja Kris bukanlah lelaki yang dicintai Mello sepenuh hati mungkin detik ini juga ia sudah membunuhnya. Kris tetap diam, tak melawan ketika menghadapi serangan dadakan dari bawahannya.
Kris hanya menatap DO dengan pandangan terluka sambil menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya.
“kenapa?? Kenapa kau tak membalasku Tuan Alva?! Kenapa? Aku Cuma bawahanmu dan kau bisa saja menghancurkan hidupku dalam sekejab!!” DO menarik kerah kemeja Kris yang masih terduduk di terasnya seraya berkata, “bapak boleh menghancurkan hidup saya tapi jangan pernah menghancurkan hidup Mello!!” ia menggeram.
“calm down, aku kesini untuk meminta maaf” Kris menepis tangan DO sambil berdiri dari tempatnya.
DO meludah, “meminta maaf? Semudah itu kau mengucapkan maaf sedangkan wanita yang kau sakiti sedang benar-benar terluka karenamu?! Brengsek!!” tangannya mengepal.
“kau bahkan belum melihat hasil kelakuan kejimu pada Mello kan?! Aku yang menemukannya di taman, ia benar-benar hancur di hari yang seharusnya membahagiakannya karena kau berniat untuk menjadikannya kekasih kan?” DO menyeringai sementara Kris terhenyak mendengar perkataan bawahannya.
“kenapa kau diam saja? Merasa simpati? Cih. Apa pedulimu sekarang?” tanyanya gusar.
Mata Kris mendadak sayu, memang keadaannya juga tak lebih baik dari Mello, rambut berantakan, tubuh lemah, wajah pucat, lingkaran hitam di kedua bola matanya dan rambut-rambut liar yang tumbuh di sekitar dagunya cukup mewakili betapa tersiksanya ia dengan keadaan sekarang.
“aku ingin bertemu dengannya dan menjelaskan semuanya” desis Kris.
“persetan dengan penjelasan! Urusi saja gadismu yang lain, kalau kau datang ke sini hanya untuk mempermainkan Mello, jangan harap!! Aku yang akan menjadi tamengnya, terserah kau mau menghancurkan hidupku atau membunuhku sekarang, tapi tidak untuk menyakiti Mello!!”
“aku datang ke sini untuk menjadikannya istri” ucap Kris pelan namun mampu menohok DO.
DO terdiam, dia benar-benar tak menyangka dengan ucapan Kris.
“terserah kau mau mencegahku untuk bertemu dengan Mello tapi aku takkan segan-segan membunuhmu jika kau menghalangi niat Mello untuk menemuiku. Permisi” ucap Kris yang langsung mundur dari hadapan DO.
Sebelum Kris melajukan mobilnya, ia menurunkan kaca mobilnya seraya beujar, “Oh ya, mengenai ucapanku yang tadi, aku tak main-main untuk menikahi dan membahagiakannya” ia menyeringai sembari tersenyum sinis.
“aku takkan melepaskanmu Mell... aku akan mendapatkanmu meskipun dengan cara terkotor sekalipun” bisik DO, nyaris mendesis.
**
Mello’s POV
                Aku merasakan ada yang bergerak-gerak di genggaman tanganku, eoohh??? Gerakannya nggak teratur, kadang kerasa kayak ada yang lagi genggam tanganku, kadang tanganku di remas-remas, wah ada yang nggak beres nih. Ehh ehh apa ini??!! aku merasa kaya ada sesuatu yang kenyal-kenyal gitu, basah terus hangat lagi nyentuh punggung tanganku. Apa lagi ini??!! aku berusaha susah payah buat ngebuka mata.
“DO?!” pekikku ketika melihat sosok yang berada di dekatku. Buru-buru aku bangkit dari tempat tidurku, yang dipanggil juga malah ikutan kaget, geleuh.
“hah? Hah? Kenapa Mell??!” DO ikutan panik dan langsung menempelkan tangannya di dahiku, “sudah nggak panas lagi kok” gumamnya.
“yang bilang panas siapa?” rutukku. Buru-buru aku membeku sebentar, tunggu-tunggu dulu.. panas?? Rumah siapa ini? kenapa aku Cuma berduaan sama DO?!
“aku...aku dimana?? Ini.. ini kenapa?” tanyaku tak sadar.
Mello! Bisa-bisanya mendramatisir di saat kayak gini, jelas-jelas ada DO di sini dan kau tertidur di sini. Aku menjawab pertanyaanku sendiri, tapi... ini loh.. masa aku tidur di sini?? Di rumah cowok lagi, ini rumah DO kan??!! Buru-buru aku mengecek keadaan kasur , bersih kok, nggak ada apa-apa. Tatapanku langsung beralih pada piyama yang lagi aku pakai.
Sejak kapan aku pakai piyama? Bukannya kemarin sore aku pakai baju santai? Aku langsung mengintip ke dalam piyamaku, bahkan kutang pun sudah ganti! Aku menatap DO ngeri.
Jangan-jangan ini anak udah ngapa-ngapain aku lagi, hiyaaaaa!! Belum sempat aku berteriak DO udah ngomong, “Mell jangan mikir yang nggak-nggak yah, aku nggak ngapa-ngapain kamu, kemarin kan kamu sakit terus kubawa ke sini...emmm” dia kelihatan salah tingkah.
“terus yang gantiin baju aku siapa?” todongku tak percaya,wah jangan-jangan mentang-mentang DO jomblo dan aku baru aja putus dari Kris dia mencari-cari kesempatan buat liat-liat mahkota dalamku.
Waduuuh bisa mati gaya aku kalau nih anak udah liat sampe ke dalam-dalam, emang sih dalemku ga menarik tapi kan tetep aja aku malu, apalagi yang ngelihat bukan suamiku.
DO menarik napas panjang, “Bora yang gantiin baju kamu, aku Cuma jagain kamu pas lagi sakit doang, selebinya... nggak ada yang lebih sih” dia nyengir kuda.
Aku mendesah pelan, untung aja dia nggak ngelihat koleksi kutang hello kittyku, aku kan ga demen beli daleman yang seksi, sukanya yang unyu-unyu. Pikirku.
“ohh gitu... emang aku udah berapa lama sakit?” tanyaku bingung.
“empat hari Mell, kenapa?”
Buru-buru aku meraih ponselku yang tergeletak di sampingku, mengecek notif apa aja di ponselku. Kosong, nggak ada satupun yang berasal dari Kris, kenapa? Percuma. Dia udah bener-bener pergi dan nggak mau kenal lagi sama aku kan? Kita kan bertingkah layaknya kita nggak kenal satu sama lain, artinya selamanya juga nggak bakalan ada sms atau telp yang masuk.
“aku mau pulang” pintaku pada DO, teringat lelaki ganteng ajaib sialan itu aku jadi kehilangan moodku sepagian ini.
“kenapa?” tanyanya bingung.
“pengen pulang aja, malu ama tetangga” aku mencoba berasalan yang sedikit masuk akal daripada harus bahas lelaki brengsek macam Kris Alva itu.
DO tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya dia mengiyakan.
“tapi mandi dulu, masih ada stok baju kamu tuh, bau tau Mell berapa hari nggak mandi”
**
Kris’s POV
“sebegitu berharganya kah wanita itu atau memang benar-benar tak ada wanita lain lagi yang dekat denganmu?” olok Delida sambil menyeruput kopi hangatnya.
Aku menyandarkan tubuhku di kursi, kata-kata DO yang ingin menjadi tameng untuk Mello benar-benar menggangguku, aku tahu DO mungkin lebih mencintai Mello jauh dari rasaku untuk Mello, tapi.. arrgghh,.. aku tak dapat memungkiri kalau aku juga tak bisa hidup tanpanya.
Aku menatap Delida lekat-lekat, sebenarnya ketika aku masih di luar negeri aku sempat melirik gadis ini, dia memang baik, perhatian, cantik dan segala hal yang membuat gadis-gadis iri ada pada dirinya, dia tak kalah dengan Miranda... bahkan lebih baik dari Miranda, sayang... setelah aku tahu kenyataan tentang dirinya, aku benar-benar menutup hatiku selama-lamanya untuk gadis yang berada di hadapanku ini.
“hmmm, sejauh ini aku masih sibuk merangkak untuk menata hatiku setelah aku berhasil menyakiti dua wanita sekaligus..” jelasku.
Ya Tuhan, seandainya karma itu benar-benar ada karena aku sudah menyakiti hati dua orang sekaligus dan melepaskan Miranda dari sisiku, ku harap aku tak harus melepaskan Mello juga kan?! Aku mendesah pelan.
“so? Rencana kamu selanjutnya?”
“hmm.. buru-buru mengikat Mello dengan pernikahan biar dia nggak kemana-mana lagi” jujur, aku tak yakin bisa menikahi gadis ini, maksudku.. kejadian di taman kemarin....
“hah.. kalau gadis baik-baik aku tak yakin akan mau menikah denganmu” ia tergelak.
Aku menyeringai, “semoga dia tak cukup baik jadi aku bisa menikahinya”
“lebih baik kau menikah denganku saja” candanya sambil menutup kedua mulutnya dengan jari-jari tangannya yang lentik.
“in your dream” elakku yang langsung bangkit dari tempat dudukku dan pergi meninggalkannya, hah.. lama-lama dengannya aku jadi merasa tak normal.
Sebelum aku meninggalkan cafeku dan meninggalkan Delida tiba-tiba ponselku berdering. Mello? Buru-buru ku angkat.
“Mello?!” aku bahkan tak sadar sudah berbicara keras di dalam cafe ini. tak kusangka secepat ini ia memaafkanku, setidaknya aku tak perlu menyeretnya keluar dari rumah DO.
“bukan” jawab seorang laki-laki di seberang yang kuyakini adalah DO.
“mau apa?” tanyaku, hawa kegelapan mulai menghantuiku lagi, mood baikku sudah pergi entah kemana, sejak kapan DO punya kekuasaan lebih untuk mengakses barang pribadi Mello.
“Mello ingin bertemu denganmu di kedai Yuana sekarang dan ingin meminta penjelasan tentang hubungan kalian sekarang. Oh ya, sekalian kenalkan padanya cewek baru yang tengah bersamamu itu” ejek DO.
Aku tercekat, cewek baru? Delida? Aku melongok ke luar cafe dan tak ada tanda-tanda keberadaan DO dan Mello di luar.
Belum sempat aku menjawab tiba-tiba teleponpun di putus secara sepihak.
“Alva..mau kemana?” Delida -yang entah sejak kapan bangkit dari tempat duduknya- menghampiriku.
“mau ke rumah calon isteriku” jawabku yang langsung melenggang keluar cafe, “oh iya, aku minta maaf tidak bisa mengantarmu pulang. Besok-besok kita bisa bertemu lagi” pamitku pada Delida yang sekarang tengah menatapku kesal.
Handphoneku berdering lagi, “halo?” sapaku sambil membuka pintu mobil. Tumben sekali telepon rumah yang memanggil, biasanya juga kalau mama ada perlu langsung menelpon dari ponsel pribadinya.
“tuan,..tuan... Nyonya Anne sedang dalam bahaya tuan, beliau ingin anda segera datang menemuinya sekarang”
“HAH??!!”
**
Author’s POV
“aku...mau bertemu dengannya sekarang” hanya itu suara yang di dengar DO setelah ia dan Mello keluar rumah dan berencana untuk berkunjung ke cafe sebentar, sudah lama sekali mereka tak bekerja di sana.
DO menatap Mello khawatir, ia melihat perasaan terluka di balik wajah gadis yang di cintainya, tak ada yang lebih buruk dari habis putus kemudian melihat mantan pacar sudah menggandeng wanita yang lebih cantik darinya.
Mello mencoba tersenyum, “baguslah kalau dia udah bahagia sama gadis itu”
Maafkan aku Mell, nggak seharusnya aku membawamu ke cafe kalau akhirnya bertemu dengan pria brengsek macam dia, sesal DO
Hah?? Bangun dari mimpimu sekarang Mell, kau pikir Kris tak main-main dengan perkataannya waktu itu?? Ok mungkin Cuma aku yang terlihat kacau karena Kris tak memilih salah satu dari aku dan Miranda, dia memilih jalan tengah, maybe.....
Mello termangu meratapi nasib hubungannya yang semakin kacau dengan Kris, lelaki baik memang mainstream, tapi lelaki jahat yang suka memainkan perasaan wanita juga mainstream!
DO memacu kendaraannya menjauhi cafe tempat mereka bekerja dan membawa Mello ke kedai Yuana sekedar untuk menghibur hati Mello dan mendinginkan kepalanya yang ingin sekali berlari dan menonjok atasannya itu.
Setidaknya aku harus meluruskan hubunganku dengannya sekarang, apapun keputusan dari Kris harus ku terima, lebih baik dia yang memutuskan daripada aku, lebih baik dia yang menyesal daripada aku. Pikir Mello.
Dua jam Mello berdiam di tempat duduknya sementara DO sudah memesan minuman ketiga kalinya, “ehmm” DO berdeham dan membuat Mello tersadar dari lamunannya, “kita sudah menunggu dua jam Mell” DO menatap Mello.
Mello mendesah pelan, mungkin memang sudah tak ada yang bisa di pertahanin lagi.
“DO antar aku pulang ke kampung ya, aku pengen pulang aja”
*
“Alvaa,.. akhirnya kau datang juga” Nyonya Anne-mamanya Alva- langsung bangkit dari kursi goyangnya dan memeluk Kris yang diam mematung karena merasa di bohongi.
“mana pembantu yang sudah membohongiku” Kris menatap sekeliling rumah mencari orang yang sudah menggagalkan rencananya untuk bertemu Mello.
“hush ngomongnya, mama kok yang nyuruh” Nyona Anne langsung memeluk tubuh kaku putra kesayangannya ini.
Kris menatap ibunya tajam dan meneliti, memastikan kalau memang ia benar-benar di bohongi.
Kris mendesah pelan, tak ada tanda-tanda bahaya seperti yang dilaporkan pembantunya.
“jangan bengong begitu dong sweety” godanya.
“mama!” Kris berdecak kesal.
“apa sweety?” Nyonya Anne tertawa, tak merasa bersalah karena sudah menghancurkan sebagian masa depan Kris.
“kalau bersandiwara nggak usah pake bawa-bawa kata dalam bahaya dong!”
“oohh jadi kamu lebih bahagia melihat mama dalam bahaya daripada melihat mama begini?” Nyonya Anne melepaskan pelukannya.
“mama!”
“ok ok baiklah mama Cuma bercanda, mama Cuma kangen sama kamu”
“me too” jawab Kris seadanya.
Kris memang sudah lama tak bertemu dengan ibunya tapi tindakan dari tuan Stevano memang seringkali membuatnya jengah dan memutuskan untuk menjaga jarak dengan rumah tempat tinggalnya selama ini.
“jadi...mama sebenernya nggak Cuma kangen sama kamu, mama mau menanyakan sesuatu sama kamu” Nyonya Anne mengikuti Kris yang sudah lebih dulu menghempaskan diri ke sofa.
“langsung saja ma” Kris berkali-kali melirik arloji di tangannya. Ia ingin menemui Mello sekarang.
“ok, mama mau secepatnya kamu menikah”
“ma” rengeknya, “umurku bahkan belum 30th, too young”
Yah aku tak ingin membebani pikiran ibuku dengan memberikan janji manis dengan mengutarakan keinginanku untuk menikahi Mello, aku ingin memberitahunya tapi tidak sekarang pokoknya. Aku nggak bisa mastiin Mello bakalan mau nerima lamaranku.ahh sial...kata-kata Delida benar-benar meracuniku.
“loh, kalau kau sudah punya calon nggak usah nunggu lama-lama kan? Ntar keburu disamber orang loh” Nyonya Anne mengingatkan.
“yeah, belum saatnya pokoknya ma”
“Miranda gimana?”
“Miranda? Aku udah putus sama dia, dia balik lagi ke Aussie”
“Delida?”
Kris tertegun, sejak kapan mamanya kenal dengan Delida? “sejak kapan mama kenal dengan Delida?” selidiknya.
“Alva, antena mama kan panjang”
“Mama!”
“hoho, sensitif banget sih, iya semalam dia datang ke rumah nanyain kamu, dia anaknya cantik, sopan, baik pula, mama nggak keberatan punya menantu macam dia” Nyonya Anne senyum-senyum sendiri.
“kalau itu...sampe stok wanita di muka bumi ini habis baru aku akan menikahinya”
“ihh, kok gitu sih?” beliau mencubit lengan Kris.
“ya memang begitu” Kris kembali melirik arlojinya.
“mama nggak ngekang kamu dalam urusan mencari pasangan loh, yang penting kamu nikah, asal jangan kaya pasangan seleb aja yang hobinya kawin cerai, mama nerima cewek kamu dari golongan apapun kok, tapi yaa kamu sadar dirilah kalau mau nyari istri...mhh... maksud mama yaaah minimal pegawai kantoran di tempatmu” Nyonya Anne menatap Kris intens sementara Kris tak juga menyahut.
“ishh, kok diem sih” ia mencubit lengan Kris lagi.
“mmhh...iya ma, diusahain, udah dulu ya ma Alva mau nyari istri nih, bye” Kris langsung mencium pipi mamanya secepat kilat dan bergegas meninggalkan rumah tempat tinggalnya.
**
Esok harinya di hotel tempat Mello dan DO menginap........
Sebuah pisau mengacung di udara, Mello menatap garang pada lelaki di depannya sementara pipinya sudah merah menahan amarah.
“Mell” lelaki itu mencoba menenangkan wanita di depannya. Wajahnya juga tak kalah tegang.
“jangan mendekat!!” pekiknya sambil terus mengacungkan pisau itu, tak lama kemudian pisau itu di dekatkan dengan pergelangan tangannya.
“mau apa kau Mello?” pekiknya.
“diam kau!! Aku mau mati aja!! Nggak nyangka aja punya temen sedemikian bejatnya kayak kamu!! Kamu makin ngancurin hidupku DO!!” jerit Mello.
“ma...maafkan aku...” DO tertunduk lemas.
“maaf?? Maaf katamu??! Maaf nggak bisa ngembaliin keperawananku!” teriak Mello histeris.
“tapi aku bisa menebus kesalahanku Mell, aku mau menikahimu” sahut DO pelan.
“HAH??! Kau mau bertingkah jadi pria sok suci yang mau bertanggung jawab atas perbuatanmu?! Aku kecewa denganmu DO, aku pikir kamu benar-benar tulus jadi sahabatku, tak kusangka bahkan kau tak lebih baik dari Kris” sebutir airmata mengalir dari pipi Mello.
Kenapa semuanya begitu kejam?! Dunia begitu kejam. Aku nggak nyangka semuanya bakalan serumit ini, nggak ada yang bisa dipertahanin lagi, hilang sudah lenyap.
DO tertunduk, “maaf aku ngelakuin ini semua Mell, aku sebenernya sudah cukup lama suka sama kamu, tapi kamu nggak pernah mandang aku, semua mata kamu fokus menatap lelaki brengsek Alva itu”
Mello melemparkan tatapan mematikannya pada DO.
“aku juga nggak nyangka, kamu terlalu menggoda tadi malam Mell, aku khilaf... aku pikir setelah aku melakukan itu, aku langsung bertanggung jawab dengan menikahimu, punya anak darah dagingku sendiri.
Tangis Mello makin kencang, “tak kusangka kau licik”
“maaf Mell.... sekarang terserah kamu, kalau kamu mau bunuh...bunuh aku aja sekarang... tapi...seandainya pada akhirnya anak yang ada dalam perut kamu itu bi...”
“diam! aku nggak mau denger apapun dari mulut kotormu itu” dadanya naik turun menahan amarah, “sekarang lupain semuanya, aku nggak bunuh diri dan aku nggak bunuh kamu, kita anggap tadi malam nggak terjadi apa-apa.”
Mello terhenyak, astaga, ini bahkan masa suburku
“oh ya, soal anak-anak itu, kalau aku beneran hamil anak kamu, aku nggak bakalan minta pertanggungjawaban kamu kok... jadi anggap aja kau beruntung tadi malam..”
“Mell....”
“apa? Aku udah bebasin semua beban kamu kan? Tolong hentiin perasaan kamu, aku nggak bisa bales perasaan kamu, aku minta maaf” Mello menarik napas pelan.
“tapi setidaknya kau bisa mencintaimu perlahan-lahan Mell, demi anak kita” ia memohon.
“aku belum tentu hamil kan?? Kita Cuma ngelakuinnya sekali jadi... ku mohon biarin aja semuanya mengalir seperti ini.”
***
Author’s POV
“mama” Odult langsung mencium pipi ibunya sambil mencomot pisang goreng buatan ibunya.
“ehh..jangan di makan terus dong itu buat tamu kita nanti” cegah ibunya.
“siapa?” Odult langsung menghentikan gerakan mengunyahnya.
“Dae, yang kemarin ingin melamar Mello” sahut ibunya.
“memangnya kak Mello mau?”
“ya, kalo sampai hari ini belum ada keputusan Mello mau menikah dengan siapa ya dia harus siap menikah dengan Dae” jelas beliau.
“whatt?? Sama om om dong” protes Odult.
“hush nggak boleh ngomong gitu baru juga 31”
“sini biar Odult aja yang bawa keluar” Odult langsung merebut piring dari tangan ibunya dan langsung membawa keluar.
“ehh ada Odult, sudah besar ya sekarang” sapa Dae.
“iya om” sahut Odult seraya menaruh pisang goreng di meja.
“hush, nggak boleh panggil om. Mas Dae aja, calon kakak iparmu ini” tegur Ayah, Odult hanya tersenyum.
Bah, sudah kepala tiga juga masih mau dipanggil mas,pikirnya.
“begini pak, maksud kedatangan saya ini ingin menagih janji perihal keputusan anak bapak hari ini.....”
“tidak usah di lanjutkan nak Dae, bapak sudah tahu, sampai sekarang Mello belum sampai, katanya masih di jalan”
Akhirnya Ayah Mello dan Dae sibuk berbicara masalah pernikahan sampai akhirnya Mello datang bersama DO.
“papa kira kamu nggak datang Mell” sindir Ayahnya ketika Mello dan DO duduk di hadapan mereka.
“jadi.... kamu sudah memutuskan siapa lelaki yang akan menikah denganmu....atau Dae yang sudah jelas-jelas siap untuk menikahimu?” tanya Ayah yang sukses membuat Mello dan DO tercengang.
Lama sekali Mello terdiam, pikirannya kemana-mana, hatinya kalut...
“ehmmm” akhirnya ia mulai membuka pembicaraan, “aku....menikah dengan DO saja”

----TBC----

Sabtu, 13 Juli 2013

FF KRIS: KNOW ME FIRST, KISS ME LATER(PART V)


Author:  Mei F.D

Cast :

·         Wu Yi Fan/ Kris EXO M as Kristanius A. S.

·         Mello as Priscilla N. Melody

·         Miranda Kerr (umurnya 26th ya di sini n__n)

·         Lee HyukJae as Jae

·         Do Kyungsoo as D.O

·         Oh Sehun as Odult

·         Yoon Bora as Bora

Length : multichapter

Genre : romance, drama, antara kocak dan ngenes ckck

PG : 15++
Dibaca dulu siapa tau suka, kalau gak suka baru tekan tombol back^^. Klo ff ini dijamin udah tamat hehehe. Jgn lupa follow @meiokris :*
***
Mello’s POV
                Aduh.. aku nggak baca aku nggak baca aku nggak bisa baca, anggap aja Kris nggak balas Lineku. Aduh mau jedotin kepalaku ke tembok lagi kalau begini. Capek yaa kalo ngomong sama dia, bikin gondok mulu, menguras emosi.
Kayaknya bentar lagi aku bakalan kena stroke gara-gara hipertensi dekat-dekat sama Kris. Beneran deh kayaknya sebentar lagi aku juga bakalan sinting. Kadang apa yang aku pikirin pasti nggak sejalan dengan jawabannya nanti.
Toktoktok...
Siapa? Aku langsung meletakkan handphoneku di kasur dan berniat untuk membukakan pintu. Siapa sih yang bertamu malam-malam? Ujan-ujanan lagi. buru-buru aku melirik jam, masih jam setengah 11 malam. Nenek gayung belum keluar kan? Hantu kepala buntung juga masih terlalu pagi buat nampakin diri kan?
Aku membuka pintu dan tercekat dengan sosok tinggi menjulang yang sekarang sedang berada di hadapanku. Tubuhnya yang terlalu tinggi membuatku harus mendongakkan kepalaku untuk melihat wajahnya. Beberapa butir tetes air hujan yang berasal dari rambutnya jatuh di wajahku.
Aku melongo menatapnya untuk yang kesekian kalinya. Kris? Ngapain dia jalan ke sini? Malam-malam begini lagi. aku memerhatikan pakaian yang di kenakannya, kaus hitam yang membalut tubuhnya dan celana kerja yang biasa ia pakai menbuatku berani bersumpah kalau dia baru saja pulang kerja, sekilas dia nampak seperti polisi. Apalagi kalau melihat dadanya yang bidang itu. Ugh ugh.
Mataku masih tak berkedip mengagumi ciptaan Tuhan yang satu ini. sudah berapa lama aku memandangnya seperti ini dan melupakan statusnya sebagai ayah dari anaknya.
Ya Tuhan maafkan aku yang sudah main hati dengan lelaki yang sudah berkeluarga ini. ini benar-benar memesona. Emejing. Charming. Dan Awesomeeeh.
“heh mau sampai kapan diam-diaman di sini?!” protesnya.
“ahh, maaf pak” jawabku yang baru saja kembali dari alam bawah sadarku.
“Kris atau gege” ralatnya untuk ke seeepuluh ribu kalinya.
Aku mengamatinya lagi. Sepertinya sih dia nekat ujan-ujanan dari rumahnya ke sini. Aku kembali melongo memerhatikannya sampai akhirnya dia menggerutu kesal, “nyuruh masuk aja susah amat” gerutunya sambil nyelonong masuk ke dalam rumah melewatiku.
“ehh ngapain kamu masuk-masuk ke sini?” protesku sehabis bangun dari mati suriku.
“suka-suka dong” jawabnya yang langsung berjalan ke dapur.
“eh mau ngapain sih?!” aku mengikutinya dan melihatnya mengambil handukku yang tersampir di dekat pintu kamar mandi, di pakainya untuk mengeringkan rambutnya.
“aduuh nggak sopan banget sih, ntar gimana kalo ada orang yang tau kita berduaan di sini malam-malam” protesku yang masih tetap mengikutinya sampai ia duduk di kursi tamuku.
“nggak ada yang mau tau juga kan?” dia masih sibuk mengusap rambutnya, “aku mau nginap di sini” sambungnya.
Hah? Menginap? Aku nggak salah dengar? Emangnya dia nggak punya rumah apa?! Tiba-tiba aku merasakan darah mengalir deras di pipiku. Astaga, pasti pipiku memerah lagi, “terus gimana kalo sampe istri dan anak bapak tau?” tanyaku sedikit terbata. Jujur sakit banget kalau ingat orang yang berada di hadapan kita ini sudah menjadi ayah.
Aku mendadak melow lagi, Ya Tuhan pengen nangis lagi. akhirnya airmata pun mulai menggenangi mataku dan meleleh ke pipiku tanpa permisi. Aku benar-benar merasa sakit hati. Maksudnya apa datang ke sini sendirian? Apa aku mau dijadiin pelarian? Kenapa? Kenapa dia harus ngasih aku bunga sama kalung kalau pada akhirnya dia sudah mempunyai anak dan istri?
“astaga pakai acara nangis lagi. itu salah paham Mello” aku merasakan sosoknya berjalan menghampiriku sementara air mataku masih terus saja keluar dan membuat pandanganku mengabur.
Di rengkuhnya tubuhku yang mungil ini dan ia membawaku masuk ke dalam pelukannya. Kepalaku membentur dadanya yang bidang dan tanganku dengan lancangnya menempel di dadanya. Aduuuh kalau nggak ingat aku lagi sakit hati mungkin aku sudah mengelus dadanya yang bidang ini.
asfgJjshsdgjushdkahg. Aku speechless dan membiarkannya mengelus punggungku dan berusaha membuatku tenang, ya Tuhan jantungnya juga berdetak kencang, apa dia deg-degan juga sepertiku? Baru kali ini aku dipeluk oleh seorang Alva..
jantungku kayaknya udah longsor sekaligus tsunami saking gugupnya, sementara tangisku mulai mereda akhirnya dia berbicara, “Aku dan Miranda belum pernah menikah apalagi mempunyai anak, Carol itu keponakannya yang hidupnya Cuma bisa manggil mama sama papa biar bisa bedain cewek sama cowok” dia mencium puncak kepalaku. Astaga. Ada apa ini?! “jadi tidak ada yang perlu di permasalahin lagi kan? Jadi kau tak usah resign darimana-mana” jelasnya.
Aku menghembuskan napas lega, airmataku udah berhenti gara-gara otakku bekerja untuk menetralkan jantungku, bukan bertugas untuk mengeluarkan airmata lagi. Hilang sudah ketakutanku selama ini. Kris masih single pemirsaaaaah.
“tapi kenapa balas linenya begitu?” protesku di sela-sela kegiatanku yang masih sibuk menikmati pelukannya. Kapan lagi bisa dipeluk kaya gini...rasanya....umm..gimana ya..kaya deg-degan bingung terus apalagi ya.. ah.. padahal Cuma pelukan biasa.
“hahaha emang suaranya jelek banget kok” dia tertawa pelan.
Ish apaan sih kok ngomongnya begitu, aku langsung meronta melepaskan pelukannya dan memukul dadanya pelan, “serius aku benciiii banget sama gege” ih kenapa nada bicaraku agak najisin begini.
Dia tertawa lagi dan mengendurkan pelukannya. Diangkatnya daguku hingga pandangan kami menjadi sejajar, kami saling menatap.
“hahaha, asal kau tau aja ya gini-gini aku nggak mau kau pergi dariku. Please stay di tempat yang bisaku lihat tapi aku tak ngelarangmu untuk mempunyai kekasih” dia merapikan rambutku yang berantakan dan menyelipkannya di belakang telingaku, “tapi maaf, aku nggak bisa janjiin apapun”
Kemudian dia memelukku lagi, eraaat banget. Akhirnya aku membalas pelukannya, “percaya denganku, tapi ini rahasia, jangan bikin aku pusing gara-gara pemikiran jelekmu itu tentangku”
Maksudnya apa ini??!! aku bingung aku nggak ngerti otakku mendadak lemot dan berubah jadi pentium I. Maksudnya dia apa nyuruh aku tetap di dekatnya?! Aaaa ini bukan mimpi kan??!
“tapi kamu jutek banget sama aku” protesku. Kali aja dia Cuma iseng ngerjain aku kali ini.
“emang gini kali ke semua” katanya dengan raut wajah serius. Aku masih melongo menatapnya.
“aku begitu karena aku nggak mau di bilang tukang pemberi harapan palsu. Aku Cuma bisa stuck di sini, nggak maju nggak mundur. If you what I mean...” katanya.
“aku nggak berharap lebih kok” kataku sambil menunduk. Bisa di dekat dia aja aku sudah bahagia, dia itu bikin aku kuat, walaupun pada akhirnya aku tetaplah bukan seseorang yang bisa mendampinginya nanti.
“tidur yu, ngantuk nih, tidur bareng ya” dia langsung mengalihkan pembicaraan kami dan langsung menyeretku ke kamar.

Akhirnya setelah debat segala macam aku dan Kris benar-benar nggak bisa tidur malam ini.
“kenapa sih ngotot banget pengen tidur bareng? Pake acara ngancem pake acara potong gaji segala” protesku. Nggak tau apa daritadi jantungku olahraga terus menerus apalagi kalau dia berubah jadi manis begini.
“pengen aja” dia langsung tersenyum ke arahku dan merapatkan tubuhnya ke arahku. Ia memelukku erat, “dingin” bisiknya.
Di luar hujan sudah berhenti tapi hawa dingin masuk melalui ventilasi dan membuatnya kedinginan mungkin. Tapi aku nggak kedinginan.. panas...panas...aaaaaa..
“jangan minta yang aneh-aneh ya kita cukup tidur bareng aja loh ya, nggak lebih” dia mengingatkan ketika di rasanya aku sering memperbaiki posisi tidurku. Gugup wooyy.
“kesannya aku nggak banget gitu ya?” tanyaku polos. Oke ini ambigu.
“hahaha nggak gitu” katanya yang langsung mencium pipiku.
Huh hah huh hah. Aduuhhh ini nggak biasa terjadi loh ya, semacam serangan mendadak dan otakku mendadak idiot karena perlakuannya malam ini, aku nggak pernah mensetting otakku kalau Kris bisa bersikap seeemanis dan seeeromantis ini.
“terus apa? Hah?!” buseeet kenapa aku mendadak nyolot begini. Nggak sinkron. Kacau. Nggak bisa mikir. Galau. Speechless. Biarkan naluri yang berbicara sekarang.
“hahaha nggak pengen aja, kenapa sih bawel banget jadi cewek. Bikin gemes” dia mencubit pipiku.
Heh? Tak kusangka dia demen sama kebawelanku. Ckckck. Terus aku harus ngomong apalagi? Lidahku benar-benar terasa kelu, jantungku udah mau copot.
“jangan deg-degan ya tidur sama cewek imut” jdeerrr... kjsdhuid awkward banget ini...
“bah sama cewek seksi aja biasa” gumamnya yang langsung tidur telentang menatap langit-langit kamar.
Ohiyaaa aku bukan orang yang pertama tidur bareng sama dia. Aku baru ingat. Buru-buru aku bangkit, “nggak jadi tidur” kataku kesal.
Tiba-tiba dia memeluk pinggangku dan menarikku lagi ke pelukannya. Hilang sudah pertahananku, aku lemah dekat sama dia, “hahaha galak banget sih” dia mencium hidungku.
“......” aku menahan napas, “a...ayo tidur ge, besok kesiangan”
Bukannya menuruti suruhanku dia langsung membalikkan badannya dan menindihku. Mati aku mati kalau terus-terusan di giniin. ;;;;---;;;;
“kenapa? Kok di suruh tidur?” tanyanya menyeringai.
Aku tergagap ketika merasakan tubuhnya di atasku. Tangannya yang lain sebagai tumpuan agar aku tak begitu keberatan, aku membeku di bawah...dada kami saling menempel... deg...deg....deg.....
“emmhh...engga... mau ngapain?” tanyaku yang masih sibuk mengumpulkan kekuatanku yang berceceran di mana-mana.
“nggak kenapa-kenapa” dia mengecup bibirku pelan.
“be...besok ka..kan ma..mau kerja” aku jadi gelagapan ketika merasakan bibir lembutnya yang setiap hari menggoda imanku itu kini sudah mampir di wajahku dan di bibirku.
“besok suka-suka mau masuk jam berapa” dia mengecup bibirku lagi, Cuma beberapa detik tapi sanggup membuat semua organ dalam tubuhku beralih profesi jadi pemain akrobat.
“ih cium-cium terus” protesku. Aku malu, kalau dia terus-terusan bersikap seperti aku yakin malam ini aku bakalan jadi mayat, mati karena terlalu bahagia.
“ssssttt” dia menempelkan jari telunjuknya di bibirku, perlahan jarinya menelusuri wajahku dan membelai bibir bawahku, “ciuman pertama ya?” dia tersenyum menang yang sukses membuatku kehilangan muka.
“apaan sih udahan dong godainnya” protesku yang langsung mendorong tubuhnya. Aku udah nggak tau wajahku sekarang udah semerah apa, ini benar-benar memalukan.
“makin malu makin bikin gemes” bisiknya sambil mengecup belakang telingaku. Leherku terasa kejang. Bzzzzz.
*
“hmmm..sebenernya aku sudah bahagia kok bisa dekat sama gege, udah syukur banget, nah sekarang gege naksir sama aku, kan itu semacam poin plus plus tuh” akhirnya aku bisa berbicara dengan lancar setelah ia tak menggerayangi tubuhku lagi.
“kapan aku bilang suka denganmu?” tanyanya sambil tertawa. Dimiringkannya badannya hingga kami saling berhadapan.
“ya anggap aja begitu” kataku bangga.
“kau saja yang menganggapnya begitu” dia mengacak rambutku.
Mukaku berubah masam, “ih kok gitu sih? Kan tadi udah so sweet so sweetan” protesku sambil mencubit pinggangnya. Tuhkan sikap menyebalkannya balik lagi.
“pake gula aja biar so sweet lagi” godanya, “tidur yu. Ngantuk” bisiknya sambil mendekapku erat. Ahh.. malam yang melelahkan... untuk jantungku terutama..........
**
Author’s POV
“kamu nggak pernah ngerti perasaan aku. Kamu selama ini nganggep aku apa?” Miranda meremas bajunya, ia menangis menahan kekesalannya yang kini sudah memuncak.
“Miranda apa yang salah di sini?! Aku Cuma mempekerjakan dia sementara Bi Ina belum bisa ke sini” Kris berusaha menjelaskan sambil terus bersiaga kalau-kalau Miranda melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri ataupun Mello yang masih meringkuk di dapur.
Sementara itu, Mello menahan menahan sakit hatinya, ia merasa menghancurkan hubungan Kris dan Miranda yang sudah berjalan sangat lama itu.
“mana janjimu yang dulu tidak akan melirik wanita lain? Mana? kenapa tak ada usahamu sedikitpun untuk mencari kebenaran gosipku dengan Ron?!!” Miranda menatap Kris tajam. Ia tak menyangka keretakan hubungannya dengan Kris juga berhubungan dengan Ron, sahabatnya.
“karena kau terus-terusan sibuk mengejar karirmu dan melupakanku! Jelas-jelas saat kau berlibur di Hawaii bersama Ron, kau bersantai tapi tak ada sedikitpun usahamu untuk menghubungiku Miranda?! Haruskah aku yang terus menerus menghubungimu?” Kris melemparkan tatapan mematikannya pada Miranda.
“tapi aku setia!” pekik Miranda.
“omong kosong! Kau bahkan tak ada niat untuk mempertahankan hubungan kita. Saat itu aku benar-benar merasa dilupakan dan menjadikanku sebagai lelaki pelampiasan bagimu. Jangan kau terus-terusan menganggap aku yang salah di sini!” bentak Kris.
Kris sadar ia terlalu keras memarahi dan membentak gadis yang dicintainya ini tapi ia sudah tak tahan lagi. Miranda memang menyebalkan tapi terlepas dari itu semua, Kris masih tak bisa menyangkal kalau ia masih merindukan Miranda.
Setelah ia menemukan Mello, ia juga mencari keberadaan Miranda yang menghilang dari penthouse— tentu saja dengan seijin Mello— dan kabur ke Bali. Setidaknya Mello mulai memahami posisi Kris sekarang.

aku tau hatinya terbagi tapi sulit sekali melepasnya,batin Mello
aku salah besar, aku salah besar terlalu mengharapkannya. Aku tak bisa menyangkal kalau sejak pertama aku melihatnya aku benar-benar merasa jatuh cinta dan menjadikan dia pusat duniaku.
“ge.. tau nggak sebenernya aku suka banget sama gege udah lama loh, dari setahun yang lalu waktu gege ciuman sama cewek”
“hah?? Serius?? Itu lama banget”
Mello tersenyum mengingat serangkaian memorinya bersama dengan lelaki yang dicintainya. Ia tersenyum ketika mengingat wajah Kris yang berubah takjub saat memandangnya.
“iyalah...namanya juga kekuatan cinta pada pandangan pertama... yang waktu aku nuduh kamu jadi model majalah porno itu sebenarnya Cuma akal-akalanku saja” Mello membentuk huruf V di kedua jemari tangannya.

“Mell...sorry.. nggak seharusnya kau melihat semua ini” Kris yang baru saja menyelesaikan masalahnya dengan Miranda menemui Mello yang tengah meringkuk di dapur meratapi nasibnya.
Kris membangunkan Mello yang terduduk lemas dan menuntunnya duduk di sofa, di sekanya air mata yang mengalir di kedua pipi gadisnya itu.
“maaf ya, gara-gara aku semuanya jadi begini, aku sadar kok aku di sini Cuma jadi orang ketiga, cewek yang nggak tau malu” isaknya. Hatinya berkecamuk. Ia bingung harus melakukan apa.
“bukan salahmu Mello. Sebelum ada kau hubungan kami memang sudah retak sejak kepergiannya ke Aussie” jelasnya, ia menatap lurus ke dalam bola mata Mello, “terkadangkau bisa lebih tenang melihat orang yang kau sayangi bahagia meskipun tak bersama kita.”
Mello memandang Kris dengan tatapan tak mengerti, “maksudnya apa?”
Kris menatap Mello dengan tatapan terluka, berkali-kali di sekanya air mata yang kian deras mengalir di pipi Mello, “Mell, kalau aku menyuruhmu untuk menyerah sekarang, gimana?”
Mello membelalak, “ma...maksudnya menyerah apa?”
“menyerah untuk mengejarku” jelasnya. Diperhatikannya perubahan raut wajah Mello. Ia menghela napas panjang. Rasanya terlalu berat untuk terus-terusan menjadikan Mello merasakan sakit yang ia rasakan, ia tak ingin Mello terluka ketika berada di dekatnya.
“aku takut nantinya kau akan mendapatkan sesuatu yang lebih sakit, aku tau ini tidaklah gampang untukmu Mello, aku tak bisa terus-terusan membiarkanmu berada dekat denganku, aku sayang kamu Mello.... dan aku nggak mau orang yang aku sayang menangis karenaku” dipeluknya gadis yang membisu ini di depannya.
“aku salut denganmu Mell, kau gadis yang kuat, dan kau tak pernah malu mengakui perasaanmu, apalagi kau yakin itu......”
“terus.... kau mau apa?” tanya Mello sesenggukan.
“nggak tau Mell... aku mau kau pergi... tapi aku benar-benar belum siap untuk kehilangan” di belainya rambut Mello perlahan.
“tapi... aku mau di dekat gege terus” kali ini suara Mello terdengar bergetar.”
“sampai kapan Mell? Sampai kapan kau akan terus berharap padaku? Aku bahkan tak tau apa yang ku mau saat ini....”
Mello tak menjawab. Ia meremas kemeja coklat tua yang di kenakan Kris... sakit di suruh menjauh dari kehidupan orang yang kita sayang sementara kau masih bisa menyapa dan melihatnya setiap hari.
“sakit sekarang gak apa-apa kan asal masalahnya cepat selesai? Aku tak sanggup melihat kau yang terus-terusan seperti ini.. masih banyak lelaki yang pantas kau tangisi dan kau cintai di dunia ini selain aku...”Kris menghirup aroma tubuh Mello. Di rekamnya baik-baik dalam ingatannya. Melody...
“memang aku kenapa? Aku....baik-baik saja... aku baik-baik aja kok asalkan aku bisa terus bersamamu” sahutnya di sela isak tangis yang kian deras. Mello mengeratkan pelukannya, ia benar-benar tak sanggup untuk kehilangan Kris, tidak sekarang dan tak tahu sampai kapan rasa ini akan terus bertahan.
Kris terdiam... ia membisu begitu mendengar Mello yang masih bersikeras untuk tetap bersamanya.
“yasudah, tapi kau harus janji jangan memikirkan hal yang jelek-jelek yang bisa menyakiti dirimu sendiri” di belainya rambut Mello, ia mencium puncak kepala Mello, “tidur Mell...aku ngantuk”

Kenapa? Kenapa kau harus merasa kuat ketika bersamaku Mello? Aku terlalu brengsek untuk kau cintai, I’m a player.. batin Kris ketika mengingat kenangannya bersama Mello waktu itu.
Di rogohnya smartphone miliknya dan ia pun memanggil Mello.
“apa?” sahut Mello dari seberang.
“heh bawel. Nggak sopan banget sih...” bentak Kris.
“biarin” jawabnya ketus.
“sore ini sibuk nggak?” tanya Kris lagi.
“nggak kok, kenapa?” sahutnya ogah-ogahan.
Pasti mau minta di traktir lagi. masalahnya yang minta traktir ini orang kaya dan nggak pandang bulu sama orang yang dimintai traktirannya. Aku kan sedang dalam upaya berhemat, aku mau beli baju baru. Bosen pakai baju itu-itu terus, batin Mello di seberang.
“pokoknya hari ini ke taman dekat danau, aku mau ngomong sesuatu” sahut Kris sok misterius.
Heh? Mau ngajak ketemuan? Nggak salah tuh? Ketemu sama dia itu sama aja dengan ketemu setan pembawa sial. Eh tapi kalau nggak ketemu kangen juga sih, h3h3h3. Batin Mello mengalay.
“elaaah ribet banget ngomong aja pake ke taman segala, iya dah jam 4 yaa? Bye” Mello langsung menutup teleponnya.
“huh?! Nggak sopan banget jadi cewek” gerutu Kris karena ia belum selesai menyampaikan tujuannya.
***
“ngapain sih pakai acara ketemuan di sini? Kayak mau pacaran aja” Mello menggerutu kesal karena masih gondok akibat di marahin Kris di dalam mobil tadi. masalahnya Cuma karena dia telat masuk mobil. Dia memilih duduk di bangku taman yang mengarah ke arah danau.
“kencan” sahut Kris santai sambil duduk di sebelah Mello sambil menyilangkan kakinya.
Mello menatap Kris ngeri. Kencan? Kencan pala lo peyang!! Mana ada kencan yang awal-awalnya di omelin mulu!! Mana ada kencan yang bikin gondok, dimana-mana kencan itu romantis tjoy. Ini sih tempatnya aja yang romantis, orangnya kagak!
“helooowww...maksudlooohh??” tanya Mello sambil memutar bola matanya.
“bawel amat, sono beli es krim tuh... dua ya” suruh Kris begitu melihat tukang es krim yang melewati tempat mereka berdua.
“males ah” sahut Mello kesal. Apaan sih ini orang hobinya nyuruh-nyuruh, ntar yang beli pakai duit siapa? Duit aku juga kan? Rugi di aku dong yaaa.. emang sih duitnya asalnya dari dia, tapi kan udah di kasihin ke aku masa balik lagi ke dia buat bikin kenyang perutnya itu?!
“harus mau” paksa Kris yang iseng mendorong tubuh Mello. Mello yang kaget karena di dorong pun akhirnya kehilangan keseimbangan dan terduduk di atas tanah.
“Adoohh.. woyy kalau dorong pelan-pelan dong!! Nggak inget apa tenaga cowok sekuat apa main dorong-dorong aja” Mello yang masih kaget masih tak bergeming dari tempatnya.
Ini orang laki apa bukan sih? Manusia apa bukan sih? Tegaan! Jahat! Nyebelin! Nggak berperasaan, nggak berperikemanusiaan. Ini yang namanya kencan? Hah, seseorang tolong belikan aku kantong kresek. Aku mau muntah! Gerutu Mello dalam hati.
“huahahaha.... makanya jadi orang tuh makan makanan yang bergizi biar sehat, di dorong sedikit aja langsung jatuh” Kris tak kuasa menahan geli begitu melihat Mello yang menatapnya kesal.
“bantuin dong” sungutnya.
“ogah!” sahut Kris yang langsung berjalan meninggalkan Mello yang masih merengut saking kesalnya. “beli es krim dulu ya hahahahaa” teriaknya dari jauh.
*
“bang, es krim cone rasa Cappucinonya dua ya” pinta Kris. Matanya masih terus mengawasi Mello yang perlahan bangkit dari posisinya semula. Di lihatnya Mello mulai melempari danau dengan batu-batu kecil.
“childish” gumamnya.
Sementara itu smartphone Kris berbunyi. Satu pesan Line dari Miranda.
Kau dimana? Tanyanya.
Kris membalas, di kantor lagi sibuk. di simpannya smartphonenya di dalam kantong celananya.
“ini mas” penjual es krim menyodorkan pesanan Kris padanya.
“thanks” sahut Kris yang langsung memberikan selembaran uang lima puluh ribuan padanya, “kembaliannya ambil aja ya”
Penjual es krim pun menatap Kris dengan pandangan berbinar, “waaaah jaman begini masih ada aja orang yang baik hati kaya mas” pujinya sementara Kris hanya tersenyum.
“ceweknya ya mas?” tanya penjual es itu ketika Kris kembali menatap Mello, “cantik kok mas” pujinya.
“cewek jadi-jadian” ia tergelak.
*
“nih es krim” Kris menyodorkan sebuah es krim Cappucino kepada Mello yang duduk di bangku paling pinggir.
“ngapain duduk jauh-jauhan gitu?” Kris bingung ketika Mello masih tetap di posisinya.
“buang sial” sahut Mello gemas.
Kris tertawa, “yaudah kalau nggak mau es krimnya, aku habisin sendiri” godanya.
“ya mau lah, siapa yang bilang nggak mau sih” Mello menggeser kedudukannya mendekati Kris dan langsung merebut es krim cappucino dari tangan Kris.
“ngerasa bersalah ya?” tanya Mello yang langsung menjilat es krimnya. Ciyeee tumben banget dia baik hati mau ntraktir, mungkin kasihan ngelihat aku yang kotor-kotoran gara-gara dia, berani kotor itu baik. hehehe
“ngerasa bersalah? Gara-gara apa?” Kris mengerutkan kening.
“udah dorong sampai jatuh tadi” Mello memanyunkan bibirnya mengingat kejadian tadi. masa lupa sih?belum juga sejam udah lupa aja sama kesalahan yang udah dia bikin. Nih nggak liat apa bajuku jadi kotor.
“nggak kok nggak ngerasa bersalah. Emang itu bukan kesalahan juga sih” Kris tertawa.
Kamfreeetosss! Golook mana golook? Aku mau gorok leher cowok yang di sampingku ini... aku keseeeel banget setengah mati sama dia. Ada yaa orang yang nyebelin banget kaya dia? Udah nyebelin, hidup lagi. Gantengnya sih setengah mati, nyebelinnya juga setengah mati tapi. Mello menatap Kris gemas.
“nahkan nyebelin banget, coba aja bukan atasan udah aku bunuh” gumamnya.
“bunuh aja” sahut Kris dengan wajah yang dibuat-buat serius.
“eh.. nggak ding ntar aku nggak dapat duit lagi” Mello langsung nyengir.
Tumben nggak ngomel-ngomel. Biasanya kan dia bakalan ngomong ‘kamu tuh ngomong jangan seenak jidat! Ngomong pake otak jangan pake dengkul’ abis itu dia noyor kepala aku. ‘harusnya kau sadar, kalau aku mati nggak ada yang bahagia, nggak ada yang nerusin usaha keluarga Stavano, bakalan ada pemecatan besar-besaran karena perusahaan Stavano bangkrut dan akhirnya kau juga yang susahbeserta keluargamu dan ribuan keluarga lainnya’ dia menoyorku lagi. ‘jadi dipastikan takkan ada orang yang bahagia kalau Kristanius Alva Stevano meninggal’.  Begitu kebiasaan dia kalau aku punya niat jahat buat bunuh dia atau nggak nyari boneka buat nyantet dia. Aku sampe hafal kata-katanya saking seringnya di marahin. Ckckck. Batin Mello mencelos.
“Mell” Kris menatap Mello intens.
“apa?” Mello yang kembali sibuk menjilati es krimnya tak sadar ia sedang di tatap Kris.
“jadi pacarku ya. Aku nggak nerima penolakan”
“HAH??!!” Mello memalingkan wajahnya menatap Kris dengan pandangan tak percaya.
What the maksud? Aku ditembak apa gimana?? Itu minta jadi pacar apa pemaksaan sih?! Aku lagi mimpi apa gimana? Oh apa jangan-jangan dia lagi kena panah asmara kakek-kakek bersayap ya? Eh kok kakek-kakek ya? Bukannya  cupid itu anak kecil? Ah bodo lah kata mama anak kecil itu nggak boleh pacaran jadi di ganti kakek-kakek aja. Ngeeek.
“ish apaan sih jorok banget itu, bersihin dulu” Kris menunjuk es krim yang menempel di sudut bibir Mello.
“eh? Ahahah” Mello langsung mengelap es krim di bibirnya dan menyapukannya di lengan kemeja Kris yang bertengger di bangku taman.
“Mello!” protes Kris. Ini anak jorok banget buset. Gumamnya.
“itu tadi maksudnya apa?” tanya Mello dengan tatapan tak bersalah.
“nggak ada maksud” Kris masih sibuk membersihkan lengan kemejanya.
“ituu yang tadi ngomong aku jadi pacar kamu tadiii...itu becanda kan?” Mello mengguncang tubuh Kris. Pasti dia becanda? Ia kan? Pasti deh yakin seyakin-yakinnya. Suwer.
“iya becanda”
Nah kan, apa aku bilang, diaa emang terlalu pinter buat mainin perasaan orang, nyebelin banget hih pengen aku tonjok kalo berani atau nggak jahit mulutnya yang suka ngomong seenaknya itu, aku bersumpah dengan segenap jiwa ragaku dan kecintaanku terhadap tanah air kalau ia seribu kali lebih tampan bin memesona kalau diam ckckck.
 “tuhkan becanda” sungutnya.
“emang” sahut Kris tanpa rasa bersalah, “nih kotor nih kemeja mahal tau baru beli” gerutunya.
“makanya kalau becandaan itu liat-liat orang yang dibecandain siapa, sono tuh nembak Jae... suruh dia jadi istrimu” Mello menggerutu kesal merasa di permainkan.
“salah sendiri nuduh becanda, orang tadi serius” Kris tertawa melihat perubahan Mello yang mendadak badmood.
“HAHH?!!” Mello kembali membelalakkan matanya.
Hahaha. Lucu banget sih, kayaknya gampang banget ngerubah mood nih orang. Kris tertawa.
“lebay” sahut Kris.
Mello terdiam. Dia masih sibuk menepuki pipinya sendiri. Jangan bilang ini mimpi, jangan bilang ini becandaan lagi. engga kan? Ini serius kan? Ya Tuhaaan aku nggak nyangka.. rasanya... aduuh bingung mau ngomong apa.. malu sih enggak tapi jantungku kayak mau copot gitu, rasanya aku mau salto dari puncak Monas atau terjun bebas dari gunung salak saking senengnya. Awww ><><><
“terus aku harus bilang apa?” tanya Mello bingung. Iya kan tadi nggak ada tanyaan ‘kamu mau nggak jadi pacarku’ nggak ada. Jadi kami resmi pacaran apa gimana? Kan belum ada konfirmasi dari aku sendiri, tapi aku mau mau aja sih jadi pacarnya. Eh engga deng bukan mau aja tapi mau bangeeeet.
“bilang aja Kristanius Alva Stevano cowok paling ganteng di seluruh dunia” ucap Kris asal.
“.......”baiklah pemirsa sepertinyaaku merasa akan ayan sebentar lagi. gumamnya. Baru saja Mello ingin memprotes tiba-tiba smarphone Kris berbunyi.
Miranda. Kris menatap layar ponselnya dan membaca Line dari Miranda.
Aku tau kau di sini.. temui aku di pojok danau bagian selatan...
Kris membaca sederetan huruf yang terpampang di layar ponselnya. Miranda di sini? Mau apa dia?
“bentar ya” Kris langsung meninggalkan Mello dan berjalan menemui Miranda.
“Kris mau kemana sih?” Mello yang masih bingung dengan kelakuan Kris bertanya-tanya sendiri. “eh.. aku mau ngabarin Bora, Odult sama DO ah kalau aku udah jadian sama Kris” Mello langsung memencet nomor-nomor mereka dan mengirimi pesan. What a beautiful day!
*
“aku tau kamu bohongin aku Alva... tadi kamu bilang kamu lagi di kantor” Miranda menatap tajam Kris yang berada di belakangnya. Ia berjalan-jalan di atas pagar pembatas yang menghubungkan danau dengan daratan. Konon danau bagian selatan dikenal mempunyai pusaran air di dasar danau yang dapat menarik dan menenggelamkan seseorang.
Kris meludah, “Miranda apa yang kau lakukan”
“jangan mendekat Alva!” Miranda memperingatkan
“yasudah, langsung saja Miranda, kau mau bilang apa?” tanya Kris tak sabar.
“mana komitmenmu yang dulu Kris? Kau bilang Cuma aku satu-satunya yang ada di hatimu” Miranda mulai menangis, “kenapa sekarang ada Mello?!! Kenapa?? Kalian juga sudah jadian kan?” Ia menurunkan salah satu kakinya ke arah Danau.
“Miranda!!” pekik Kris.
“mau apa? Untuk apa aku terus-terusan hidup.. orang yang aku cintai juga sudah tak mencintaiku kan??!! Untuk apa selama ini aku masih memikirkanmu selama di Aussie? Untuk apa aku terus-terusan hidup?? Aku capek Alva... aku capeek!!” tangisnya makin kencang.
Kris langsung berlari ke arah Miranda dan menarik Miranda turun. Di tariknya lengan Miranda.
Miranda berusaha melepaskan pegangannya, “kau mau apa?? Lepasin Alva” dia makin meronta.
Kris menyentakkan tangan Miranda, “diam!! Aku muak dengan semua ulahmu Miranda!! Terlalu mendramatisir, pakai otakmu!! Egois!!” bentaknya lagi, ia terus menyeret Miranda ke tempat ia dan Mello bersama.
“ma...mau kemana?” Miranda menatap Kris takut-takut. Baru kali ini ia melihat tatapan Kris yang semurka ini.
“ikut aku” katanya dingin.
Sementara Mello terkejut dengan kedatangan Kris yang menyeret Miranda datang menemuinya. Kenapa? Ada apa? Kenapa Miranda terlihat sekacau itu? Kenapa Miranda bisa sama Kris? Apa yang terjadi? Hatinya bertanya-tanya.
Kris masih sibuk menyeret Miranda dan memaksanya duduk di sebelah Mello.
Kris memijit pangkal hidungnya sebentar, di tatapnya Miranda dan Mello dengan pandangan terluka. Dia beberapa kali menghembuskan napasnya dan mencoba berbicara.
“girls, sorry. Aku nggak bermaksud untuk membuat kalian seperti ini. aku memang salah, tolol. Tapi ini benar-benar di luar kendali.. ini sudah keterlaluan.. aku brengsek banget ya sayang sama dua orang sekaligus.. bahkan sebenernya terlalu berat untuk memilih salah satu..”
Kris menyadari belum ada kata putus di antara dirinya dengan Miranda dan dia baru saja meresmikan hubungannya dengan Mello.
“aku merasa diikat sama kalian berdua, salah satu hilang aja rasanya nyawaku tinggal separuh. Dosa apa kalian sampai sakit hati karenaku. Aku yang dosa. Nggak bisa tegas sama perasaan sendiri. Pengecut! Aku kacau nggak ada salah satu di sisi”
Di pandangnya sekali lagi wajah Miranda, terlebih wajah Mello yang bahkan ia tak dapat mengartikan pandangan Mello padanya.
“sekarang terserah kalian mau nganggap aku apa. Maaf kalau aku sudah terlalu menyakiti kalian. Aku  give up. Aku memilih lepasin kalian berdua sekarang, kita hidup sendiri-sendiri aja. Sama kayak sebelum saling kenal. Deal?”
Kris menunggu jawaban dari Mello dan Miranda yang masih membatu di tempat duduk mereka.
“oke aku anggap diam kalian itu iya. Bye”
Kris langsung berjalan meninggalkan mereka. Miranda yang baru sadar memilih bangkit dan mengejar Kris.
“Alva!! Tunggu!! Aku mau bicara” dikejarnya Kris. Sementara Mello masih diam...dipandangnya kepergian Miranda dan Kris...... Pandangannya mengabur...
Tak terasa bulir airmatanya jatuh satu-satu.....
____

Backsound Geisha .. ngeeeng........ galau euy..
Sungguh aku tak bisa...sampai kapan pun tak bisa membenci dirimu~~
Sesungguhnya aku tak mampu....
Sulit untukku bisa sangat sulit ku tak bisa memisahkan segala cinta dan benci yang kurasa~~

---TBC---
Mampus galau ;_____; ditunggu komentarnya guys.