mungkin para reader bertanya-tanya ya dengan judul saya yang satu ini, ya karena emang gitu kenyataannya. saya ini lagi galau masalah percintaan saya yang emang gak pernah ada ujungnya, dimulai dari kisah percintaan saya yang awal masuk kuliah yang naksir cowok badboy itu.
ya susah lah emang pada dasarnya saya itu cewek baik-baik dan belum pernah terjamah pria tapi suka menjamah pria /ini apa/ jadi saya tidak bisa mengikuti pola pikirnya dan tindak tanduknya, jadi kami gak berjodoh, begitu kata saya yang akhirnya mulai berusaha move on dengan lelaki-lelaki ganteng sebagai objek cuci mata saya.
ternyata akhir-akhir ini saya dekat dengan cowok, sebut saja nama inisialnya E, nah si E ini aduh jadi cowok malaikat banget, udah ganteng baik ramah perhatian aduuh seribu kali aduh, suamiable banget, saya mah rela lahir batin kalau jodoh sama dia, hehehe.
kebetulan dia cuma temen saya kok tapi ya saya gabisa menutup kemungkinan kalau tiba-tiba dia ngelamar saya /teman macam apa ini/, ya niat saya sih pengennya saya dengan dia mau membuka lembaran baru, alias saya mencoba setia (ketauan gak setianya) dan dia juga bisa move on dari mantannya.
tapi itu cuma dalam mimpi ya reader, setelah kencan kami yang sangat menyenangkan itu ternyata dia curhat dengan teman saya kalau dia naksir cewek padahal mereka cuman bertemu 60 detik. gak ngerti? yaudah saya juga gak paham sama jalan ceritanya.
intinya dia lagi naksir cewek 60 detiknya itu, miris kan. tapi doa saya semoga dibelahan bumi sana ada cowok ganteng dan sebaik dan sesuamiable kayak si E ini yang jatuh cinta hanya karena memandang saya selama 5 detik /plak/
jodoh siapa tau, lagian saya dengan dia cuma berteman yang kadang saya agak sedikit berharap teman itu bisa naik pangkat (?)
oke baiklah, itu sisi luar kampus saya/?
nah di dalam kampus saya juga naksir seseorang. errr sebetulnya ini tidak sengaja. jadi ya karena saya suka iseng gitu jahilin teman yang kebetulan naksir kaka tingkat yang berinisial A, saya pun dengan songongnya ngeinbox si A itu dan basa basi, daaaan, akhirnya kita berteman, selama beberapa bulan berselang saya masih biasa aja dengan kakak A ini, yaaah walaupun kadang rada geer juga sama kakak nya karena kakaknya tuh baik banget, perhatian juga, suamiable juga dan parahnya dia yang ngerawat aku ketika aku lagi sakit, so sweet kan... tapi saya biasa aja.
cuma karena suatu insiden, karena saya ngerasa songong dan sombong itu buat pamer dengan teman saya itu, saya pun memberanikan diri menyapa kakak A itu dengan SKSDnya, tau gak reader, dari dekat ternyata kakak nya itu... maniiiiiiiiiiiiiiiiiiis banget, ampun deh berasa dikerubutin semut tuh muka saking manisnya, saya pun dengan tingkat kewarasan yang mengkhawatirkan itu akhirnya memilih untuk tidak menatap wajah manisnya itu karena takut kadar gula meningkat atau yang lebih parah saya mimisan di tempat. hehehehe.
akhirnya mulai ada yang tidak beres dengan hati saya, jreng jreng, entah karma atau apa, saya pun mulai tertarik dengan kakak A ini, apalagi gara-gara saya ketahuan salah tingkat dengan kakak A ini yang akhirnya membuat saya diberikan penguatan positif oleh teman-teman saya untuk bisa bersanding /? emmm maksudnya pacaran dengan si kakak A, padahal saya sudah sadar diri kok saya ini siapa, muka saya bagaimana dan tidak mungkin juga bisa bersanding dengan kakak pembawa diabetes itu, dari segi fisik dan mental juga saya pasti tidak memenuhi kriterianya, cuma yaaa gara-gara diberikan kekuatan seperti itu akhirnya saya sedikit berharap juga, dan yaaah... saya pun mulai memberanikan diri ingin mengenal lebih dalam siapa sih kakak A ini...
alamak...... baru satu langkah saya melangkah saya sudah terhempas ke dalam jurang kekecewaan...
dia sudah punya pacar ternyata...............
HAAHAAHHA
siapa yang mau beliin saya baygon?
yasudah. jadi, siapa yang musti disalahkan dalam insiden percintaan yang gagal ini?
saya atau mereka yang kelewat baik dengan saya?
tenang... yang jadi korban cowok baik kayak mereka itu banyak kok, gadis mana yang gak senang diperlakukan oleh orang seperti itu apalagi yang berbuat baik itu orangnya ganteng dan manis.
silakan kasih komentar selama saya ngemil racun tikus u,u
Jumat, 16 Mei 2014
Minggu, 27 April 2014
ATTENTION PLEASE'-')???
ya.. saya hadir bukan ingin mempost FF. saya hanya sedikit curcol. sumpah ini blog bukan tempat untuk membuang imajinasi nista dan kemesuman saya saja'-')? tapi ini juga tempat curhatku.
hahha. aku merasa bersalah saja sama beberapa orang yang mungkin agak-agak membuatku sedikit bersalah karena tidak melanjutkan FF "Dear, My Aurora"
emm... sebenernya itu adalah cerita di balik curcol saya, cerita paling mengenaskan yang saya alami semasa SMA, dan saya sekarang sudah move on dengan bangku kuliah.
itupun kalau saya masih kuat untuk mengorek-ngorek luka lama SMA, kalau saya tidak sanggup? bisakah reader merelakan kisahnya 'hanya' sampai di situ?
kalau Kris Family the series beserta cecunguk yang terlibat di dalamnya juga aku masih belum dapat ide brilian, biasanya ide itu datang dengan tiba-tiba. hanya saja sekarang otakku lagi mampet karena tinggal sendirian, semenjak kuliah, jadi tidak menemukan kepala keluarga di dalam rumahku untuk dijadikan objek fantasiku.
dan yaaaah, sebenernya ceritaku di masa kuliah ini lebih greget ketimbang pas SMA. cowok-cowok ganteng berseliweran dan yah, suamiable... dan.. ahh sudahlah, jangan membuat aku berpikiran yang iya-iya. belum lagi dengan kehadiran teman-temanku yang super duper alay dan tidak manusiawi, kupikir kuliah saatnya serius, ternyata kelakuanku lebih nista di tempat kuliah ketimbang di jaman SMA.
ohiya, tempat tinggalku juga, aiiihh... aih... tetanggaku ganteng maaakkk... seumuran lagi... mana suka banget main bola di depan halaman rumahku. aiiihh pengen ikutan main... aiihh.. gantengnya... aiihh imutnya... aiihh.. seribu kali aihhh.......
ohiya ada juga ya beberapa orang yang mau dibikinkan cerita tentang school life gitu ya... hmmm...
aku sih pengen tapi berhubung aku sudah gak sekolah lagi...
aku mau nulis cerita apa? bocah abg yang naksir kakak kelas? atau kisah cinta sekelas? err... rasanya kurang greget kalau gak ada mesra-mesraan ya wkwk. kalau tetep dipaksain ceritanya kan saya berasa berdosa masa anak sekolah dijadikan objek nista saya dalam bermesum ria XD
ya saya cuma ngabarin itu aja. maaf saja kalau saya mungkin bisa dibilang vakum karena tidak bisa menuangkan isi otak saya yang sudah rada-rada ini menjadi sebuah kisah yang cukup rada-rada juga.
kalau ada apa-apa bisa hubungin saya lewat semua akun saya yang berinisial "meiokris" karena semua akun saya baik line, ig dsb menggunakan uname itu. hehehe.
jangan ragu untuk berteman karena saya senang kok berteman. mari meng absurdkan diri bersama '-')/
makasih ^^
hahha. aku merasa bersalah saja sama beberapa orang yang mungkin agak-agak membuatku sedikit bersalah karena tidak melanjutkan FF "Dear, My Aurora"
emm... sebenernya itu adalah cerita di balik curcol saya, cerita paling mengenaskan yang saya alami semasa SMA, dan saya sekarang sudah move on dengan bangku kuliah.
itupun kalau saya masih kuat untuk mengorek-ngorek luka lama SMA, kalau saya tidak sanggup? bisakah reader merelakan kisahnya 'hanya' sampai di situ?
kalau Kris Family the series beserta cecunguk yang terlibat di dalamnya juga aku masih belum dapat ide brilian, biasanya ide itu datang dengan tiba-tiba. hanya saja sekarang otakku lagi mampet karena tinggal sendirian, semenjak kuliah, jadi tidak menemukan kepala keluarga di dalam rumahku untuk dijadikan objek fantasiku.
dan yaaaah, sebenernya ceritaku di masa kuliah ini lebih greget ketimbang pas SMA. cowok-cowok ganteng berseliweran dan yah, suamiable... dan.. ahh sudahlah, jangan membuat aku berpikiran yang iya-iya. belum lagi dengan kehadiran teman-temanku yang super duper alay dan tidak manusiawi, kupikir kuliah saatnya serius, ternyata kelakuanku lebih nista di tempat kuliah ketimbang di jaman SMA.
ohiya, tempat tinggalku juga, aiiihh... aih... tetanggaku ganteng maaakkk... seumuran lagi... mana suka banget main bola di depan halaman rumahku. aiiihh pengen ikutan main... aiihh.. gantengnya... aiihh imutnya... aiihh.. seribu kali aihhh.......
ohiya ada juga ya beberapa orang yang mau dibikinkan cerita tentang school life gitu ya... hmmm...
aku sih pengen tapi berhubung aku sudah gak sekolah lagi...
aku mau nulis cerita apa? bocah abg yang naksir kakak kelas? atau kisah cinta sekelas? err... rasanya kurang greget kalau gak ada mesra-mesraan ya wkwk. kalau tetep dipaksain ceritanya kan saya berasa berdosa masa anak sekolah dijadikan objek nista saya dalam bermesum ria XD
ya saya cuma ngabarin itu aja. maaf saja kalau saya mungkin bisa dibilang vakum karena tidak bisa menuangkan isi otak saya yang sudah rada-rada ini menjadi sebuah kisah yang cukup rada-rada juga.
kalau ada apa-apa bisa hubungin saya lewat semua akun saya yang berinisial "meiokris" karena semua akun saya baik line, ig dsb menggunakan uname itu. hehehe.
jangan ragu untuk berteman karena saya senang kok berteman. mari meng absurdkan diri bersama '-')/
makasih ^^
Selasa, 18 Februari 2014
[FF EXO] LOS BATU PART 2(END)
Author : @meiokris
Cast :
·
Kris EXO M a.k.a Wu Yi Fan/ Kevin Li
·
Mei a.k.a Mei Li
·
Aleyna Yilmaz a.k.a
Aleyna Wu
·
Baekhyun EXO K a.k.a Byun Baekhyun/Bian Bai
Xian
·
Chanyeol EXO K a.k.a Park Chanyeol/ Pu Canlie
Genre : romance, drama, angst, hurt, tragic
Rate : 16+
Length : chaptered
***
7 Mei...
Mei’s POV
“jadi...sebenarnya dia itu siapa?? Anggota teroris? Mafia? Gank terkenal?
Buronan polisi??” Xiao Bai masih tercengang mendengar penuturanku.
“aku juga belum bisa
memastikan..mungkin semacam masalah dengan keluarga? Dia bilang kemarin sewaktu
kami kabur, itu adalah anak buah ayahnya” aku masih berusaha menetralkan
suasana.
“kak
Mei, kau menyelamatkan nyawa satu orang yang akhirnya mengancam nyawa tiga
orang sekaligus..” keluh Bai Xian yang benar-benar dibuat pusing oleh ulahku.
“lebih
baik kau berhenti berhubungan dengannya kak. Aku tahu dia anak orang kaya tapi
percayalah kita bakalan lebih bahagia kalau tak ada masalah...” saran Bai Xian.
Canlie mengangguk setuju. “aku
tidak bisa membayangkan sewaktu kau
berjalan-jalan dengannya kau bisa selamat, sungguh keajaiban” decaknya.
“setidaknya dia masih punya hati nurani untuk menyembunyikan kita di rumah
sini dan terbebas dari kejaran anak buah ayahnya” belaku.
“kak..
kau pikir lelaki yang kau cintai setelah beberapa menit kau bertemu dengannya
di bar itu punya hati nurani? hah? Harusnya dia sebagai lelaki melindungi gadisnya bukan malah
menjerumuskannya dalam masalah ini..” Bai Xian masih saja bersikeras
menyalahkan Wufan.
“dia
tak meminta kita menjadi anggota gank atau organisasi lainnya kok, dia
hanya meminta kita untuk tinggal di sini dan merahasiakan keberadaannya” terangku.
“meminta
kita untuk tinggal di sini dan mungkin kita
disuruh untuk menjaga rahasia mereka?? daan
setelah urusan mereka selesai.......” Bai Xian mengacungkan jari telunjuknya
dan menekannya di dada Canlie, “dor...!!”
Aku terdiam sesaat, “baiklah kalian bisa meninggalkanku sendiri kalau
kalian merasa hidup kalian terancam, lagipula mereka tak mengenal kalian kan?
Hanya aku yang berada di lokasi kejadian saat Wufan di serang”
“ahh, sudahlah, sekarang semua pikiran menjadi kacau, nanti saja bahasnya”
lerai Xiao Can.
“taurus
memang suka keras kepala..” Bai Xian menggerutu kesal begitu mendengar saranku.
“kau
juga, kalian lahir di tanggal dan bulan yang sama jelas saja sama-sama keras
kepala. Harusnya kau mengalah sedikit padanya.. lagipula kita hanya memikirkan
ancaman dibunuh kan tidak benar-benar dibunuh..” celetuk Canlie.
Bai
Xian mengedikkan bahunya, meraih koran yang ada di hadapannya dan memutuskan
untuk berpura-pura membaca dan tak menghiraukan Canlie, “kau tahu,, tadi Xiu
Min mengatakan lusa kita harus pindah. Dia lebih menerima pengontrak rumah yang
berani membayar lebih mahal. Padahal kupikir setelah ini kita akan menjadi
gelandangan lagi... kalaupun
kita pindah dari rumah ini, kita tak mungkin pindah ke rumah lama kita”
Canlie
terkekeh. Giginya yang rapi dan putih terlihat dengan jelas, “dasar, kalau kita tinggal di jalanan lagi, bagaimana kalau
musim dingin nanti? apakah kau tega membiarkan kak
Mei mati kedinginan karena salju? Ingatlah, tinggal bersama dengan seorang
penjahat dan tinggal di jalanan sama-sama beresiko. Sebaiknya kita lebih
memilih cara mati yang tak terlalu menyakitkan kita nanti. Setidaknya kalau pun
dibunuh oleh Wufan kita hanya bisa
merasakan sakit sesaat, kau bisa menyuruhnya menembak di kepala atau tepat di
jantung saja, kalau di salju? Kita bisa bertahan tanpa makanan dan pakaian layak
selama tiga hari, setelah itu aliran darah kita akan membeku barulah malaikat
pencabut nyawa sudi mencabut nyawa kita.” Racaunya.
Bai
Xian menghela napas panjang, “semua jalan tak ada yang benar, hidup saja susah,
ku harap nanti kita tak menyusahkan orang...”
**
Author’s POV
Seseorang menepuk bahu Aleyna yang tengah sibuk berdoa
berharap semoga ibunya baik-baik saja ditangani sang dokter.
“Aleyna... benarkah kau Aleyna?”
Aleyna pun mendongakkan wajahnya berusaha mengenali sosok yang dengan
lembutnya meremas bahunya pelan.
Mata hazel yang sangat mirip dengannya kini menatapnya tajam, “kau tidak
mengenalku?” alisnya yang rapi kini terlihat saling bertautan menunggu reaksi
gadis yang kini sedang membeku menatapnya.
“appa?” ia membulatkan matanya tak percaya.
“hmm” Wufan tak kuasa membendung emosinya, dipeluknya tubuh mungil yang
tengah berusaha semakin merapatkan tubuhnya, meminta kehangatan lebih dari
seseorang yang sudah sangat lama ditunggunya.
“eomma” bisiknya lirih.
“eomma sakit apa? Kenapa tak ada yang menghubungiku?” Wufan ingin sekali
memukul tembok didepannya sampai retak. Ia menangis menahan amarahnya yang
sudah lama ia pendam.
“eomma sakit kanker usus, kata eomma kalau appa tahu nanti apa sedih dan
tidak mau menemui eomma” katanya polos membuat Wufan menghentikan gerakannya
dan mematung, menyesali setiap perbuatannya tapi ia tak menyesali buah cintanya
dengan Mei, seorang gadis mungil yang sangat cantik.
23 oktober....
Mei’s POV
“Kenapa kak? Masih memikirkan Wufan?” tanya Xiao Can. Aku mengangguk
mengiyakan, sudah beberapa hari ini sejak kejadian pengejaran Wufan dan anak
buahnya sekarang ia tak berani lagi menampakkan batang hidungnya di depanku dan
yang lainnya.
“apa kubilang, kupikir kalau dia serius dia takkan bersikap pengecut
seperti ini” cibir Xiao Bai yang masih sibuk mengangkat jemuran dan membawanya
ke ruang tengah.
“diam kau Xiao Bai” bentakku, “kau piikir bagaimana caranya kita bisa hidup
dan menyambung usaha kita kalau tanpa uang yang dikirim Wufan setiap bulannya
ke rekeningmu?” sahutku sengit.
“well, kuanggap dia hanyalah seorang dermawan baik hati yang suka
menghamburkan uangnya untuk hal tidak perlu” Xiao Bai masih tetap bersikeras.
“kak, aku baru saja mendapatkan info dari kepolisian Cina di GuangZhou
tentang Wufan. Dia bukanlah lelaki baik seperti kebanyakannya, bahkan orang tua
angkatnya adalah seorang imigran gelap, orang tua kandungnya seorang kaya
penjudi memiliki aset berharga yang dikelola dengan baik oleh anak buahnya,
harta yang tak pernah habis dengan banyak selir, kudengar Wufan juga telah
menikah dengan seorang gadis biasa pilihannya...umm.. maksudku... bukankah
tidak menutup kemungkinan kalau semua berita itu benar dan... yah... punya
banyak istri.. emmm.. darah keturunan dari ayahnya... yah... begitulah” Xiao
Can berusaha menyampaikan dengan bahasanya sendiri agar tak menyinggung
perasaanku.
“yak yak sudahlah, kakak besar kita otaknya sudah bergeser dengan segala
pemikiran roman picisan di otaknya, intinya adalah Wufan bukan orang baik dan
kita bertiga sekarang sedang terjebak dan digantung dalam permainannya” papar
Xiao Bai, “kak kusarankan sekarang kau ikut denganku untuk membeli keperluan di
pasar, setidaknya aku bisa menyarankanmu untuk membeli sebungkus detergen dan
mencuci otakmu”
“Baekhyun, jangan terlalu keras dengan kakak” tegur Xiao Can.
“sudahlah, Xiao Bai benar, aku rasa aku harus menenangkan otakku dengan
menemaninya berbelanja” aku melerai mereka berdua.
“kau memang harus membantuku berbelanja kak. Aku juga butuh barang untuk di
rumah” Xiao Bai menyeret tubuhku yang semakin ringkih karena banyak pikiran
ini.
“pa.... pa....”
Ya di sanalah, di pasar itulah nyawaku seakan tercabut dari tubuhku,
terjatuh dan menggelepar di lantai pasar. Rasanya aku disentakkan dan berusaha
di sadarkan dari mimpi dan khayalanku selama ini.
Suara khasnya... perawakan dan semua itu nampak tak asing di mataku. Kakiku
seakan diikat oleh rotan yang menghentikanku berjalan, membiarkan Xiao Bai yang
terus melangkah tanpa menyadari sesuatu yang telah kulihat.
Lelaki bertubuh tegap yang tengah menggendong anak kecil yang sangat tampan
dengan rambut coklat dan mata hazelnya yang sama persis dengan mata hazelnya
Wufan itu tak menyadari keberadaanku.
Akibat adanya turunan jalan aku harus mendongakkan sedikit kepalaku
melongok mengecek kebenaran penglihatanku. Perlahan turunan jalan itulah yang
menyembunyikan tubuh tegap lelaki yang benar-benar mirip Wufan.
Ya Tuhan dadaku berdegup sangat kencang, aku bahkan dapat merasakan
keberadaan seorang Wufan dari jarak sejauh ini, sebelum semuanya lenyap dari
pandanganku, mata bocah rupawan yang sedari tadi sibuk memandangi wajah ayahnya
kini beralih kebelakang dan memandangku!
Mata hazel yang awalnya bersembunyi di bahu ayahnya kini mulai menampakkan
pesonanya. Mata kami saling beradu pandang dan di sanalah matanya memancarkan
kedamaian bagai melihat air jernih yang menggelegak di telaga.
25 Oktober....
“Kak, aku mau bicara” Xiao Can mulai mendekatiku perlahan setelah aku
selesai mengerjakan shift malamku di cafe. Ya aku kembali ke pekerjaan lamaku
dan Yixing, masih dengan sorot mata yang teduh masih memelukku hangat dan
memperlakukanku seolah-olah aku adalah seorang gadis yang lemah.
“sudahlah jangan terlalu berbasa basi Canlie. Kak, Cafe itu tidak aman
bagimu, apa yang kau harapkan dari sana? Gajimu kecil dan taruhanmu adalah
nyawa, tidakkah kau sadari Wufan itu pembawa sial, kalau saja ada anak buahnya
yang mengenalimu di cafe, kupastikan kau tidak akan selamat kak, keluarga Wufan
benar-benar tidak tersentuh, mereka keturunan mafia dan orang yang tidak
mempunyai kepentingan dengan mereka tidak boleh mengetahui kehidupan mereka,
dan kau baru saja mengatakan kalau kau itu kekasih Wufan? Gila! Kau masuk ke
dalam salah satu neraka di dunia ini!” Xiao Bai meludah dengan mata sarat akan
kebencian dan kekhawatiran.
Aku terdiam sesaat, mencerna rentetan kalimatnya yang seakan berdesakan
dalam kepalaku, kepalaku rasanya terasa semakin berat sekarang, beban ini,
kehidupan rumah tangga dengan kedua adikku yang tiada pernah berujung kalau aku
masih bersikukuh membela Wufan.
“kembalilah dan temui kakak kandungmu sendiri kak, kau pasti akan melupakan
Wufan dan menemukan kebahagianmu di sana” Xiao Can memelukku haru.
Aku menggeleng dan melepaskan pelukanku dari Xiao Can dan menatapnya tajam,
“aku rasa ada yang sedang kusembunyikan dari kalian, tidak mungkin kalian tanpa
alasan langsung mengusirku begini kan?”
“kami tidak sedang mengusirmu kak, percayalah” hibur Xiao Can yang sempat kulihat ia
bertukar pandang dengan XiaoBai yang langsung mengangkat bahunya dan pergi
meninggalkan kami sebentar.
“bacalah” ia kembali dan menyodorkan selebaran fotocopyan yang sudah usang
dan lusuh karena terkena basah dan debu. Aku membacanya secara seksama hingga
rasanya aku merasa tak berpijak lagi ditempatku berdiri.
Aku berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya yang bisa kuhirup dengan
hidungku, rasanya paru-paruku terasa berlubang, sebanyak apapun aku mencoba
bernapas rasanya hampa, aku seperti tak bisa menangkap oksigen yang berkeliaran
di sekitarku begitu aku selesai membaca selebaran yang ternyata adalah daftar pencarian
orang dengan nama Wufan yang tertera jelas dengan huruf yang bercetak tebal di
sana.
“kalau orang tahu kau pernah terlibat dengannya mereka bisa saja memintamu
memberikan info dan begitu keluarga Wufan tahu, semuanya akan musnah.
“kak, info yang ku dengar juga ternyata benar, dia benar-benar sudah
menikah, ini foto gadis yang sudah dinikahinya dan ini anaknya” susah payah aku
meraih kertas yang dipegang Xiao Can, tanganku bergetar begitu melihat wajah
anak yang tengah tersenyum dalam gendongan ibunya. Wajah itu... mata hazel itu
adalah mata yang kulihat di pasar waktu itu. Aku tersenyum samar hingga tanpa
kusadari butir-butir kristal bening itu turun mengaliri pipiku.
Author’s POV
“eomma... ini appa eomma, bangunlah” Aleyna masih sibuk berbisik di depan
telinga ibunya sambil menggenggam erat tangannya.
Wufan hanya terpaku menatap sosok tubuh yang terbaring lemah di ranjang
rumah saja, ia membuka kacamata hitam dan masker yang sedari tadi dikenakannya.
Rambutnya yang berwarna cokelat gelap memancarkan semburat cokelat terang di
bawah pantulan cahaya matahari.
Wajah gadis yang dicintainya sedikit berkerut hingga sudut matanya mengalir
sebutir air hangat...
“ eomma bisa mendengarku? eomma jangan menangis” bisik Aleyna lagi,
ditempelkannya pipi mungilnya ke wajah ibunya.
Tangan Wufan yang bebas kini bergetar saat ia menggenggam tangan pucat Mei,
dielusnya tangan Mei berusaha memberikan kekuatan dengan bahasa isyarat.
Mulutnya seakan terkunci melihat hasil perbuatannya sendiri yang mencoba membangkang
dari kedua orang tuanya, ‘kalau saja aku tak membangkang, maka hanya aku yang
sakit di sini, aku yang membiarkan cintaku berkembang saat aku melihatnya dan
membiarkannya terjerumus dalam lubang hitam ini, hidupku terlalu keras untuk
kubagikan padamu Mei’ ia berujar dalam hati.
15 November 2003...
Mei’s POV
“tok.. tok.. tok...” hujan kali ini begitu deras, aku yang menunggu kakak
kandungku pulang dari club akhirnya mendengar suara pintu diketuk.
“kak...” aku baru saja menghentikan alasanku yang ingin menghambur ke
pelukan kakakku begitu menyadari kalau yang sekarang berdiri di depanku
bukanlah kakakku. Mataku tertuju pada sosok berjaket hitam yang menerobos masuk
dan memelukku hangat, “i miss you” desisnya.
Aku langsung menyadari sosok yang tengah memelukku erat ini, namun ungkapan
rindu itu kini terasa menyayat. Aku meronta meminta dilepaskan, kata-kata kakak
kandungku masih terngiang di benakku.
“kau.. jangan mentang-mentang kita keturunan
wanita jalang dengan darah kotor yang mengalir deras di tubuhmu itu kau ingin
mengikuti jejak ibu dan aku? Kau pikir menjadi jalang dengan menjajakan tubuhmu
ke semua pria itu akan membuatmu bahagia? Apalagi dengan menjadikan dirimu
sebagai simpanan tetap lelaki yang sudah beristri dan mempunyai anak? Aissh,
masih banyak lelaki single, kaya, tampan dan terhormat yang bisa kau peloroti
hartanya tanpa harus menjadi seorang wanita jalang. Tak malukah engkau menjadi
seorang simpanan lelaki yang sudah menikah? Tak malukah engkau menjajah lahan
orang lain?!”
aku benar-benar merasa tertampar dengan ucapan kakakku, menjadi jalang
katanya? Ya. Aku rela menjadi jalang karena cinta...
Aku berusaha melepaskan pelukannya yang semakin erat di tubuhku, “lepaskan”
pintaku, nyaris memohon.
“tidak Mei, apa kau tidak tahu betapa tersiksanya aku harus berpisah
denganmu?” bisiknya lirih tepat di telingaku. Aku masih berusaha melepaskan
pelukannya dan begitu ia lengah aku langsung menampar wajahnya.
“kau!!” tudingku, “dasar lelaki keparat! Kejam! Keji! Busuk! Kau sudah
beristri dan masih saja bermain-main dengan wanita lain hah?!” aku ingin sekali
mencekik lehernya kalau saja ia dengan sigap memutar tanganku dan menaikkannya
ke atas, menahannya di antara tembok dan membuatku sulit bergerak.
“tolooo....hmmpphhh” tanpa memberikan penjelasan ia langsung membungkam
bibirku dengan bibirnya.
Aroma wine yang sedari tadi meruak saat ia berbicara denganku kini
benar-benar singgah di bibirku, bercampur dengan salivaku, bibirku terasa panas
dan berdenyut karena ia menciumku dengan kasar.
Aku masih bersikeras melepaskan ciumannya hingga akhirnya sebelah tangannya
menggenggam tanganku dan tangannya yang lain meremas dadaku, membuatku akhirnya
membuka mulutku meloloskan desahan yang sedari tadi kutahan karena ciumannya.
Brengsek, lelaki brengsek, umpatku dalam hati. Lidahnya dengan lihainya
bermain di rongga mulutku, membelit lidahku dan membuatku terangsang, tanpa
kusadari ia sudah menggendongku ke kamar dan menghempaskanku ke ranjang, ia
masih sibuk menciumi leherku sambil terus meremas dadaku.
Esoknya...
Aku terbangun dengan sebuah lengan
yang dengan kokohnya melingkari tubuhku. Aku menggeliat perlahan dan merasakan
sakit di selangkangan dan kewanitaanku.
Ahh, pipiku langsung memerah begitu mengingat percintaan panasku dengan
Wufan.
Tak terasa butir-butir air mengalir
di kedua pipiku, buru-buru kuhapus sebelum ia mendengar isak tangisku, aku
melangkah dengan tubuh di tutupi selimut, memungut pakaianku yang berserakan di
lantai, aku meraih pulpen dan menuliskan sesuatu padanya.
Dear Wufan..
Mungkin saat kau
menemukan note ini aku sudah pergi, aku harap ini akan menjadi hari terakhir
pertemuan kita, asal kau tahu saja aku sangat mencintaimu tapi aku takkan
sanggup berbagi cinta dengan wanita lainnya.
Jangan khawatir
soal kejadian tadi malam, aku takkan menuntutmu, jika aku hamil aku takkan
datang dan menghancurkan rumah tangga kalian. Suatu saat nanti kalau kau masih
mengingatku dan anak kita, aku pasti akan mempertemukan kalian.
Jangan mencariku.
Mei-
**
Author’s POV
Wufan menggenggam tangan Aleyna, ditatapnya lekat-lekat wajah gadis mungil
yang benar-benar mirip dengannya, hanya saja mata hazelnya benar-benar mewarisi
dirinya.
“kenapa kau bisa mengenaliku?” tanya Wufan penasaran.
“karena eomma sering memperlihatkan foto appa, kata eomma aku memang benar-benar
punya appa, aku juga pernah melihat appa” jawabnya polos.
“dimana?”
“di bandara, tapi appa tidak melihatku”
Mata Wufan semakin memanas, dipeluknya berkali-kali Aleyna, “benar aku
ayahmu, maafkan appa, besok-besok kau tidak akan merasa sendirian lagi, appa
dan eomma akan menemanimu” bisiknya pelan.
1 Juni 2008....
Mei’s POV
“eommaaaa... aku ingin bertemu appa” Aleyna menunjuk-nunjuk layar datar
kecil itu.
Ya, semenjak hubungan Wufan dengan keluarganya membaik, khalayak publik pun
makin gencar membicarakannya hingga aku harus menekan dadaku setiap hari
merasakan perih di dadaku setiap melihatnya tengah tersenyum bahagia
menggandeng wanita yang sudah memberikannya dua orang anak.
Berkali-kali aku menabahkan diri kalau aku hanyalah seorang wanita simpanan
yang benar-benar sudah dilupakannya. Aku membesarkan Aleyna dengan uangku
sendiri dan sedikit bantuan dari Xiao Bai dan Xiao Can.
“eomma....” Aleyna masih saja sibuk merongrongku dengan pertanyaan kapan ia
bisa menemui ayahnya sementara aku gelagapan menjawab pertanyaannya.
Aku rasa inilah saatnya...
“baiklah, kalau kau melihat appa jangan berteriak ya, cukup melihatnya
saja” aku memperingatkan pada Aleyna.
“aku tahu eomma, nanti istri dan anak-anak appa akan marah kan?” katanya
polos.
Aku mengangguk mengiyakan, ya, aku takkan menutupi keadaan Wufan yang
sebenarnya pada Aleyna. Ahh, anak ini bahkan tak pernah dirasakan kehadirannya
oleh ayahnya sendiri. Aku menatapnya pilu.
“jangan sedih eomma, Aleyna sudah sangat bahagia bisa melihat appa”
hiburnya.
Sementara menunggu Aleyna memakan es krim, aku mendengar bunyi keributan di
bandara dan langsung membawa Aleyna dalam gendonganku.
Aleyna tercengang melihat banyaknya pengawal yang mengawal orang yang
diyakininya adalah Wufan.
“itu appa? Tampannya” decaknya kagum.
Baru saja aku ingin membawa Aleyna mendekat tiba-tiba kerumunan wartawan
dan pengawal mulai memecah membentuk sebuah jalan. Mataku terpaku pada gadis
yang tengah memeluk Wufan sementara dua orang anak berjenis kelamin lelaki dan
perempuan turut memeluknya. Aku bisa mengenali mereka semua dari foto yang
pernah dibawakan Xiao Can.
Aku memeluk Aleyna erat-erat seakan menumpukan sesaknya napasku padanya.
Paru-paruku benar-benar terasa hampa, menggapai udara yang kosong tanpa oksigen..
Aleyna masih menatap kepergian ayahnya dengan mata berbinar tanpa merasa
iri dengan saudara tirinya yang memiliki keluarga utuh.
“eomma” bisik Aleyna setelah ia puas memandangi ayahnya, “Aley sudah
bahagia bersama eomma, eomma segalanya” kemudian ia mencium pipiku pelan.
Aku membawa Aleyna ke ruang tunggu yang di sana mengalun lagu Roxette.
I know there's
something in the wake of your smile.
I get a notion
from the look in your eyes, yeah.
You've built a
love but that love falls apart.
Your little piece
of heaven turns too dark.
Listen to your
heart when he's calling for you.
Listen to your
heart there's nothing else you can do.
I don't know
where you're going and I don't know why,
but listen to
your heart before you tell him goodbye.
Sometimes you
wonder if this fight is worthwhile.
The precious
moments are all lost in the tide, yeah.
They're swept
away and nothing is what is seems,
the feeling of
belonging to your dreams.
And there are
voices that want to be heard.
So much to
mention but you can't find the words.
The scent of
magic, the beauty that's been
when love was
wilder than the wind.
-listen to your heart-
Author’s POV
“Siapa keluarganya?” seorang dokter tiba-tiba datang dan menghampiri Aleyna
dan Wufan.
“saya....” Wufan berhenti sejenak sebelum akhirnya ia berujar, “saya
suaminya, dok”
Dokterpun mengangguk dan menginstruksikan Wufan untuk menemuinya di ruang
dokter.
“bapak, sepertinya kanker di ususnya sudah menyebar” dokter itu terlihat
prihatin membayangkan nasib Mei Li.
“katakan apa yang bisa kulakukan agar istriku bisa sembuh dok?” Wufan
menatap dokter dengan sorot mata sendu, ia semakin menyesali kepasifannya yang
hanya membiarkan keadaan berlarut seiring berjalannya waktu.
Dokter itu menggeleng, “kita hanya menunggu keajaiban Tuhan, bahkan
persentase hidupnya hanya 20%”
“du...dua puluh” Wufan tersentak hingga dering telpon dokter itu berbunyi.
“halo?” sapa dokter itu.
Setelah mendengar ucapan dari perawat di seberang ia langsung bergegas
keluar.
“maaf, istri anda sedang butuh pertolongan sekarang.”
“a...apa? bolehkah aku ikut masuk?”
“maaf” dokter itu langsung meninggalkan Wufan yang terduduk di ruangannya.
“AAAAAAARRGGHHH MEI LI” teriaknya frustasi, “andai kau tahu, kaulah wanita
yang satu-satunya kucintai, persetan dengan istri pertamaku. Aku menikah tanpa
cinta di sana”
2 tahun kemudian....
“aley,.. sudahkah kau menabur bunga untuk ibumu?” tanya Bai Xian.
“sudah paman, mana pamanku yang satunya? Aku ingin memberinya kecupan
sebelum aku pulang bersama appa” Aleyna terlihat mencari sosok Canlie.
“dia masih sibuk mengantri es krim” cibir Bai Xian.
“ah, paman yang satu itu benar-benar” Aleyna berdecak.
“kau menabur bunga mawar? Kenapa wangi mawar ini begitu kuat terasa?” tanya
Bai Xian.
Aleyna menggeleng, “sepertinya tidak ada mawar di sana, entahlah”
Sementara Aleyna berlarian menghampiri Canlie, Bai Xian berjongkok di depan
makam Mei Li.
“kau tahu kak? Kau benar-benar mewariskan darah seorang wanita yang kuat
pada diri Aleyna, dia bahkan tidak menangis begitu tahu kau meninggal, dia
mencoba berdamai dengan takdir” Xiao Bai mengelus batu nisan yang berwarna
putih itu.
“mungkin Tuhan tidak ingin kau sakit terlalu lama” bisiknya lagi,
“ngomong-ngomong Wufan mau merawat Aleyna dan mengurusnya bersama istrinya”
Ia melanjutkan, “semua orang mencoba berdamai dengan takdir, kami
merelakanmu, dan istrinya, kau tahu istrinya luar biasa baik bahkan dia
memaafkan kelakuan bejat Wufan, dengan lapang dada ia menganggap Aleyna seperti
anaknya sendiri, kami bahkan menganggapnya kakak”
“tapi tak ada yang bisa menggantikanmu yang telah bersusah payah merawat
aku dan si kutu busuk Chanyeol” lirihnya.
“oh ya, aku baru tahu kalau wanita yang dicintai Wufan itu adalah kau kak,
kupikir kalaupun dia mencintai istri pertamanya, cintanya sudah luntur, banyak
orang yang mengatakan, ketika ada orang kedua di hidupmu berarti hilanglah
sudah cintamu kepada orang pertama”
“hmm” seseorang menyadarkan Bai Xian.
“eh.. kak Wufan, kau sudah datang rupanya” ia mencoba menyapa Wufan.
“iya, mana Aleyna?” tanya Wufan.
“dia sedang bersama Canlie, biar kupanggilkan” Bai Xian langsung bergegas
meninggalkan pemakaman karena merasa canggung curhatannya di dengar Wufan.
Sementara Xiao Bai meninggalkannya, Wufan berjongkok menghadap batu nisan
Mei.
“bagaimana kabarmu di surga?” bisiknya lirih.
“aku menepati janjiku sayang, aku menjaga anak kita dengan baik” ia
tersenyum, “dan kau takkan pernah mati di hatiku, wajah Aleyna benar-benar
mirip denganmu” Wufan semakin mendekatkan tubuhnya dengan batu nisan,
dikecupnya perlahan batu nisan itu.
“kadang masih terasa nyeri di sini” ia menunjuk dadanya, “kadang aku masih
ingin memaki Tuhan, meneriakkan ketidakadilan di hidupmu”
“tapi sekarang berkat Aleyna, aku mencoba berdamai dengan takdirnya”
lirihnya.
“baik-baik di sana sayang” bisiknya sebelum meninggalkan area pemakaman
untuk menjemput Aleyna pulang.
Jauh di antara rimbunan pohon yang tumbuh di areal pemakaman, ada seorang
wanita dengan wajah sendu, kulit yang pucat tengah tersenyum menatap empat
orang yang sedang berlarian di sekitar areal pemakaman, saling mengejar satu
sama lain.
“aku bahagia di sini, Wufan” bisik Mei Li sebelum ia menghilang dan hidup
dengan tenang di alamnya..
-END-
Senin, 17 Februari 2014
[FF KRIS EXO] OTHELLO SYNDROM
Author: Mei F.D
Main cast :
·
Kris EXO M
·
Kim Jongdae EXO M
·
Bang Min Ah
·
Eunhyuk SJ
·
Dennis Kane
·
Other cast.
Length : oneshot,
series
Genre : Family,
married life, romance, drama alay
PG : 13+
Cerita series
KrisMinah lanjut ya hehe. Tapi Dennisnya dikesampingin dulu waks. Jangan lupa follow kkkk è
meiokris
***
Minah’s POV
“apa
tidak apa-apa membiarkan Dennis bersama eomma selama beberapa hari?” aku
menatap putera kesayanganku yang berada dalam gendongan eomma untuk yang
terakhir kali sebelum berpisah. Dennis akan ikut bersama eomma dan appa Kris
yang sedang bertugas, hitung-hitung liburan berhubung Dennis tak pernah diajak
ke luar negeri, begitu sih kata eomma.
Dennis
yang dikenal sangat aktif ini terkadang suka menyusahkan orang dengan sifatnya
yang kelewat polos dan serba ingin tahu.
“ah tidak kok,
eomma sudah puluhan tahun merawat anak kecil” liriknya pada Kris, yang disindir
merasa malu.
“ah eomma, kalau
sekarang kan sudah ada yang baru jadi eomma tak perlu merawatku lagi..”
sahutnya sambil memeluk pinggangku seenaknya.
“ishh... dasar
tidak sopan di hadapan eomma!” protesku.
“appa!! Jangan
bikin eomma marah...” Dennis yang biasanya tak mau kalah dari appanya lantas
meronta-ronta di gendongan eomma dan memukul-mukul Kris.
“haha, tidak kok
appa hanya bercanda.” Aku memandang geli ke arah Dennis dan berusaha melerai mereka.
“jangan banyak
bergerak sayang nanti kalau halmeoni jatuh gimana?” Kris melepaskan lingkaran
tangannya dari pinggangku dan menatap Dennis dengan pandangan khawatir.
Aku meringis,
dasar dua orang mahkota hatiku ini memang tak pernah akur, bisanya Cuma bertengkar
memperebutkanku, tunggu saja kalau aku punya anak lagi??!! Eehh??! Mikir apa
aku-_- yang ini saja masih belum becus mengurusnya.
“ayo kita
pergi... masih banyak yang harus dipersiapkan di sana..” Kris membelai pundakku
dan menyuruhku berpamitan.
“ah ya.. eomma
sama appa pergi dulu sayang, baik-baik sama halmeoni, saranghae..” aku mengecup
puncak kepala Dennis.
Dennis tak
berkomentar banyak hanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Akhirnya aku dan
Kris berpamitan dengan eomma sebelum akhirnya menuju ke RS.
Begitu aku
memasuki mobil dan mengenakan sabuk pengaman tiba-tiba Dennis memanggil.
“appa!! Eomma!!”
Kris yang
berniat menjalankan mobilnya menatap bingung ke arah Dennis dan membuka kaca
jendela.
“wae?” tanya
Kris yang langsung menoleh ke arah sumber suara.
“jagain eomma!!”
teriaknya.
“sip..” Kris
mengacungkan jempolnya ke udara dan langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit.
Aku hanya bisa
senyum-senyum sendiri membayangkan tingkah Dennis tadi.
“kenapa kau?”
tanya Kris yang melirik sekilas ke arahku, “pasti gara-gara morning kiss tadi ya?
Atauuu...”
“stop!” ujarku,
“siapa yang mikirin itu sih...” aku langsung membayangkan kejadian tadi
pagi,ketika aku baru bangun tidur Kris langsung membungkamku dengan bibirnya.
Hiiih bisa tidak ia tidak membuat jantungku copot dengan rutinitas pagi yang
bisa dibilang agak.... err.....
“hahaha” Kris
tergelak, “mikirin Dennis ya? Anak itu memang ada-ada saja..” gumamnya.
Aku tersenyum,
“bagus dong nanti Dennis tumbuh jadi anak yang perhatian dan sayang sama wanita
bukan orang yang mesum dan sok sepertimu..”
Kris mendelik
kesal, “biar saja. Tapi kau tetap saja suka denganku..” sahutnya bangga.
“ugh. Jangan
bermimpi..” ucapku sambil tertawa.
Kris berdecak,
tangan kirinya mengelus belakang rambutnya,”dasar, kau mengecat rambutmu lagi?”
tanyaku yang baru sadar perubahan warna rambutnya yang di cat lebih gelap.
“ne, tampankan?”
dia melirikku. Aku mencibir gemas.
“turunkan aku di
dekat rumah sakit saja ada beberapa bahan makanan yang harus kubeli untuk
Dennis..”
Kris mengangguk kemudian
merapatkan mobilnya di dekat trotoar depan supermarket, “mau kutunggui?”
tawarnya.
“tak usah, kau
duluan saja ke rumah sakit, masih banyak yang lebih membutuhkan tenagamu di
sana daripada menungguiku.” Tolakku halus.
Kris tersenyum
kemudian menjalankan mobilnya pelan menuju ke rumah sakit pribadinya yang
jaraknya sangat dekat itu sementara aku masuk ke dalam supermarket. Malam ini
pesta perayaan rumah sakit yang sudah satu dekade itu jadi pantas saja
dirayakan besar-besaran karena pesta ultahnya Cuma dirayakan setiap lima tahun
sekali, tepat sehari pesta ulang tahun rumah sakit, aku yang ultah. Hehehe.
Kuharap Kris tak
melupakan ulang tahunku, dia ingat saja aku sudah sangat senang.
**
“ugh..” aku
membawa barang-barang yang tadi kubeli dari supermarket ke ruangan untuk pesta
perayaan ulang tahun malam ini.
Dokter Fred Lee
sedang ada bisnis di luar negeri yang akhirnya menyuruh Kris untuk menangani
urusan perayaan ulang tahun ini sementara beliau tak ada. Mataku mencari-cari
sosok suamiku ini sementara aku menaruh barang-barangku di tempat penitipan
barang.
“siang min...”
sapa Jongdae, supir pribadi keluarga Fred.
“siang..” sapaku
riang.
“siang cantik..”
Hyukjae menyapaku sambil terus berlalu membawa pot bunga.
“haha siang
ya..” aku tersenyum melihat kelakuan sahabat Kris yang ini. dasar penggombal
ulung. Olokku dalam hati.
Mana sih Kris?
Daritadi aku tak melihatnya. Mataku tertuju pada beberapa perawat yang tidak
bertugas memilih untuk membantu mendekor ruangan.
“kenapa datang
sendiri-sendiri? Lagi bertengkar ya?” tanya Jongdae yang langsung mendekatiku.
“ah tadi aku
bersama Kris kok tapi aku turun di supermarket dekat sini” jelasku.
“Ooh..” aku
melihat dia terlihat bingung harus membicarakan topik apa lagi.
“emm.. kau
melihat Kris tidak? Aku daritadi tak melihatnya” ujarku bingung.
Ruangannya
memang sangat luas. Ada dua ruangan yang dihias di sini, satu untuk acara
puncak dan satu ruangan disulap menjadi seperti club malam untuk acara penutup.
Warna magenta dari ruangan ini kian bersemarak begitu pita-pita dan dekorasi
menarik terpasang di sisi-sisi ruangan.
“mungkin sedang
keluar..”
“hmm.. para
perawat yang baru ya?” bisikku pada Dae begitu melihat beberapa perawat yang
terasa asing di pandanganku berjalan melintas di hadapanku.
Dulu aku sangat
ingin menjadi perawat, kalau saja ayah dan ibuku masih hidup mungkin aku sudah
menjadi perawat sekarang. Hanya saja takdir berkata lain, toh walaupun aku tak
menjadi perawat aku takkan pernah menyesali takdirku menjadi istri seorang
laki-laki sok tampan dan mesum seperti Kris, di rumah kan aku sudah menjadi
perawat, merawat dua pasien, Dennis dan Kris. Haha.
“iya, beberapa
memang dipindahtugaskan ke sini, sekarang kepala perawat juga sudah berganti.
Yang terdahulu sudah pensiun..” terang Dae.
Aku membulatkan
mulutku membentuk huruf O. Sudah lama sekali aku tak pergi ke sini padahal
tempat ini merupakan saksi bisu sejarah pertemuanku dengan Kris.
“aku membantu
yang lain dulu ya.” Pamitku pada Dae dan berjalan ke pojok ruangan mendekati
pekerja yang lain.
“Minaaah...”
“ya?” aku
menoleh ke arah sumber suara.
“kau bisa
memindahkan pot bunga yang di dalam ruangan itu ke luar?” dia menunjuk sebuah
ruangan, “hanya tiga buah pot kecil lagi. Aku sudah memindahkan pot yang
besar-besar. Le...lah.... hah...” Hyukjae mengusap peluh yang mengucur di
keningnya.
Aku menyodorkan
sebungkus tisu yang kubeli tadi, “nih... pakailah.. tunggu di sini ya. Tenang
saja aku yang akan mengambilnya.”
Aku langsung
berjalan ke sisi ruangan itu, “permi....si....” napasku langsunng tercekat
melihat Kris yang sedang bercengkrama dengan seorang wanita muda sambil
menghias ruangan itu.
“eh.. Min... kau
sudah datang?” tanya Kris begitu melihatku. Sadar akan tatapan wanita muda yang
memandangku seakan berkata –kau menggangguku— membuatku terdiam membisu
sejenak. Ada sesuatu dari dalam dadaku yang jatuh terbakar dan terasa panas,
hatiku terasa ngilu. Aku mencoba tersenyum dan mengabaikan rasa itu. Tak ada
salahnya kan mencoba berfikir positif, mungkin semenjak sudah berkeluarga, Kris
mulai membebaskan dirinya dengan mulai mencoba beramah tamah dengan orang di
sekitarnya. Mengingat pertemuanku dengan Kris itu sangat tidak menyenangkan.
Pandangan jutek dan tatapan dingin itu. Mungkin wanita ini beruntung bisa
mengenal Kris dengan keadaan Kris sekarang yang jauh lebih ramah.
Aku mencoba
tersenyum, “ne... aku hanya ingin mengambil pot bunga itu..” aku menunjuk tiga
buah pot bunga dan bergegas mengambilnya sebelum hatiku semakin terbakar.
“biar kubantu..”
tawar Kris. Aku hanya diam, tak menolak tapi tak juga mengiyakan. Tapi sudut
mataku menangkap kalau wanita itu tengah mencegah Kris membantuku, “selesaikan
ruangan ini dulu Kris..” cegahnya sambil mengusap-usap bahu Kris.
“ah... aku bisa
sendiri kok...” ujarku sambil berlalu dari hadapan mereka dan meninggalkan
ruangan itu.
“hooii Min...
maaf merepotkanmu...” ujar Hyukjae dari kejauhan, tangannya menenteng sebotol
air mineral dan mengacungkan padaku, memberi isyarat menyuruhku duduk di
sisinya setelah aku memindahkan pot bunga ini.
“tidak apa...”
jawabku pendek sambil terus membawa tiga buah pot bunga yang cukup berat
dan menaruhnya di luar.
**
“huft....”
membawa pot bunga ini jadi melelahkan karena aku membawanya dengan sedikit
tidak ikhlas, membayangkan Kris bersama wanita itu benar-benar menyebalkan.
“minumlah...”
Hyukjae menawarkan sebotol air mineral yang tadi sudah dipegangnya padaku.
“ahh ne tidak
usah..” tolakku, “di dalam ruangan tadi aku bertemu Kris dengan wanita muda,
dia siapa?” tanyaku.
Belum sempat aku
menjelaskan secara mendetil tentang wanita muda yang bersama Kris itu, Hyukjae
sepertinya sudah mengetahuinya, “ugh bersama Kris? Mungkin kepala perawat baru,
namanya Jessica Han. Dia memang dekat dengan Kris karena dia masih perlu banyak
belajar tentang rumah sakit ini..” jelasnya. Aku mengangguk-angguk. Kutekan
dadaku pelan sambil berkata dalam hati, Cuma rekan kerja,. Rekan kerja....
“dia cantik
sekali kan? Pintar lagi, sayang dia galak dengan semua anak buahnya jadi aku
tak berani mendekatinya.” Keluh Hyukjae.
Aku
menepuk-nepuk pelan bahunya begitu mengetahui Hyukjae menyukai gadis itu,
“kalau jodoh tak kemana” hiburku.
“haha kajja.
Kita membantu Kris dan Jessica.” Ajak Hyukjae.
Aku mengikuti
sambil terus meyakinkan hati bahwa tidak ada hubungan yang spesial antara Kris
dan Jessica.
“hooii kami
datang~ yoo waddup...!!” Hyukjae menyapa Kris dan Jessica yang masih sibuk
menghias ruangan.
“halo nona
cantik” Hyukjae menyapa Jessica dengan membelai rambut panjang Jessica diikat
rapi ke belakang, yang disapa malah memalingkan muka.
“tidak sopan..”
gerutunya.
“Kris mau
kugantikan tidak posisimu?” tanya Hyukjae sambil mengedipkan matanya pada Kris.
Belum sempat
Kris menjawab Jessica yang masih berdiri di atas tangga langsung menyahut,
“tidak usah, aku Cuma mau dibantu sama Kris. Apalagi aku Cuma memakai rok, aku
takut matamu mengamati hal yang tidak-tidak.”
Hyukjae nyengir
karena niatnya ketahuan, “galak amat sih nona” celetuknya.
“sudah Hyuk,
denganku saja” aku menengahi.
Jessica
menatapku sambil tersenyum menang. Kris hanya bisa menatapku pasrah, berusaha
menyampaikan sesuatu, mungkin lebih seperti, jangancemburu... aku yang kurang pandai mengartikan tatapan
seseorang hanya bisa tersenyum getir.
Aku membantu
Hyukjae memasang beberapa kertas warna warni di sudut ruangan. Menggunting beberapa
pita dan membentuknya jadi bunga yang cantik.
Tok...tok...tok...
Semua mata
tertuju pada seseorang yang mengetuk pintu, “ada apa Hyo?” Jessica yang
mengenali anak buahnya ini langsung bergegas ingin turun dari tempat ia
berpijak tadi. aku melirik sekilas sebelum akhirnya memutuskan ia pegawai baru
di sini.
“kau
ke....AAAAAA” Jessica yang tatapannya daritadi mengarah ke arah seseorang yang
bernama Hyo itu kehiangan keseimbangan.
BUKK!! Jessica
jatuh, bukan.. bukan jatuh ke tanah, tapi jatuh ke gendongan Kris, tangannya
yang mulus dan putih bersih itu terlihat melingkar erat di leher Kris sementara
Kris –yang melakukan gerak refleks menggendong wanita cantik dan seksi- ini
sedikit terhuyung. Aku mengamati ekspresinya, kaget dan... entahlah, aku rasa untuk
sekarang aku lebih ingin membutakan mata dan hatiku. Pelupuk mataku terasa
panas, oh hey, sejak kapan seorang wanita sepertiku menangis?
“ehemmm...” Hyo
mencoba mencairkan suasana yang terlihat membeku ini, apa? Adegan ini terasa
seperti slow motion dalam pandanganku, tak ada yang bergeming dari tempatnya
dan mata Kris.. mata itu masih menatap Jessica!
Suasana kembali
normal, Kris menurunkan Jessica, matanya melirikku sekilas, aku hanya
tersenyum, miris...
Asisten itu
membicarakan beberapa hal yang tak ku mengerti pada Hyukjae, Kris, dan Jessica.
Apa aku wanita paling bodoh di sini? Aku hanya menangkap kalau Jessica dan Kris
diminta mengikutinya. Aku mengamati diriku sekilas, membandingkan diriku
dengannya, ah rambutnya yang sehat, lurus dan menawan itu, kakinya yang
jenjang, wajah cantik ditambah polesan make up tipis, bibir yang selalu merona
merah dan.. pintar.... bukankah itu yang pantas di dapatkan dari seorang putra
pendiri sekaligus pemilik rumah sakit ini?
“Hyukjae hyung,
temani aku...” ajak Kris sementara matanya beralih kepadaku, “kau mau ikut
atau...”
“tidak, aku di
sini saja” jawabku cepat, semakin sering aku mengikuti mereka maka akan
terlihat semakin bodohlah aku.
Jessica
menatapku sebal, aku lebih memilih diam.
“jangan menatap
Minah seperti itu sayang, Minah kan sudah....”
“hentikan mulut
menjijikanmu itu Hyukjae-ssi..” sela Jessica dengan tatapan sinis begitu
merasakan tatapannya padaku diperhatikan oleh Hyukjae.
Aku menunduk,
berharap Kris akan mengatakan, hei-aku-sudah-menikah. Apa wanita ini tidak tahu
hubunganku dengan Kris? Tapi kata-kata itu hanya berputar-putar dalam otakku
saja, ia tak mengatakan ataaupun meyakinkanku kalau ia dan Jessica tidak ada
hubungan spesial.
“kami pergi
dulu..” hanya itu kalimat yang terdengar di telingaku, aku bahkan tak tahu
apakah sekarang Kris melihatku atau tidak. Aku mendongakkan kepalaku begitu
suara Kris lenyap dari kedua telingaku, hanya ada Hyo, Jessica dan aku di
ruangan ini, aku kembali menyelesaikan dekorasiku tanpa memandang sedikitpun
pada mereka berdua.
Tak ada sesuatu
yang spesial di telingaku saat mereka berdiskusi, hanya sekedar masalah
pekerjaan sampai akhirnya celetukan dari Hyo yang membuatku membeku sejenak,
mematikan syaraf-syaraf di tubuhku dan membuat rasa nyeri itu kembali menyesakkan
dan menghantam hatiku.
“nona, kau mesra
sekali dengan Kris, kalian ssangat cocok”
“benarkah?
Selama ini aku belum berani menanyakan statusnya, ku harap ia masih sendiri”
entah rasa ingin tahuku yang begitu besar aku memberanikan diri memalingkan
wajahku menatap mereka, “setidaknya...ia lebih melihat ke arahku daripada
seorang wanita yang daritadi diperhatikannya..” sindir Jessica sinis.
“hha, nona lebih
baik kita menyusul mereka sekarang” ujar Hyo mengingatkan Jessica.
Sesuatu yang
basah dan berair mendesak keluar dari pelupuk mataku dengan lancangnya, wanita
ini, wanita ini mengincar suamiku!
Buru-buru aku
memalingkan mukaku dan bergegas meninggalkan ruangan ini sebelum wanita itu
melihat airmataku.
aku bergegas menyeka
bulir-bulir airmataku sampai akhirnya aku berhenti di sebuah cafe.
Aku
mengetuk-ngetukkan kesepuluh jari tanganku ke meja cafe, sesekali aku berhenti
mengetukkan jariku hanya untuk sekedar menyedot Caramel Macchiato yang berada
di depanku.
Sebentar lagi
acara akan dimulai, beberapa bagian dari cafe ini juga akan diisi oleh para
tamu undangan.
Sepi, bukan...
bukan cafenya yang sepi, hanya hatiku yang rasanya kosong, hampa, Kris masih
sibuk bertugas dengan Jessica sedangkan aku hanya bisa menunggu, mengusir jenuh
sambil mencoba membunuh kebosananku dengan memainkan gadgetku.
Ahh, kenapa Kris
tak mengatakan pada Jessica kalau ia sudah mempunyai istri? Apakah aku sangat
tidak pantas untuk dikenalkan sebagai istri pewaris satu-satunya rumah sakit
ini?
Tring.... sebuah
pesan Line masuk dari eomma, Omg! Eomma mengirimkan sebuah video padaku,
tanganku bergerak lincah mengklik link yang dikirimkan, Dennis sedang
menyanyikan lagu bear song?aku tersenyum begitu melihat aksi dari anakku, buah
hatiku.. aku terus memandanginya sampai-sampai aku tak sadar ada seseorang yang
duduk di hadapanku
“Minah” sapanya
yang membuatku terlonjak kaget.
“Seungho Oppa”
pekikku pelan begitu menyadari keberadaannya.
Ia tersenyum
manis, “suamimu pemilik rumah sakit ini ya?” tanyanya antusias. Aku tersenyum
mengiyakan.
“lantas apa yang
sedang kau tertawakan Minah?” tanya Seungho Oppa.
“ini, lihatlah”
aku menyodorkan video Dennis yang sedang bernyanyi dengan riangnya, aku
tersenyum senang. Kulihat Seunghopun tampak puas dengan perkembangan Dennis
sekarang.
“emm... Min. Itu
bukannya Kris?” tanya Seungho, aku yang daritadi sibuk memegang gadgetku kini
mengarahkan pandangan tepat di manik mata Kris yang ternyata sedang menatapku
tajam.
Aku tersenyum
mengejek, siapa yang harusnya mencemburui siapa? Aku mencoba bernapas melalui mulutku
begitu melihat pasangan Kris dan Jessica yang berlalu di hadapanku, aku rasa
ini adalah ulang tahun terburuk yang pernah kutemui.
Kami pun makan
dalam diam, Seungho akhirnya menyadari ada yang tidak beres dengan hubunganku
dengan Kris, “kau, tidak apa-apa Min?” tanyanya pelan.
Aku yang sedari
tadi hanya mengaduk-aduk makananku akhirnya memilih untuk mengalah dan
bertindak. Kutekan dalam-dalam harga diriku dan membuangnya jauh-jauh sebelum
akhirnya aku menemui meja Kris yang tengah sibuk bercanda dengan Jessica. Apa
peduliku dengan perayaan ulang tahun rumah sakit kalau akhirnya tepat di depan
mataku aku melihat suamiku berselingkuh terang-terangan.
“kau” tudingku
langsung pada Kris, “lelaki macam apa kau ini?”
Kris menatapku
tanpa ekspresi dan akhirnya membuatku gemas, kalau saja dia bukan suamiku
mungkin aku sudah menumpahkan wine di depannya.
“yak~ berani
sekali kau dengan Pak Kris” kali ini Jessica menegurku. Aku tersenyum
sinis,”berani katamu?setidaknya aku tidak sepengecut dia yang tidak mau mengakui
istrinya di depan umum” aku berusaha keras menahan airmataku.
Mataku beralih
pada Kris, “kenapa kau tak mengatakan padanya kalau aku ini istrimu? Memangnya
kau malu?” aku mengepalkan tanganku, “dasar penjahat! Suami bodoh! Tidak setia!
Aisssssshhh!!”
Aku
langsung membuang muka da n berlari meninggalkan cafe itu, pesta tetap akan
berjalan tanpaku kan? Aku mengasingkan diri di sebuah ruangan yang kuyakini
adalah ruang penyimpanan peralatan medis dan menangis tanpa suara, berusaha
menahan gejolak yang berlomba-lomba ingin segera dikeluarkan.
Usai
aku menangis, aku melirik jam tanganku yang terlihat mulai kabur karena air
mata yang terus menggenang di pelupuk mataku. Sudah jam 11 malam, perayaan
utama pasti sudah selesai kan? Setidaknya sekarang aku mengirimkan pesan Line
pada Dae supaya mengantarkanku pulang ke rumah.
Aku melangkah
pelan melewati ruangan dan menyelinap ke parkiran. Tiba-tiba seseorang mencekal
tanganku, memutar tubuhku hingga dadaku berbenturan dengan dadanya.
“jangan pernah
kabur dariku tanpa seijinku nona Minah” bisiknya di dekat kupingku, bahkan aku
merasakan bau-bauan khas yang menguar dari seseorang yang kukenali adalah Kris.
Aku meronta
dalam pelukannya, “lepaskan aku” jeritku.
Dia malah
tersenyum dan menggigit pelan kupingku, membuat mulutku meloloskan desahan
karena ulahnya.
“apa-apaan ini”
jeritku tertahan yang langsung dihentikannya dengan membungkam bibirku,
lidahnya yang basah memaksa masuk ke dalam mulutku. Air mataku turun sedemikian
derasnya, membiarkan tubuh mungilku terperangkap dalam dekapannya dan
membiarkannya mencecap bibirku tanpa ampun.
Begitu dirasanya
aku mulai kehabisan napas karena mengimbangi ciumannya, dia melepaskan diri dan
langsung berujar, “dengar ya sayang, aku tidak ada niat seeeedikitpun untuk
selingkuh darimu jadi tolong hilangkan pikiran-pikiran bodohmu itu” ia
menyentil keningku.
Aku masih belum
bisa menjawab pernyataannya, napasku semakin terengah-engah akibat ciuman dan
pernyataannya tadi.
“Sini
kutunjukkan padamu. HUP” dengan satu gerakan tangan dia menggendongku ke atas
bahunya.
“yak!
Turunkan!” pukulku pada punggungnya.
“diam sayang,
aku mau bernyanyi untukmu” ia bersiul kegirangan, hei apa-apaan ini? jangan
bilang ini adalah bagian dari rencana gilanya. Kau ditipu mentah-mentah Bang
Min Ah, rutukku dalam hati.
Akhirnya aku
memasrahkan diri merasakan tangannya yang menumpu pahaku dan sesekali ia
mencubit pantatku dengan gemas. “dasar lelaki sialan! Bejat! Kurang ajar!
Mesum! Penjahat kelamin! Sialan!” teriakku berang.
“sssttttt...orang
rumah sakit bisa mendengarnya sayang” ia memelankan suaranya dan sekali lagi
aku tercekat karena ia membawaku masuk ke aula dan sekarang menuju ke atas
panggung.
“wo...woaaah
ganas sekali” seseorang yang kuyakini Hyukjae bersuara dari tempat duduknya.
“lepaskan aku
Kris ini memalukan” desakku.
“tidak sampai
kau mendengarkan permintaan maafku” tolaknya dan langsung mendudukkanku di atas
kursi. Dengan cekatan beberapa perawat
pria langsung memegangi kedua tanganku dan mengikatnya di kursi.
“apa-apaan ini?”
teriakku marah.
“ini namanya
BDSM sayang, masa kau tidak tahu sih? Semakin kau meronta maka akan semakin
kencang ikatannya” papar Kris dengan senyum kemenangan.
“suami sialan!”
umpatku menahan malu, beberapa pengunjung ada yang berbisik-bisik mengenai
percintaanku dengan Kris, ada yang tersenyum, ada juga yang dengan antusiasnya
seperti mengatakan, “liar” “panas” “ganas” “amatir” “polos” dan berbagai
kata-kata yang teramat sangat menjijikan di telingaku.
“sayang~” Kris
memanggilku dan dengan cekatannya ia sudah berada di sebuah piano berwarna
putih.
“mau apa kau?”
kutekan harga diriku kuat-kuat, rasanya harga diriku sudah jauh terkikis
semenjak bersuami dengan lelaki gila seperti Kris.
“aku mau
meluruskan, aku tadi hanya berpura-pura dengan Jessica, semua warga dirumah
sakit ini juga tahu kalau aku itu milikmu sayang~” ia memamerkan giginya dan
mengacungkan tangannya kepada Jessica yang sekarang sedang duduk berdua dengan
Hyukjae.
“aku
menyayangimu sayang, aku takkan berpaling” ucapnya dengan nada menjijikan yang
membuatku membuang muka, “well. Baiklah sudah jam 12, cukup aku berbasa-basinya,
happy birthday sayang” ia datang menghampiriku dan mengecup kedua keningku
sementara para perawat pun mulai membebaskan tanganku.
Tak terasa
airmata pun kembali berjatuhan dari pelupuk mataku, “dasar lelaki jahat”
umpatku, benar-benar ya kali ini aku dibuat naik darah hanya karena ulang
tahunku sendiri.
“aku kan Cuma
bercanda sayang” ia meringis dan langsung membimbingku untuk duduk di
sampingnya sambil mendengarkannya bermain piano. Awalnya aku menolak tapi dia
mengancam akan memperkosaku di sini kalau aku tidak mau.
“para hadirin,
lagu ini khusus untuk istri saya yang sedang berulang tahun” ia tersenyum
sumringah, tangannya dengan lincahnya langsung menekan tuts piano.
Ahh, lagu ini...
aku memejamkan mataku pelan mendengarkan lagunya.
When your heart is
flying away to my heart
I will catch with all
my love
Like a ship that
sailing on the sea
Is it you where i
rest all my heart??
Kris memalingkan
wajahnya dan mata kamipun saling bertemu, ia tersenyum, dan mengecup bibirku
sekilas.
Im sitting on the
parkbench of downtown
Im laughing remember
all that you’ve done
There’s a bird is
singing on the tree
And you are running
around in my head
It is long time since
I first met you
I feel my heart is
start to grow
Im so happy that I
love you with no wonder
And I promise never
break it away
Ia
meringis sambil menyanyikannya begitu aku mendengar ia mengucap janji yang akan
kupegang itu, ahh tapi dulu ia bahkan lebih dulu mewanti-wantiku kalau setiap
orang yang berumah tangga itu pasti mempunyai masalah dan ia bisa saja secara
tak sadar menyakiti hatiku. Kalau saja ia tidak mengatakan hal semacam itu
lebih dulu padaku mungkin aku sudah mencakar wajahnya karena ia melanggar
janjinya.
My love is true
There’s a long way to
go
There’s a long day to
know
My love is true
I love you just as
you and please dont gonna be somebody new
Kali ini
ia mengecup tanganku mesra dan memandangku lekat-lekat.
“That your
love so beautiful and i want it forever” bisiknya lagi. “Happy birthday sayang,
I love you” tutupnya yang diiringi teriakan riuh dari penonton.
-END-
Langganan:
Postingan (Atom)

