Sabtu, 05 Januari 2013

My little Wu



Author: @Meiywu

Main cast :

·         Wu Yi Fan/ Kris EXO M

·         Bang Min ah (OC)

·         Dennis Kane

·         Other cast

Length : oneshot

Genre : married life, romance, comedy gaje=_= , mesum mode on

PG : 17+(?)

ih maaf ini author lagi kangen krisminah yaudah bikin sequelnya aja ya. Kkkk sebenarnya juga konfliknya itu... gak ada <//3 tau ah baca sendiri aja deh-_-v /author frustasi/

***
15 Juli..

05.00 AM

            “bangun sayang...” aku mendengar suara yang muncul dari cahaya terang yang menyilaukan... tiba-tiba cahaya itu lenyap dan muncullah seorang bidadari bersayap putih datang dan mendekatiku..

            Jarak aku dan bidadari itu sangatlah dekat... ahh Minahh~ ...

            Dia datang ke arahku... 3 meter... 2 meter.. 1 meter... hingga tinggal berapa centi saja jarak antara aku dengannya. Dia mendekatkan dirinya ke arahku. Pandangan matanya mengarah ke bibirku... dia tersenyum dan mendekatkan bibirnya menuju bibirku..

            Semakin dekat... dan....

            “WAAAA!!!!!”

                Byar-_- buyarlah segala mimpi indah itu.. teriakan dari anakku Dennis mengacaukan segalanya.

                Aku bangun dari tidurku dan mengucek mataku beberapa kali.

                “sial-_-”

                Aku melirik ke arah tempat tidurku, kosong. Hanya aku sendirian di sini. Mana Minah??

                “sayaaang pakai bajunya dulu nanti masuk angiinnn~~”

                Aku mendengar teriakan dari luar. Minah pagi ini sudah ribut dengan anak semata wayang kami, Dennis Wu yang sudah dilahirkannya 3 tahun lalu.

                Dennis, anak yang hadir di tengah keluarga kecil kami memang memberikan warna tersendiri di rumah, sikapnya benar-benar mirip denganku semasa kecil. Sungguh menyebalkan rasanya harus hidup dengan orang yang sama menyebalkannya denganku. Haha. Bahkan sebelum lahirpun dia sudah menyebalkan... aku mengingat masa-masa Minah sedang mengidam dengan berbagai macam permintaan aneh yang memusingkan..

                Anakku. Darah dagingku. Buah cintaku dengan Minah....

                BRAKK!! Aku mendengar pintu kamarku di buka. Aku mendapati anakku sedang terengah-engah dengan keadaan telanjang bulat!

                “haii appaaa!! Appa... sssssttt..”  dia mengacungkan jari telunjuknya dan menempelkannya di ujung bibirnya, “jangan kasih tau eomma aku sembunyi di kamar mandi appa...”

                 Dia langsung berlari ke arah kamar mandiku dan Minah dan menutup pintu kamar mandinya.

                “Yak!! Anak ini...” aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat kelakuannya...

                “mana istriku? Aku ingin menagih morning kissku pagi ini..” aku beringsut dari tempat tidurku dan berjalan ke luar.

                “Dennis sayang tubuhmu masih basah nanti kalau jatuh gi.....”

                BRUKK!! Aku merasakan seseorang menabrak tubuhku. Minah...

                “kyaaaaa!!” belum sempat tubuhnya jatuh ke lantai. Aku langsung saja menangkapnya dengan lenganku.

                “eh....” Minah perlahan membuka matanya yang terpejam daritadi karena merasakan tubuhnya tak mencium lantai yang keras itu.

                “morning sayang~ morning kiss dahuluu..”

                Cuppp~ aku langsung menempelkan bibirku ke bibirnya...

                Bukannya menikmati ciuman hangat dariku, Minah malah marah-marah..

                “Yakk!! Kau ini!! jorok sekalii!! Kau itu harusnya mpphhh mpphh...”

                Aku langsung membungkamnya lagi dengan mulutku. Menggigit bibirnya sebentar dan melepaskannya perlahan.

                “mian sayang~ haha” aku melepaskannya dari pelukanku.

                “appa.... sama eomma lagi apa?” aku mendengar sebuah suara kecil di kamarku. Astaga.. Dennis melihat pemandangan memalukan ini..

                “ahh aniyo sayang~ ” Minah langsung menunjukkan eyesmilenya kepada Dennis, sebelah tangannya menyelinap ke pinggangku dan langsung mencubit pinggangku.

                “Aw!!” aku meringis. “aniyaaa Dennis sayang ayo pakai baju dulu, kalau tidak mau pakai baju, nanti eommanya appa culik..” ancamku.

                “andwaee!!” Dennis langsung berteriak dan memeluk istriku.

                “makanya pakai baju dulu sayang” istriku langsung mengecup dahi Dennis dan mengajaknya keluar.

                “cih.. bahkan ketika Dennis tak memintanya, dia sudah memberikan ciuman hangat kepadanya..” gumamku kesal. Semacam sebuah rumah tangga dengan anak laki-laki bandel itu sangatlah tidak menyenangkan. Aku harus berbagi dengan anakku sendiri. Iri... ini tidak adil-_-

                “Kris....” aku mendengarkan teriakan dari istriku lagi.

                “ya sayang?” jangan-jangan dia ingin meminta morning kiss dariku lagi..

                “cepatlah mandi... nanti kau telat...”

                “bzzzzzz” ternyata menyuruh mandi-_- ... aku langsung meraih handukku dan langsung menuju kamar mandi..
*
11.00 PM~

                Ahh.. aku lembur malam ini jadi tak sempat mencicipi masakan Minah.. aku berjalan masuk ke dalam rumah..

                “sayang...” aku mendapati istriku tengah tertidur pulas di atas sofa di depan televisi.

                Aku berniat ingin mengangkatnya ke kamar, tiba-tiba matanya terbuka..

                “Kris.. sudah pulang?” tanyanya.

                “ne sayang...” aku mencium hidungnya. “tidurlah di sini.. aku masih ingin menonton tv” aku duduk di sofa dan menepukkan pahaku, memberikan isyarat agar Minah merebahkan kepalanya di pangkuanku.

                “eummm...” Minah merebahkan kepalanya di atas pahaku..

                Aku meraih remote televisi dan mengganti channel beberapa kali, tak ada tontonan yang menarik..

                Aku mematikan televisi dan memandangi wajah istriku yang tengah tertidur, kyeopta~

                Apa aku harus membangunkannya? Bukankah baru sepuluh menit yang lalu aku menyuruhnya tidur di pangkuanku? Bagaimana kalau aku membangunkannya dengan cara menciumnya saja. Aku terkekeh dalam hati.. kkkk

                Perlahan aku memperbaiki posisi tidur Minah dan berniat ingin mendudukkannya agar aku bisa menciumnya...

                Cupp...cuppp...cupp... aku menciumnya beberapa kali.

                “mmmhhh...” Minah terbangun. “apa yang kau lakukan??” tanyanya saat mendapati bibirnya sudah basah karena ulahku.

                “hanya menciummu sayang.. aku merindukanmuu...” aku langsung mendekapnya dan mencium hidungnya.

                Cupp~ perlahan aku memegang tengkuknya dan mencium  bibirnya perlahan..

                “mmpphhh...” suara napasnya tertahan saat aku menciumnya, aku sangat merindukan istriku hari ini.. ciumannya.. masakannya..

                Aku mengulum bibirnya... “mmmpphhh..” menggigit bibirnya perlahan agar ia mau membuka mulutnya...

                “ahh..” dia membuka bibirnya dan membiarkan lidahku masuk ke dalam mulutnya dan mulai mencari lidahnya...

                “mmpphhh...”  tanganku mulai bergerilya membuka kancing piyamanya..

                “eomma....”

                KYAAA!!!! DENNIS KENAPA KAU HARUS BANGUN DI SAAT SEPERTI INI??? (W;A;)W

                “ahh.. hah.. hah... hah...” Minah kehabisan napas mengimbangi ciumanku, dia langsung melepaskan ciumanku dan memperbaiki posisi duduknya, “Dennis sayang apa yang kau lakukan di sini?”

                “Dennis tidak bisa tidur eomma.. mimpi buruk ;s ” Dennis menatap wajahku dan Minah bergantian.

                 Matanya langsung berhenti saat menatapku, “appa... mau ngapain sama eomma?” matanya mengerjap beberapa kali...

                “hahaha... appa hanya ingin bercin... awww!!” lagi-lagi pinggangku dicubit oleh Minah.

                “sayang sini tidur sama eomma biar tidak mimpi buruk lagi...” Minah langsung merentangkan tangannya menunggu Dennis datang dan memeluknya.

                “sial...” umpatku.

                Dennis langsung berlari menyerbu Minah dan duduk di pangkuannya.. “peluk eomma...” rengeknya.

                “hadeeh— sini appa nina bobokan..” ujarku kesal. Anak ini mengganggu jadwalku saja..

                Minah memeluk Dennis dan membiarkan Dennis memeluk pinggangnya.

                “ninaa boboo~ oohh ninaaaa bobo~ kalau tidak boboo digigit appa.. ‘-‘ ” aku mulai meracau menyanyikan lagu selamat tidur untuk anakku.

                Dennis langsung bangkit dari posisinya dan memukul lenganku, “appa tidak bisa bernyanyi... itu salahhh..” lagi-lagi dia memukul lenganku beberapa kali.

                “appo....” aku pura-pura meringis menahan pukulan dari Dennis.

                “ehh sayang tidak boleh seperti itu sama appa..” Minah langsung menjauhkan Dennis dariku dan mendekapnya erat..

                “tapi appa tuh...” Dennis menggerutu kesal.

                “sstt cepetan bobo nanti mimpi buruk lagi...” Minah mulai melantunkan lagu nina bobo kepada Dennis. Haft.. iri sama anak sendiri itu rasanya... </3</3

                Baru dinyanyikan beberapa bait lagu tiba- tiba mata Dennis terbuka, tangannya langsung menusuk dada kanan istriku dengan ujung jari telunjuknya..

                “eoh, kenapa sayang?” Minah kaget saat Dennis menusuk dadanya dan langsung menatap Dennis dengan tatapan bingung.

                “tadi Dennis lihat appa mau megang itu.. itu punyanya Dennis..” gumamnya kesal.

                “eh? Jauh sebelum kamu lahir appa sudah memiliki...... awww-_-” Minah menginjak kakiku.

                “sudah...sudah jangan dengarkan appamu sayang ayoo cepat tidur..” Minah kembali mendekap Dennis dan mulai menyanyikan lagu pengantar tidurnya..

                10 menit kemudian Dennis sudah tertidur pulas dalam dekapan istriku.

                “sini biar aku saja yang menggendongnya ke kamar..” aku langsung mengangkat Dennis dari posisi tidurnya dan membawanya ke kamar.

                “jaljayoo Wu kecilku..” Minah mengecup dahinya sebelum meninggalkan Dennis di kamarnya.

                “bagaimana dengan Wu besar?” tanyaku menunjuk diriku sendiri.

                “kau? Tidur sendiri.. haha” Minah mencibir padaku dan langsung berjalan menjauhiku.

                “yakk!! Kau harus terima akibatnya Nyonya Wu.. sini aku yang akan menidurkanmu..” aku langsung berlari mengejar istriku dan menggendongnya menuju ke kamarku.

                “kyaaaaaa!! Kris ahh lepaskan....”

                “shireo!!”

*
16 Juli...

09.00 PM

                “aku pulang..” huah.. letih sekali hari ini.. meeting dengan klien baru di rumah sakit benar-benar membuat otakku letih. Sepertinya hari ini aku harus menyegarkan tubuhku dengan berolahraga malam dengan Minah.

                “appa~” Dennis langsung menyambutku dan memelukku.

                “Dennis” aku langsung menggendongnya dan membawanya ke ruang tengah, “mana eomma?”

                “di dapur appa~ wae?” tanyanya polos.

                “aniyoo..”ujarku sambil mencubit hidung anakku, benar-benar persis hidung Minah.. aku mendudukkannya di sofa dan memberikannya mainan, “main ini dulu ya appa mau menemui eomma” bisikku pelan dan langsung meninggalkan Dennis sendirian.

                Hmmmm bau aroma masakan... kalau aku berjalan ke dapur aku pasti teringat saat aku jadi ayah rumah tangga yang memasakkan nasi untuk Minah. Bzzzz..

                “sayang masak apa?” aku langsung memeluk pinggang istriku dari belakang dan menempelkan daguku di bahunya.

                “yak! Kris ahh jangan menggangguku memasak..” bentaknya.

                “ish....” aku mengelus perut istriku pelan... “aku ingin mengisi sesuatu di sini..”

                “yakk!! Apa-apaan ahh Kris.. lepaskan..” Minah langsung menepis tanganku, “jangan menggangguku memasak atau kau tak akan dapat jatah malam ini..”

                “jatah apa?” godaku manja.

                “err..jatah makan malam-_-” wajahnya langsung memanas saat aku mencoba menggodanya malam ini.

                “bagaimana dengan jatah membuat anak?” godaku lagi sambil mencolek dagunya.

                “jangan sentuh aku..” ujarnya ketus.

                Eohh?? Ada apa ini? kenapa wajahnya kusut sekali? Aku memperhatikan wajahnya yang lucu itu kini tengah berubah seperti wajah seekor singa yang sedang hamil O.O

                “kau kenapa?” tanyaku.

                “.....” tak ada jawaban dari Minah.. dia terus mengabaikanku dengan pekerjaannya membuatkan makan malam untukku dan Dennis.

                Aku berjalan keluar dari dapur dan memilih untuk mandi, berhubung Minah sangat sensitif hari ini aku lebih memilih menunggu di luar bersama dengan Dennis. Ada apa dengan Minah? Apa dia sedang datang bulan? Kenapa sensitif sekali?

                Aku langsung melihat ke arah kalender dan melihat bulatan merah di kalender, bukan... ini bukan tanggal dia datang bulan, terus kenapa?

                Aku memutuskan untuk menanyakannya pada Dennis, siapa tahu dia mengetahuinya.

                “Dennis...” aku memanggil Dennis yang tengah sibuk bermain dengan mobi-mobilannya.

                “........” tak ada jawaban.. yak! Kenapa anak ini menyebalkan sekali (-_-“)

                “Dennis sayang~” aku mendekati tempat duduknya dan membisikkan kata itu selembut mungkin di telinganya.

                “appa!! Jangan membuatku geli!” dia langsung memukul wajahku.

                “appoo!!” teriakku. “Kau ini nakal sekali ya... “ aku langsung mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di pangkuanku.

                “appa juga...” protesnya tak mau kalah.

                “eoh? Eh. Kau tahu apa yang sedang terjadi dengan eomma?” tanyaku serius kepada anakku. Bukankah ucapan yang keluar dari mulut anak kecil itu selalu benar?

                “eomma? Eomma marah sama appa..” jawabnya.

                “eoh? waeyo?” tanyaku lagi.

                “karena appa selalu ingin merebut eomma dari Dennis..” ucapnya.

                “yak!” aku langsung mencubit pipinya gemas. “kalau bukan karena appa kau takkan lahir..”

                “Dennis sayang ayo cepat makan...” aku mendengar teriakan dari dapur.

                “tuh, makan yang banyak sana biar tumbuh besar kaya appa..” aku langsung menurunkannya dari pangkuanku dan membiarkannya berlari ke dapur.

                Aku menunggu panggilan makan dari Minah... 1 menit... 2 menit.... 3 menit.. kenapa tak ada panggilan??!!

                “sayang, kau tak memanggil namja tampan ini untuk makan??” tanyaku memberanikan diri. Aku mendengarkan dengan seksama suara lembut yang akan keluar dari mulut mungil istriku.

                “........” tak ada jawaban? (W;A;)W

                “appaaa... makan sama Dennis siniii...” akhirnya aku mendengar teriakan dari anakku.

                “iya sayang..” jawabku lemas. Minah sepertinya sedang benar-benar marah terhadapku, bahkan untuk memanggilku saja dia harus menyuruh Dennis.

                Aku berjalan gontai ke arah meja makan, aku melihat ke arah meja makan. Semuanya sudah di siapkan oleh Minah tapi dia tak mengucapkan sepatah katapun untukku.

                “selamat makan...” ucapku canggung kepada Dennis dan istriku.

                Aku menyendokkan makanan ini cepat-cepat ke mulutku, selera makanku hilanglah sudah karena Minah, ada apa denganku? Aku salah apa?? Kenapa wajah Minah kalut sekali?

                Aku yakin sepertinya Minah sedang memikirkan sesuatu...aku melamun sambil menghabiskan makananku. Aku langsung melirik ke arah Minah yang masih sibuk menyuapi Dennis.

                “sayang, ayo dong makan..” dia masih berusaha merayu Dennis agar mau menyuap bubur buatannya.

                Aku melirik ke arah makanannya yang masih belum tersentuh sama sekali, “sini biar aku saja yang menyuapinya..” tawarku.

                Aku langsung mengambil mangkuk bubur Dennis dan meminta sendok makan dari Minah. Dia memberikannya padaku dengan pandangan mata yang sangat sulit kuartikan. Ahh biarlah malam ini aku tak mengganggunya saja. Batinku.

                “sayang, ayo sini appa suapin...” aku langsung menyendokkan bubur dan menyuapkan ke arah putraku.

                “aa” Dennis membuka sedikit mulutnya.

                “buka lebar-lebar mulutnya sayang-_-“

                “aaaaaaaa” Dennis langsung membuka mulutnya lebar-lebar.

                “ammm... makan yang banyak ne”  aku menepuk-nepuk kepalanya dan terus menyuapkan bubur ke mulutnya...
*
                Minah... Kenapa hari ini sensitif sekali? Daritadi aku terus menerawang menatap langit-langit kamar. bahkan untuk menyentuhnya saja aku tak berani.

                Aku langsung membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya.

                “kau kenapa?” bisikku kepada Minah. Dia menggeliat pelan saat aku membisikkan kata itu kepadanya. Aku langsung berpura-pura menutup mataku takut ketahuan.

                “jam berapa ini?” aku melirik ke arah jam dinding di kamarku. Ahh.. jam 4 pagi dan aku bahkan belum bisa memejamkan mataku sama sekali...

                Tiba-tiba ponselku bergetar.

                “yoboseyo..” kataku saat melihat nama yang tertera di layar ponselku.

                “.....”

                “ne appa~” jawabku. Ahh... aku harus berangkat ke Gyeonggi pagi-pagi sekali untuk menjemput klienku. Apa harus berpamitan dengan Minah? Aku tak tega membangunkannya sepagi ini..

                Aku langsung beringsut dari tempat tidurku dan mengambil handuk untuk mandi. Selesai mandi aku mendengar suara tangisan dari dalam kamar Dennis.

                “Dennis-ahh waeyo?” aku langsung mendatangi kamar anakku.

                “appaa~ hiks hiks” dia langsung memelukku. “appa mau kemana?” tanyanya.

                “appa mau berangkat.. kamu harus menjaga eomma ne?” pintaku.

                “kemana appa?” tanyanya lagi.

                “ke rumah Siwon ahjussi~” kataku. “kau harus menjaga eomma, uljimaa~ kau harus tidur lagi, ne? Kajja..” aku langsung menggendong Dennis dan merebahkannya ke tempat tidur.

                “appa jangan pergi...” pintanya.

                “ne. Appa di sini sayang~ kajja tidur lagi..” aku mengelus kepala Dennis dan membiarkannya tertidur pulas sebelum aku pergi.

                Tak lupa aku menyelipkan note untuk Minah di samping bantalnya Dennis. Setiap pagi Minah pasti akan membangunkan Dennis dan dia akan membaca note dariku.
*
Author’s POV

                Hyuk Jae melirik ke arah Kris yang setelah meetingnya dengan Siwon selesai dia tak juga bersemangat hari ini.

                “kau mau minum apa?” tawarnya kepada Kris saat mereka memasuki cafe di dekat rumah sakit.

                “pesankan saja aku kopi.. aku mengantuk..” jawabnya.

                Hyuk Jae pun langsung memanggil pelayan dan memesan dua cangkir kopi, “mengantuk? Kau habis begadang bersama Minah? hahahha”

                “ani..hyung... aku habis bertengkar dengannya..” terang Kris lemas. Dia menghembuskan nafasnya beberapa kali.

                “wae?”

                “molla..tiba-tiba saja dia bersikap dingin padaku hyung, aku bahkan tak tahu karena apa...”

                “apa beberapa hari ini kau cuek terhadapnya?” Hyuk Jae mulai menyelidiki masalah ini.

                “anii...”

                “jangan-jangan dia mempunyai pria idaman lain? :O” Hyuk Jae membulatkan matanya menatap ke arah Kris.

                BRAKK!! Kris langsung berdiri dari tempat duduknya dengan tangan mengepal, “aku percaya Minah takkan seperti itu hyung...” Kris menatap Hyuk Jae dengan tatapan mematikan.

                “ahh ya, calm down Kris... aku hanya bercanda....” Hyuk Jae berusaha menetralkan suasana.

                Kris menghirup napas beberapa kali dan mencoba duduk kembali... “aku rasa aku tak punya salah dengannya..” keluhnya.

                “bagaimana dengan masalah ‘ranjang’?” Hyuk Jae menekankan kata ranjang di akhir kalimatnya.

                “yak!! Jangan keras-keras hyung!!”

                “ok. Mian.. bagaimana dengan.. masalah.. ranjang?” Hyuk Jae kembali mengucapkannya dengan setengah berbisik kepada Kris.

                “eoh?? Aku pikir aku selalu memuaskannya..” Kris langsung memandang ke jendela, mengingat kegiatan rutin yang ia lakukan setiap malam dengan Minah.

                “apa Minah pernah mengeluh padamu?” tanyanya.

                “anii.”

                “NAH!!!” Hyuk Jae langsung mengagetkan Kris, ucapannya langsung terhenti ketika melihat pelayan datang ke arah mereka mengantarkan pesanan mereka.

                “gomawo cantik ;)” ujar Hyuk Jae sambil mengedipkan sebelah matanya kepada pelayan wanita itu.

                Mata Hyuk Jae kembali menatap ke arah Kris yang merasa jijik atas kelakuan hyungnya itu. “apa kalimat terakhir yang diucapkan istrimu padamu?” tanyanya penuh selidik.

                “dia bilang, jangan sentuh aku.. wae?” tanya Kris.

                “NAH!!” Hyuk Jae menjentikkan jarinya, “sudah jelas permasalahannya. Minah merasa kurang puas denganmu Kris... mungkin kau kurang hebat di atas ranjang...”

                “mwoo?” sekarang giliran mata Kris yang membelalak mendengar opini yang dilontarkan oleh rekan kerjanya.

                “ini sudah jelas Kris, biasanya wanita itu mengatakan kebalikannya, ketika dia bilang ‘aku tak apa’ itu berarti artinya ‘aku sedang terluka’ , ketika dia bilang ‘jangan sentuh aku’ itu tandanya ‘sentuh aku lebih...sayang’ hahaha ” Hyuk Jae menaikkan alisnya beberapa kali ke arah Kris.

                “teori bodoh macam apa itu?” Kris merasa semakin frustasi dengan keterangan yang diberikan Hyuk Jae.

                “yak!! Jangan salah! Banyak orang yang mengatakan itu Kris Wu Fan! Kau ini!! kau tak percaya karena kau hanya jatuh cinta dengan Minah kan? Babo~ sudah turuti saja apa kataku. Lagipula aku lebih tua darimu tentu saja aku lebih berpengalaman. Puaskan saja istrimu malam ini, kalau dia merasa kurang puas, kau bisa meminum ini..” Hyuk Jae mengeluarkan bungkusan kecil dari kantungnya.

                “apa itu?”

                “obat perangsang” bisiknya. “ini akan sangat membantumu~”

                “yak! Shireo!” tolak Kris. Dia merasa tertampar saat dituduh kurang bisa memuaskan istrinya di atas ranjang. Bagaimana bisa seorang Wu fan kalah dengan wanita? Dan sekarang? Dia harus meminum obat bodoh itu untuk membantunya?

                “aiissshh,... terserah padamu saja Kris...”

                Mendengar itu Kris langsung bangkit dari tempat duduknya dan berniat ingin meninggalkan Hyuk Jae, “yak! Mau kemana kau?”

                “aku? Aku ingin menemui istriku,hyung.”

                “lalu? Siapa yang akan membayar semua ini?” Hyuk Jae mulai panik saat mendapati dirinya yang terancam akan membayar sendirian.

                “kau hyung..” jawab Kris langsung berlalu dari hadapan Hyuk.

                “bagaimana kalau uangku tak cukup untuk membaar dua cangkir kopi ini?” Hyuk mulai mengeluarkan jurus ‘tak ada uang’ nya kepada Kris.

                “kau bisa membayarnya dengan tubuhmu.” Ucap Kris sadis.

                “yak!! Baiklah aku akan membayarnya tapi kau harus janji, setelah istrimu kembali baik padamu, kau harus membayar hutangmu..!!“ serunya.

                “hmm..next time...”

“YAKK!!! WU YI FAN!!”

Kris langsung berjalan keluar tanpa menghiraukan lolongan derita si Hyuk Jae dari dalam cafe. Pikirannya kembali di selimuti dengan Minah yang masih marah dengannya.

Perlahan dia mengemudikan mobilnya pulang ke rumahnya dengan harapan akan mendapatkan kehangatan cinta dari istrinya.

*
Kris’s POV

                “huh? Apa benar yang dikatakan Hyuk Jae hyung?” aku diam-diam mulai memikirkan ucapan dari Hyuk Jae.

                “Minah... sekuat apa kau sampai aku tak bisa menandingimu?” aku mulai meracau. “bahkan aku rela cuti siang ini hanya untuk menemuimu..” keluhku.

                DEG! Aku melihat sebuah mobil mewah terparkir di depan rumahku. Nuguya?

                Aku memarkirkan mobilku di depan rumahku dan berjalan mengendap-endap ke arah pintu masuk.

                Sebelum aku membuka pintu rumahku, pintu itu sudah terbuka..

“nanti aku akan datang lagi ke sini, ne?”

Aku mendengar suara seorang namja sebelum pintu itu sepenuhnya terbuka. Nuguya? Minah bersama siapa? Di rumah? O.O

“ne, aku menunggumu Seungho oppa..” sahut istriku.

Pintupun terbuka sepenuhnya, Minah dan namja itu terkejut saat melihat kedatanganku.

“emm... Minah.. sepertinya aku harus permisi sekarang.. permisi Tuan Wu..” kata namja yang mencoba tersenyum padaku.

Cih.. darahku sudah benar-benar naik ke ubun-ubunku. Bagaimana bisa Minah bersama dengan namja itu di rumah? Kata-kata Hyuk Jae kembali terngiang di telingaku. Pria.Idaman.Lain?

“Kris-ahh..” Minah mencoba menyapaku dengan nada lembut.

“mmm?”  aku langsung berjalan melewatinya, menuju ke kamarku dan mengganti bajuku.

“kau mau kemana?” Minah menanyaiku saat melihatku sudah mengganti pakaianku dan kembali meraih kunci mobil.

“bukan urusanmu!!” jawabku ketus. Arrgghhh!!

Aku masuk ke mobilku dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
*
“Gyaaahhh!!” aku menghempaskan tubuhku di atas sofa.

“waeyo? Kenapa wajahmu kusut sekali?” tanya eommaku.

“Minah...”

“wae?”

“semalam dia marah-marah..” lanjutku.

“hmmm...  apa dia sedang datang bulan?”

“ani..”

“lalu? Apa yang membawamu kesini?”

“dia bersama dengan namja di dalam rumah dan dia tak meminta ijin terlebih dahulu.. apalagi dia memanggilnya dengan sebutan Oppa=_= ” aku memijit keningku. Semua ini benar-benar membuatku pusing.

“mungkin saja itu teman semasa kecilnya, jangan berpikiran yang tidak-tidak Wu fan-ahh..”

“terus apa yang membuatnya sensitif?” tanyaku frustasi.

“ mungkin saja kau hanya belum bisa membahagiakan istrimu...”

“maksud eomma?” aku menatap eomma dengan tatapan tak percaya. Lagi? Tak bisa membahagiakan istri? Dalam hal apa?

“maksud eomma... dalam masalah ‘ranjang’ ” eomma membisikkan kata-kata menjijikan itu kepadaku.

“apa hubungannya? -____-” aku semakin dibuat pusing. Kenapa eomma bisa mempunyai pendapat yang sama dengan monyet itu.

“berapa lama istrimu tak ingin disentuh olehmu?”

“hampir 24 jam..” jawabku mantap.

“itu berarti dia tak mempunyai pria idaman lain..” eomma menerangkan hal ini padaku.

“bagaimana dengan masalah ‘ranjang’?”

“molla, hanya menebak, bisa saja kan kau tidak melayaninya dengan baik. Aku tak bisa memastikan lebih jauh, kau bisa menanyakan itu pada istrimu sendiri... ingat, tanyakan baik-baik. Ne?”

“arasseo..” jawabku.

“ne, lebih baik kau tenangkan dirimu di sini , eomma sangat merindukanmu... ” eomma beranjak dari tempat duduknya dan memelukku erat.

“ne eomma, aku akan pulang nanti malam saja...” aku mengiyakan permintaan eommaku. Haha. Aku merasa benar-benar mirip dengan Dennis sekarang. Sudah kubilang, aku dan Dennis itu sama..

“sesekali bawalah Dennis ke sini Wu fan-ahh.. eomma sudah merindukannya. Dia benar-benar mirip denganmu... ahh Wu kecil... cucuku~”

“ne eomma... dia benar-benar tumbuh menjadi anak yang aktif. Aku bahkan kewalahan mengurusnya...”

“hahha, sewaktu kecil kau bahkan lebih aktif daripada dia..”

“bzz...eomma..-_-”

*
11.00 PM~
Author’s POV
               
“kau belum bisa membahagiakan istrimu...”

“mungkin kau belum bisa memuaskan istrimu..”

kata-kata itu kembali muncul di benak Kris. Ucapan Hyuk Jae hyung dan eommanya benar-benar membuatnya frustasi....

Kris membuka pintu rumah perlahan, ia mendengar suara Minah.

“ahh...nanti aku akan menelponmu...” Minah langsung menutup teleponnya.

“siapa yang kau telpon?” tanya Kris tiba-tiba.

“anu.. Seungho Opp...”

BRAKK!! Kris langsung memukul dinding, tangannya mengepal saat mendengar nama Seungho disebut, dia menarik tangan Minah dan menyeretnya ke kamar.

“yakk... Kris-ahh,.. lepaskan...” Minah merasakannya lengannya berdenyut nyeri saat Kris menarik tangannya.

Kris langsung menutup pintu kamar dan menghempaskan Minah ke tempat tidur. Tangannya mengunci kedua tangan Minah saat Minah mencoba melepaskan diri darinya.

“Kris... apa yang kau..mpphh....mpphhh” Kris mengunci mulut Minah dengan bibirnya. Dia mencium Minah dengan kasar.

Merasa Minah mulai kehabisan napas dan berhenti melakukan perlawanan kepadanya, Kris mulai bisa menguasai dirinya. Ada sesuatu yang membakar hati dan perasaannya. Dia..cemburu....

Perlahan dia mulai melepaskan ciumannya.

“katakan padaku siapa Seungho?” Kris memperbaiki posisinya. Tubuhnya disandarkan pada ujung ranjang.

“hah...hah...” Minah benar-benar kehabisan napas oleh ulah Kris, “dengarkan penjelasanku dulu...”

“ne..” Kris memijit keningnya dan berusaha mendengarkan penjelasan dari istrinya.

“Seungho oppa itu anak sahabat appaku. Kami sudah lama berteman. Dia kemarin kesini... hanya untuk memeriksa keadaan Dennis..”

“mwo?? Bahkan Dennis sakit saja kau tidak memberitahuku?”

“ani...Dennis tidak sakit... kemarin itu...” Minah mulai menceritakan tentang Dennis.

Flashback

“Appa berangkat kerja,ne?” Kris mengecup dahi Dennis dan Minah.
           
“jangan pulang lagi, yah appa...” Dennis melambaikan tangan kepada Kris.
           
“aisshh.. tidak boleh begitu sama appamu sayang..” Minah mencubit pipi Dennis pelan dan menunggu Kris masuk ke mobil dan meninggalkan mereka.
           
“kamu main dulu, ne? Eomma mau memasakkan bubur untukmu... ”
           
“Dennis mau mengajak Nessa main kesini eomma...”
           
“Nessa? Nugu?”

            “yeojachingu Dennis laa”

            “mwo?” Minah membelalakkan matanya. “Ada-ada saja. Sudah sana main dengannya. Eomma mau ke dapur”

            Minah meninggalkan Dennis yang pergi menjemput Nessa. Selesai memasak Minah mendapati Dennis yang tengah bermain dengan Nessa.

            “yak! Dennis... sini...” Nessa berlari mengejar Dennis.

            “kejar Dennis laaa...” Dennis berlari memutari Nessa.

            “yak! Dennis-ahh... kyaaaaaa...” Nessa terjatuh saat mencoba mengejar Dennis.

            “Nessa!” Dennis langsung berlari menemui Nesssa dan membantunya berdiri, “uljimaa... aku akan menyembuhkanmu...” Dennis langsung mengecup pipi Nessa.

            “yak! Kenapa kau menciumku?” tanya Nessa bingung.

            “Dennis belajar dari appa. Appa sering mencium eomma..”

            “jinjja?”

            “ne.. appa juga mencium eomma di sini...” Dennis mendekatkan bibirnya ke arah Nessa dan menciumnya.

            “yak! Dennis apa yang kau lakukan??!” Minah langsung mendatangi Dennis.

            “Dennis hanya bermain dengan Nessa eomma..” Dennis memandang Minah dengan tatapan memelas.

            “tapi tidak boleh begitu sayang, cepat masuk eomma mau berbicara denganmu.” Minah langsung menyuruh Dennis masuk dan mengantarkan Nessa pulang ke rumahnya.

            “maafkan Dennis ya sudah membuatmu kaget.” Minah meminta maaf kepada Nessa sebelum Nessa masuk ke rumahnya.

Flashback end.

                “haha... jadi... seungho itu psikolog?” Kris terkikik mendengar tentang kelakuan Dennis.

                “ne..”

                “kenapa kau tak mengatakannya padaku?”

                “karena aku tau kau takkan menanggapi masalah ini.”

                “kenapa Seungho harus datang kesini? Kenapa kau tidak membawa Dennis ke klinik saja?” selidiknya.

                “kau lupa dengan kebencianmu terhadap hal-hal yang berbau kedokteran? Dennis mewarisinya darimu. Makanya aku yang meminta Seungho datang ke sini...”

                “Ooh... sebagai appanya, aku mendukung Dennis berpacaran dengan Nessa..” terang Kris bangga.

                PLETAKK!

“kau pikir umur Dennis berapa? Hah? Shireo! Dia tak boleh berpacaran...” Minah mendaratkan pukulan ringan ke kepala Kris.

“ Aw!! terus? Kenapa harus ke psikolog?”

“karena dia meniru perbuatan mesummu-___-  aku tak ingin mendapat kabar anakku menjadi mesum sepertimu..” Minah mengerucutkan bibirnya.

“haha.. lalu.. apa kata psikolog itu??”

“dia bilang, ini masa-masa Dennis meniru segala hal jadi disarankan kita tak boleh melakukan hal yang aneh-aneh dihadapan Dennis...”

“mwoo? Aku tak pernah melakukan hal-hal aneh padamu..” protes Kris.

“kau pikir menciumku di hadapan Dennis itu bukan hal yang aneh? Eoh?” lagi-lagi Minah mengerucutkan bibirnya.

“itu kecelakaan-- ” Kris mencoba membela diri, “kau ingin tahu apa yang dikatakan eomma dan rekan kerjaku tentang masalah ini?”

“apa yang mereka katakan??”

“mereka bilang kau tidak puas denganku di atas ranjang..” Kris mendekatkan bibirnya ke kuping Minah. Dia sengaja menghembuskan napasnya di sekitar leher Minah.

“MWOOO??” Minah membelalakkan matanya kaget.

“makanya....aku ingin membuktikannya dan membuatmu puas malam ini..” Kris mulai mendekati Minah dengan tatapan yang mengerikan.

“Kris..hentikan...aku..aku...” Minah menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

“apa?” tantang Kris.

“jangan sentuh aku atau aku akan teriak...” Minah mulai mengancam Kris.

“aku tak peduli...” Kris terkekeh pelan.

“Kris-ah aku mohon hen..,mmpphh..mpphh...”

“diam Nyonya manis...aku bersumpah akan menghancurkan teori tentangku itu...”

“apa maks...mmpphh...mpphh...”
***
Kyahhahah akhirnya selesai juga ff nista ini... gimana? Jelek? Oh iya udah tau-_-v
‘-‘)/ bye reader ‘-‘) sampai jumpa lagi’-‘)? Di sekuel berikutnya’-‘)/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar