Kamis, 05 September 2013
KNOW ME FIRST, KISS ME LATER(PART VII-END)
Author: Mei F.D
Cast :
• Wu Yi Fan/ Kris EXO M as Kristanius A. S.
• Mello as Priscilla N. Melody
• Delida Rahardika as Delida
• Park Chanyeol as Yeol
• Do Kyungsoo as D.O
Length : multichapter
Genre : romance, drama, antara kocak dan ngenes ckck
PG : 15++
Dibaca dulu siapa tau suka, kalau gak suka baru tekan tombol back^^. Klo ff ini dijamin udah tamat hehehe. Jgn lupa follow @meiokris :*
***
Mello’s POV
“Lain kali saya mampir lagi ke sini di pernikahannya DO dan Mello nanti” Dae tersenyum kecut. Aku tau dia kecewa tapi yah mau gimana lagi... aku nggak mau dia kebawa-bawa masalah aku nantinya.
Menikah? Seumur hidupku aku bahkan belum pernah membayangkan yang namanya menikah dengan orang yang kuanggap sahabat dekatku sendiri, apalagi diam-diam ternyata dia menyukaiku, gila nggak tuh? Hahaha nggak juga sih sebenernya -_- tapi ya cukup gila kalau aku yang ngalemin.
Bukan masalah apa-apa sih sebenernya...hanya.... ah sudahlah, aku bahkan gatau gimana cara mendeskripsikannya, rumit ruwet kek benang kusut, puyeng pusing... capek harus begini..
Emangnya gak ada orang yang tulus kasih perhatian dan kasih sayang sama aku ya disaat begini juga aku bahkan gak bisa gak mikirin Kris, lagi dimana sekarang? Udah makan belum? Udah cuci kaki sebelum tidur? Waaaa ;;;;
Seandainya aku harus menikah dengan DO.... apa dia mau ngerasain yang namanya menikah tanpa cinta? Apalagi kalau ternyata aku nggak jadi hamil anak dia? Terus ternyata kalau Kris balik lagi? ahhh... Kris atau DO?
“Mell, kamu sudah siap dengan pilihanmu untuk menikahi nak DO?” aku langsung kaget begitu bapak menanyakan ini padaku, “eh....eh...kalau tidak ada halangan apapun aku siap...”
“yasudah, nak DO... kenalkan saya Andrea Heris dan ini Ria Kumala ibunya Mello dan itu Odult...”
bapakku memperkenalkan anggota keluarganya, tut tut gujes gujes nyessss......,”jadi kapan kamu akan menikahi Mello?”
Aku hanya bisa terdiam menunduk sambil menunggu jawaban dari DO, “kalau bisa secepatnya Pak Bu...” jawab DO mantap yang sukses membuatku menatap tajam ke arahnya.
Whattt?? Menikah secepatnya? Entah sekarang aku harus berterima kasih atau malah membencinya sekarang...dia penyelamat sekaligus pengacau... apa dia benar-benar meracuniku dengan memberikan alkohol di malam kami menginap itu?
DO balas menatapku tanpa sedikitpun rasa bersalah... aku langsung membuang muka..
“kalau Bapak boleh tau, nama nak DO sebenernya siapa ya?”
Aku tetap menunduk, biar begini-begini juga aku udah pasang telingaku tajam-tajam, aku kan nggak pernah tau nama DO sebenernya..
“nama asli saya Dio Alif Fernanda” ujarnya.
Aku meringis kecil, Ny. Fernanda ya? Bukan Ny. Stevano.....
Aku memberanikan diri menatap wajah ayahku, ehh bukannya merespon ucapan dari DO ayahku malah mematung kek patung pancoran begitu, eh nggak ding, diem pokoknya. Aku, ibu dan Odult yang daritadi Cuma jadi saksi bisu di sini juga sadar kalau ayah tak kunjung bicara.
“Fer...Fernanda?” ulang ayah lagi. kenapasih?
“iya Pak, sebenarnya itu nama marga ibu saya, kebetulan juga saya yatim piatu kata ibu saya jadi lebih baik memakai marga ibu saya saja” jelasnya panjang lebar.
Kening ayahku berkerut dan keringat dingin mengucur,”siapa nama ibumu?” tanyanya lagi, sementara kulihat ekspresi ibu juga berubah, tak terbaca... datar....
“nama ibu saya Jessica Fernanda, beliau juga sudah meninggal sewaktu saya masih SMP, tapi saya dibesarkan oleh sanak keluarga dari ibu saya”
Hmmm...anak yatim piatu? Sebenernya sih kasihan dengernya tapi kalau ingat pagi kelabu itu aku langsung benci lagi sama DO, huh...
“kenapa Pak?” tanyaku bingung begitu menyaksikan ayahku mengatur napas beberapa kali.
“kalian tidak bisa menikah” ucap Ayah pelan bahkan seperti mendesis.
Aku terhenyak, ti...tidak jadi menikah? Tidak bisa? Ke..kenapa????
“kenapa?” tanya DO sedikit tak terima mendengar keputusan dari Ayahku.
“kalian...bersaudara” desis Ayahku pelan yang terdengar seperti ledakan bom di telingaku.
Apa bersaudara? Anak siapa? Jadi... Ayahku ini....
Aku langsung menatap wajah ibu yang sama sekali tidak berubah, tetap datar... aku menatap Ayah yang ekspresinya masih kaget, bingung, senang sedih... aku menatap Odult... semuanya memusingkan...gelap...sampai akhirnya aku tak sadarkan diri....
2 minggu kemudian....
Aku menghirup pelan udara yang mengalir memasuki kedua lubang hidungku... segar sekali, rasanya aku takkan bisa menjumpai udara sebersih ini di kota besar yang penuh debu.
“ehm..” seseorang berdehem dari belakang.
Aku memalingkan muka, “kak DO?” sapaku agak canggung , ya sampai saat ini aku masih belum begitu terbiasa dengan ‘anggota baru’ kami, tapi seenggaknya aku bahagia nggak jadi menikah dengannya.
Astaga, miapahh cumpah ciyus... aib keluarga, begitu lebih tepatnya, aku bahkan nggak tau kalau sebelum menikah dengan ibu ternyata ayahku sudah bikin anak orang hamil, dan ibu baru menyadarinya setelah beberapa bulan pernikahan mereka.
Ibuku juga sudah ikhlas di madu, tapi wanita –mamanya DO— itu menolak dan menghilang dari hadapan ayah hingga sekarang anaknya muncul di hadapan kami dengan topik, ‘ingin menikahiku?’ lol, aku bahkan nggak tau harus berkomentar apalagi, antara bahagia atau bahkan berduka melihat keteguhan hati ibuku.
Anak? Tiba-tiba aku teringat lagi, ini udah 2 minggu lebih, kalau tes pack gitu, bisa ketauan nggak ya? Tanpa sadar tanganku terulur mengelus perutku.
“ak...aku mau bicara” DO nampak gugup begitu melihat kedua tanganku yang berada di atas perutku.
“mau bicara apa?” tanyaku miris, kalau anak ini memang benar-benar ada juga pasti punya kemungkinan cacat.... bukankah dalam dunia kedokteran pernikahan sedarah juga di larang?
“mengenai malam itu....”
“sudahlah kak, kita sudah pernah bicara kan kalau kita udah nggak usah bahas masalah itu lagi” napasku mulai tak teratur.
“aku mau jujur sama kamu Mell...sebenernya kita nggak ngapa-ngapain malam itu” jelasnya yang langsung membuat mataku hampir melompat keluar kalau bisa.
What? Dia bilang apa? Apa? Nggak ngapa-ngapain? Jadi... jadi selama ini??!?!?!
“jadi...selama ini aku diboongin? Jadi selama ini aku masih perawan?” tanyaku ngelantur.
“hmmm” ia mengangguk.
Boleh nampar orang nggak nih? Aku harus apa? Bahagia? Atau sedih? bahagia karena aku masih perawan, nggak pernah ngono-ngono sama cowok yang ternyata sodara kandungku sendiri apa sedih karena aku dibohongin?
PLAK!! Sebuah tamparan itu kayaknya cukup mewakili kekesalanku yang bahkan saking banyaknya umpatan yang pengen keluar aku sampai bingung mau ngeluarin yang mana.
“terus kenapa pas aku bangun bajuku udah kebuka?” jeritku histeris.
“Mell...”
“terus...kenapa pas kamu ngasih aku minuman aku langsung pusing dan nggak ingat apa-apa?”
“Mell!! Dengarkan aku dulu!!” DO balas berteriak.
“malam itu aku bahkan nggak tau kalau itu sejenis wisky, aku bahkan belum pernah meminumnya, waktu kamu meminum itu lebih dulu kamu langsung pusing dan mulai membuka pakaianmu sendiri, itu yang membuatku menyeretmu ke kamar.... dan... aku berusaha mati-matian menahan nafsuku karena aku menghormatimu!!” jelas DO.
“tap....”
“mengenai kebohongan itu...ak minta maaf, bahkan aku nggak tau kalau kebohonganku itu lebih menyakitimu... aku terobsesi memilikimu Mell... karena kamu nggak pernah mandang aku... sekarang.. liat? Bahkan Tuhan nggak ngizinin kita buat bersatu dengan aib keluarga ini, apa aku bahkan nggak layak buat bahagia? Karena aku anak haram?”
“STOPPP!!” aku menatap DO geram. “hentikan ocehanmu DO, bisa nggak sih nggak usah meratapi nasib begitu? Nggak bisa mensyukuri hidup!” akupun langsung berlari meninggalkan DO ke dalam rumah.
Author’s POV
“halo” Kris menjawab dering telepon di ponselnya sementara tangan kanannya sibuk menyetir.
“baby, kamu nggak bener-bener pergi kan?” terdengar suara dari seberang telepon.
“otw malah”
“Alva... Mama kan nggak nyuruh kamu cepat-cepat menikah juga sama Delida?”
“Alva nggak mau nikah sama dia” desis Kris.
“tapi Mama nggak percaya kamu benar-benar punya pacar, buktinya nggak pernah di bawa ke rumah...”
“makanya Alva mau jemput dia biar bisa di kenalin sama mama”
“nggak biasanya kamu nyembunyiin pacar kamu loh ay, apa jangan-jangan pacar kamu itu cowok?”
“Ma..cukup... Mama mau bikin Alva celaka? Mama nggak denger Alva lagi sibuk nyetir?”
“hmm... yaudah deh kalau gitu hati-hati di jalan sayang”
“ya Ma, bye”
ARRGGHHH, kenapa sih Mama ngebet banget pengen nikahin aku sama Delida? Kan aku udah bilang aku udah punya Mello...
Benar-benar wanita pecinta drama, bisa-bisanya beliau mikir aku pacaran sama sesama jenis.
Kris membanting ponselnya ke jok belakang, “pls Mell... baikan lagi, selamatkan aku”
----
“permisi” Kris mengetuk sebuah pintu depan rumah yang bisa dibilang sederhana itu.
“siapa ya silakan ma....suk..” seorang ibu paruh baya membukakan pintu untuk Kris.
“anda siapa?” ibunya Mello tercengang menatap seorang lelaki berwajah rupawan yang berada di hadapannya. Kris yang mengenakan setelan kemeja berwarna biru gelap itu hanya bisa tersenyum simpul.
“saya Kris Alva atasannya Mello. Kalau saya boleh tau benarkah ini rumahnya Mello?” tanya Kris halus.
“walaaaah dalaaaah... pak Alva toohh.. aduh cakep bener iki.. ayo masuk nduk ibu panggilkan si Mello”
“ehmmm” Kris berdehem sekali dan langsung memasuki rumah Mello dengan sedikit menunduk.
“aduuh nak Alva ketinggian sih sampai takut kepentok lawang(?) gitu” celoteh ibu Mello.
Bah, baru sekali ketemu ibu Mello aja udah tau sifat ceplas-ceplos Mello itu darimana, celetuk Kris dalam hati.
“mau ngomong sama ibu dulu atau mau ngomong sama Mello langsung?”
“ahh.. sama ibu saja, langsung saja, saya ke sini Cuma ingin meminta izin dari ibu untuk membawa Mello balik ke Jakarta karena dia sekarang saya pindah tugaskan” jelas Kris.
“maksudnya apa ya nduk ibu kurang paham ini loh...”
“haha, nggak apa-apa bu, saya pribadi meminta Mello untuk bekerja di perusahaan utama saya di bagian keuangan...” ujar Kris.
“APAAAKHHH???!?!?!??!” kali ini suara Mello terdengar.
“ish gasopan” ibu Mello langsung beranjak dari tempat duduknya dan mencubit Mello.
“ini lo ada atasannya ke sini malah nggak sopan begini” omel ibunya.
Mello terdiam begitu melihat sosok lelaki yang sangat di rindukannya kini berada di dalam rumahnya, Mr. Limited Edition yang kaya, gagah, ganteng dan menyilaukan ini kini sedang bertamu di rumahnya.
“ada apa ini bu...” kedatangan DO dari belakang membuat Kris terhenyak.
“heh nggak sopan begitu, ayo duduk semua kalian?” perintah ibu yang nggak menyadari atmosfer kecanggungan antara Kris-Mello-DO.
**
“Kris” Mello memberanikan diri untuk menyapa Kris yang dari tadi hanya membisu di dalam mobil.
“hmmmm”
“ge....”
“.....”
“ihhh gegeee” Mello membalikkan badannya.
“apa Mello?”
“maksudnya tadi dirumah apa?”
“yang mana?”
“yang tadiiii”
“yang tadi mana?” Kris masih sibuk menyetir mobil.
Mello mendelik kesal, “ituloh yang kamu datang ke rumahku terus jemput aku sampai sekarang aku ada di sini”
“ohh itu...”
“.......” Mello menunggu ucapan Kris selanjutnya.
“.......”
“IHHH KOK DIEM SIHH?!?!?! Aku kan butuh penjelasan” teriak Mello frustasi.
“berisik. Penjelasan apa?”
“banyak... banyak juga tanyaan yang harus di jawab”
“mana? nggak ada pertanyaan juga”
Aduuuhh, sabar Mell sabar, orang sabar cepet nikah, di sayang Tuhan, aaaa rasanya aku rela jadi pembunuh bayaran buat musnahin spesies makhluk paling nyebelin kayak Kris di muka bumi ini.. ihh.. capek ngomong sama dia, ngeselin...
“ngapain coba kamu jemput aku?”
“lah, kerja kan”
“kenapa harus aku coba?”
“pls ya Mell aku nggak mau uangku buat bayarin kuliahmu itu terbuang percuma kalau akhirnya kau Cuma jadi sarjana pengangguran” jawabnya ketus.
“jadi ceritanya aku dibiayain kuliah buat kerja sama kamu?”
“iyalah apa lagi”
Uhhhh ihhh keseeel pengen jambak cowok ganteng di sampingku ini kalau aku nggak inget dia lagi nyetir mobil sekarang, ntar kalau dia marah sama aku kan bisa aja aku di tinggal di jalan, Kris kan orangnya tegaan, dulu aja aku pernah ditinggal di jalan gara-gara aku waktu itu pengen dibeliin es krim -_----
“kamu nggak nanya gitu kenapa DO bisa ada di rumahku?”
“ngapain? Nggak kepoan juga”
“hmm.. kamu kenapa nggak sama cewekmu itu” Mello mulai mengungkit-ungkit masalah Delida.
“cewek yang mana?”
“yang dicafe itu”
“dia bukan cewek juga”
“hah? Maksudnya?” Mello menatap Kris bingung.
“gapapa, pokoknya ga ada hubungan apa-apa sama dia”
“ciyusss...miapah.. haha, nggak nanya hubunganku sama DO?”
“nanya buat apa?”
“ ya gapapa... aku sama DO ternyata sama-sama sodaraan, sodara kandung gitu” Mello mengatakan sambil sesekali mencuri pandang ke arah Kris.
“oh gitu....”
Mello berdecak gemas, “ihh baru juga ketemu udah ngeselin lagi” protesnya.
“lah kenapa lagi?”
“ya komen kek, salto kek bilang wow kek” Mello menatap Kris gemas.
“males ah” jawab Kris yang langsung mengabaikan Mello.
Pisauu mana pisaaaauuu ihhhh -____-
Mello’s POV
Aku sama Kris udah baikan, dia bilang dia kan nggak ada hubungan apa-apa sama cewek itu, aku bahagia lah, hehehe, tapi ya itu, bingung.. yang masalah nembak itu loh aku emang bener-bener udah putus ya sama Kris?
“woyy buruan masuk” Kris meneriakiku dari dalam mobilnya, tuh kan pagi-pagi udah main teriak aja.
“iya iya” aku langsung bergegas masuk ke dalam mobil Alphardnya Kris, ihh nggak sabaran banget kan nunggu akunya.
“belum juga kerja udah main telat aja” sindir Kris.
“yasalam iya iya maaf Bos” aku menghembuskan nafas keras-keras di hadapannya, pagi-pagi jangan Cuma bisa bikin bete doang, HIKZ.
“nanti pas udah sampai di dekat kantor kau turun terus jalan kaki ya” ucap Kris tanpa menoleh sedikit padaku. What? Maksudnya nurunin aku di jalan apaan coba?
“kenapa? Malu ya berangkat bareng pembantu?” tanyaku.
“pagi-pagi nggak baik nevthink” sindirnya lagi.
“ya terus kenapa dong kalau bukan itu?” protesku lagi.
“ya nggak apa-apa pengen aja”
“.....” kalian tau, ahh, aku bingung, masa nggak ada apa-apa tapi aku diturunin di jalan? AAAA ALVA KRIS itu terlalu jauh, misterius, tampan dan nyaris tak tersentuh, rasanya aku sama dia kaya jauuuh banget, dianya di tebing akunya di dalam jurang tanpa dasar :”””””
Well, aku bahkan susah nebak jalan pikirannya, aneh, nggak jelas dan dia terlalu pelit untuk ngasih alasan logis yang bisa diterima oleh akal sehatku.
Alva Kris, limited edition, tampan, menawan, sekeras batu haha, hatinya sedingin es dan... mungkin tertutup. Dia selalu dominan dalam segala hal. Ku akui aku memujanya dalam pesona iblisnya itu. Dia selalu mendominasi dan satu-satunya yang hadir dalam setiap mimpiku.
“udah sampai tuh” tanpa kusadari Kris sudah memarkirkan mobilnya di samping trotoar.
“jadi aku harus bener-bener turun nih?” tanyaku tak percaya, hell ya, aku di usir oleh atasanku yang super duper nyebelin dan tegaan kayak gini.
“iyalah”
Ugh ugh tahan Mell, ini hari pertamamu bekerja, okay?
“sampai jumpa di kantor, sayang” pamitnya sambil menyeringai, ihh, kata sayang sekarang mengerikan ya, apalagi kalau spesies Alva yang ngucapinnya. Bener-bener nggak romantis!
Akhirnya aku melangkahkan kakiku menuju halaman perusahaan Stavano yang luasss, mobil-mobil mewah bertengger di halaman parkir khusus pegawai, ugh gedungnya juga tinggi banget, leherku sampai sakit untuk melihat puncaknya. Megah mameeen.
Akhirnya aku berjalan dengan menenteng tas kerja kecilku, aku bingung mau membawa apa, Kris Cuma nyuruh aku kerja di bagian keuangan kan? Ku bawa aja berkas-berkasku sehabis kuliah itu.
“selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionisnya.
“Anu...saya pegawai baru di sini” sahutku takut-takut.
“karyawan baru?” resepsionisnya kelihatan bingung. Belum juga aku menjawab udah ada panggilan telepon, resepsionis itu terlihat sedang berbicara serius dengan seseorang di telepon.
“ah iyaa, karyawan di bagian keuangan ya? Sini saya antarkan” bimbingnya.
Tiba-tiba di depanku terdengar ribut-ribut dan beberapa karyawan mulai berdiri dari tempatnya sambil bisik-bisik, kenapa sih?
Oke, haruskah aku salto sekarang atau gelindingan di gunung salak? Kris –yang paling menonjol dingin dan menawan- muncul dengan beberapa jajaran direksi perusahaannya berjalan masuk ke ruang rapat, banyak karyawan wanita yang menyapanya.
Oww, mulutku bahkan sudah membuat bulatan kecil membentuk huruf O, sebesar itukah pengaruh lelaki yang aku cintai ini? aku bahkan nggak berani buat nyapa dia...hahhh....
“ini ruangan untukmu, nanti ada supervisor yang membimbing” kata resepsionis yang mungkin di tugaskan untuk mengantarkanku.
Akupun hanya mengangguk-angguk kecil dan mulai duduk di tempat kerja baruku. Beberapa karyawan di sekitarku bahkan masih membicarakan pesona Kris yang menggugah selera itu.
“hi, ku dengar kau pegawai yang masuk ke sini tanpa tes ya?” tanya seseorang yang meja kerjanya berdekatan denganku.
“ahh ya kali, pak Kris yang memintaku langsung” jawabku sedikit bingung, nggak ngerti ah, pokoknya aku di suruh kerja di sini, nggak ngerti juga tes yang bagaimana, hehehe.
Bola mata gadis yang menanyaiku itu langsung melebar,”waahh benarkah? Jadi kamu sudah pernah ngomong dong sama pak Kris?” dia menatapku kagum.
“iya begitulah” jawabku canggung, emang kenapa? Cuma ngomong doang sama lelaki sok kayak dia sih udah biasa, lagian nggak ada yang spesial juga ngomong sama dia, yang spesial itu kalo diromantisin sama dia, hahaha kiamat kali ya kalo dia romantis, atau otaknya lagi kena virus makanya bisa romantis.
Akhirnya aku kenalan sama gadis itu yang ternyata namanya Reyna, teman baruQ dan dia banyak mengajariku apa-apa yang harus kukerjakan di sini sebagai staff baru di bagian keuangan.
“ehh..ehh..pak Kris udah selesai rapat” seseorang gadis yang aku belum tau namanya memberikan kode sehingga semua pekerja diminta berdiri untuk memberikan salam hormat, bah.. apa-apaan ini, macam Presiden aja.
Akhirnya aku ikut berdiri dan membungkuk saudara-saudara setanah air, padahal jajaran direksi juga nggak kalah keren tapi kenapa Cuma pak Kris yang begitu terekspos.
Bukannya membalas sapaan mereka, Kris langsung berjalan dengan angkuhnya, bahkan dia melewatiku tanpa sedikitpun menoleh apalagi menyapa. Huh!
“nah yang jalannya paling belakang itu namanya pak Chanyeol, dia orangnya baik, ramah, kalau ngomong sama dia itu kesannya kaya nggak ada kasta di antara kita” bisik Reyna.
Aku Cuma mengangguk-angguk dan memperhatikannya, lumayan loh ya, eh nggak lumayan ding, cakep, keren, kece, bahkan aku bingung mau bilang apa sama dia, mukanya beda jauuuh sama Kris, Kris kan boros mukanya, aku sama dia aja kayak beda lima tahun padahal Cuma beberapa tahun, hahaha.
Akhirnya setelah bergunjing ria dengan Reyna yang membuat kami ditegur oleh supervisor, tiba-tiba seseorang mengejutkanku.
“Ba!!”
“AAAA” aku berteriak kaget, yasalam Mello adooohh emang ini penculikan? Ngerasa lagi di pasar apa gimana sih pake acara teriak-teriak segala. -_-)
Seseorang-yang katanya namanya Chanyeol- itu langsung terkekeh, “idiihh ngapain sih pak pake acara ngagetin?” protesku sewot.
“pegawai baru ya? Kok imut?” dia malah muji aku bukannya ngasih tau alasan dia ngagetin aku, ihh ngeselin.
“itu muji apa ngejek?” tanyaku galak. Abisnya jantungku langsung lari maraton gara-gara dia.
“serius muji, hahaha, kenalan dulu, Chanyeol” dia ngulurin tangan ke arahku.
“Mello” jawabku.
“ciyeee ehem Pak Chanyeol tumben ngajak cewek kenalan duluan” sindir Reyna sambil ketawa.
“mumpung jomblo” jawabnya, nah loh? Maksudnya jomblo apaan? Siapa yang jomblo? Dia? Aku? Siapa sih? Duuuhh Mello, otakmu kayaknya lagi kekurangan cairan, susah banget cerna omongan orang.
“oy oy perhatian perhatian” gadis yang daritadi teriak-teriak ngasih pengumuman kesana kemari ternyata mau ngasih pengumuman lagi/?
“bentar lagi Stavano bakalan ngerayain pesta nih” katanya, “terus ntar ada acara Love Game gitu, ntar bagi para pekerja yang ngerasa jomblo bisa daftarin diri,kali aja dewa cupid nembakin panah cintanya sama kalian”
“gue ikut” kata Chanyeol yang daritadi masih sibuk gangguin aku, aku kan jadi nggak konsen kerjanya, mana supervisorku kayak lagi melototin aku terus.
“Mello juga ikut ya, jomblo kan?” ajak Chanyeol to the point.
“hah?” aku melongo.
“iyakan? Udah ikut aja, nama kamu juga udah aku daftarin”
“hah?” aku ikut Love Game? Aku jomblo? Aku bahkan nggak tau statusku sekarang masih jomblo apa tetap taken sama Kris............
“udahan hah hohnya, tuh pak Kris sama Bu Delida juga ikut” jelasnya.
DEG.. Kris sama Delida ikut Love Game? Bedua? Kalau yang ikut Love Game itu jomblo semua berarti Kris ngerasa jomblo dong? Berarti kita emang bener-bener udah putus dong waktu di taman itu?
“ntar kita pasangan, mau kan?” rayu Chanyeol yang membuatku kembali ke alam sadarku.
“hah...iya” jawabku seadanya, jadi...emang bener-bener putus ya sama Kris.........
Author’s POV
“Delida!” Kris langsung masuk ke ruangan Delida.
“Apa say?” Delida menjawab tanpa menoleh ke sumber suara.
“apa maksudnya ini?” Kris langsung melemparkan selebaran ke atas meja belajar Delida.
“itu acara ang dibuat para karyawan buat meriahin acara perusahaanlah” jawab Delida cuek.
“terus kenapa namaku ikut terdaftar?”
“apa salahnya sih, Alva? Toh kamu juga jomblo kan?”
“maksudmu?” Kris menatap Delida tajam.
“ya nggak apa-apa buat seru-seruan, ntar kita pasangan” sahut Delida sambil memainkan kukunya.
“haah... Delida. Coret. Namaku. Di daftar. Peserta. Love. Game.” Kata Kris.
“loh... kenapa? Ya nggak seru dong, masa belum tanding udah kalah duluan sama Mello-Yeol” protesnya.
“maksudmu apa?!”
Delida bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Kris. “Mereka. Ikut. Love. Game. Dan. Mendaftarkan. Diri. Sebagai. Pasangan.” Ia memainkan ujung dasi Kris dan pergi meninggalkan ruang kerjanya.
Hari-H
Mello’s POV
“Mell udah selesai?” Chanyeol yang dari tadi pagi sibuk bujukin aku ke salon akhirnya udah nggak sabar juga ngelihat penampilanku.
Ugh, salah dia bawa aku ke salon, yang ada aku malah tetep biasa-biasa aja, padahal aku males banget ikut acara Love Game ini, tapi Chanyeol malah memaksaku dan tadi sore sehabis pulang kerja dia malah ngajakin ke salon.
“bentar lagi Pak” jawabku yang masih sibuk dipoles/?
Udah dua jam aku di salon, capek lah dibawa ke sana kemari buat perawatan, pembersihan ini itu, aku bahkan nggak tau namanya apa.
Mello pokoknya kita harus menang biar jadi couple terbaik sepanjang tahun.
Kenapa sih Mello? Kamu kan karyawan baru jadi semua orang juga harus kenal sama kamu makanya kamu harus ikut acara ini
Aku baru pertama kalinya ikut acara beginian jadi jangan kecewain aku.
I’m a Peterpan and You’re my Wendy.
Daaaan segudang kalimat-kalimat romantis, bujukan segala macam yang kuterima dari Chanyeol, ahhh... andai Kris bisa seromantis Chanyeol mungkin aku sudah pingsan lebih dulu, atau bahkan sebelum dia berujar pun aku udah kena serangan jantung, paru-paru tersumbat dan darah berhenti mengalir.
“silakan liat ke cermin mbak” pegawai salon itu akhirnya membawaku ke sebuah cermin besar dan...
“itu yang di cermin siapa?” aku melongo menatap bayangan wanita cantik di depanku.
“wuidiiiih cantik bener” Chanyeol langsung menghampiriku sambil bertepuk tangan, “nggak salah kan, kamu emang cantik” bisiknya di telingaku sambil mengusap pipiku.
Oh god, aku baru banget kenal sama dia tapi dia udah berani mengusap-usap pipiku, bohong kalau aku nggak seneng ya, siapa sih yang nggak bahagia di deketin cowok ganteng?
“ayoo...nanti telat” ia langsung menggenggam tanganku dan menarikku ke luar.
“ehmmm...nampaknya peserta terakhir sudah mulai memasuki ruangan” sapa seorang MC ketika aku dan Chanyeol mulai memasuki ruangan, haaah rasanya telapak tanganku sudah basah, aku gugup. Banget.
“jangan gugup, just act like a princess” bisik Chanyeol di telingaku, aku mengangguk pelan dan pasrah ketika tangannya menggenggam erat tanganku dan menuntunku memasuki ruangan pesta. Pantas saja dia mengajakku kesana kemari ternyata untuk mengulur waktu dan membiarkan kami sebagai tamu terakhir di pesta ini.
Aku berjalan perlahan dan berusaha menenangkan diriku sampai akhirnya mataku menangkap sosok yang membuat tubuhku limbung kalau saja Chanyeol tak menahan pinggangku.
Alva Kris.. dengan setelan tuxedo berwarna hitam dan kemeja putih yang kancingnya sengaja dibiarkan terbuka di bagian atasnya membuatku harus menelan ludahku berkali-kali. Ia tak bergeming dari tempatnya berdiri, hanya menatapku tajam seakan berkata, kau-takkan-selamat-malam-ini.
“OK baiklah, sekarang peserta love game silakan naik ke atas panggung” perintah sang MC yang membuatku tersentak kaget dan rasa gugup kembali menyelimutiku.
Baiklah aku merasa terintimidasi sekarang, Chanyeol ternyata nggak kalah terkenalnya dengan Kris, ada banyak cewek yang memujanya bahkan aku bisa mendengarnya langsung dari tempatku berpijak.
Chanyeol memeluk pinggangku erat dan menuntunku naik ke atas panggung.
Ada 4 orang pasangan yang akan menjadi saingan kami malam ini, Mark-Lauren, Ron-Stella, Albert-Keira, dan terakhir Kris-Delida. Huhh... sulit rasanya untuk menyebutkan nama pasangan terakhir karena jauh di lubuk hatiku yang terdalam aku sangat sangat tidak merelakan acara perjodohan kilat ini.
Akhirnya acara pun di mulai dengan kami dan pasangan-pasangan lainnya yang berdiri di atas sebuah lingkaran dengan peraturan ‘tak boleh keluar dari lingkaran’ tempat kami berpijak. Haaah.. game pun di mulai.
Pertama-tama kedua tangan kami diikat dan kami saling berjuang untuk melepaskan tali ikatan satu sama lain dan serangkaian permainan lainnya hingga akhirnya hanya ada dua peserta di atas panggung, Chanyeol-Mello dan Kris-Delida ;A;
Huhh hah huhh hah.. sabar Mell sabar, si Kris mungkin benar-benar menikmati perannya sebagai peserta Love Game, buktinya tadi dia seenak udel grepe-grepe tubuh Delida, memang sih ada banyak skinship di antara semua pasangan, tapi kalau aku ngelirik pasangan ini, darahku rasanya naik ke ubun-ubun, tensi darah naik dan mungkin otakku sudah mau meledak, kalau saja Chanyeol tidak mengiba padaku untuk nggak bertahan sampai akhir, mungkin aku lebih memilih untuk pulang ke rumah daripada bertahan dan melihat semua pemandangan menjijikan ini.
“baiklah, sekarang hanya ada dua pasangan, silakan para lelaki diminta untuk mengambil peppero stick”
Hah? Peppero stick? Otakku sudah mikir yang engga-engga, akhirnya setelah berbagai macam instruksi yang diberikan, kami dan satu pasangan –yang aku nggak mau nyebutin nama mereka— diminta untuk menghabiskan stik peppero itu berdua.
Aku memakan ujung stik pepero dan Chanyeol di ujung yang lain hingga akhirnya bibir kami saling berdekatan, nyaris bersentuhan. Tanpa sadar tanganku menekan bahu Chanyeol, memintanya untuk menyerah daripada aku harus merelakan bibirku tersentuh oleh bibirnya.
Chanyeol mungkin mengerti dan dia menghentikan gerakannya, ia melepaskan stik pepero yang tersisa dan menyerahkan kepada panitia acara untuk dihitung, sedangkan samar-samar sang MC mengatakan, “waaah, pak Kris dan Ibu Delida berciuman”
Hah? Apa... apa dia bilang? Mereka berciuman? Rasanya kepalaku sudah berputar-putar saat mendengar kalimat itu di ucapkan. Kakiku terasa lemas kalau saja Chanyeol tak menahan pinggangku. Ia menahan pinggangku dan membawaku mendekat ke arahnya.
“ok. Karena suasana semakin panas dan romantis antara Yello couple dan Deris couple, panitia memutuskan untuk tidak mengukur panjang stik yang tersisa, tapi ada satu tantangan yang mungkin akan menjadi tantangan terakhir dan kita akan mengetahui siapa couple paling romantis di tahun ini” jelas MC.
“apa apa?” samar-samar aku mendengar sorak sorai dari para tamu undangan, aku udah nggak kuat lagi, aku....sakit hati...
“Mell, bertahanlah untukku” bisik Chanyeol, “kita sudah berjuang sejauh ini, tolong jangan buat ini jadi sia-sia” pintanya.
“oke, jadi... para pria diminta untuk mencium gadisnya... ciuman yang paling dalam dan romantis itulah yang akan dinobatkan jadi couple teromantis tahun ini” tantang MC.
Aku mematung, berciuman? Di depan umum? Dengan orang yang bahkan belum lama kukenal? Tapi... aku teringat akan Kris yang bahkan tadi sudah mencium Delida. Sabar Mel.. sabar...
“masih mau lanjut Mel?” tanya Chanyeol padaku.
Aku mengangguk, baiklah.. mungkin dengan adanya acara ini, aku juga bisa belajar untuk melupakan Kris, ciuman bisa bikin orang jatuh cinta nggak sih?
Aku menutup mataku pelan dan membiarkan Chanyeol bertindak, satu menit...dua menit...tiga menit.. aku menunggu tapi tak ada sentuhan seperti yang kuharapkan. Perlahan lahan aku membuka kedua mataku, ok Ya Tuhan, apa yang kulihat sekarang? Kris menahan bahu Chanyeol?
Dia melirikku sesaat, “sorry, Mello milikku” ucapnya sambil menekankan kata pemilik di bagian akhir.
Ap.. apa? Dia bilang apa? Milikku? Aku milik Kris? Sejak kapan? Maksudnya apa? ;AA;
Kupastikan Chanyeol tak kalah kaget ketika mendengar pernyataan yang keluar dari bibir atasannya sendiri, “maaf pak, saya nggak bermaksud buat ngerebut dia dari bapak”
“kalau Mello menyukaimu, kau boleh mengambilnya dariku” kata Kris dengan angkuhnya.
Oke baiklah, sekarang semua karyawan terdiam melihat pemandangan ini. tak ada yang berani berujar sampai akhirnya Delida bersuara.
“Kris, sejak kapan kau suka merebut lahan orang lain?” sindirnya.
“udahlah, hentikan permainan konyol ini, semuanya duduk tempat tamu undangan” perintah Kris.
Hah, di saat begini sifat bossynya emang bener-bener berguna, nggak ada yang berani ngelawan dia di saat menegangkan seperti ini. ada semburat kecewa di wajah Chanyeol saat menatapku dan raut wajah kesal terukir di wajah cantik Delida.
Aku menghela napas pelan dan berbalik untuk mencari tempat duduk.
“Mello, aku tidak menyuruhmu untuk kembali ke tempat dudukmu” perintah sebuah suara.
Aku berbalik menatapnya, “mau apa lagi? udah selesai kan? Aku males kalo dikasih-kasihin ke orang kayak gitu, kaya barang aja” sungutku kesal. Maunya apa sih? ‘kalau suka ambil aja’ maksudnya apaa? Emang aku barang apa? Kenapa ngomongnya gitu. Nggak berperikemanusiaan -__-
Bukannya minta maaf dia malah ketawa, dikeluarkannya iPad miliknya dan dia mulai menuliskan sesuatu, usai menggoreskan sesuatu di layar iPadnya, ia memperlihatkan hasil pekerjaannya padaku.
Bukan tulisan yang diperlihatkannya padaku melainkan sebuah gambar, gambar binatang seperti kucing, diatas gambar kucing ada lambang bentuk hati dan panah yang mengarah ke sebuah huruf LU.
Maksudnya apa? Kucing cinta kamu? Apa coba artinya? Atau kucing itu melambangkan dirinya terus bilang sayang aku? Aku nggak tau artinya ;__;gambaran Kris
“itu gambar binatang apa?” tanyaku.
“kebo” jawabnya cuek.
“kebo apaan itu kayak kucing” protesku.
“berisik, bukannya bilang makasih udah digambarin” omelnya.
“makasih yaaaa.... tapi itu maksudnya apa coba?” tanyaku masih takjub melihat hasil gambaran ajaibnya.
“nggak ada maksud” dia langsung berjalan menuju ke arah piano besar.
Ishhh, nyebelin kan, aku belum selesai ngomong dianya malah main ninggalin aku. Oh ya, aku baru sadar, tak ada yang berani berbicara kecuali aku dan Kris, yang lain hanya memilih diam dan menyaksikan pertengkaran kecil kami.
“mau kemana?” teriakku, tapi Kris malah nyuekin aku dan lebih milih duduk di depan pianonya, jari-jarinya dengan lincah memainkan tuts piano.
(Can I) call you my own and can I call you my lover
Call you my one and only girl
(Can I) call you my everything call you my baby
U’re the only one who runs my world
Girl can I, call you mine, you and me, happily, by my side
Through day n night, let it be known, that u’re my own...
Tak terasa aku meneteskan airmata ketika Kris memainkan piano untukku, ia tersenyum ke arahku dan berjalan menghampiriku perlahan.
Tangannya yang bebas terulur menyeka airmata yang keluar dari kedua mataku, hingga tangan yang lain meraih tangan kananku dan jarinya bergerak lincah menyematkan sebuah cincin emas sederhana di jari manisku.
“aku tau kau tak suka barang mewah jadi kuputuskan untuk memilih yang sederhana”
Otot-ototku terasa lemas kalau saja dia tak merapatkan tubuhnya dan meraih pinggangku, “ini...apa....” bisikku terbata.
“kau harus menikah denganku, aku tak terima penolakan” ujarnya sambil mencium lembut bibirku... aku tersipu malu sampai tak menyadari ada banyak pasang mata yang menyaksikan kejadian ini.
“bisa nggak sehari aja nggak bikin aku lemes?” bisikku pelan.
“bikin lemes itu hobi” bisiknya sambil mengeratkan pelukannya.
THE END
EPILOG
Akankah kau berada di sisiku? Dalam keinginan besar yang perlahan menghilang
Kedamaian selalu tak pernah terlihat di hadapan tragedi
Aku mengumpulkan kepingan kecil cinta ini, satu bagian, dua bagian, aku menumpuknya.
Hanya dengan berharap bisa bertemu denganmu
Airmataku mengalir sebanyak ini, cintaku.
Kubiarkan kekesalanku melayang pergi ke langit malam,(pls stay with me)
Aku bisa menahannya tapi jangan dingin kepadaku
Karena suatu saat kata-kata akan berubah menjadi kebenaran
Kebanggaan dan bakat yang tak bisa di dengar, tak bisa berakhir seperti mimpi.
Satu hal, dua hal, jelaskan semuanya padaku.
Apakah aku akan menyakiti diriku lagi jika kukatakan aku merindukanmu?
Airmataku mengalir lagi, cintaku.
Setiap kita berpapasan, kau semakin berharga bagiku(pls stay with me)
Aku ingin mengetahui lebih banyak tentangmu, aku ingin mendengar suaramu.
Rasanya ingin menangis, rasanya aku bingung. Aku begitu lemah kan?
Please...stay with me (YUI-PLEASE STAY WITH ME)
“nggak bosen dari tadi dengerin lagu itu mulu?” tanya Kris tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
“kamu nggak tau itu lagu aku dulu tau nggak” sungut Mello.
“engga, maksudnya?”
“au ah bete” Mello melipat kedua tangannya, punya kuping kan? Dengerin kek liriknya maksudnya apa? Dasar!! Itukan lagu pengharapan/? Lagu ungkapan perasaan aku, ya masa aku harus jelasin juga ke dia, bego apa gimana sih? Masa penerus perusahaan Stavano nggak ngerti yang beginian? Dasar otak beku. Cairin dulu sanah.
“ngambek mulu ckck” Kris berdecak.
“au ah bodo bodo bodo” teriak Mello di dalam mobil.
“tukang ngambek bikin gemes deh, jadi pingin nimpuk” komentar Kris.
“bawaan bayi kali, yaudah pokoknya abis ini kamu harus bikinin aku makanan.. aku lapar” perintah Mello.
“bawaan bayi mulu, males ah”
“KRIS!! Ntar anak kita ileran gimana?” Mello menatap Kris sambil berkacak pinggang.
“mirip ibunya berarti” jawab Kris seenaknya.
“Alvaaa!! Ihhh!!”
“berisik, diem kalo nggak mau kuperkosa di sini”
“ALVAAA KRIS!!!”
Yang naksir sama Alva Kris bisa ketemu sama realnya Alva Kris
Sebenernya ff ini khusus buat dia, tapi ya karena ada something gitu jadi ya nggak jadi dikasih tau aku bikin ff buat dia, kkkk.
Krisnya baik kok, kadang nyebelin ^^; aku ngambil sifat Alva Kris dari dia, sekalian minta fanservice sama dia pasti di kasih kok, kalau sifat pelit sama songongnya gak kambuh ^^v , sekalian nanya Mello dimana juga nggak papa sama dia, hahaha^^)v
Udah ah, bye all. Makasih udah ngikutin ff aku sampai selesai. *bow*
Jumat, 02 Agustus 2013
FF KRIS: KNOW ME FIRST KISS ME LATER PART VI
KNOW ME FIRST, KISS ME LATER(PART VI)
Author:
Mei F.D
Cast :
·
Wu Yi Fan/ Kris EXO M as Kristanius A. S.
·
Mello as Priscilla N. Melody
·
Delida Rahardika as Delida
·
Kim Jong Dae as Dae
·
Do Kyungsoo as D.O
·
Oh Sehun as Odult
Length : multichapter
Genre : romance, drama, antara kocak dan
ngenes ckck
PG : 15++
Dibaca dulu siapa tau suka, kalau gak suka
baru tekan tombol back^^. Klo ff ini dijamin udah tamat hehehe. Jgn lupa follow
@meiokris :*
***
Author’s
POV
Awan mendung
berarak menuju danau karena di tiup angin, di danau inilah air hujan jatuh
setetes demi setetes dan perlahan mendarat mulus di kulit Mello. Danau adalah
saksi bisu drama menyedihkan antara dia, Miranda dan Kris.
Mello
terduduk lemas menahan emosi jiwanya yang menyesakkan, membuat paru-parunya
seperti dipukul benda tumpul, tak berdarah namun terasa amat nyeri. Di tatapnya
arah kepergian Kris dan Miranda yang menyusulnya itu, sepi... hanya
kilasan-kilasan drama beberapa menit yang lalu berkelebat di benaknya.
DO...jemput aku di taman dekat danau ya..
Mello
mengirim pesan singkat itu pada DO, ia tahu DO bukanlah lelaki bodoh yang tak
bisa menyadari kalau cewek yang sedang di seberang teleponnya sedang terluka,
biarlah dia sendiri dulu, ia tak yakin DO akan menyetir dengan selamat kalau
tahu keadaan Mello.
Mello
menghela napas berkali-kali, berusaha menetralkan pacuan detak jantungnya dan
butiran kristal yang mendesak ingin keluar... ia tak tahan lagi...
Mello
menangis.. merintih.. meneriakkan nama Kris di sela-sela suara hujan yang
dengan kejinya menenggelamkan suaranya. Mello bahkan tak terlalu jelas
mendengar rentetan teriakannya, semuanya terlalu berdengung, menyesakkan dan
menyakitkan.
Ia berteriak
parau meratapi nasibnya sendiri yang ditinggal kekasih yang bahkan cuma
dimilikinya beberapa menit itu. Hilang sudah, sia-sia...usahanya membuat
seorang Alva jatuh cinta padanya..
“iya aku
memang bodoh!! Aku memang bodoh mencintainya!! Aku bodoh terus-terusan
menunggunya!! Aku bodoh karena selalu memikirkannya!” suaranya memelan, “kenapa
kau tega melakukan semua ini Kris...kenapa...” ia tersedu.
Kepercayaan
dirinya sudah benar-benar lenyap, hatinya remuk.. airmata yang mengalir deras
di sudut matanya bahkan tak kuasa mewakili kesedihan yang membuncah pada
dirinya. Terlalu banyak emosi dan terlalu banyak umpatan yang ingin ia
keluarkan.
Hidungnya
terasa sakit dan matanya terasa perih karena air hujan yang terus-terusan
mengguyur tubuhnya..semua sakit, dingin dan perih yang ia rasakan di tubuhnya
kini tak sebanding dengan rasa perih yang menusuk hatinya.
“Melloooo”
DO berteriak diantara hujan yang turut menenggelamkan suaranya. Tenggorokannya
benar-benar terasa sakit karena harus meneriakkan nama Mello berulang-ulang.
Mello
merasakan ada yang memanggilnya, ia menoleh hingga akhirnya ia dan DO bertemu
pandang..
“Mello....”
DO berlari ke arahnya.
Mello
mencoba beranjak dari tempat duduknya, ia mencoba berdiri namun kakinya sudah
benar-benar terasa lemas sekarang, ia jatuh terduduk.
Mello
meremas rumput di dekatnya, ia merasa tak mempunyai gaya gravitasi lagi, ia
tergugu meratapi kepergian Kris, bahkan genangan air yang tercipta di depannya
seakan mengejeknya dengan menampilkan refleksi dirinya yang benar-benar kacau.
Mello terus menangis hingga akhirnya pandangannya mengabur dan semuanya terasa
gelap.
I often close my eyes and I can see you smile
You reach out for my hand and I'm woken from
my dream
Although your heart is mine... It's hollow
inside
I never had your love and I never will
And every night.. I lie awake
Thinking maybe you love me... Like I've
always loved you
But how can you love me... Like I loved you
when
You can't even look me straight in my eyes
I've never felt this way to be so in love
To have someone there, yet feel so alone
Aren't you supposed to be the one to wipe my
tears
The on to say that you would never leave
The waters calm and still
My reflection is there
I see you holding me but then you disappear
All that is left of you
Is a memory... on that only, exists in my
dreams
I don't know what hurts you but I can feel it
too and it just hurts so much
To know that I can't do a thing and deep down
in my heart
Somehow I just know... that no matter what
I'll always love you...........
So why am I still here in the rain..........
Alva....aku bahkan tak bisa menjangkaumu...
Walaupun saat itu aku sudah memilikimu...
Aku tau kau masih mencintainya dan separuh
hatimu masih bersamanya..........
***
DO menatap
wajah tenang yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya, di telusurinya
wajah Mello, cantik, pujinya.
DO beberapa
kali mengompres gadis yang berada di depannya sekarang, Mello demam tinggi
semenjak kejadian itu sehingga DO harus memanggil dokter untuk memeriksa
keadaannya.
Diam-diam ia
beranjak dari tempat duduknya dan menundukkan wajahnya di depan Mello,
dikecupnya pelan bibir gadis yang di cintainya perlahan, di elusnya bibir bawah
Mello yang masih pucat.
Mello
bergerak-gerak dalam tidurnya yang membuat DO kelabakan karena takut ketahuan
telah mencuri ciuman Mello, “mmhhh...gege...” gumamnya dalam tidurnya.
“bahkan kau
masih memimpikannya dan dia masih menjadi satu-satunya pangeran bunga tidurmu”
DO menatap Mello prihatin.
Ia mengecek
ponsel Mello dan mendapati puluhan chatting, puluhan panggilan terjawab dan
segalam macam usaha dari Kris untuk menghubungi dan mencari keberadaannya.
Mell...
Mell
maafkan aku...
Mell...kamu di mana sih?!
Mello aku janji akan menemuimu...
Daaaan
puluhan pesan dari Kris yang membuat DO ingin meludah di tempat, DO memandang
Mello sebentar, di hapusnya seluruh pesan dari Kris dan tak lupa
memblacklistnya.
“kau lebih
baik tidak usah berhubungan dengan Kris lagi” ujarnya lirih.
“Mello...”
DO membangunkan Mello yang masih tertidur, diceknya suhu badan Mello yang masih
panas.
“hhhh apa”
Mello menggerakkan matanya dan mulai membukanya perlahan
“makan siang
dulu ya ntar sambung lagi tidurnya” bujuk DO sambil membetulkan letak bantal
Mello.
“nggak mau
makan” tolaknya. Ia memejamkan matanya lagi.
“makan
sedikit say...err... Mell... baru minum obat” DO bersikeras mendudukkan Mello
dan menyuapinya.
Akhirnya
Mello mulai membuka mulutnya sedikit dan mulai memakan buburnya dengan wajah
yang ditekuk, sesekali DO menyeka bubur yang meleleh di sudut Mello, ia juga
yang mengurut pelan punggung Mello ketika Mello terbatuk dan berniat untuk
memuntahkan makanannya.
DO beberapa
kali harus mengelus dadanya, menahan keinginannya untuk tidak menciumi gadis di
hadapannya ini.
*
Setelah DO
selesai menyuapi Mello dan membiarkan untuk tertidur lagi, tiba-tiba bel
rumahnya berbunyi.
DO langsung
mengalihkan perhatiannya dari Mello dan berjalan membukakan pintu, begitu pintu
terbuka ia tercekat dengan sosok yang muncul di hadapannya sebagai tamu. DO
menyeringai.
BUKKK!!
Sebuah tonjokan mendarat mulus di wajah tamunya. Kris jatuh tersungkur. DO
kalap dan membabi buta, sebelum tamu yang datang ke rumahnya itu bangkit, ia
sudah lebih dulu melayangkan bogem mentah untuk yang kedua kalinya. Napasnya
memburu.
DO berusaha
mengontrol emosinya, kalau saja Kris bukanlah lelaki yang dicintai Mello
sepenuh hati mungkin detik ini juga ia sudah membunuhnya. Kris tetap diam, tak
melawan ketika menghadapi serangan dadakan dari bawahannya.
Kris hanya
menatap DO dengan pandangan terluka sambil menyeka darah yang mengalir di sudut
bibirnya.
“kenapa??
Kenapa kau tak membalasku Tuan Alva?! Kenapa? Aku Cuma bawahanmu dan kau bisa
saja menghancurkan hidupku dalam sekejab!!” DO menarik kerah kemeja Kris yang
masih terduduk di terasnya seraya berkata, “bapak boleh menghancurkan hidup
saya tapi jangan pernah menghancurkan hidup Mello!!” ia menggeram.
“calm down,
aku kesini untuk meminta maaf” Kris menepis tangan DO sambil berdiri dari
tempatnya.
DO meludah,
“meminta maaf? Semudah itu kau mengucapkan maaf sedangkan wanita yang kau
sakiti sedang benar-benar terluka karenamu?! Brengsek!!” tangannya mengepal.
“kau bahkan
belum melihat hasil kelakuan kejimu pada Mello kan?! Aku yang menemukannya di
taman, ia benar-benar hancur di hari yang seharusnya membahagiakannya karena
kau berniat untuk menjadikannya kekasih kan?” DO menyeringai sementara Kris
terhenyak mendengar perkataan bawahannya.
“kenapa kau
diam saja? Merasa simpati? Cih. Apa pedulimu sekarang?” tanyanya gusar.
Mata Kris
mendadak sayu, memang keadaannya juga tak lebih baik dari Mello, rambut berantakan,
tubuh lemah, wajah pucat, lingkaran hitam di kedua bola matanya dan
rambut-rambut liar yang tumbuh di sekitar dagunya cukup mewakili betapa
tersiksanya ia dengan keadaan sekarang.
“aku ingin
bertemu dengannya dan menjelaskan semuanya” desis Kris.
“persetan
dengan penjelasan! Urusi saja gadismu yang lain, kalau kau datang ke sini hanya
untuk mempermainkan Mello, jangan harap!! Aku yang akan menjadi tamengnya,
terserah kau mau menghancurkan hidupku atau membunuhku sekarang, tapi tidak
untuk menyakiti Mello!!”
“aku datang
ke sini untuk menjadikannya istri” ucap Kris pelan namun mampu menohok DO.
DO terdiam,
dia benar-benar tak menyangka dengan ucapan Kris.
“terserah
kau mau mencegahku untuk bertemu dengan Mello tapi aku takkan segan-segan
membunuhmu jika kau menghalangi niat Mello untuk menemuiku. Permisi” ucap Kris
yang langsung mundur dari hadapan DO.
Sebelum Kris
melajukan mobilnya, ia menurunkan kaca mobilnya seraya beujar, “Oh ya, mengenai
ucapanku yang tadi, aku tak main-main untuk menikahi dan membahagiakannya” ia
menyeringai sembari tersenyum sinis.
“aku takkan
melepaskanmu Mell... aku akan mendapatkanmu meskipun dengan cara terkotor
sekalipun” bisik DO, nyaris mendesis.
**
Mello’s
POV
Aku
merasakan ada yang bergerak-gerak di genggaman tanganku, eoohh??? Gerakannya
nggak teratur, kadang kerasa kayak ada yang lagi genggam tanganku, kadang
tanganku di remas-remas, wah ada yang nggak beres nih. Ehh ehh apa ini??!! aku
merasa kaya ada sesuatu yang kenyal-kenyal gitu, basah terus hangat lagi
nyentuh punggung tanganku. Apa lagi ini??!! aku berusaha susah payah buat
ngebuka mata.
“DO?!”
pekikku ketika melihat sosok yang berada di dekatku. Buru-buru aku bangkit dari
tempat tidurku, yang dipanggil juga malah ikutan kaget, geleuh.
“hah? Hah?
Kenapa Mell??!” DO ikutan panik dan langsung menempelkan tangannya di dahiku,
“sudah nggak panas lagi kok” gumamnya.
“yang bilang
panas siapa?” rutukku. Buru-buru aku membeku sebentar, tunggu-tunggu dulu..
panas?? Rumah siapa ini? kenapa aku Cuma berduaan sama DO?!
“aku...aku
dimana?? Ini.. ini kenapa?” tanyaku tak sadar.
Mello!
Bisa-bisanya mendramatisir di saat kayak gini, jelas-jelas ada DO di sini dan
kau tertidur di sini. Aku menjawab pertanyaanku sendiri, tapi... ini loh.. masa
aku tidur di sini?? Di rumah cowok lagi, ini rumah DO kan??!! Buru-buru aku
mengecek keadaan kasur , bersih kok, nggak ada apa-apa. Tatapanku langsung
beralih pada piyama yang lagi aku pakai.
Sejak kapan
aku pakai piyama? Bukannya kemarin sore aku pakai baju santai? Aku langsung
mengintip ke dalam piyamaku, bahkan kutang pun sudah ganti! Aku menatap DO
ngeri.
Jangan-jangan
ini anak udah ngapa-ngapain aku lagi, hiyaaaaa!! Belum sempat aku berteriak DO
udah ngomong, “Mell jangan mikir yang nggak-nggak yah, aku nggak ngapa-ngapain
kamu, kemarin kan kamu sakit terus kubawa ke sini...emmm” dia kelihatan salah
tingkah.
“terus yang
gantiin baju aku siapa?” todongku tak percaya,wah jangan-jangan mentang-mentang
DO jomblo dan aku baru aja putus dari Kris dia mencari-cari kesempatan buat
liat-liat mahkota dalamku.
Waduuuh bisa
mati gaya aku kalau nih anak udah liat sampe ke dalam-dalam, emang sih dalemku
ga menarik tapi kan tetep aja aku malu, apalagi yang ngelihat bukan suamiku.
DO menarik
napas panjang, “Bora yang gantiin baju kamu, aku Cuma jagain kamu pas lagi
sakit doang, selebinya... nggak ada yang lebih sih” dia nyengir kuda.
Aku mendesah
pelan, untung aja dia nggak ngelihat koleksi kutang hello kittyku, aku kan ga
demen beli daleman yang seksi, sukanya yang unyu-unyu. Pikirku.
“ohh gitu...
emang aku udah berapa lama sakit?” tanyaku bingung.
“empat hari
Mell, kenapa?”
Buru-buru
aku meraih ponselku yang tergeletak di sampingku, mengecek notif apa aja di
ponselku. Kosong, nggak ada satupun yang berasal dari Kris, kenapa? Percuma.
Dia udah bener-bener pergi dan nggak mau kenal lagi sama aku kan? Kita kan
bertingkah layaknya kita nggak kenal satu sama lain, artinya selamanya juga
nggak bakalan ada sms atau telp yang masuk.
“aku mau
pulang” pintaku pada DO, teringat lelaki ganteng ajaib sialan itu aku jadi kehilangan
moodku sepagian ini.
“kenapa?”
tanyanya bingung.
“pengen
pulang aja, malu ama tetangga” aku mencoba berasalan yang sedikit masuk akal
daripada harus bahas lelaki brengsek macam Kris Alva itu.
DO tampak
berpikir sejenak sebelum akhirnya dia mengiyakan.
“tapi mandi
dulu, masih ada stok baju kamu tuh, bau tau Mell berapa hari nggak mandi”
**
Kris’s
POV
“sebegitu
berharganya kah wanita itu atau memang benar-benar tak ada wanita lain lagi
yang dekat denganmu?” olok Delida sambil menyeruput kopi hangatnya.
Aku
menyandarkan tubuhku di kursi, kata-kata DO yang ingin menjadi tameng untuk
Mello benar-benar menggangguku, aku tahu DO mungkin lebih mencintai Mello jauh
dari rasaku untuk Mello, tapi.. arrgghh,.. aku tak dapat memungkiri kalau aku
juga tak bisa hidup tanpanya.
Aku menatap
Delida lekat-lekat, sebenarnya ketika aku masih di luar negeri aku sempat
melirik gadis ini, dia memang baik, perhatian, cantik dan segala hal yang
membuat gadis-gadis iri ada pada dirinya, dia tak kalah dengan Miranda...
bahkan lebih baik dari Miranda, sayang... setelah aku tahu kenyataan tentang
dirinya, aku benar-benar menutup hatiku selama-lamanya untuk gadis yang berada
di hadapanku ini.
“hmmm,
sejauh ini aku masih sibuk merangkak untuk menata hatiku setelah aku berhasil
menyakiti dua wanita sekaligus..” jelasku.
Ya Tuhan,
seandainya karma itu benar-benar ada karena aku sudah menyakiti hati dua orang
sekaligus dan melepaskan Miranda dari sisiku, ku harap aku tak harus melepaskan
Mello juga kan?! Aku mendesah pelan.
“so? Rencana
kamu selanjutnya?”
“hmm..
buru-buru mengikat Mello dengan pernikahan biar dia nggak kemana-mana lagi”
jujur, aku tak yakin bisa menikahi gadis ini, maksudku.. kejadian di taman
kemarin....
“hah.. kalau
gadis baik-baik aku tak yakin akan mau menikah denganmu” ia tergelak.
Aku
menyeringai, “semoga dia tak cukup baik jadi aku bisa menikahinya”
“lebih baik
kau menikah denganku saja” candanya sambil menutup kedua mulutnya dengan
jari-jari tangannya yang lentik.
“in your
dream” elakku yang langsung bangkit dari tempat dudukku dan pergi
meninggalkannya, hah.. lama-lama dengannya aku jadi merasa tak normal.
Sebelum aku
meninggalkan cafeku dan meninggalkan Delida tiba-tiba ponselku berdering.
Mello? Buru-buru ku angkat.
“Mello?!”
aku bahkan tak sadar sudah berbicara keras di dalam cafe ini. tak kusangka
secepat ini ia memaafkanku, setidaknya aku tak perlu menyeretnya keluar dari
rumah DO.
“bukan”
jawab seorang laki-laki di seberang yang kuyakini adalah DO.
“mau apa?”
tanyaku, hawa kegelapan mulai menghantuiku lagi, mood baikku sudah pergi entah
kemana, sejak kapan DO punya kekuasaan lebih untuk mengakses barang pribadi
Mello.
“Mello ingin
bertemu denganmu di kedai Yuana sekarang dan ingin meminta penjelasan tentang
hubungan kalian sekarang. Oh ya, sekalian kenalkan padanya cewek baru yang
tengah bersamamu itu” ejek DO.
Aku
tercekat, cewek baru? Delida? Aku melongok ke luar cafe dan tak ada tanda-tanda
keberadaan DO dan Mello di luar.
Belum sempat
aku menjawab tiba-tiba teleponpun di putus secara sepihak.
“Alva..mau
kemana?” Delida -yang entah sejak kapan bangkit dari tempat duduknya-
menghampiriku.
“mau ke
rumah calon isteriku” jawabku yang langsung melenggang keluar cafe, “oh iya,
aku minta maaf tidak bisa mengantarmu pulang. Besok-besok kita bisa bertemu
lagi” pamitku pada Delida yang sekarang tengah menatapku kesal.
Handphoneku
berdering lagi, “halo?” sapaku sambil membuka pintu mobil. Tumben sekali
telepon rumah yang memanggil, biasanya juga kalau mama ada perlu langsung
menelpon dari ponsel pribadinya.
“tuan,..tuan...
Nyonya Anne sedang dalam bahaya tuan, beliau ingin anda segera datang
menemuinya sekarang”
“HAH??!!”
**
Author’s
POV
“aku...mau
bertemu dengannya sekarang” hanya itu suara yang di dengar DO setelah ia dan
Mello keluar rumah dan berencana untuk berkunjung ke cafe sebentar, sudah lama
sekali mereka tak bekerja di sana.
DO menatap
Mello khawatir, ia melihat perasaan terluka di balik wajah gadis yang di
cintainya, tak ada yang lebih buruk dari habis putus kemudian melihat mantan
pacar sudah menggandeng wanita yang lebih cantik darinya.
Mello
mencoba tersenyum, “baguslah kalau dia udah bahagia sama gadis itu”
Maafkan aku Mell, nggak seharusnya aku
membawamu ke cafe kalau akhirnya bertemu dengan pria brengsek macam dia, sesal DO
Hah?? Bangun dari mimpimu sekarang Mell, kau
pikir Kris tak main-main dengan perkataannya waktu itu?? Ok mungkin Cuma aku
yang terlihat kacau karena Kris tak memilih salah satu dari aku dan Miranda,
dia memilih jalan tengah, maybe.....
Mello
termangu meratapi nasib hubungannya yang semakin kacau dengan Kris, lelaki baik
memang mainstream, tapi lelaki jahat yang suka memainkan perasaan wanita juga
mainstream!
DO memacu
kendaraannya menjauhi cafe tempat mereka bekerja dan membawa Mello ke kedai
Yuana sekedar untuk menghibur hati Mello dan mendinginkan kepalanya yang ingin
sekali berlari dan menonjok atasannya itu.
Setidaknya aku harus meluruskan hubunganku
dengannya sekarang, apapun keputusan dari Kris harus ku terima, lebih baik dia
yang memutuskan daripada aku, lebih baik dia yang menyesal daripada aku. Pikir
Mello.
Dua jam
Mello berdiam di tempat duduknya sementara DO sudah memesan minuman ketiga
kalinya, “ehmm” DO berdeham dan membuat Mello tersadar dari lamunannya, “kita
sudah menunggu dua jam Mell” DO menatap Mello.
Mello
mendesah pelan, mungkin memang sudah tak
ada yang bisa di pertahanin lagi.
“DO antar
aku pulang ke kampung ya, aku pengen pulang aja”
*
“Alvaa,..
akhirnya kau datang juga” Nyonya Anne-mamanya Alva- langsung bangkit dari kursi
goyangnya dan memeluk Kris yang diam mematung karena merasa di bohongi.
“mana
pembantu yang sudah membohongiku” Kris menatap sekeliling rumah mencari orang
yang sudah menggagalkan rencananya untuk bertemu Mello.
“hush
ngomongnya, mama kok yang nyuruh” Nyona Anne langsung memeluk tubuh kaku putra
kesayangannya ini.
Kris menatap
ibunya tajam dan meneliti, memastikan kalau memang ia benar-benar di bohongi.
Kris
mendesah pelan, tak ada tanda-tanda bahaya seperti yang dilaporkan pembantunya.
“jangan
bengong begitu dong sweety” godanya.
“mama!” Kris
berdecak kesal.
“apa
sweety?” Nyonya Anne tertawa, tak merasa bersalah karena sudah menghancurkan
sebagian masa depan Kris.
“kalau
bersandiwara nggak usah pake bawa-bawa kata dalam bahaya dong!”
“oohh jadi
kamu lebih bahagia melihat mama dalam bahaya daripada melihat mama begini?”
Nyonya Anne melepaskan pelukannya.
“mama!”
“ok ok
baiklah mama Cuma bercanda, mama Cuma kangen sama kamu”
“me too”
jawab Kris seadanya.
Kris memang
sudah lama tak bertemu dengan ibunya tapi tindakan dari tuan Stevano memang
seringkali membuatnya jengah dan memutuskan untuk menjaga jarak dengan rumah
tempat tinggalnya selama ini.
“jadi...mama
sebenernya nggak Cuma kangen sama kamu, mama mau menanyakan sesuatu sama kamu”
Nyonya Anne mengikuti Kris yang sudah lebih dulu menghempaskan diri ke sofa.
“langsung
saja ma” Kris berkali-kali melirik arloji di tangannya. Ia ingin menemui Mello
sekarang.
“ok, mama
mau secepatnya kamu menikah”
“ma”
rengeknya, “umurku bahkan belum 30th, too young”
Yah aku tak ingin membebani pikiran ibuku
dengan memberikan janji manis dengan mengutarakan keinginanku untuk menikahi
Mello, aku ingin memberitahunya tapi tidak sekarang pokoknya. Aku nggak bisa
mastiin Mello bakalan mau nerima lamaranku.ahh sial...kata-kata Delida
benar-benar meracuniku.
“loh, kalau
kau sudah punya calon nggak usah nunggu lama-lama kan? Ntar keburu disamber
orang loh” Nyonya Anne mengingatkan.
“yeah, belum
saatnya pokoknya ma”
“Miranda
gimana?”
“Miranda?
Aku udah putus sama dia, dia balik lagi ke Aussie”
“Delida?”
Kris tertegun,
sejak kapan mamanya kenal dengan Delida? “sejak kapan mama kenal dengan
Delida?” selidiknya.
“Alva,
antena mama kan panjang”
“Mama!”
“hoho,
sensitif banget sih, iya semalam dia datang ke rumah nanyain kamu, dia anaknya
cantik, sopan, baik pula, mama nggak keberatan punya menantu macam dia” Nyonya
Anne senyum-senyum sendiri.
“kalau
itu...sampe stok wanita di muka bumi ini habis baru aku akan menikahinya”
“ihh, kok
gitu sih?” beliau mencubit lengan Kris.
“ya memang
begitu” Kris kembali melirik arlojinya.
“mama nggak
ngekang kamu dalam urusan mencari pasangan loh, yang penting kamu nikah, asal
jangan kaya pasangan seleb aja yang hobinya kawin cerai, mama nerima cewek kamu
dari golongan apapun kok, tapi yaa kamu sadar dirilah kalau mau nyari istri...mhh...
maksud mama yaaah minimal pegawai kantoran di tempatmu” Nyonya Anne menatap
Kris intens sementara Kris tak juga menyahut.
“ishh, kok
diem sih” ia mencubit lengan Kris lagi.
“mmhh...iya
ma, diusahain, udah dulu ya ma Alva mau nyari istri nih, bye” Kris langsung
mencium pipi mamanya secepat kilat dan bergegas meninggalkan rumah tempat
tinggalnya.
**
Esok
harinya di hotel tempat Mello dan DO menginap........
Sebuah pisau
mengacung di udara, Mello menatap garang pada lelaki di depannya sementara
pipinya sudah merah menahan amarah.
“Mell”
lelaki itu mencoba menenangkan wanita di depannya. Wajahnya juga tak kalah
tegang.
“jangan
mendekat!!” pekiknya sambil terus mengacungkan pisau itu, tak lama kemudian
pisau itu di dekatkan dengan pergelangan tangannya.
“mau apa kau
Mello?” pekiknya.
“diam kau!!
Aku mau mati aja!! Nggak nyangka aja punya temen sedemikian bejatnya kayak
kamu!! Kamu makin ngancurin hidupku DO!!” jerit Mello.
“ma...maafkan
aku...” DO tertunduk lemas.
“maaf?? Maaf
katamu??! Maaf nggak bisa ngembaliin keperawananku!” teriak Mello histeris.
“tapi aku
bisa menebus kesalahanku Mell, aku mau menikahimu” sahut DO pelan.
“HAH??! Kau
mau bertingkah jadi pria sok suci yang mau bertanggung jawab atas perbuatanmu?!
Aku kecewa denganmu DO, aku pikir kamu benar-benar tulus jadi sahabatku, tak
kusangka bahkan kau tak lebih baik dari Kris” sebutir airmata mengalir dari
pipi Mello.
Kenapa semuanya begitu kejam?! Dunia begitu
kejam. Aku nggak nyangka semuanya bakalan serumit ini, nggak ada yang bisa
dipertahanin lagi, hilang sudah lenyap.
DO
tertunduk, “maaf aku ngelakuin ini semua Mell, aku sebenernya sudah cukup lama
suka sama kamu, tapi kamu nggak pernah mandang aku, semua mata kamu fokus
menatap lelaki brengsek Alva itu”
Mello
melemparkan tatapan mematikannya pada DO.
“aku juga
nggak nyangka, kamu terlalu menggoda tadi malam Mell, aku khilaf... aku pikir
setelah aku melakukan itu, aku langsung bertanggung jawab dengan menikahimu,
punya anak darah dagingku sendiri.
Tangis Mello
makin kencang, “tak kusangka kau licik”
“maaf
Mell.... sekarang terserah kamu, kalau kamu mau bunuh...bunuh aku aja
sekarang... tapi...seandainya pada akhirnya anak yang ada dalam perut kamu itu
bi...”
“diam! aku
nggak mau denger apapun dari mulut kotormu itu” dadanya naik turun menahan amarah,
“sekarang lupain semuanya, aku nggak bunuh diri dan aku nggak bunuh kamu, kita
anggap tadi malam nggak terjadi apa-apa.”
Mello
terhenyak, astaga, ini bahkan masa
suburku
“oh ya, soal
anak-anak itu, kalau aku beneran hamil anak kamu, aku nggak bakalan minta
pertanggungjawaban kamu kok... jadi anggap aja kau beruntung tadi malam..”
“Mell....”
“apa? Aku
udah bebasin semua beban kamu kan? Tolong hentiin perasaan kamu, aku nggak bisa
bales perasaan kamu, aku minta maaf” Mello menarik napas pelan.
“tapi
setidaknya kau bisa mencintaimu perlahan-lahan Mell, demi anak kita” ia
memohon.
“aku belum
tentu hamil kan?? Kita Cuma ngelakuinnya sekali jadi... ku mohon biarin aja
semuanya mengalir seperti ini.”
***
Author’s
POV
“mama” Odult
langsung mencium pipi ibunya sambil mencomot pisang goreng buatan ibunya.
“ehh..jangan
di makan terus dong itu buat tamu kita nanti” cegah ibunya.
“siapa?”
Odult langsung menghentikan gerakan mengunyahnya.
“Dae, yang
kemarin ingin melamar Mello” sahut ibunya.
“memangnya
kak Mello mau?”
“ya, kalo
sampai hari ini belum ada keputusan Mello mau menikah dengan siapa ya dia harus
siap menikah dengan Dae” jelas beliau.
“whatt??
Sama om om dong” protes Odult.
“hush nggak
boleh ngomong gitu baru juga 31”
“sini biar
Odult aja yang bawa keluar” Odult langsung merebut piring dari tangan ibunya
dan langsung membawa keluar.
“ehh ada
Odult, sudah besar ya sekarang” sapa Dae.
“iya om”
sahut Odult seraya menaruh pisang goreng di meja.
“hush, nggak
boleh panggil om. Mas Dae aja, calon kakak iparmu ini” tegur Ayah, Odult hanya
tersenyum.
Bah, sudah kepala tiga juga masih mau
dipanggil mas,pikirnya.
“begini pak,
maksud kedatangan saya ini ingin menagih janji perihal keputusan anak bapak
hari ini.....”
“tidak usah
di lanjutkan nak Dae, bapak sudah tahu, sampai sekarang Mello belum sampai,
katanya masih di jalan”
Akhirnya
Ayah Mello dan Dae sibuk berbicara masalah pernikahan sampai akhirnya Mello
datang bersama DO.
“papa kira
kamu nggak datang Mell” sindir Ayahnya ketika Mello dan DO duduk di hadapan
mereka.
“jadi....
kamu sudah memutuskan siapa lelaki yang akan menikah denganmu....atau Dae yang
sudah jelas-jelas siap untuk menikahimu?” tanya Ayah yang sukses membuat Mello
dan DO tercengang.
Lama sekali
Mello terdiam, pikirannya kemana-mana, hatinya kalut...
“ehmmm”
akhirnya ia mulai membuka pembicaraan, “aku....menikah dengan DO saja”
Langganan:
Postingan (Atom)

