Selasa, 01 Januari 2013

FF : Dear, My Aurora Part 1



Author : @Meiywu
Cast :
·         Kris EXO M
·         Song Na Ra (OC)
·         Park Chanyeol
·         Other cast
Genre : romance, angst(?), married life
Length : multichapter
Rate : PG-15
Ini ff ketiga author ya setelah ff at least i still have you daannnn chance yang hasilnya cukup menyedihkan karena bikinnya sembarangan, semoga cukup puas dengan ff yang super duper panjang ini ;)
***
                Aku berjalan mengendap-endap masuk ke dalam rumahku sepulang kuliah, ahh.. ibu dan ayahku sepertinya sedang menyambut tamu yang sangat spesial sampai harus mereka berdua yang meluangkan waktu di siang ini untuk sekedar menyambut tamu itu. Karena itu, aku cukup segan untuk melewati beberapa orang tamu yang datang itu sehingga memutuskan untuk masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Sepertinya tamu itu juga cukup kaya, sebuah mobil mewah keluaran terbaru terparkir dengan gagahnya di depan rumahku.

            “Ra~yaa..” langkahku tertahan saat ibuku memanggil namaku.

            “ne..” jawabku sambil menuruni anak tangga terakhir saat aku ingin naik ke atas menuju kamarku.  Sebegitu pentingnya kah tamu itu sampai aku juga harus ikut menyambutnya?

            “Ra~yaa dialah orang yang akan menikah denganmu..” ujar ibu kepadaku saat aku sudah berada di samping ibuku.

            Aku hanya diam membatu menyambut ketiga orang tamu yang kuyakini mereka adalah calon mertuaku dan calon suamiku, namja itu.......

            Nafasku tertahan saat aku berhasil mengenali namja yang akan menjadi calon suamiku. Ya, namja itu adalah orang yang sangat aku sayangi, orang yang sudah membuatku menghabiskan hidupku hanya untuk berniat melupakannya sekarang akan menjadi calon suamiku?
*
            Aurora, kau tau, rasanya saat itu aku akan meledak. Rasanya seperti ada sesuatu dalam tubuhku yang mendesak untuk keluar. Ahh, aku sangat bahagia waktu itu.. tapi.. sudahlah lupakan rasa bahagia itu, sepertinya calon suamiku yang kini telah resmi menjadi suamiku itu tidak mengalami hal yang sama dengan yang kurasakan saat itu. Kejadian 6 bulan yang lalu itu, masih terukir jelas di benakku.

            Ah sebelumnya, ijinkan aku memperkenalkan siapa diriku dan dirimu sebenarnya, namaku adalah Song Na Ra, gadis berusia 23 tahun yang sekarang telah resmi menjadi isteri pemilik perusahaan yang cukup terkenal di Korea Selatan, Wu Yi Fan. Ah ya, aku mempunyai kedua orang tuaku yang sangat menyayangiku dan sangat overprotektif terhadapku. Entahlah, aku tak keberatan mengikuti apa kata mereka, menurutku semua yang telah mereka putuskan untukku adalah pilihan terbaik dalam hidupku. Termasuk pilihan untuk menikah dengan namja yang ternyata adalah sunbaeku semasa aku masih sekolah. Kupikir, setelah aku memutuskan untuk menerima perjodohanku dengan orang lain. Aku dapat melupakan namja yang sudah sangat lama ini bermain di dalam hatiku. Nyatanya, aku harus menemui takdirku yang lain, menjadi isteri seorang namja yang justru sedang berusaha kulupakan.

            Aku mempunyai seorang adik laki-laki yang sangat mirip denganku, bisa dibilang kami adalah kembaran. Haha. Nama adikku adalah Song Jae Jin, kami hanya berbeda setahun, menurutku dia adalah namja terbaik di dunia setelah ayahku. Kau tau, dia selalu melindungiku dan mendengarkan curhatku yang mungkin menurut kalian tidaklah penting. Tapi, untuk masalah percintaan, jujur saja si Jae Jin tidak mengetahui masalah ini. Aku cukup menuliskan semuanya di sini.

            Ah, rasanya cukup sudah perkenalan keluargaku. Sekarang, aku akan menceritakan sejarah tentang hidupmu sekarang, aku memberikan namamu Aurora, kenapa? Karena aku sangat menyukai aurora, sekalipun aku belum pernah melihatnya. Aku sangat ingin melihat aurora sekali seumur hidupku. Kau tahu, aku sangat menyukai malam hari, mungkin seandainya saja aku bisa melihat Aurora, hal ini akan tampak jelas ketika malam, bukan? Konyol sekali. Aku juga menamaimu aurora karena di sini, aku akan menuliskan semua tentang namja yang sangat kupuja layaknya aku memuja aurora. Namja yang telah resmi menjadi suamiku, aku sangat ingin melihatnya setiap hari, menunggunya sepulang kerja, layaknya aku berusaha ingin melihat aurora dan menunggunya setiap malam. Setahuku, aurora tidak akan pernah muncul di Korea Selatan, sama sepertinya, mungkin cintanya terhadapku tidak akan pernah muncul dari lubuk hatinya.

            Ah sudahlah, kalau kuceritakan sekarang kau tak akan mengerti maksudku, dan alasan aku harus menuliskan semua kenangan dalam sebuah buku karena otakku sangatlah buruk dalam hal mengingat sesuatu, sehingga, sebelum ingatanku memudar seiring bertambahnya usiaku, aku rasa aku akan menceritakan sedikit saja kenanganku dengannya. Mungkin kalau kuceritakan secara detil, akan sangat panjang sehingga rasanya aku harus membeli aurora yang baru sepertimu. Tapi sepertinya, aku hanya ingin mempunyai 1 aurora saja dalam hidupku, layaknya aku hanya mempunyai satu orang, tempat kumenambatkan hatiku di sana.

            Mungkin, aku akan menceritakannya dari saat aku mulai memasuki tahun ajaran baru. Di SHS Baewon. Sekitar 8 tahun yang lalu, saat itu aku tergopoh-gopoh memasuki gerbang sekolah yang sebentar lagi akan ditutup. Ini adalah hari pertamaku masuk sekolah baruku. Kalau saja aku tidak bangun kesiangan, mungkin aku tidak akan terlambat seperti ini.

            “Cepat masuk!!” seorang satpam membentakku.

            Aku melangkahkan kakiku cepat-cepat memasuki halaman sekolahku, hari pertama masuk sekolah, aku sudah mengacaukan semuanya.

            Semua siswa bahkan sudah berbaris di lapangan menunggu instruksi dari para sunbaenim. Aku langsung berlari menuju barisan belakang. Saat itu aku melihat sesosok namja dengan wajah yang sangat lucu dan menggemaskan. Mungkin seperti anak kecil dengan tubuh yang tinggi. Haha, kau tahu saat itu hatiku berbunga-bunga melihat namja itu. Saat aku menyapukan mataku ke arah barat. Aku melihat sosok namja dengan tubuh tinggi tegap, dengan alis dan rambut yang berwarna cokelat mengilap. Wajahnya yang pucat, bibirnya yang merah dan tebal, garis-garis wajahnya yang tegas, matanya yang tajam dan tubuhnya yang kaku itu terlihat sedikit menyeramkan. Ah, kalau saja ada vampir di dunia ini, mungkin namja yang satu ini sudah tertuduh sebagai vampir. Tapi... aku lebih menyukai namja berwajah imut dan murah senyum itu.

            Aku terlalu sibuk mengamatinya, mendengarkan dengan seksama saat dia memperkenalkan dirinya di depan seluruh siswa. Park Chanyeol? Nama yang unik. Aku terhanyut dalam fantasiku bersama dengan namja ini sampai aku tak mendengarkan saat para sunbae yang lain memperkenalkan dirinya, termasuk namja yang mirip vampir itu.
***
             Akhirnya barisan dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan 1 sunbae sebagai pendamping mereka, aku menggerutu kesal saat Chanyeol sunbae tidak memberikan intruksinya pada barisanku, sebagai gantinya namja dengan tubuh tegap seperti vampir itu yang memberikan instruksi kepadaku. Dia terlihat sangat serius mengabsen nama-nama kami dan menyebutkannya satu persatu.

            “kyaaaa kita beruntung hari ini ><” ucap Seulmi, teman yang baru kukenal beberapa menit yang lalu.

            “maksudmu?” tanyaku bingung.

            “dia” Seulmi mengalihkan pandangan matanya dariku dan beralih melirik namja vampir itu.

            “namja yang seperti vampir itu?” bisikku pelan.

            “Mwo? Na Ra-ssi ... kau ini.. dia itu namja paling tampan di sini. Beruntunglah kita karena dia memilih untuk mengabsen barisan kita.” Ucap Seulmi bangga.

            “Oo.. aku tidak tertarik..” aku hanya mengangkat bahuku dan mataku mulai beralih dari Seulmi dan mencari sosok yang bernama Park Chanyeol itu.

            “SONG NA RA!!” aku tersentak saat mendengar namaku disebut.

            “n...ne...” jawabku terbata saat mengetahui si pemilik suara itu.

            “Song Na Ra, perhatikan dan fokuskan pandanganmu pada orang di depanmu..” perintah sunbae yang sangat menyeramkan itu. Aku hanya tertunduk lesu mendengar bentakannya. Sepertinya namja itu sedang marah denganku. Mata namja itu seperti memancarkan kilat saat menatap tajam ke arah mataku. Yah, sepertinya dia ingin menerkamku. Seandainya saja ini adalah sebuah novel, apakah aku akan menjadi Bella dengan namja itu sebagai Edwardnya? Tapi... bukankah seorang Bella itu mencintai Edward? Astaga, dalam pandangan mataku, namja ini sama sekali tidak membuatku tertarik kepadanya.

            “kalian boleh beristirahat, setelah kalian istirahat kalian boleh meminta tanda tangan dari para sunbae. Tujuannya adalah agar bisa terjadi interaksi dengan para sunbae di sini sekaligus kalian bisa mengenal sunbae-sunbae di sini..” namja itu mulai memberikan instruksinya sambil membagikan selebaran daftar nama-nama para pengurus penerimaan siswa baru.

            Aku hanya terdiam membisu, tak berani sedikitpun menatap mata sunbae itu, haruskah aku meminta tanda tangan juga darinya? Aku meneguk air liurku perlahan, menatap namja yang berjalan memunggungiku.

            “aishh.. aku rasa aku harus mulai meminta tanda tangan dari para sunbae..” aku beranjak pelan dari tempat dudukku dan mulai berjalan mengelilingi area sekolah baruku.

            Fiuh, ternyata cukup melelahkan juga meminta tanda tangan dari para sunbaeku yang ternyata jumlahnya jauh lebih banyak dari perkiraanku. Aku mengusap peluh yang mengalir dari keningku.

            “masih ada 2 tanda tangan lagi...” gumamku saat melirik kedua nama sunbae yang harus kumintai tanda tangan. Park Chanyeol dan Wu Yi Fan. Ah, hanya dengan menatap lembar kerjaku yang hampir penuh ini aku sudah bisa menebak namja yang mirip vampir itu bernama Wu Yi Fan.

            Aku berlari mencari-cari Park Chanyeol untuk meminta tanda tangan darinya, namun namja yang kusuka itu sedari tadi tak juga menampakkan batang hidungnya. Aku berjalan melewati sebuah gudang kosong di belakang sekolah baruku. Tiba-tiba kenop pintu gudang itu berputar dan seseorang berniat keluar dari dalam sebuah gudang itu.

            Mataku membelalak saat melihat namja yang keluar dari pintu gudang itu, Park Chanyeol. Namja ini juga tak kalah terkejutnya saat melihat seorang hoobaenya terlihat seperti mengikutinya sampai ke gudang tua ini. Sepertinya, dia berniat untuk lari dariku namun niat itu diurungkannya. Aku mencoba memberanikan diriku. Jantungku berdetak cukup kencang, “s..sunbae.. kenapa ada di sini?”

            “ee....” dia tak langsung menjawab, sepertinya sedang berpikir untuk mencari jawaban yang pas untukku.

            “eumm...sunbae.. bisakah aku meminta tanda tanganmu?” aku langsung menodongnya dengan pertanyaan ini. Sebentar lagi waktu untuk berburu tanda tangan akan segera habis, kalau aku tidak mendapatkan tanda tangan namja ini dan vampir itu. Bisa-bisa aku akan mendapatkan hukuman.

            “ee...ne... kau tahu namaku?” tanya sesosok namja imut yang daritadi sedang menari-menari dalam pikiranku. Dia berbasa-basi memecah kecanggungan sambil mengambil kertas yang daritadi sudah kusodorkan di hadapannya, semuanya terasa sangat aneh dan membingungkan mengingat pertemuan kami yang cukup mengagetkan ini.

            “ne... Park Chan...Yeol??” aku memberanikan diriku mengucapkan namanya, tentu saja aku tahu siapa namanya.

            “hmmm” Chanyeol sunbae hanya mengangguk-angguk sambil mencoretkan tinta di atas kertas putih itu.

            Tiba-tiba Chanyeol menggerakkan alisnya membuat suatu ekspresi yang menunjukkan adanya keganjilan pada kertasku, “kau, belum meminta tanda tangan dengan Kris?” tanyanya bingung.

            “Kris?” aku pun kembali bertanya dengan mimik muka yang tak kalah bingungnya dengan Chanyeol.

            “maksudku Wu Yi Fan” dia beberapa kali mengecek kertasku, seolah-olah berharap kalau apa yang ia lihat itu adalah sebuah kesalahan.

            “ahh...aku lupa dengan sunbae yang itu..” dustaku, aku hanya terlalu takut untuk meminta tanda tangan darinya. Sambungku dalam hati.

            Tiba-tiba sebuah seringaian aneh muncul dari wajah Park Chanyeol, “aneh sekali... sudah dua tahun ini aku selalu menemukan kertas tanda tangan dengan tanda tangan Kris selalu tertera di atas kertas itu, para hoobae selalu menyerbunya saat pertama kali di suruh meminta tanda tangan dari para sunbae, lagipula dia tak sulit untuk sekedar diminta tanda tangan...” katanya sambil mengembalikan kertasku.

            Aku mengangguk-angguk tanda mengerti, mungkin pikiranku sedikit melenceng dari mereka, seandainya saja Chanyeol sunbae tak bersembunyi di gudang, mungkin dia adalah orang pertama yang akan kuminta tanda tangan.

            “yah kuharap kita bisa berteman...” ucapnya sumringah sambil menyodorkan tangannya menunggu untuk di jabat.

            “ne sunbae..” balasku sambil menjabat tangannya, sepertinya aku tidak akan mencuci tanganku untuk seminggu ke depan. Haha.

            Chanyeol pun permisi dari hadapanku dan langsung berjalan menuju lapangan, belum hilang dari pandanganku, dia langsung diserbu oleh para hoobae yang sedari tadi mencari tanda tangannya.

            Aku mulai melangkahkan kakiku, mencari sosok namja vampir itu.. tak sulit mencarinya karena Kris sunbae cukup mencolok di antara puluhan para sunbae di sini. Kris sunbae duduk sendirian di bawah pohon sambil menyantap makan siangnya, matanya tak lepas dari kerumunan hoobae yang berdesak-desakan meminta tanda tangan untuk Chanyeol sunbae.

            Ugh, melihatnya saja aku sudah malas, kekakuannya terasa begitu nyata-_- mungkin saja dia adalah jelmaan seorang robot yang menyamar menjadi seorang manusia. Aku bahkan tak pernah melihat senyumnya sejak pertama kami bertemu. Ahh..  Aku mulai berkhayal lagi, sepertinya pikiranku sudah mulai terkontaminasi dengan berbagai racun yang kuperoleh sehabis menonton film.

            Aku berjalan lambat menuju ke arahnya, matanya beralih menatap ke arahku, aku menghentikan langkahku tepat di depannya, “sunbae... bo...bolehkah aku meminta tanda tanganmu?”

            Diam. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, Kris sunbae terus saja mengunyah makanannya.

            “su....” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Kris langsung merogoh sakunya, mengeluarkan dompetnya dan menyodorkan beberapa lembar uang kepadaku, “karena kau mengganggu acara makan siangku, sebagai hukumannya kau harus membelikan air mineral untukku..” dia tak melanjutkan ucapannya sambil terus melanjutkan makannya, sepertinya aku bahkan sudah bisa membaca apa yang ada di pikirannya sekarang, ‘aku akan memberikanmu tanda tanganku setelah kau menebus kesalahanmu, gadis-yang-sudah-membuatku-badmood-pagi-pagi’

            Aku tak menjawab, aku hanya langsung mengambil uang yang diberikannya kepadaku dan langsung pamit dari hadapannya. Saat aku berjalan meninggalkannya, beberapa hoobae yang daritadi melirik ke arahku dan Kris mulai mendekati Kris dan menyodorkan botol minumannya kepada Kris, berharap dia mau meminum dari botol minuman mereka.

            “maaf, aku sudah membelinya sendiri...” suara tolakannya terdengar lamat-lamat di telingaku.

            Hanya untuk sekedar meminta tanda tangan darinya, aku bahkan harus berjalan jauh untuk membelikan air mineral. Padahal, saat teman-temanku yang lain meminta tanda tangan kepadanya, dia memberikan tanda tangannya dengan Cuma-Cuma. Aku menendang bebatuan kecil di hadapanku.

            “ini...” aku menyodorkan sebotol minuman dingin kepadanya, dia langsung merebutnya dan langsung meneguk minuman itu sampai habis.  

            “mana kertasmu?” tanyanya, astaga, apakah namja ini tidak tahu soal sopan santun? Setidaknya dia harus mengucapkan ‘gomawo’ rutukku.

            Aku langsung memberikan kertasku kepadanya, demi Tuhan. Seandainya saja dia adalah seorang vampir atau spesies apapun di muka bumi ini dengan seluruh wanita di sekelilingnya yang siap menyerahkan diri mereka sendiri untuk ditiduri, aku adalah wanita yang akan siap sedia untuk mengharamkan diriku untuknya.
***
            Aku memasuki gerbang sekolahku, hari ini adalah hari terakhirku sebagai murid yang sedang di beri pengarahan oleh sunbae-sunbaeku.  Mataku terasa sangat perih akibat begadang semalaman memikirkan hadiah dan isi surat kasih sayang  yang akan kuberikan kepada Park Chanyeol.

            Kemarin siang, aku dan teman-temanku ditugaskan untuk menulis sebuah surat kasih sayang beserta hadiah dan surat benci kepada sunbae-sunbaeku. Hal ini sukses membuat kepalaku terasa pening harus memilih hadiah apa yang akan kuberikan kepada Park Chanyeol

Akhirnya, aku memutuskan untuk memberikan sebuah jam weker mungil bertuliskan “Na Ra Collection” di dalamnya. Haha, entah kenapa perusahaan itu menggunakan namaku untuk memproduksi produk-produknya. Setidaknya, ketika Chanyeol sunbae bangun pagi dan mematikan alarm dari jam weker pemberianku, dia akan melihat namaku tertera di jam itu. Kkkk aku terkekeh pelan ketika membayangkannya.

            Aku berjalan memasuki ruangan kelas, kau tau. Banyak para murid yang iri dengan kelas kami karena Chanyeol dan Kris sunbae menjadi pendamping kelasku. Tentu saja aku bahagia bisa diajar dan diberi pengarahan oleh Chanyeol sunbae, tapi tidak untuk Kris.

            “hari ini tidak ada pengarahan dari pihak sekolah, jadi kita bisa bebas bermain seharian” kata Chanyeol sunbae sambil menyunggingkan senyum khasnya.

            Sunggingan senyum itu disambut oleh teriakan riuh dari teman-temanku, mereka menyambut dengan antusias permainan yang akan diberikan oleh sunbae-sunbaenya.

            “bisakah aku pulang sekarang?” keluhku pelan.

            “semuanya berkumpul membentuk lingkaran, sebelumnya, kumpulkan surat-surat benci kalian ke depan kelas....” Chanyeol mulai memberikan instruksinya dengan mennggiring kami semua untuk berkumpul membentuk lingkaran dan mengumpulkan surat benci kami.

            Permainan pun dimulai dengan sebuah botol kosong yang diputar serah jarum jam, apabila botol itu berhenti di salah satu siswa, maka mereka akan mengambil gulungan kertas kecil berisi tantangan yang harus mereka lakukan. Beberapa wajah teman-temanku terlihat merona merah saat mereka di suruh melakukan hal-hal yang cukup memalukan. Sama seperti Seulmi,  bedanya mukanya berwarna merah dan bahkan melonjak kegirangan saat mendapat kertas berisi ‘berikan rayuan yang indah kepada Park Chanyeol’.

            Fiuh, aku bahkan menatap iri kepadanya yang berhasil membuat pipi Chanyeol sunbae merona merah karena rayuan mautnya.

            Botol kosong itu kembali di putar searah jarum jam, tiba-tiba mulut botol itu berhenti tepat di depanku. ‘sial’ rutukku dalam hati.

            Beberapa teman namjaku bersorak saat aku mengambil kertas kecil itu dan mulai membukanya, ‘cobalah untuk merayu Kris/ lakukan apa saja perintah yang diucapkan oleh Wu Yi Fan(Kris) ^^’

            Mataku hampir melompat keluar saat membaca tantangan yang tertulis di dalam kertas itu, bibirku mulai memutih, membayangkan perintah yang akan terlontar dari bibirnya Kris.

            Aku hanya diam membatu, aku bahkan sudah kehilangan indera pendengaranku hanya dengan membaca kertas kecil itu. Melihat tubuhku yang tak bereaksi terhadap teriakan dari teman-temanku membuat Seulmi gemas dan akhirnya merebut kertas kecil itu dari tanganku dan langsung membacanya dengan lantang.

            “Cobalah untuk merayu Kris/ lakukan apa saja perintah yang diucapkan oleh Wu Yi Fan(Kris)!!” serunya.

            Mendengar isi surat itu, Kris langsung berdiri dari tempat duduknya dan memandangku, aku hanya menunduk melihat tatapannya ke arahku. Beberapa temanku bersorak iri melihat tantangan yang kudapatkan.

            “a...aku tidak bisa merayu.....” ucapku. Lidahku terasa tak bisa berujar lagi mengingat namja yang harus kurayu adalah Kris.  Ahh, badanku terasa lemas rasanya. Merayu namja vampir ini? Ahh otakku rasanya buntu untuk sekedar memoles mulutku dengan kiasan-kiasan indah untuknya.....
***
            Tuk...tuk...tuk... aku mendengar suara ketukan dari pulpen yang diketukkan oleh Chanyeol sunbae. Aku terdiam lama sekali memikirkan kata-kata untuk Kris. Seandainya saja orang yang harus kurayu adalah Park Chanyeol, mungkin kerja otakku akan sedikit lebih cepat.

            “aku tidak bisa berkata-kata...” ucapku pasrah, aku bahkan tidak bisa memikirkan satu kalimat pun untuknya.

            Kris menghela napas panjang, sementara seorang yeoja yang juga adalah seorang sunbaeku sedang sibuk membaca surat-surat benci yang dikumpulkan.

            “merepotkan saja...” sindir Kris. Hah? Merepotkan? Aku merepotkannya? Bukankah harusnya aku yang mengatakan itu?  Seandainya dia  tidak mengijinkanku untuk merayunya, tentu saja aku tidak akan berpikir sekeras ini.

            “ok...sekarang, kalau begitu kau harus mendeskripsikan apa yang kau lihat dariku..” ujar Kris.

            Lagi-lagi aku membelalakkan mataku, hah? Mendeskripsikan tentangnya? Tidak sulit untuk mendeskripsikannya hanya saja semua itu adalah ungkapan kekesalanku.

            “Wu YI Fan sunbae.. adalah sunbae mirip vampir yang di hari pertama saat aku memasuki gerbang sekolah ini, dia adalah orang pertama yang memarahiku, namja yang menyuruhku untuk membelikan minuman untuknya padahal saat itu aku juga sedang kehausan. Aku mendengar namanya hanya saat dia adalah sunbae terakhir yang belum kumintai tanda tangan, saat pertama aku melihat Kris sunbae, aku merasa bahwa dia tidak cocok untuk menjadi manusia, karena tubuhnya yang sangat kaku...dan...dia jarang sekali tersenyum apalagi ditambah dengan tubuh tinggi dan kulit pucatnya..” untaian kata-kata pedas mengalir deras dari bibirku. Astaga, sepertinya kau baru saja masuk ke lubang buaya, err lebih tepatnya sebuah lubang kematian, menunggu seorang vampir menggigit tengkukku.

            Kris hanya mengangguk-angguk mendengar deskripsi pedasku tentangnya, BINGO!! Sepertinya aku bukan orang pertama yang menyebutnya sebagai seorang vampir/ spesies lain selain manusia di muka bumi ini. Aku pikir, dia akan memarahiku namun daritadi tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, hal itu digantikan dengan bunyi lonceng sekolahku, pertanda waktunya istirahat.

            “ARRGGHH SIAL!! KENAPA SEMUA SURAT BENCI DITUJUKAN PADAKU??!!” seorang yeoja yang daritadi duduk di samping Kris menghempaskan tumpukan kertas yang daritadi di remasnya dan langsung berdiri.

            “semuanya?” gelak tawa Chanyeol mulai terdengar dalam ruanganku.

            “99%, ada 1 surat yang ditujukan kepada Kris” gadis itu melemparkan sebuah surat kepada Kris. Kris langsung menangkapnya dan membaca isi suratnya, astaga... surat benciku!! Aku menunduk, berusaha agar tidak terlihat mencurigakan.

            “sudah..sudah...sekarang sudah waktunya istirahat, kalian bisa beristirahat, usai istirahat jadwal kalian bebas, kalian bisa memberikan surat kasih sayang dan hadiah kepada para sunbae yang kalian sayangi” lanjut Chanyeol berusaha menengahi.

            Semua gadis di kelasku pun langsung menyerbu Chanyeol dan Kris, memberikan berbagai hadiah untuk mereka, aku tak ingin kalah dengan mereka, berdesak-desakan dengan mereka hanya untuk bisa memberikan kadoku kepada Chanyeol.

            Fiuh, aku menghabiskan sebotol penuh air mineral, berdesak-desakan dengan siswa lain membuatku lelah. Aku duduk di bangku taman melihat beberapa siswa yang sedang berlari-lari mengejar sunbae yang akan mereka beri hadiah. Ada dua orang siswa yang berjalan melewatiku dengan berbicara cukup keras.
“kau lebih memilih Kris sunbae atau Chanyeol sunbae?” tanya seseorang yang berbadan gemuk.
“Chanyeol sunbae, haha kamu?”
“aku, Kris sunbae, Kris sunbae itu jauh terlihat lebih tampan, berwibawa dan...keren ” kata seseorang yang berbadan gemuk itu lagi.
Aku mencibir saat temannya malah balik memuji Kris dan bahkan mengakui kewibawaan dan ketampanan vampir itu, tiba-tiba aku merasakan ada seseorang yang menyentuh pundakku.

            “ahh.. Seulmi-ahh..” erangku saat melihat sosok yeoja yang sedang duduk di sebelahku.

            “hei, kau mau memberikan surat kasih sayang ini?” Seulmi langsung menyodorkan surat dan sebuah hadiah yang terbungkus rapi dengan pita berwarna merah.

            “hmm...sama siapa?”

            “Kris sunbae..” jawabnya mantap.

            “MWO?? Shireo..” jawabku ketus sambil melipat kedua tanganku.

            “jebaaaaaaaal...  Na Ra-ya.. aku sudah berkali-kali ingin memberikannya pada Kris sunbae tapi aku tak berani” Seulmi meraih tanganku dan mengangkupnya dengan kedua tangannya. Fiuh.

            “ne...” ucapku tak tahan saat melihat wajah memelasnya sambil mengambil kotak hadiah dan coklat itu untuknya, “dimana dia?” tanyaku lagi.

            “aaa kau baik sekali Na Ra-yaa~ dia sedang beristirahat di UKS, kau bisa menunggunya di sana..” aku melihat ke arah tempat yang di tunjuk oleh Seulmi, terlihat beberapa kerumunan anak wanita yang sepertinya juga menunggu kemunculan Kris dari ruang UKS.

            Aku berjalan menuju tempat itu dan duduk menunggu bersama beberapa gadis remaja seusiaku. Aigoo, rasanya seperti seorang fans yang menunggu idolanya keluar dari tempatnya dan berjalan menemui fans-fansnya-_-

            Tiba-tiba pintu ruang UKS terbuka, aku melihat sosok namja vampir itu keluar dari UKS, seseorang yang berada tak jauh dari tempat dudukku memanggilnya, dia menoleh dan berjalan menuju ke arah kami.

            Jantungku berdegup sangat keras saat kaki Kris sunbae berpijak tak lebih dari 2 meter di dekatku. Beberapa yeoja sudah mulai memberikan kadonya dengan malu-malu, aku pun mau tak mau berdiri dan memberikannya kado.

            “ini sebagai permintaan maaf dan terima kasih kami kepadamu, sunbaenim, seandainya saja kami para hoobae berlaku kurang ajar atau berbuat kesalahan padamu.” Ujar seorang hoobae di sebelahku memulai pembicaraan. Bisa kulihat wajahnya terlihat sangat gugup saat mengucapkan hal itu kepada Kris sunbae.
           
            “ne..” jawab Kris sambil tersenyum ke arah kami. Mataku berhenti berkedip saat melihat senyuman yang terpancar dari wajah Kris. Seandainya aku sudah dari awal menyukainya, mungkin sekarang aku sudah melupakan bagaimana caranya bernafas. Sebuah ukiran garis lengkung di bibirnya benar-benar mengubah segalanya. Mengubah cara pandangku dan pusat duniaku. Kau seakan tertarik masuk ke dalam perangkapnya yang mematikan. Senyuman itu membuat otakmu berhenti bekerja sebagaimana mestinya, melumpuhkan sistem sarafmu. Senyuman itu..... mengubah segalanya......
***
2225lima bulan kemudian...
       Kami sudah mulai aktif belajar saat ini, kau tahu, sejak kejadian itu.. aku sudah melupakan Park Chanyeol sunbae, aura Kris sunbae terasa benar-benar memikat dan memabukkan, pantas saja tak ada yeoja yang tak mengidolakannya, dia benar-benar pengacau sistem kerja otakku. Bagaimana mungkin sekarang aku menjadi seorang pemerhati. Layaknya seorang stalker aku selalu memperhatikan Kris sunbae, cara berjalannya, cara berbicaranya dan bahkan bola mataku tak pernah lepas dari sosoknya. Mungkin, seandainya saja aku bukanlah seseorang yang pemalu, bisa saja aku memberanikan diri untuk mengejarnya.

            Aku terlalu malu untuk sekedar menyapa ataupun memberikan senyuman padanya, hanya melihatnya di balik jendela kaca. Melihat segala gerak-gerik dan tingkah lakunya dengan batasan kaca transparan itu.

            Aku hanya terlalu takut untuk mengharapkannya, dia terlalu jauh untuk kugapai, terlalu banyak wanita cantik di sekitarnya yang mengincarnya. Mungkin, dia takkan pernah melihat ke arah seorang gadis culun sepertiku, gadis di balik jendela.

            Kau tahu, aku sangat menyukai hujan, bukan karena aku bisa menyembunyikan tangisku, hanya karena suara hujan dapat membuat otakku sedikit bekerja lebih baik, hujan dapat membuatku sedikit berkonsentrasi, hujan dapat melenyapkan suaranya yang tengah bersorak saat bermain basket. Hujan dapat membuat pikiranku berhenti sejenak untuk sekedar berniat menengoknya dari balik jendela, karena hujan, dia takkan bisa bermain basket. Aku tak perlu menunggu hujan untuk sekedar meluapkan kekesalahanku, mencurahkan segala perasaanku yang tak pernah di balas ini, aku tak pernah menunggu hujan agar bisa menangis, aku tak perlu menyembunyikannya, karena tangis, kekesalahan. Kerinduan dan segala pengharapan ini sudah tersembunyi... dia takkan pernah melihat ke sini....

            GREP! Aku merasakan seseorang menyentuh pundakku, “Ra-yaa”

            Aku memalingkan wajahku dari jendela beralih menatap sosok yang tengah mengganggu konsentrasiku, “wae? Seulmi-ahh?”

            “tidak, hanya sedang memperhatikan gerak-gerikmu saja, berdiri sendirian menatap di balik jendela setiap hari seusai pelajaran berakhir itu apa tidak membuatmu bosan?”

            “ah ani..” jawabku jujur.

            Matanya berpaling dariku dan ikut menatap dari balik jendela kelas, dia mendesah pelan, “aku tahu kau sekarang sangat menyukai Kris sunbae, kenapa kau tidak mencoba mendekatinya saja? Setahuku, dia tidak mempunyai pacar” saran Seulmi. Ya, dialah yang selalu bersedia menampung semua ratapan piluku, menangisi seseorang yang bahkan tak pernah memandang ke arahku, mencintai seseorang hanya dengan memandangnya di balik jendela. Siapa yang berpikir kalau perkenalan secara tidak langsungku dengan Kris sunbae saat aku baru masuk sekolah itu akan mengubah segalanya? Itu salah besar. Tidak, dia hanya terlihat menonjol dalam kehidupanku, dalam ceritaku, bukan sebaliknya
.
            Aku menggeleng pelan,”ani.. hanya merasa terlalu malu untuk sekedar mendekatinya.. aku tahu aku tidak pantas untuknya.”

            “oh ayolah Ra~yaa” Seulmi mengusap bahuku pelan, seakan ikut merasakan apa yang kurasakan, seakan semua beban yang telah lama kupikul sendiri ini bisa ikut dirasakannya, “sampai kapan kau akan terus begini?”

            Aku mencoba tersenyum“mungkin, saat aku sudah tidak bisa melihatnya lagi..”

            Hening. Tak ada perkataan yang kudengar dari mulut Seulmi, dia hanya diam terpaku mendengar jawabanku. Aku mencoba memecah keheningan antara kami berdua, “aku permisi dulu Seulmi-ahh~ aku ingin ke toilet”

            Aku berjalan meninggalkan Seulmi yang bahkan seperti tak mengizinkanku untuk beranjak dari hadapannya, dia hanya diam membatu. Huft. Aku kembali larut dalam pikiranku, pergi ke toilet saja, aku harus berjalan di sepanjang koridor yang sejajar dengan lapangan basket, jelas saja sudut mataku akan menangkap sosok namja yang sangat kucintai itu....

            Aku mempercepat langkahku menuju toilet, tiba-tiba saja beberapa yeoja berteriak histeris ke arahku. BUKK!! Aku merasakan sebuah hantaman di kepalaku yang membuatku melupakan segalanya dan seketika juga hitam seperti lautan tinta hitam menyelimuti diriku.
***

            Entah ini hanyalah mimpi atau nyata, aku hanya mendengar dan merasakan apa yang terjadi dengan diriku, mendapati diriku masuk dalam sebuah lubang gelap dan hanya mendengar suara-suara sebagai patokannya. Aku bahkan tak dapat merasakan anggota tubuhku sebagaimana mestinya, yang bisa kudengar hanyalah sayup-sayup suara bisikan yang tak jelas untuk bisa kutangkap dengan telinga normalku. Aku hanya merasakan sesuatu yang terasa lembut, manis dan basah menyentuh bibirku sampai sebuah sinar menuntunku untuk bisa membuka mataku...

             Aku mulai menggerakkan kedua bola mataku dan mulai membuka mataku, perlahan tapi pasti mataku mulai bisa membiasakan diri dengan cahaya yang datang. Hal yang pertama kulihat adalah sebuah langit-langit kamar yang berwarna putih, tirai putih yang menutupi jendela dan aku melihat seseorang....

            Ya, sudut mataku dengan cepat menangkap sosok seorang namja yang duduk tak jauh dari tubuhku. Wu Yi Fan sunbae...

            “ahh..” aku merasakan sakit yang mendera kepalaku saat aku mencoba untuk bangun, Kris sunbae bangun dari tempatnya dan membantuku untuk duduk. Aku merasakan detak jantungku yang berdetak sangat kencang saat telapak tangannya menyentuh bahu dan punggungku. Darahku terasa berpacu dengan cepat seirama dengan detak jantungku yang semakin cepat pula.

            “jangan banyak bergerak...” sarannya. Dia kembali duduk di tempat duduknya.

            “ne...mi..mian sudah merepotkanmu..sunbae..” ucapku terbata.. sudah lama sekali kami tak berkomunikasi, aku yakin dia sudah tak mengenaliku lagi...

            “panggil namaku saja, Kris. Ra-yaa~” dia tersenyum ke arahku. Astaga, tiba-tiba aku merasa sesak napas saat melihat senyumannya. Senyum yang kini hanya diberikannya untukku. Senyum yang mengacaukan hidupku, dan..dia masih mengingat namaku... oh Tuhan, apakah aku bermimpi? Jika ia, jangan bangunkan aku untuk selamanya... “aku akan mengantarkanmu pulang, mian sudah membuatmu begini” sambungnya.

            “ne...” jawabku malu-malu, hanya itu yang bisa kuucapkan. Aku bisa merasakan kedua pipiku memanas.

            Dia mengangguk, “hmm.. aku sangat jarang melihatmu keluar kelas”

            “ah..aku lebih senang menghabiskan waktuku di dalam kelas” sambil memandangimu bermain basket, sambungku dalam hati.

            “oh, lalu, kau tadi ingin pergi kemana?” tanyanya lagi.

            “ke toilet untuk mencuci tanganku yang kotor” jelasku sambil menunjukkan goresan-goresan tinta di tangan kananku.

            Dia melirik ke arah tangan kananku,“konyol, seperti anak-anak saja” ucapnya. Aku mencibir kesal saat dia mengataiku, demi Tuhan, aku bahkan tak tahu harus bersikap seperti apa saat menghadapinya...

            Dia mengajakku berbincang-bincang untuk sekedar mengisi waktu, sampai membuat pusing yang menderaku hilang, kau tahu, ini terlalu indah untuk berlalu begitu saja. Ini terlalu memabukkan, bisa mendengar suaranya yang indah dengan jarak sedekat ini.. bisa melihat dengan jelas lekuk-lekuk dan garis-garis sempurna di wajahnya.

            “saatnya, aku mengantarkanmu pulang..” ujarnya pelan. Dia bangkit dari kursinya dan langsung merapikan rambutku.

            Aish,sial. Gerutuku dalam hati, aku bahkan lupa kalau saat aku tertidur poni yang menutupi dahiku ini akan terangkat ke atas,“gomawo” ucapku malu.

            Dia hanya diam dan langsung membantuku berdiri.

            Sepanjang jalan dia terus saja memapahku dengan sebelah lengannya berada pundakku dan sebelahnya lagi melingkari pinggangku, kalau saja dia tidak membantuku, mungkin aku sudah jatuh merosot ke bawah, tak bisa merasakan kaki-kakiku lagi, semuanya sudah mati rasa saat berdekatan dengannya.aku tahu, beberapa yeoja yang berpapasan denganku dan Kris memandang iri. Aku tahu mereka akan mencibirku di belakang, sudahlah, aku tak peduli, ini terlalu menyenangkan. Aku akan mengingat dengan jelas hari ini, aroma tubuhnya, caranya berjalan dan  caranya saat membantuku bangun, gerak bibirnya. Ahh...

            Dia membukakan pintu mobil untukku dan mendudukkanku di depan, tangannya dengan sigap mengaitkan seatbelt untukku. Aku hanya memperhatikan gerak-geriknya. Dia benar-benar menghipnotisku.

            “dimana rumahmu?” tanyanya lagi saat dia sudah mendudukkan dirinya di sampingku.

            “umm.. ini..” aku menyodorkan sebuah kartu yang bertulisan alamat rumahku kepadanya. Dia hanya mengangguk pelan saat membaca alamat yang tertera di sana dan mulai melajukan mobilnya perlahan.

            Kami hanya berdiam diri saat di mobil sampai dia menghentikan mobilnya di lampu merah,“kulihat kau sering mengintip kami saat latihan basket di balik jendela” katanya.

            DEG! Jantungku kembali berdetak sangat kencang saat mendengar kalimat yang meluncur dari bibirnya.

            “jeongmal?” tatapku tak percaya, dia...merasakan kehadiranku?

            “ne..aku sering melihatmu memandang dengan tatapan kosong ke arah lapangan basket, bahkan saat aku dan teman-temanku tidak sedang bermain basket...” dia melanjutkan, “kau...memperhatikan siapa?”

            Aku menundukkan wajahku, aku bahkan tak tahu kalau Kris sunbae terkadang juga memperhatikanku“ani...”

            Aku melihat dari sudut mataku saat tangan kirinya bergerak menuju dagunya dan mengelus-elus dagunya, dia menggigit bibirnya pelan,“di antara anggota team basketku, siapa yang paling kau sukai?”

            Tubuhku seperti terkena sengatan listrik saat mendengar pertanyaannya yang terus-terusan memojokkanku, “ahh... aku menyukai... Chanyeol sunbae..” dustaku.

            Dia hanya terdiam, tubuhnya mengeras saat mendengar ucapan yang keluar dari bibirku, matanya tetap fokus ke arah jalan raya dan mulai menjalankan mobilnya lagi saat melihat lampu yang berwarna merah itu kini sudah berganti warna.

            “ah, aku juga berpikir begitu..” dia hanya mengangguk-angguk.

            Entahlah, aku bahkan tak tahu apa konsekuensi yang akan kuterima setelah aku mengatakan kebohongan ini, aku terlalu takut untuk sekedar jujur kepadanya. Aku hanya tak ingin dianggap sebagai wanita yang memanfaatkan kebaikan hatinya agar bisa dekat dengannya. Aku tak ingin dicap sebagai wanita yang haus akan harta dan ketampanan yang ia miliki.

            Tak ada lagi suara yang terdengar dari mulutnya, aku hanya mendengar suara kekalutan hatiku, pikiranku, dan batinku yang menjerit ingin mengatakan hal yang sebenarnya. Sekedar ingin meloloskan belenggu yang menjerat batin dan perasaanku selama beberapa bulan ini.
***

11 Mei...

Baewon School at 11.30 pm.

            “Ra~ yaa!!”

            “wae?” aku menjawab panggilan dari sahabatku Seulmi yang dari tadi pagi sudah memberondongku dengan berbagai pertanyaan.

            “Kau belum menjawab pertanyaanku, apa yang kau lakukan di UKS saat berduaan dengan Wu Fan sunbae?” dia menahan tanganku berusaha mencegahku agar tidak pergi.

            “eoh, tidak terjadi apa-apa..” jawabku singkat.

            “lalu saat ia mengantarkanmu? Apa tidak ter....”

            “Seulmi~ahh, aku-dan-Kris-sunbae-tidak-melakukan-apa-apa-dan-tidak-ada-sesuatu-spesial-yang-terjadi” tekanku padanya.

            Kening Seulmi berkerut saat mendengar ucapanku, “aku-tidak-percaya” balasnya.

            “terserah saja, aku mau ke kantin...” jawabku ketus dan pergi meninggalkannya. Ayolah, aku bukan gadis yang jutek, aku hanya terlalu malas menghabiskan waktuku hanya untuk membicarakan masalah ini seharian. Sudah kubilang, hanya kisah hidup Kris sunbae yang menonjol dalam kehidupanku, dalam cerita cintaku. Bukan sebaliknya.

            “yakk!! Aku ikut!!” Seulmi langsung menyusulku, “aku pikir kemarin bisa menjadi hal yang akan menuntunmu bisa dekat dengan Wu Fan sunbae..”

            “hah? Tak akan...” aku langsung berjalan cepat meninggalkan Seulmi dan langsung memesan dua buah paket makan siang di kantin.

            “siapa yang tahu Ra~yaa?” Seulmi langsung melipat tangannya saat melihatku datang ke mejanya dengan membawa nampan penuh makanan.

            “entahlah, hanya tak ingin berharap saja” jawabku acuh sambil mulai memakan makananku.

            Aku mulai sibuk berkonsentrasi dengan makananku, tiba-tiba ada seorang gadis yang berjalan melewati meja makanku dan Seulmi. Bau parfum yang sangat menyengat terasa membakar rongga-rongga hidungku. Refleks saja aku menutup hidungku dengan kedua tanganku.
\
            Oo, gadis yang waktu itu pernah digosipkan berpacaran dengan Wu Fan sunbae.. mataku mengawasi gerak-gerik gadis itu yang duduk di seberang meja makanku bersama dengan teman-temannya.

“kau tahu, tadi malam aku bertemu dengan Wu Fan di jalan dan dia mengantarkanku pulang” kata gadis itu memulai pembicaraan.

“Jinjja? Aigoo , kau sangat beruntung!” seru temannya.

“haha, ya, hanya saja tak ada siswa Baewon yang melihat kejadian itu, jadi tak ada yang menyebarkan gosip yang berlebihan, maksudku seperti gadis yang kemarin di tolongnya...”

“haha, sayang sekali Na~yaa, jangan pikirkan gosip kemarin, mana mungkin Wu Fan suka sama gadis itu, kau tahu, kau jauh lebih menarik daripadanya.”

“jelas, aku sudah tahu lama soal itu, hanya saja, aku ingin memperingatkan gadis itu agar jangan terlalu berharap dengan Wu Fan..” aku merasakan gadis itu melirikku dengan tatapan sinis.

Aku langsung bangkit dari tempat dudukku, “Ra~yaa~ kau mau kemana?” tanya Seulmi yang sedari tadi tak menyadari ucapan dari sunbae itu.

“aku sudah selesai makan Selmi-ahh~ aku permisi dulu..” ucapku sambil berbalik membelakangi Seulmi dan pergi meninggalkannya.

Aku tahu, aku bahkan sudah sadar sejak dulu kalau seandainya Wu Fan sunbae tidak akan pernah memandang ke arahku apalagi menyukaiku. Sudahlah, jangan terlalu dipertegas, toh aku sudah lama mengetahuinya.

Aku berlari masuk ke kelasku dan menatap ke luar dari balik jendela kaca. Menyaksikan beberapa anak yang berjalan melewati lapangan basket itu. Aku melihat Wu Fan sunbae berjalan melewati lapangan basket itu menuju ke perpustakaan, tiba-tiba gadis itu menyusulnya dan langsung menggandeng tangannya.

Airmataku kembali mengalir, jendela ini... saksi bisu atas segala kesakitanku.
***
16 Mei..

Baewon School at 03.00 pm

            Titik-titik hujan mulai membasahi wajahku, Aku mempercepat langkahku keluar dari kelasku, hari ini aku harus pulang cepat agar bisa ke supermarket, nanti malam aku takkan bisa membantu ibuku memasak, setidaknya aku bisa membantunya sedikit dengan membelikannya bahan-bahan makanan.

            Saat aku menyeberangi lapangan basket, sudut mataku menangkap seseorang yang berdiri di depan pintu kelasnya seperti tengah memandang ke arah lapangan basket.

            Aku memalingkan wajahku menatap ke arahnya, benar. Wu fan sunbae tengah tersenyum ke arahku.

            Kyaaa~ baru saja aku ingin membalas senyumnya, tiba-tiba tubuhku menabrak seseorang.

            “ya!! Gadis bodoh!!” bentak gadis itu, ah~ gadis kantin itu. Matanya langsung beralih ke arah Kris sunbae dan langsung melambaikan tangannya.

            Aku membungkukkan badanku berkali-kali ke arah gadis ini. dia tak membalas. Hanya memberikan cibiran dan berlari meninggalkanku. Ah~ dia baru saja menyadarkanmu Ra-yaa. Wu fan sunbae tak sedang menyapamu.

3 November...

07.00 PM

            “Yak! Lama sekali..” aku melirik ke arah jam tangan yang melingkar indah di tanganku. Ini sudah lebih dari 10 menit sejak aku memutuskan untuk keluar dari rumah dan menunggu Seulmi.

            Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku. Udara sudah sangat dingin di sini. Sebentar lagi musim dingin akan tiba.

            “Tin..tinn...” suara klakson mobil memecah keheningan malam.

            “yak! Ra-yaa cepatlah masuk” teriak seseorang dari dalam mobil.

            Tanpa basa-basi aku langsung masuk ke dalam mobil Seulmi. Tubuhku mulai melemas setelah masuk ke dalam mobil. Udara di dalam sini tak sedingin di luar.

            “bzzzz kau hampir membuatku mati kedinginan Seulmi-yaa!!” bentakku.

            “siapa suruh menunggu di luar?!!” Seulmi tak ingin kalah dengan balas membentakku.

            Aku hanya mengerucutkan bibirku dan langsung memfokuskan pandangan ke jalan. Seulmi mulai melajukan mobilnya pelan. Hari ini kami akan pergi ke festival musim dingin.. yah~ sebelum natal tiba, sekolahku juga akan merayakan pesta kelulusan para sunbaenim. Tentu saja aku sangat membenci hal ini. melihat Wu fan sunbae dari balik jendela saja aku sudah tersiksa bagaimana kalau aku takkan bisa melihatnya lagi? Aku berani bertaruh ini akan menjadi akhir tahun terburuk dalam hidupku.

            “Waa indah sekali...” mataku langsung menatap ke atas langit yang bertabur dengan cahaya kemerahan yang diciptakan oleh kembang api.

            “keluarlah~ kau akan melihat hal yang lebih indah dari itu” ajak Seulmi yang sudah keluar dari mobilnya.
           
            Aku langsung melepas sabuk pengamanku dan langsung berjalan keluar, merentangkan tanganku dan menghirup udara dingin yang masuk ke dalam lubang hidungku.

            Aku dan Seulmi berjalan masuk ke dalamm perayaan itu, sungguh menyenangkan. Meskipun kau tak mempunyai namjachingu, kau bisa menghabiskan kebahagiaanmu dengan sahabatmu.

            “Ra-yaa lihatlah~ ada banyak sekali namja tampan di sini. Kau tidak ingin mendekati salah satu dari mereka?” goda Seulmi.

            “kau ini!!” aku meninju bahu Seulmi pelan.

            “kkk kau tunggu di sini. Aku akan membelikanmu jagung bakar”

            Aku langsung mengangguk cepat kepadanya dan membiarkan Seulmi memisahkan diri dariku. Berjalan-jalan di dalam festival ini merupakan hal yang sangat menyenangkan. Kau bahkan bisa menemukan sesuatu yang tak bisa kau lihat di dalam rumahmu atau tempatmu menuntut ilmu. Semuanya terasa menyenangkan sebelum pada akhirnya aku melihat hal yang seharusnya tak kulihat malam ini.

            Wu fan sunbae bersama gadis kantin itu datang ke perayaan ini.

            Pandangan mataku terasa mengabur saat melihat mereka. Aku langsung membalikkan badanku membelakangi jalan utama. Tanganku bergerak menutupi kepalaku dengan tudung jaketku.

            Mereka berjalan ke sini.... nafasku tertahan saat Wu fan sunbae dan wanita itu berjalan melewatiku. Moodku langsung berubah seketika. Demi Tuhan aku membenci kejadian ini.

            “waeyo?” Seulmi yang entah-sejak-kapan melihatku menangis sendirian di sini langsung menemuiku.

            “aku ingin pulang!!” teriakku frustasi di tengah kerumunan orang banyak.

            “ahh...ne..ne..” Seulmi langsung meraih tanganku dan mengajakku pulang. Kami berjalan memutar menuju pintu keluar.

            Saat berjalan... mataku tak sengaja menangkap bayangan di sebuah toko perhiasan. Wu fan dan wanita itu... apa yang mereka lakukan???

18 Desember...

Baewon School at 19.00 ..

            Aurora, mungkin...hari ini adalah hari yang sangat menyedihkan dalam hidupku. Harus menghadiri pesta perpisahan sunbaenim. Ya~ hari ini juga adalah hari terakhirku bisa melihatnya. Pada pesta prom malam ini.

            Semuanya memakai pakaian yang mewah dan indah. Aku? Nothing special. Haha. Bahkan sampai aku pulang ke rumah, tak ada yang mengajakku berdansa.

            Kau tau? Wu fan sunbae? Tentu saja dia yang menjadi pusat perhatian malam ini. dia terlalu bersinar malam ini... semua wanita berebut untuk bisa berada di dekatnya. Berharap bisa di ajak Wu fan sunbae untuk berdansa.

            Entah, tentu saja jauh di dalam lubuk hatiku yang terdalam aku juga ingin diajaknya berdansa. Sayang, harapan itu rasanya terlalu mustahil untuk diwujudkan.

            Berdiam mematung di tengah keramaian ini benar-benar membosankan. Aku bahkan ingin segera melangkahkan kakiku menuju pintu keluar, kalau saja aku tak mengingat ini adalah pertemuan terakhirku dengan Wu fan sunbae.. mungkin aku sudah pulang ke rumah.

            “yak! Berhenti melamun Ra-yaa.. ini pertemuan terakhir kau dengan namja yang sangat kau cintai itu!!” bentak Seulmi yang berhasil mengagetkanku.
           
            “yakk!! Kau ini!! bisa tidak agar tidak mengagetkanku dengan kedatanganmu yang secara tiba-tiba itu?! Kalau saja aku mempunyai riwayat penyakit jantung, mungkin aku sekarang sudah tewas karenamu...”

            “kkk aku tidak baru datang Ra-yaa aku daritadi berada di sampingmu..”

            “yayaya..” aku menunjukkan muka datarku padanya.

            “kau tak ingin meminta Wu fan sunbae agar bisa berfoto bersamamu?”

            “hah?” mataku membelalak. Berfoto dengannya? Bahkan aku tak sedikitpun berpikir ke sana.
           
            “ayolah Ra-yaa`~ tak ada salahnya kan kau mengambil foto dengannya? Anggap saja ini adalah perpisahan sunbae dan hoobaenya.”

            “memang kenyataannya begitu kan?” cibirku.

            “maksudku perpisahan antara kau dengan dia anggaplah seperti itu! Bukan perpisahan yang ditandai kepergian seorang namja yang tak pernah tau bahwa ada seorang yeoja yang selama ini menantinya...”

            “aku tak pernah berfikir begitu.” Sungutku.

            “jangan munafik Ra-yaa~”

            “hft..” aku menghela napas panjang. Menatap handphoneku, berharap suatu saat wallpapernya akan berubah menjadi foto seorang namja rupawan tengah memandang ke arah kameranya bersama dengannya.

            Seulmi menepuk bahuku pelan. Memberikanku semangat sekaligus memberiku aba-aba agar aku melangkah maju.

            Bodoh. Aku bahkan tak tau harus berkata apa saat berada di hadapannya.

            Baru saja aku ingin mengumpulkan jiwaku agar bisa mendekatinya. Wu fan sunbae sudah meraih ponselnya dan langsung berjalan keluar melewatiku.

            Aurora, kau pikir ini akan menjadi sebuah cerita cinta yang indah? Seperti di dongeng-dongeng atau drama-drama yang akan membuat pembaca atau penontonnya bahagia? Kau salah. Ini bukan cerita cinta yang bahagia dengan segala keberuntungan yang menyertai pemain utamanya. Kau salah~ kau sedang tak berada di tangan yang benar.

            Kepergian Wu fan sunbae di pesta prom malam ini juga merupakan perpisahan kami berdua. dia tak muncul. Dia sudah pulang... dan.... tak ada sesuatu yang terjadi antara kami berdua...

6 tahun berlalu...
            Aku berjalan mengendap-endap masuk ke dalam rumahku sepulang kuliah, ahh.. ibu dan ayahku sepertinya sedang menyambut tamu yang sangat spesial sampai harus mereka berdua yang meluangkan waktu di siang ini untuk sekedar menyambut tamu itu. Karena itu, aku cukup segan untuk melewati beberapa orang tamu yang datang itu sehingga memutuskan untuk masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Sepertinya tamu itu juga cukup kaya, sebuah mobil mewah keluaran terbaru terparkir dengan gagahnya di depan rumahku.

            “Ra~yaa..” langkahku tertahan saat ibuku memanggil namaku.

            “ne..” jawabku sambil menuruni anak tangga terakhir saat aku ingin naik ke atas menuju kamarku.  Sebegitu pentingnya kah tamu itu sampai aku juga harus ikut menyambutnya?

            “Ra~yaa dialah orang yang akan menikah denganmu..” ujar ibu kepadaku saat aku sudah berada di samping ibuku.

            Aku hanya diam membatu menyambut ketiga orang tamu yang kuyakini mereka adalah calon mertuaku dan calon suamiku, namja itu.......

            Nafasku tertahan saat aku berhasil mengenali namja yang akan menjadi calon suamiku. Ya, namja itu adalah orang yang sangat aku sayangi, orang yang sudah membuatku menghabiskan hidupku hanya untuk berniat melupakannya sekarang akan menjadi calon suamiku?

            “Wu fan sunbae...” bibirku bergetar saat mengucapkan namanya.

            “ahh? Jadi kalian sudah saling mengenal? Ini akan memudahkan proses pernikahan.” Ucap eommaku antusias.

            “mwo? Kau belum memberitahu calon menantuku?” tanya Wu fan eomma bingung.

            “ahh.. ne.. biarlah ini menjadi kejutan untuknya, lagipula kau takkan keberatan menerima dia sebagai calon suamimu kan?” tanya eomma kepadaku.

            “n..ne..” jawabku takut-takut. Mataku menatap ke arah Wu fan sunbae yang sedari tadi duduk tenang di sofa. Tak ada raut kesedihan terpancar dari wajahnya. Wajah yang kulihat pertama kali. Enam tahun yang lalu... tak ada yang berubah.. hanya garis-garis wajahnya dan bentuk tubuhnya yang semakin tegas dan padat. Pertanda tumbuh kembangnya.
           
            “kalau begitu.. 2 minggu lagi kalian akan menikah..” ujar Wu fan eomma.

            “mwoo? Secepat itukah?” tanyaku bingung. Tak mungkin mempersiapkan pernikahan dalam waktu sedekat itu. Mustahil.

            “tentu saja tidak, bahkan kalau kami mau, mungkin pernikahannya bisa saja dilaksanakan seminggu setelah ini. kau tau, aku dan eommamu sudah mempersiapkan acara pernikahan ini dari dua bulan yang lalu, bahkan Wu fan juga ikut membantu kami..” terang Wu fan eomma.

             Pantas saja aku tak melihat raut terkejut dari wajahnya... hanyalah aku satu-satunya orang bodoh di sini, semua bahkan sudah mengetahui rencana pernikahan ini.

            Untuk saat ini, aku bahkan tak dapat mengenali lagi perasaan yang ada dalam diriku. Haruskah aku bahagia melihat Wu fan sunbae yang sudah lama kupuja ini akan menjadi milikku seutuhnya? Haruskah aku berduka melihat pernikahan tanpa cinta ini? tanpa cinta dari seorang suami kepada istrinya? Apalah gunanya membangun rumah tangga hanya dengan satu cinta?

            Terlalu munafik memang jika aku mengatakan aku bersedih kalau kenyataannya aku memang sangat bahagia. Hari ini.... detik ini...

            Salahkah aku mempunyai tekat untuk membahagiakannya? Salahkah seorang Song Na Ra ingin menanamkan benih cinta pada seorang namja yang sangat ia cintai? Salahkah aku ingin memiliki anak dari hubungan ini? Aku pikir tidak. Mungkin sekalipun aku tak memiliki cinta dari Wu fan, aku akan memiliki cinta dari anakku dan Wu fan nanti.

11 April..

Wu fan’s apartment at 09.00 PM

            “Mandilah...”  ucap Wu fan mengucap keheningan di dalam apartemennya. Ya, hari ini adalah tepat 2 minggu hari dimana aku mendapat kabar akan menikah dengan Wu fan. Hari ini... aku sudah resmi menjadi Nyonya Wu fan.

            “ahh.. ne sunbae..” ucapku.

            “mulai sekarang, panggil aku oppa. arasseo?” pintanya.

            “ahh..ne oppa..” ucapku canggung. Baru kali ini dia memintaku memanggilnya oppa...

            “mandi yang bersih.” Pintanya lagi kali ini dengan senyuman. Demi Tuhan, aku bahkan hampir melupakan bagaimana caranya bernafas.

            “ne..ne..arasseo..” jawabku sambil mencoba tersenyum kepadanya.
*

            Setelah aku keluar dari kamar mandi, Wu fan meminta ijin untuk mandi. Tentu saja aku mengijinkannya, bahkan seandainya aku punya keberanian untuk menyuruhnya cepat-cepat ke kamar mandi, mungkin aku sudah mendorongnya ke kamar mandi, mengingat keadaan tubuhku yang hanya berbalut handuk putih.

            Aku memakai piyama yang sudah kusiapkan dari rumahku. Sebuah piyama berwarna merah muda dengan corak berbentuk panda sebagai hiasannya. Sangat kekanakan tapi aku menyukainya. Ini lebih nyaman kan daripada lingerie yang sudah disiapkan eomma khusus untukku. Itu sangat menjijikkan. Berani bertaruh. Wu fan takkan bernafsu untuk menyentuhku sekalipun aku memakai lingerie.

            Aku menyisir rambutku perlahan sampai aku mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Wu fan sudah selesai mandi. Aku tak berani memandangnya. Terlalu memalukan.

            “belum tidur?” tanya Wu fan , langkah kakinya terdengar mendekat ke arahku.

            “ah ne..sebentar lagi..” ujarku berusaha sedatar mungkin. Jantungku sudah berpacu dengan kencangnya. Wu fan berada di sampingku. Dia hanya memakai celana pendek dengan tubuh bagian atas yang terekspos jelas.

            Demi Tuhan, aku ingin menyentuh tubuhnya... kalau saja aku bukanlah seorang wanita..mungkin aku akan menyerangnya malam ini, haha. Godaan pertama untukmu Song Na Ra..

            “tak apa-apa kan aku tidur dengan keadaan seperti ini?” tanya Wu fan yang mungkin sudah menyadari perubahan raut wajahku yang tak karuan usai melihatnya.

            “ah..ne...ne...aku tidur duluan...” ucapku. Ugh.
           
            Aku langsung berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan diriku di sana. Memposisikan tubuhku membelakanginya. Aku harap aku bisa tidur malam ini.

            Setengah jam kemudian aku merasakan tempat tidurku ditindihi oleh sesuatu yang berat. Wu fan merebahkan diri di sampingku. Jantungku semakin bertalu-talu. Aku ingin sekali membalikkan tubuhku dan menatapnya. Sayang, itu terlalu memalukan.

            Saat aku ingin memejamkan mataku kembali tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangku.. Wu fan merapatkan tubuhnya ke punggungku, tangannya bergerak membelai rambutku.

            “Ra-yaa..kau sudah tidur?” bisiknya lembut di telingaku.

            “.....” aku tak berani menjawab. Nafasku semakin tak beraturan.

            “Ra-yaa aku tahu kau belum tidur..” Wu fan langsung membalikkan tubuhku.
           
            Mata kami pun saling bertemu, oh Tuhan... ini sangatlah indah bisa melihatnya dalam jarak sedekat ini..

            Tubuhnya sedikit menindihku, tangannya terus membelai rambutku, dia tersenyum.. “aku ingin memilikimu malam ini...”

            Aku tak berkata apa-apa. Mulutku seakan terkunci rapat... ini terlalu memabukkan sampai aku tak bisa membuat sistem sarafku berfungsi dengan normal.

Tangannya mulai bergerak menyusuri lekuk-lekuk wajahku. “cantik..” ucapnya.

Apa ini hanya tipu muslihat?? Bukankah seorang lelaki itu akan meracau tak jelas saat melihat seorang wanita tak berdaya di hadapannya. Dia akan semakin tak jelas kalau nafsu sudah menyelimuti akal pikirannya.

Tangannya bergerak menyusuri bibirku, mengelusnya sebentar dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di sana, “aku ingin memiliki ini...”

Tangannya kembali bergerak menuruni leherku, “aku ingin mengukir sesuatu di sini..”

Lagi...dia menurunkan tangannya, mendekapku erat, kemudian tangannya mengelus perutku. “bisakah?” pintanya.

Tangannya menyusup masuk ke dalam piyamaku, menggelitik perutku dengan jemarinya, sensasi apa ini? aku jadi semakin menginginkannya...

“mmph..lakukanlah...” ujarku pasrah. Toh aku sudah sah menjadi istrinya.

Aku melihat seringaian yang terukir di bibirnya. Merasa menang akan memilikiku malam ini. tangannya bergerak keluar dari dalam piyamaku. Membelai rambutku dengan sebelah tangannya yang memegang tengkukku.

Dia semakin mendekatkan wajahnya ke arahku. Refleks saja aku menutup mataku, perlahan tapi pasti dia menempelkan bibirnya... hanya menempel...

Aku sudah merasakan darahku terasa mengalir deras di kedua pipiku, ini benar-benar sunngguh memalukan. Ciuman pertamaku... aku berhasil mempertahankannya sampai aku menyerahkannya kepada orang yang kucintai. Wu fan...

Bibirnya mulai bergerak di sela-sela bibirku, memintaku untuk membuka mulutku. Aku membuka mulutku. Merasakan bibirnya melumat pelan bibirku. Menghisap bibir atasku..

Kau tahu, aku merasa seperti bermimpi...membanyangkan... merasakan bibirnya bergerak pelan melumat bibirku...lidahnya menyusup masuk ke dalam mulutku dan membelit lidahku..

Merasakan saat tangannya membelai tubuhku... merasakan lidahnya yang bermain-main dengaan leherku... menggelitik daerah sensitif dari tubuhmu yang tak pernah di jamah orang lain...

Aku hanya ingin mendengar dan merasakan...aku hanya ingin merasakan dekapannya, sentuhannya... aku hanya ingin menikmati setiap detik yang kulalui dengannya.. aku tahu.. mungkin ini adalah sentuhan pertama dan terakhirnya dalam hidupku.

Ia hanya ingin memberikan tanda bahwa aku sudah ia miliki seutuhnya. Aku memang sudah dimiliki olehnya, bahkan jiwa dan ragaku... tapi... bisakah aku memiliki Wu fan seutuhnya?

28 september..

Wu fan’s apartment.

            Aurora, semenjak aku tinggal di sini, di apatemen Wu fan.. aku jadi semakin sering menatap langit saat malam hari..  Ahh.. andai saja ada aurora.. mungkin semuanya akan sangat indah..

            menunggu suamiku pulang kerja adalah hal yang sangat menyenangkan, setidaknya aku tak merasa terlalu gagal untuk bisa menjadi istrinya..

            kau tahu? Rumah tangga ini berjalan sangatlah buruk.. terlalu datar..

            Tak ada sesuatu yang spesial sejak kami berumah tangga beberapa bulan yang lalu...

            Apa kau pikir setelah malam pertama ia menyentuhku sikap Wu fan akan berubah menjadi romantis? Hubungan kami akan menjadi semakin dekat? Tidak. Sekali lagi tidak. Aku semakin menjaga jarakku dengannya. Aku tak ingin membiarkan diriku lemah dengan terus-menerus mengemis cintanya.
           
            Biarlah semuanya seperti ini.

            Menatap wajah tampannya di pagi hari sebelum kau bersiap untuk membersihkan rumah. Memasakkan sesuatu yang layak dimakan untuknya.

            “makanlah...”

            “ah...ne...”

            “kau memasak apa hari ini?”

            “aku sudah selesai.. aku berangkat..”

            Hanya untaian kalimat-kalimat itu yang keluar dari bibirnya setiap pagi.. tak ada ucapan selamat pagi... tak ada ciuman hangat sebelum berangkat kerja..

            “ah..” aku merasakan mataku terasa di tutupi oleh kabut hitam.. apa? Apakah aku akan pingsan? Kenapa semuanya terasa gelap dan kabur? Aku mengerjapkan mataku beberapa kali...

            “belum tidur?” ahh aku mendengar sebuah suara dari belakangku. Wu fan sudah pulang? Sial. Dia mendapatiku tengah menunggunya malam ini.

            “ahh.. ne..”

            “.......” lagi-lagi kabut hitam kembali menyelimuti pandanganku. Ada apa ini? apakah ini bagian mimpi? Kenapa semuanya terasa nyata? Ada apa dengan mataku??

--TBC--

5 komentar:

  1. Halo thor :)
    Saya reader baru :)
    Izin baca FF,lainnya ya thor :D
    Salam kenal :)

    BalasHapus
  2. Mirip kisah gue sama sunbae gue ^^

    BalasHapus
  3. Lanjutannya mana y...
    Udh 4th ni cerita g d trusin...

    BalasHapus