Sabtu, 23 November 2013

LOS BATU (Part 1)


Author : @meiokris
Cast :
·         Kris EXO M a.k.a Wu Yi Fan/ Kevin Li
·         Mei a.k.a Mei Li
·         Aleyna Yilmaz a.k.a Aleyna Wu
·         Baekhyun EXO K a.k.a Byun Baekhyun/Bian Bai Xian
·         Chanyeol EXO K a.k.a Park Chanyeol/ Pu Canlie
Genre : romance, drama, angst, hurt, tragic
Rate : 16+
Length : chaptered
 ***
Lantai keramik putih yang dingin membelai telapak kaki seorang bocah berusia 8 tahun itu. Ya nampaknya dinginnya lantai itu tak menyurutkan langkahnya untuk menyeret boneka beruang seukuran tubuhnya menuju sebuah ranjang putih.
Tangan mungilnya perlahan mulai menarik tirai berwarna putih di samping ranjang ibunya, “selamat pagi ma” ia mengecup kening sang bunda yang terasa hangat di bibirnya.

Mei’s POV
Aku membuka mataku perlahan begitu menyadari ada sesuatu yang hangat menyentuh keningku.
“Aleyna” bisikku lirih.
Pandanganku yang semula kabur kini perlahan mulai menjelas dan ya… di sana aku kembali melihat mata hazelnya, mata yang sangat mirip dengan seseorang yang sangat kurindukan.
“ma, tadi Aleyna tidur bersama Roro menunggu appa pulang” jelasnya sambil mengangkat boneka beruang cokelat di tangannya.
Aku tersenyum dan mengangguk pelan. Harusnya pagi ini aku bisa sedikit lebih sehat, namun entah kenapa sakit ini kembali mendera….
“berikan eommaku suntikan pereda sakit dokter…!!!” jerit Aleyna histeris begitu melihat tubuhku kembali mengejang. Hanya sepenggal kalimat itu yang bisa kudengar..selebihnya aku merasakan tubuhku melayang….

18 april….
Wei Kasino, Hongkong.
11.00 PM
“Mei, pulanglah… ini sudah tengah malam” Yixing teman seprofesiku di bar ini mengingatkan.
“pelanggan masih banyak” tolakku halus sambil meletakkan pesanan di nampan.
“biar aku saja yang melakukannya” Yixing masih berusaha membujukku.
“aku bisa sendiri..” ujarku sambil terus berlalu, berjalan mengantarkan pesanan kepada tamu di meja no. 4
“ini Tuan..” ujarku langsung menyodorkan kepada pelanggan, dia menanggalkan jaket kulit cokelatnya dan terus mengisap rokoknya, dengan mengenakan Tshirt bergambar tengkorak dan kacamata hitamnya, ia tak terlihat menonjol di antara pelanggan yang lain, hanya saja bentuk pahatan wajahnya yang sempurna membuatnya terlihat berbeda, dia sangat tampan.
Dari sudut mata lelaki –yang sepertinya umurnya hampir sama denganku- sangat jelas terpancar di wajahnya bahwa ia sedang depresi.
Pandangan lelaki ini kemudian beralih padaku, “eumm… ada lagi yang bisa kubantu?” tanyaku lagi yang berusaha memecahkan atmosfer kecanggungan ini begitu aku menyadari ia menatapku lekat di balik kacamatanya, ya bahkan aku menyadari betapa indah matanya di balik kacamata itu.
Dia tak langsung membuka mulutnya, hanya sekedar tersenyum kemudian merogoh kantong celananya dan mengeluarkan uang beberapa lembar, “ini tip untukmu mala mini, pulanglah… nanti kau celaka” pintanya.
Sorot matanya yang tajam dan suaranya yang tegas namun lembut itu menghipnotisku sesaat dan membuatku melayang dari tempatku berpijak.
Pahatan wajahnya yang sempurna dan suaranya yang memabukkan membuatku tak kuasa menahan berat tubuhku sendiri, aku hampir kehilangan keseimbanganku, “eh? Maksud tuan?” tanyaku gelagapan.
Lelaki ini mengisyaratkanku untuk mendekat, ia membisikkan sesuatu ketika aku mencondongkan tubuhku….
“pulanglah…” hanya itu yang terdengar di telingaku, ia mengatakannya perlahan sambil menghembuskan napas di dekat telingaku, aroma tembakau yang khas menyeruak masuk ke rongga hidungku. Ada sensasi yang menggelikan di sini dan cukup membuat bulu kudukku meremang.
“jangan bergerak!!” tiba-tiba saja tiga orang lelaki kekar masuk ke dalam bar dan membuat keributan..
Mereka menghancurkan isi bar dengan membabi buta.
“aaaaaaaaaaa” aku merunduk ke bawah meja mendengar suara pecahan botol dan cipratan darah di sekitarku, semuanya terasa begitu cepat…
Lelaki ini hanya diam di tempatnya, tubuhnya mengeras dengan tangan sedikit mengepal sambil menggenggam sebuah senjata api, aku bergidik melihat orang yang tadi kulayani membawa senjata api.
Saat itu aku mulai merasa pusing, bau darah dan alcohol yang tercampur membuatku mual, tiba-tiba saja aku merasakan seseorang menarik lenganku paksa dan menyeretku keluar, lelaki itu langsung memakaikan jaketnya dan memaksaku pergi, “ikuti aku” komandonya yang langsung mendekapku dan mengajakku ke luar ruangan.
Susah payah aku menghindari pecahan kaca agar tak menusuk kakiku, semuanya terasa begitu cepat dan memusingkan.
“hei…kau!!” seorang lelaki yang melihat kami langsung menembakkan rentetan peluru yang langsung dibalas oleh lelaki ini, aku berteriak dalam dekapannya begitu mendengar suara peluru di telingaku, bubuk mesiu bekas tembakan mulai menyeruak. Tubuhku bergetar hebat saking takutnya,aku tak begitu ingat… hanya bisa merasakan sebuah botol wine pecah di dekatku, entah itu mengenainya atau tidak aku tidak tahu.
Dia terus menyeretku hingga kami berhasil keluar dari bar, sekitar 200m dari bar aku merasakan lelaki ini menumpukan berat tubuhnya di punggungku, perlahan jalannya mulai melambat hingga akhirnya ia berujar, “aku tak sanggup lagi…” dan langsung roboh di depanku.
Kalau saja aku tak menangkapnya mungkin ia sudah jatuh terjerembab mencium tanah. Jantungku berdetak kencang, apapun yang terjadi aku harus menyelamatkan pria ini.
Samar-samar aku melihat di seberang sana ada dua orang anak remaja berambut hitam kelam yang aku kenal, aku langsung berteriak memanggil mereka , salah seorang dari mereka menyadari keberadaanku sampai akhirnya mereka berlari menolongku.
“kakak Mei, apa yang terjadi?” Tanya Bai Xian panic.
“Xiao Bai, Can, bantu aku menyelamatkan pria ini” sahutku terengah-engah sambil memerintahkan mereka berdua untuk memapah lelaki ini pulang ke rumah kami.
Bian Bai Xian dan Pu Canlie, atau lebih dikenal dengan Baekhyun dan Chanyeol sebagai nama asli Korea mereka adalah teman, saudara sekaligus orang terdekat yang kukenal di dunia ini selain kakak kandungku.
“pelan-pelan turunkan mereka di sini..” pintaku, lelaki ini sebenarnya masih samar hanya saja ia masih kelihatan sangat lemah, mungkin karena kelelahan…entahlah…
“kak…kalau kami harus tidur di lantai, kami rela” ujar Bai Xian kepadaku dan didukung oleh anggukan mantap dari Pu Canlie, ahh….aku baru sadar kalau aku baru saja kehilangan tempat tidurku.
Rumah kami hanya memiliki dua buah kamar, Bai Xian dan Pu Canlie sudah berbagi kamar, sisanya aku sendiri.
“tenanglah jangan risaukan aku..” ujarku sambil melirik tempat tidurku yang rapuh itu kini sedikit berdecit akibat menahan beban yang tak seringan biasanya.
Canlie diam-diam pergi ke dapur dan kembali dengan membawakan kompresan dan kotak obat di tangannya.
“bersihkan dulu luka di wajahnya..sepertinya dia terkena pecahan kaca” saran Canlie.
“yayaya” aku dengan sigap langsung meraih kompresan dan mulai membersihkan lengan-lengannya yang sedikit kotor.
Bai Xian dan Canlie permisi keluar kamar, membiarkanku  seorang diri. Aku membuka kacamatanya perlahan, sekarang aku bisa mengamati wajahnya yang tercetak sempurna tanpa cela. Sesekali ia meringis menahan sakit saat aku membersihkan luka gores di sekitar kepalanya.
“aw…” dia meringis menahan sakit begitu aku mengoleskan obat luka pada dahi kanannya yang tergores pecahan kaca.
“maaf…” begitu kataku berulang kali sampai akhirnya dia bosan mendengarnya dan tangannya meraih tanganku. Menggenggamnya sebentar kemudian melepaskannya.
Ahh otot-otot tubuhku terasa lemas, sentuhannya begitu lembut dan membuat kerja otakku juga semakin lambat. Aku hanya bisa tertegun melihat ke arah tanganku yang rasanya sudah tak bisa merasakan berbagai sentuhan lainnya. Dia… mempesona….
Ia kembali meringis sambil sesekali mulutnya berdesis menahan perih.
“sudah selesai engg….” Aku sengaja tak menyelesaikan ucapanku karena bingung harus memanggilnya apa.
“Wufan… panggil saja Wufan” sahutnya sambil tersenyum.
Aku tersenyum kikuk, “makasih sudah menyelamatkanku tadi, Wufan”
“no problem, thanks sudah merawatku” sahutnya.
Aku mengangguk kemudian permisi keluar untuk meletakkan obat dan kompres ini.
“kak Mei… kau ingin tidur berdua dengannya?” goda Bai Xian begitu saja ketika aku tengah menuju ke dapur.
“lantas… kalian ingin membagi tempat tidur denganku?” pancingku kepada Bai Xian yang tengah sibuk menonton televisi bersama Canlie. Aku berani bertaruh ucapan mereka Cuma isapan jempol belaka.
Bai Xian dan Pu Canlie saling menatap. Dalam urusan bagi membagi ranjang dengan wanita tentulah hal ini sangat sulit dilakukan. Kalaupun dilakukan di antara mereka haruslah siap mengalah dan memilih tidur di lantai.
“haduuh tiba-tiba kepalaku pening dan hidungku pilek, sepertinya aku tidak bisa mengalah kali ini...” ujar Canlie dengan nada suara menyesal.
“Bodoh! Kau mau membiarkanku mati kedinginan? Hah?” Bai Xian langsung memukul kepala Canlie.
“kau kan lebih tua daripadaku harusnya kau mengalah... Baekhyun hyung...” protes Canlie.
“kita hanya berbeda beberapa bulan dan tubuhmu jauh lebih besar daripadaku...” yang diprotes ikut berkelit tak mau mengalah.
“hei...heii... kalian ini... aku takkan mengganggu kekuasaan kalian. Aku yang akan tidur di lantai kamarku.” Ujarku menengahi.
“tapi... kau yakin dia bukan orang baik-baik?” tanya Bai Xian.
“menurutmu?” aku balik bertanya.
“aku...tak yakin... kau menemukannya di bar kan? Bisa saja kan kalau dia itu.....” Bai Xian sengaja tak melanjutkan kalimatnya.
“ahh...seandainya kita punya banyak uang mungkin kita juga sudah bermain di kasino untuk berjudi..” Canlie membelaku.
“menurutku sih dia laki-laki tinggi-tampan-kaya yang waktu itu memberikan kita makanan yang akan menjadi suami kak Mei nanti” Canlie mulai berangan.
Aku tersipu malu mendengar ucapan dari Canlie, “jangan terlalu banyak berkhayal..” aku mengingatkan, “lelaki itu sepertinya butuh bantuan, aku takkan tega meninggalkannya dalam keadaan sakit begini.. bisa-bisa nanti besok kita akan mendapat kabar kematian..” candaku.
Bai Xian hanya terdiam membisu dan Canlie sudah mulai memperlihatkan gigi-gigi rapinya kepadaku. Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan mereka ke dapur dan kembali ke kamarku.
__
“Wufan.....” aku membuka pintu kamar tidurku sendiri dan mendapati ia yang tengah tertidur di kamarku.
Aku memutuskan untuk mengecek suhu tubuhnya, “hangat” gumamku ketika mendaratkan kedua tanganku di dahi mulusnya.
Kompresan yang kubawa ke dalam kamarku langsung kuperas dan kutempelkan pada dahinya. Ahh, aku tertegun sebentar melihat wajahnya. Meskipun kelihatannya ia sering bergulat di medan persenjataan atau apapun lah namanya. Tak dapat kupungkiri ia memiliki wajah malaikat.
Aku tersenyum untuk beberapa saat mendapati seorang lelaki yang tergolek lemah di tempat tidurku. Tanpa sadar tanganku bergerak menuju ke arah pipinya, ingin menempelkan permukaan telapak tanganku sekedar untuk menyentuh pipinya.. taapi.. niat itu kuurungkan.
Aku hanya menggumamkan ucapan selamat tidur di dekat kupingnya sebelum akhirnya memutuskan untuk menggelar tikar di bawah dan hanyut dalam bunga tidurku.
____
 21 April..
Lelaki -yang setelah aku selesai membersihkan lukanya mengenalkan dirinya sebagai Wufan- kini sudah tiga hari tinggal di rumah kami, dia mengalami gejala tipus, ketika melihat makanan saja dia sudah ingin muntah.
Aku yang tak bisa membiarkannya sendiri akhirnya terus menerus menjaganya, terkadang bahkan jatuh tertidur saat melayaninya.
 “kak Mei...”  Bai Xian yang melihatku keluar dari kamarku memanggilku.
“ya?” aku mengiringinya yang berjalan menuju balkon.
“kak... kau menyukainya?” tanyanya.
“ehemmm...” aku berdehem pelan. Kaget dengan pertanyaannya.
“jangan katakan padaku kalau kau juga sudah mencintainya? Ah kak, dia bukanlah pria baik-baik..” keluhnya, “kelihatannya dia memang orang yang berduit tapi... bagaimana kalau dia kaya dengan cara yang salah?”
“kau ini, bagaimana bisa memiliki pemikiran sebejat itu?” serangku
“jelas saja, kau bertemu dengannya di bar, tengah malam dan dalam keadaan dia membawa pistol. Kak, kau pikir aku bodoh? Kita sedang dalam masalah besar...”
aku terdiam membisu.
“bahkan kau tak tau tempat tinggalnya dimana. Bisa saja dia adalah anggota sindikat kejahatan. Kak kau sudah gila membawanya ke keluarga kita..”
“ya.. aku memang sinting, setidaknya aku masih punya naluri untuk menyelamatkannya..”
Xian tertawa getir, “menyelamatkan apa? Kau menyelamatkan orang yang akan menjerumuskan kita pada masalah yang pelik. Kau.. kau tau hidup kita sudah susah. Bahkan aku tak tau apa-apa masalah dalam negara ini karena kerjaku hanya sibuk mencari uang bersama Canlie... jangankan untuk mengenali wajah-wajah anggota mafia yang tersebar di Cina ini... menonton berita saja tak ada waktunya..”
“cuci dulu otakmu sana, otakmu sudah tercemar karena terlalu banyak menonton film yang disuguhkan oleh Xiao Can..” sindirku.
“hah? Kau pikir mafia jahat itu hanya ada dalam dunia perfilman? Bagaimana dengan pembaruan undang-undang di Jepang karena ulah para penjahat Cina? Selain mafia yang sering terlibat dengan pembunuhan, terkait masalah perdagangan antar negara dan pencucian uang, bukankah para penjahat Cina juga  benar-benar identik dengan kotoran, sampah, tempat buang air kecil masyarakat, pencuri, prostitusi, terkait segala kegiatan kekerasan, ilegal dan percabulan dilakukan semua oleh mereka. Kejahatan dari paling terendah sampai yang umum seperti pencurian penjambretan.. jelas sekali ada banyak orang yang harus kita waspadai di sini... Kak.. meskipun aku tak begitu mengerti budaya Cina yang menjunjung tinggi seorang wanita dan keperawanan atau tidak,terlepas dari tindak kejahatan yang bisa saja terjadi, kuharap kau tak menyerahkan keperawananmu padanya, kudengar para mafia dan orang jahat suka mengencani wanita... lagipula, aku lebih rela kau mati tertusuk ribuan mata pisau di tubuhmu atau terpeleset dan jatuh ke jurang tanpa dasar dalam keadaan perawan tua daripada harus melihatmu menanggung derita dan harus meninggal karena penyakit seks menular..” ujar Bai Xian panjang lebar.
Aku tak kuasa menahan tawaku sampai airmataku keluar, “hahaha bodoh... kau seenaknya saja mengatakan semua lelaki bersenjata itu mafia dan mempunyai penyakit seks menular? Teori macam apa itu? Tak usah mencemaskanku... urus saja dirimu dengan suamimu Xiao Can..” gurauku.
“hah? Kau pikir aku gay? bodoh” sahutnya kesal.
Aku langsung berkelit sebelum dia melemparkan sesuatu ke arahku dan pergi menjauhinya dengan lidah terjulur ke arahnya sebelum akhirnya menghilang masuk ke dalam kamarku.
“kak.. kudengar apabila seseorang baru pulih dari sakitnya maka keinginan untuk ‘menyerang’ akan lebih besar” celetuknya dari balik pintu kamarku.
“brengsek kau!!” umpatku. Sebenarnya aku tak berani tidur di sampingnya. Aku akan menggelar tikar di samping tempat tidurku.. paling kalau aku kedinginan aku memutuskan untuk tidur di ranjang dengan posisi duduk.
Wufan menggeliat pelan dari tidurnya.
“ahh..kau sudah bangun?” aku menoleh ke arahnya langsung pergi menghampirinya dan mengecek keadaan tubuhnya.
Syukurlah demamnya sudah turun. Hari ini Wufan makan banyak, meskipun tak begitu banyak bicara tapi ia sudah mampu menghabiskan separo lebih dari bubur yang aku buat.
“kemarilah...” Wufan berbicara meskipun matanya masih tertutup.
“apa?” tanyaku bingung saat tangannya menyentuh punggung tanganku dan menggenggamnya erat. Ada desiran halus lagi yang menghampiriku... aku yang tak pernah disentuh oleh lelaki ini tentu saja hal ini membuat kejutan luar biasa bagi jantungku.
Wufan membawa tanganku dan meletakkan di dadanya.
“apa? Jantungmu masih berdetak...” kataku bingung,
“kau bisa mendengarnya?” tanyanya masih dengan mata tertutup.
Aku mengiyakan.
Akhirnya bola matanya bergerak-gerak dan ia membuka matanya perlahan “kemarilah.. kau sudah lelah kan karena sering terjaga dan menjagaku, apalagi cuaca akhir-akhir ini sangatlah dingin... sekarang gantian aku yang akan menjaga dan menghangatkanmu..” ujar Wufan.
“heh??” aku teringat ucapan Bai Xian dan langsung mundur selangkah dari hadapannya, dia terkekeh melihat tingkahku, “gadis bodoh.. kemarilah... aku takkan menyakitimu.. aku hanya akan memelukmu. Kau tak ingin melihatku sembuh?”
“apa hubungannya?”
“Kudengar berbagi penyakit dengan orang lain dapat mempercepat proses penyembuhan” guraunya.
Aku tertawa kecil, akhirnya memutuskan untuk merebahkan diri di sampingnya. Wufan langsung mendekapku erat.. bibirnya bergerak-gerak di atas kepalaku.
“kau tau beberapa hari ini aku memimpikan gadis yang bahkan aku tak tau namanya..” dia mengelus pelan rambutku.
“siapa?”
“kau..” dia mengeratkan pelukannya, “sudah lama sekali aku tak merasa senyaman ini.. kau tau? Saat aku sakit tak ada yang mau merawatku. Mereka yang menjulukiku hidup membawa bencana, matipun membawa sial lebih memilih tak ingin merawatku ketimbang harus membiarkanku terus bertahan hidup atau melihatku mati di depannya..”
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, rasanya sulit sekali menetralisir detak jantungku yang sudah semakin tak terkontrol lagi..
“siapa namamu?” tanyanya.
“Mei Li...” jawabku sedikit terbata masih tak percaya pertanyaannya.
“Mei? Kau lahir di bulan Mei? Ahahah menggelikan...meimei..” dia tertawa kecil, aku merasakan bahunya sedikit berguncang karena tertawa.
“kau tidurlah... sudah beberapa hati ini kau kurang tidur kan? Aku akan mejagamu.. aku takut hasratku muncul saat tengah malam apabila kau terus berjaga, apalagi kalau kau terus menggeliat di pelukanku.. jadi... tidurlah.. Mei...”
Aku tertawa kecil, mendorong tubuhnya pelan... ia tak bergerak. Akhirnya aku memejamkan mataku dan karena sangat lelah aku langsung tertidur di dalam dekapannya.
**
Esoknya….
“selamat pagi di keluarga besar Bian..” ujar Bai Xian yang langsung seenaknya saja mengatakan namanya untuk mengganti nama marga kami.
“hahahah” Canlie tak henti-hentinya tersenyum pada Wufan, “kau betah tidak tinggal di sini?”
Wufan mengangguk senang meskipun tubuhnya masih lemah ia tetap memaksakan dirinya untuk duduk di meja makan.
“semalam melakukan apa saja?” serang Bai Xian.
“menyusun rencana untuk mencuci otakmu..” sahutku ketus yang langsung disambut oleh tawa dari Canlie.
“oh ya, tak kusangka akhirnya aku bisa membalas kebaikanmu yang telah menolong aku dan Baek ehmm Xian ketika kami benar-benar kesusahan..” ujar Canlie.
“ahh.. itu tak ada apa-apa kalau dibandingkan kalian yang telah menolongku..” ujar Wufan kalem sambil melirik ke arahku.
Aku yang merasa dilirik hanya bisa menundukkan kepalaku.

___

Tok..tok..tok.. aku mendengar suara pintu di ketuk dari luar, “biar aku yang membukakan..” ujarku yang langsung melesat ke luar.
“oii oii..” tamu yang kubawa masuk meminta izin untuk bisa menengok Wufan. Aku yang melirik ke arah mobil yang dikendarainya dan pakaian yang dikenakannya akhirnya percaya kepadanya dan membiarkan dia masuk.
“hei Bro...” sapa lelaki Korea ini.
“Jongdae?” tanya Wufan yang terlihat tak begitu terkejut dengan kedatangannya.
“pantas kau betah terdampar di sini bersama cewek cantik rupanya.” Celetuk Jongdae. Aku pura-pura tak mendengar.
“brengsek kau..!!” umpatnya.
“hahah kudengar kau diserang kawanan pedagang yang sedang berkelahi di bar ya? Kasihan sekali nasibmu sudah jatuh tertimpa tangga pula.” Jongdae menatap Wufan dengan tatapan sedikit prihatin.
“pulanglah kalau kau ke tempatmu kalau kau di sini hanya ingin mengejekku..” usir Wufan.
“hahaha aku ingin menjemputmu Tuan muda Wu Yi Fan..” ujar Jongdae sambil memperlihatkan deretan giginya, “aku ingin membawamu ke panti, setelah ini kau harus mengurus masalah yang terjadi di keluargamu. Oh ya, hari ini aku ditugaskan khusus untuk menjemputmu. Lihatlah...” dia memamerkan sebuah kunci mobil.
“jadi? Kau ingin menculikku?” tanya Wufan sambil terus mengunyah makanannya.
“haha aku akan membawamu ke panti hari ini..”
Aku menatap bingung ke arah mereka, tuan muda? Mobil? Anak orang kaya?
“ey.. ngomong-ngomong siapa namamu?” lelaki yang bernama Jongdae mengalihkan pandangannya dan beralih menatapku.
“jangan kau gunakan mata keranjangmu di sini...” sindirnya.
“ahahaha” sekali lagi Jongdae tertawa, “aku tahu dia milikmu. Kau lebih dulu melihatnya bukan? Baiklah aku akan mengalah daripada aku harus kehilangan pekerjaanku.”
Mereka terus bercengkrama, sementara itu sudut mataku melihat Bai Xian dan Canlie melontarkan pandangan tak suka mereka kepada Jongdae. Aku lebih memilih diam seribu bahasa.
Setelah Wufan selesai makan dia pun berpamitan padaku.
“lain kali mampir ke sini lagi kak.. kau tak ingin kan mendengar tewasnya seorang gadis yang sedang terkena malarindu bukan?” goda Canlie.
Aku memelototi Canlie dengan kesal. Bai Xian hanya terkekeh melihatku yang salah tingkah.
Wufan hanya tersenyum, “tentu saja aku akan datang karena aku masih berhutang budi padanya.”
Mereka pun memasuki mobil mewah dan perlahan meninggalkan rumah kami.
“kau lihat? Dia anak orang kaya. Tentu saja. Aston Martin One-77 silver itu saja sudah menunjukkan bahwa dia benar-benar anak orang berada..” gerutu Bai Xian, “plat nomor depannya 426. Sebuah angka yang sangat jarang ditemukan di Cina. Lain kali aku akan mengecek ke kantor polisi masalah kepemilikan plat.” Gumamnya.
Canlie yang prihatin melihat Bai Xian langsung mendekatinya dan menepuk bahunya pelan, “sepertinya ada kecemburuan sosial antara adik dengan kakaknya yang tiba-tiba bisa berkenalan dengan lelaki kaya ganteng, sudahlah, kulihat dia orang baik-baik. Setidaknya dia tak berniat mencelakakan kita ataupun kakak Mei. Apa kau tega membiarkannya menjadi perawan tua?”
Aku yang jadi bahan gunjingan langsung melotot ke arah mereka berdua dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
*

1 Mei~
 “kak.. aku dan Baekhyun eh... Bai Xian pergi dulu ya..” Canlie meminta izin kepadaku. Aku hanya tersenyum begitu ia menyebut nama Bai Xian, biasanya ia memanggil nama Bai Xian dalam bahasa Korea.
“mau kemana?” aku masih sibuk mencuci pakaian.
“main laa~”
“ahh ya, jangan pulang larut malam..” pesanku padanya.
“ahh.. kami ingin menginap di rumah teman” terangnya.
“heh? Menginap? Apa temanmu tidak keberatan?” aku menatap Canlie heran.
“ahh aku rasa tidak. Kami ada sedikit bisnis..” Canlie menaikkan kedua alisnya beberapa kali.
“ahh ya, setelah itu kau harus pulang...”
“iya kakak cantik..” cupp~ sebuah kecupan ringan mendarat di pipi kananku.
“aiishhhh!! Dasar!!” gerutuku. Anak ini memang kadang suka seenaknya saja. Terkadang melupakan umur kami yang hanya berbeda satu tahun.
Terkadang menyenangkan apabila mempunyai dua orang saudara sebaya yang kelakuannya tak sesuai dengan umurnya. Mereka mencari uang dengan kemampuan mereka sendiri. Terkadang kalau mereka benar-benar capek bekerja, mereka tak akan segan-segan menyamar menjadi pengemis dan bersandiwara di sepanjang gerbong kereta api. Meskipun kemampuan mereka dalam hal akting sudah tidak diragukan lagi tapi tetap saja mereka tak bisa mengelabui polisi. Lengah sedikit mereka bisa masuk ke tempat penampungan gelandangan dan pengemis. Untuk bisa menebus sendiri juga tetap harus membayar denda pada petugas, kalau dibiarkan dalam penampungan, aku yang tak tega.
Ting...tong...
Aku mendengar suara bel yang di tekan.
“ya...” sahutku yang langsung membasuh kedua tanganku dan berjalan menuju pintu.
Ahh.... meskipun pintu belum terbuka sepenuhnya aku langsung terpana melihat sosok laki-laki berjas hitam yang sedang berdiri di depan pintu, ia tersenyum padaku.
“kau...” aku tak bisa lagi menyelesaikan ucapanku saking gugupnya.
“selamat pagi tuan putri...” suaranya yang khas menggelitik kupingku hari ini.
Aku tersenyum, bahagia bisa melihat wajahnya sepagian ini, “kau mau apa?”
“astaga...aku baru datang sudah di todong dengan pertanyaan begitu, mana sopan santunmu? Membalas sapaanku saja tidak..” omelnya.
“ah ye” aku menghembuskan napasku, “selamat pagi juga tuan muda, ada yang bisa kubantu?” tanyaku yang langsung bertindak ala maid.
“tidak.. hanya ingin membayar hutangku kemarin. Aku membawakan ini..” dia memamerkan sebuah bungkusan plastik hitam di tangannya.
“apa itu?” aku mengamati.
“daging dan sayuran, kali ini aku yang akan memasakkan makanan untukmu..” ujarnya yang langsung nyelonong masuk ke dalam rumahku.
Sementara aku masih bengong melihat kekurang-ajarannya, “ayo masuk... jangan memasang tampang bodoh begitu..” ia mencibir.
“dasar...” aku merengut tapi tetap saja mengikutinya masuk ke dalam rumahku.
“kau tunggu di sini, biar aku yang menyiapkan semuanya...” ia menggeser kursi makanku dan mempersilakanku untuk duduk.
“kau bisa memasak?” tanyaku kagum.
“bisa...” dia berkata dengan congkak. Aku mencibir. Laki-laki ini....
Aku memperhatikannya dengan seksama, “”kau belajar memasak dari siapa?” tanyaku penasaran. Meskipun ia tak begitu cekatan tapi ia cukup lihai.
“aku belajar sendiri” sahutnya, “aw....!!” tiba-tiba dia berteriak, ia menghentikan aktivitasnya dan tangan kanannya memegangi tangan kirinya.
“kau kenapa?” aku yang kaget langsung meloncat dari tempat dudukku dan bergegas menghampirinya.
Ia meringis, “kau terluka? Tuhkan.. dapur memang tak bersahabat denganmu.. sini aku obati..” aku langsung bergegas mengambil kotak obat tapi aksiku langsung dihentikannya.
Wufan menahan tubuhku. Memutar bahuku pelan, “aku tak terluka” katanya yang langsung menangkupkan kedua pipiku dengan tangannya.
Jantungku rasanya mau jatuh, entah kenapa aku selalu terdiam, tak berkutik apalagi menolak dengan semua perlakuannya padahal baru kali ini ada seseorang yang berani menyentuhku.
Tanganku yang bebas terangkat dan menyentuh jari-jarinya yang masih menempel di pipiku. Ia menempelkan keningnya di keningku, menggesekkan hidungnya di hidungku perlahan, kemudian terkekeh pelan..
“karena kau sudah berhasil kukerjai jadi kau yang harus memasak..” perintahnya seenaknya.
“sialan...” aku merutukinya tapi akhirnya tetap menuruti permintaannya. Sambil melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti aku mengusirnya, “kau tunggu di luar saja”
“kenapa? Kau takut tak bisa berkonsentrasi?” ledeknya.
“menurutmu?” balasku galak.
“hahahha... aku keluar.....” ia membuat tanda menyerah dengan melambaikan tangannya sebelum akhirnya melangkah pergi ke luar.

Tok tok tok....
Aku mendengar suara pintu di ketuk.
“biar aku yang membukakan..” teriak Wufan yang langsung melesat ke pintu depan. Aku menghentikan aktivitas memasakku dan mengikutinya dari belakang.
“Yixing..” sapaku begitu pintu terbuka. Wufan berdiam diri di depanku. Sepertinya ia mengira aku akan tetap mengikutinya sekalipun ia melarangku.
“Mei....” balasnya. Sweater tebal, sarung tangan dan masker penutup tak membuatku ragu untuk menyapanya. Yixing memang sangat sensitif dengan udara dingin sehingga memang tak bisa dipungkiri kalau ia mengoleksi banyak sweater dan pakaian tebal lainnya.
“Mei... aku ingin berbicara padamu..” pintanya padaku. Sekilas ia melirik sosok yang jauh lebih tinggi darinya. Memintaku untuk bisa mengusirnya sebentar.
“mari kita bicara di luar...” saranku yang langsung menarik tangan Yixing ke luar.
“yaaa!! Mei... aku merindukanmuu...” Yixing langsung memelukku ketika kami sedang berdua.
“aku juga..” balasku memeluknya sambil menepuk-nepuk bahunya.
“kenapa kau tak masuk kerja?”
“belakangan ini aku sedang tak enak badan.” Dustaku.
“ah ye... engg.. Mei... kau menjalin hubungan dengan dia?” sepertinya ada nada berat yang akhirnya diucapkan oleh Yixing.
“ahh  ya, kau mengenalnya?” tanyaku hati-hati.
“tidak juga, tapi aku tahu siapa dia, Mei.. lebih baik kau tidak usah menjalin hubungan dengannya, dia itu lelaki mata keranjang, bajingan yang suka bermain wanita di kasino. Dia juga anggota....gank...”
Aku menghela napas pelan, “jadi kau kesini hanya untuk memperingatkanku?”
Yixing menggeleng pelan, “aku tak tahu kau menjalin hubungan dengannya.. dengar Mei.. aku harap kau bisa mengerti ucapanku. Ada seseorang yang jauh lebih baik dari dia..” Yixing menatapku. Aku merasakan kekhawatiran di manik matanya.
Aku tersenyum samar, “kau benar-benar tak bisa membuka sedikit saja hatimu untukku?”
“a...aku... minta maaf..” ucapku pelan.
Dia mengangguk. Lebih tepatnya dia berusaha menerima ucapan penolakanku yang mungkin sudah ratusan kali kuucapkan. Yixing memang tak pernah berbuat salah terhadapku atau menyakitiku, hanya saja aku yang tak pernah bisa menganggapnya lebih, sekalipun aku memaksa menyukainya, itu takkan berlangsung baik.
Aku sudah pernah memperjuangkan hatiku, membuka hatiku perlahan untuk bisa menerima Yixing di hatiku tapi tak pernah berhasil. Malah pertemuan pertamaku dengan Wufan semakin menjauhkan perasaanku dengan Yixing.
Wufan yang membuat hatiku perdebar dan membuat jantungku berantakan hanya karena satu perhatiannya di malam itu, aku tahu aku memilih orang yang salah. Tapi aku mencintainya...
“aku pergi dulu...” Yixing akhirnya menyerah padaku, “kau jaga dirimu baik-baik...”
Aku hanya mengangguk pelan, pandangan mataku mengekori punggungnya hingga akhirnya ia menghilang di ujung jalan.
____
Di depan pintu rumahku, aku melihat Wufan yang bersandar di sana dengan kedua tangan yang terlipat di depan dadanya.
“apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku heran.
“menunggumu untuk mengusirku....” sahutnya, dia menyeringai.
“maksudmu?” kepalaku tadi sudah berputar-putar karena menolak pernyataan dari Yixing dan sekarang ia semakin menambah beban pikiranku.
“apa kau tidak takut berhadapan dengan seorang pembunuh? Anggota gank? Lelaki liar, hidung belang dan bajingan sepertiku?”
“hei...kau mengupingku ya?” aku yang menyadari arah pembicaraan ini langsung menghardiknya.
“menurutmu?” tanyanya lagi, “sudahlah, lagi pula aku sudah tak ingin menyembunyikan hal ini padamu. Semua yang dikatakan teman lelakimu itu benar. Aku mengaku...” dia menatap tajam ke arahku, menunggu ekspresiku berubah saat ia mengakui statusnya yang sebenarnya.
Untuk sesaat aku hanya diam membisu. Aku tak bisa menggunakan akal sehatku dengan baik. Apakah aku harus menjauhi Wufan? Mundur teratur dan perlahan menghilang dari dunianya? Jika aku terus bersama dengannya lantas bagaimana dengan keselamatan keluargaku.. eng... maksudku keselamatan Xiao Xian dan Xiao Can yang telah kuanggap sebagai sahabat sekaligus kerabat terdekatku. Tapi... aku tak menemukan sesuatu yang janggal dari sikapnya selama ini, seandainya dia memang ingin melukaiku dan keluargaku, apa yang harus didendamkan dari kami? Kami hanya tiga anak sebatang kara yang mencoba peruntungan dengan meninggalkan panti dan mencoba hidup bersama...
Entah untuk saat ini aku memang benar-benar tak bisa berpikir dengan benar. Hati dan pikiranku menginginkan Wufan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mengalami getaran seperti ini. Sesuatu yang membuatku sesak napas dan tak bisa tidur.
“lalu... untuk apa kau hadir di hidupku? Apa salahku? Apa jangan-jangan kau menaruh dendam dengan kedua adikku?” suaraku rasanya langsung hilang, napasku tercekat.
“aku tak bermaksud mengganggumu Mei... aku juga tak tahu kenapa tapi... kau memang terlalu menarik untukku..” ia mengucapkannya dengan nada penyesalan.
“dasar lelaki mata keranjang! Tukang gombal! Kau memang benar-benar pembawa sial!” cercaku.
“tapi kau tetap saja menerimaku..” oloknya.
Aku langsung tersipu malu, darahku rasanya menyembur ke seluruh urat-urat mukaku.
“mulai sekarang kau berhenti bekerja di bar itu dan pindah rumah..” perintahnya.
“lantas aku harus makan apa?” protesku.
“mulai sekarang aku yang akan menanggung biaya hidupmu..” ujar Wufan datar.
“hah? Kau pikir aku gadis matre seperti gadis-gadismu di kasino itu?” mataku membelalak mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“anggap saja aku menebus semua kesialan yang telah kau terima sejak kau mengenalku,..”
Aku terkekeh, “sudah berapa ratus wanita yang kau janjikan seperti itu? Hah?”
“dasar bodoh! Bisakah kau menyisakan sedikit pikiran positifmu untukku? Kau gadis pertama yang aku tawari. Biasanya aku langsung mencampakkan mereka sehabis kami selesai melakukannya.” Kali ini nada bicaranya sedikit meninggi.
Aku tersenyum sinis, “tak bisakah kau sedikit saja menghargai seorang wanita?”
“aku menghargai. Mereka saja yang ‘mengundangku’. Lelaki mana yang tak tertarik dengan undangan menggiurkan seperti itu? Lelaki normal manapun pasti bernafsu, kalau ia tak tertarik dengan wanita itu berarti ia tak normal.”
“brengsek!!” umpatku, “laki-laki kalau tak bajingan yaa keparat...” aku mendorong tubuhnya pelan dan masuk ke dalam rumah.

6 Mei..
“happy birthday to you and you” Canlie bersenandung riang menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku dan Xiao Bai.
“hahaha xiexie” aku dan Bai Xian meniup deretan lilin-lilin kecil di atas sebuah cake berukuran sedang.
“ulang tahun kalian tidak spesial karena dirayakan bersama, akulah yang spesial, hahaha” Canlie terbahak sambil memperlihatkan deretan giginya.
“menurutmu begitu? Ayo kita buktikan” aku mencolek krim kue dan menoleskan di atas hidung Canlie.
“yaakk!! Chanyeol-ahh~ kau yang akan mendapat kesialan hari ini” Bai Xian langsung mengoleskan krim kue ke tangannya dan mulai menyerang Canlie.
“hei-hei kalian!! ><” Xiao Can langsung melompat dari tempat duduknya.
Tin...tin... aku mendengar bunyi klakson mobil yang langsung menghentikan aksi kami.
            “ahh..pasti si ketua mafia” omel Xiao Bai, “siapa lagi tamu yang sering mampir ke sini kalau bukan dia”
“kenapa kau bersikap sangat sensitif dengan kedatangan lelaki kaya itu? Sedang PMS kah?” goda Canlie yang langsung disambut oleh sebuah kain lap terbang dari Bai Xian.
“tutup mulutmu, sialan” gerutunya.
Aku hanya terkekeh melihat tingkah mereka dan memutuskan keluar.
“kak Mei, kau benar-benar akan meninggalkan kami dan pergi bersama lelaki itu?” tanya Bai Xian.
“hmm” aku mengangguk, “hari ini dia mengajakku memberikan sembako di tempat penampungan anak gelandangan dan pengemis”
“oh...kegiatan sosial” desis Bai Xian.
Aku tersenyum samar dan langsung pergi keluar.
“masuk” hanya itu yang kudengar dari balik sebuah kaca sebuah mobil mewah yang diturunkan sedikit, aku mengangguk pelan sambil memasuki mobil.
“jadi kita akan mulai dari panti yang mana??” tanyaku pada seseorang berjaket kulit cokelat.
“ke taman rekreasi” dia tersenyum samar.
“yakk!! Bukankah kau sudah berjanji untuk mem...” omonganku langsung saja dipotong.
“masalah janji, aku takkan pernah mengingkari, yang jelas sembako sudah dibagikan oleh Jongdae dari tadi pagi, daaaan aku sudah menyiapkan dua tiket nonton konser gratis music jazz untuk Xiao Bai dan Xiao Can” Wufan menyetir dengan fokus tanpa sedikitpun menoleh ke arahku.
Aku melirik sadis, “dasar licik” gerutuku.
Akhirnya setelah aku bermain seharian di taman rekreasi dengannya, dia mengajakku pulang sebelum akhirnya dia membelokkan mobilnya ke arah sebuah pantai untuk melihat matahari terbenam.
“haaaaah, hari ini aku merasa menjadi manusia” dia mengatakan sambil bersandar di dalam jok mobilnya menikmati senja yang kini kian memudar mendekati malam.
“maksudmu?” tanyaku bingung.
“selama ini aku pikir aku tak bisa sebebas ini, yah menjadi layaknya seorang manusia normal” dia menghirup udara dan menghembuskannya perlahan, “aku rasa selama ini aku hanya bisa menjadi seorang lelaki yang disegani”
Wufan memiringkan tubuhnya sedikit, “Mei Li....”
“ya?” sahutku.
“kau cantik” pujinya.
“aku tahu” sahutku pelan.
“kau tak ingin mengatakan aku tampan?”
“aku sudah terlalu bosan mengatakan hal itu dalam pikiran dan hatiku jadi kupikir tak usah diperjelas lagi” aku memutar bola mataku.
Dia terkekeh, “Mei Li, apa kau tak takut berdekatan dengan penjahat sepertiku? Apa yang dikatakan temanmu benar, aku bukanlah pria baik-baik” jelasnya.
“kalau semua orang takut akan suatu ketakutan yang sama, mungkin tidak ada teroris yang beristri” lagi-lagi aku memutar bolamataku.
“tapi aku bukan teroris” sahutnya lagi. dibelainya ujung rambutku yang berwarna kecoklatan diterpa cahaya matahari.
Wufan menatapku lekat sampai akhirnya ia mencondongkan tubuhnya, ia mengecup pelan keningku, “aku rasa aku tak salah menemukanmu waktu itu” gumamnya, entah siapa yang memulai sampai akhirnya bibir kami saling menyentuh, aku merasakan aroma tembakau yang khas dari aroma napasnya. Aku menutup mataku pelan merasakan bibirnya yang bergerak pelan memagut bibirku dan lidah kami saling membelai, seakan mengeksplorasi atas jutaan perasaan bahagia yang kurasakan selama ini. aku tak pandai dalam urusan berciuman, saat bibirnya menyapu pelan bibirku, jantungku semakin berdetak kencang dan napasku memburu, damn! He is a good kisser.
Perlahan aku merasakan tangannya yang memegang lenganku kini mulai turun dan membelai pahaku, sial! Apa yang akan dia lakukan?? belum sempat mulutku menganga, kami dikejutkan oleh sebuah ledakan di kaca mobil.
Wufan menghentikan kegiatannya dan langsung mengecek kaca mobilnya yang tergores oleh sebuah benda, peluru?
Mata Wufan berkilat menahan amarah, “brengsek, tak bisakah mereka sabar sedikit denganku??” ia memutar mobilnya melaju sementara aku bergidik ngeri melihat seseorang yang berusaha mengejar kami.

----TBC---

Minggu, 06 Oktober 2013

KONTROVERSI HATI JOMBLO


Mbloo...
Hahanjir gue kali ini ga post ff ye tapi Cuma curhatan abal gue tentang kehidupan real gue yang rada absurd dalam masalah percintaan ~_~
Yaudah ini adalah masalah kejombloan gue yang udah mendarah daging dan merasuk dalam jiwa raga ini, gimana bisa gue betah sama predikat jomblo abadi gue, tapi ini juga ada faktor eksternal dan internal yang bikin gue betah jomblo.
Faktor internalnya ya emang gak ada cowok yang sesuai sama kriteria gue buat gue pacarin/? Tbvh gue lebih suka cowok cuek rada pendiem gitu deh bikin gue penasaran setengah mati buat ngejar dia, begitulah, terus gue juga males aja sama yang namanya pacaran, kesannya gue belum cukup umur buat pacaran hahaha padahal umur gue udah mau 19 tahun aja -_-
Faktor eksternalnya ya gue gak bisa dandan wkwkwk gue ga pedean, gak cantik, gak gak semuanya.
Yah bisa dibilang selera gue ketinggian buat orang gue taksir alias ga sesuaai tampang gue sama tampang cowok yang gue suka(?) begitu kasarnya, sejak suka korea selera gue soal cowok jadi makin tinggi. Bz
Akhirnya gue kuliah kan, gue ketemu sama cowok, gue naksir pada pandangan pertama sama dia, secara dia keren, cool, imut, terus muka-muka goblok gitu ~___~ terus gue makin jatuh cinta sama dia gara-gara dia pake motor ninja. Anjir gue ngerasa matre banget -_- tapi serius dia makin keren kan pake motor laki begono wkkwkwk
Terus gue envy banget anjir sama cewek yang bisa numpang sama dia, ok. Gue bisa apaaaa (W;A;)W gue manusia, cewek lemah/? Yang gak berani pedekate sama dia wkwk, yaudah lah ya singkat cerita gara-gara kerja kelompok akhirnya gue deket sama dia.
Entah kesambet setan darimana dia bisa naksir sama gue -_---- gue seneng dong ya harusnya, oke pikiran lo semua salah, gue kecewa, gue kecewa dia gak se cool aslinya, dia kegatelan sama gue di chat -_______- plis ya tau istilah JJKP kan? Lah iya dia JJKP in gue -_-
Gue tau dia Cuma JJKP in gue tapi kan tetep aja gitu loh/? Ga ada gregetnya.. gue jadi galau sendiri, dia juga beda agama sama gue... makanya gue males ngeladenin dia.
Impian-impian gue buat jalan sama dia, jalan bareng, pulang naik ninja, di anterin, sebenernya bisa kewujud kalo gue ngomong, HAHAHAHA tapi gue nahan diri. Gue ga biasa kaya gitu sama cowok, akhirnya gue Cuma bisa ngehayal doang hahaha nista banget kan gue ampun udah pujaan hati naksir sama gue tetep aja gue sengenes ini ;((
Padahal dia udah bolak balik nembak gue tapi gue tolak terus ya Tuhan nista banget kan wkwkk tapi gue ga nyesel kok nolak dia, gue takut aja kalo gue sayang sama dia, kan kita udah beda agama, lagian juga gue Cuma sekedar naksir dia secara fisik doang bukan hatinya, eh hatinya juga sih tapi pas dia jadi cool keren kalem di real.
Jadi di dunia maya dia yg jjkp sama gue tapi pas di dunia nyata gue yang histeris liat dia -__- dunia gila dan gue gila nolak cowok yang gue sukain. Sekian.
Yaudah setelah kontroversi hati ini akhirnya gue jadi jomblo, gagal taken, gagal apa lagi ya, tetep aja ujung-ujungnya predikat JONES setia bersamaku, HAHAHA

Makasih udah nyimak kisah gue. Intinya kalau suka sama orang jangan liat dari tampang doang, tapi juga dari bebet bobot dan bibitnya yang sesuai sama kriteria kita nanti, jangan juga nyari pacar di dunia maya ntar salah-salah lo malah naksir cewek lagi xP terima kasih. Wassalam.

Sabtu, 07 September 2013

[FF DO EXO] SECRET LINGERIE


Author:  Mei F.D

Cast :
·         Do Kyungsoo
·         Song Aie
Length : ficlet (ditulis dalam 1400 kata)

Genre : romance, married life, antara kocak dan ngenes ckck

PG : 17
Dibaca dulu siapa tau suka, kalau gak suka baru tekan tombol back^^. Jgn lupa follow @meiokris :*
***
DO’s POV
Tak biasanya Aie bersikap sangat manja malam ini, padahal juga dia biasanya galaknya minta ampun, apalagi dalam urusan rumah tangga.
“Oppa~~” panggilnya sambil memainkan ujung baju tidurku.
“apa?” tanyaku berlagak cuek. Dengar ya, cuek sama isteri itu bisa menambah rasa penasaran isteri kepada suaminya, hehehe (aku mempelajari ini dari Kris hyung^^;)
“anu...itu....” kali ini dia menendang-nendang kakiku pelan.
“apa sayang?” tanyaku gemas. Eh bukannya di jawab dia malah memainkan ujung kancing piyama teratasnya sambil menggembungkan pipinya, aigoo~~
“aishhh.. jangan digembungin begitu dong” godaku lagi.
“hmmm... besok aku ada acara tidur bersama” katanya pelan.
Aku langsunng menegakkan badanku, “APA? Tidur bersama? Sama siapa?” mataku langsung mengawasi gerak-geriknya.
“lebay” dia menoyor kepalaku, aigoo. Isteri macam apa ini? “aku hanya tidur bersama isteri member-member EXO yang lain sementara kalian sibuk liburan di luar kota”
“ohh gitu” sahutku pelan.
“terus kita mau ngadain party gitu, terus ada tantangannya” jelasnya lagi.
“tantangan apa?” aku menaikkan sebelah alisku.
“ada deh, pokoknya semacam tantangan tes bakat dan keahlian suami, pokoknya aku mau dibeliin baju yang paling seksi buat acara itu” rengeknya.
“heh?” aku menautkan alisku, “kenapa tidak beli sendiri saja?”
“ishhh, itukan tantangannya buat para suami jadi pokoknya kamu yang harus beli”
“heh? Nggak ada cowok juga kan kenapa harus pakai pakaian yang seksi? Emang ada yang napsu gitu?” cecarku.
“nggak ada sih, ahh nggak tau pokoknya aku maunya kamu yang beliin aku baju itu” dia menatapku secara misterius. Omongannya juga misterius, dan acara pesta itu juga terdengar misterius.
“ohh iya jangan lupa dikadoin bajunya” dia membisikkan itu di depan kupingku.
“emang mau ngasih siapa?” selidikku lagi.
“ada deehh, pokoknya rahasia”
“ohh gitu” jawabku lagi. aku tidak mengerti urusan para wanita.
“inget loh ya, belinya harus sesuai feeling kamu, jangan tanya-tanya aku mau warna apa segala macam, pokoknya anggap aja aku nggak tau apa-apa soal baju itu” dia mengingatkan.
“iya iyaaa” aku mengangguk berkali-kali.
***
Esoknya....
Daaaan, disinilah aku terdampar di dalam toko pakaian dalam wanita, sendirian. Sendirian dalam artian hanya aku makhluk tertampan di dalam toko pakaian dalam wanita ini karena hanya ada ibu-ibu dan para wanita muda yang berbelanja di sini!
Aku nggak mau tau pokoknya kamu harus beli pakaian itu di toko pakaian dalam wanita, sekali-kali kamu berkorban untukku dong, masa aku mulu yang beliin kamu celana dalam??!?!?!
Baiklah, aku masih mengingat dengan jelas ucapan isteriku tercinta si Aie yang galak itu, memang sih segala macam urusan baju dari pakaian terluar sampai pakaian dalamku, dialah yang membelikan dan menyiapkannya untukku (jadi tidak ada alasan bagiku untuk menolak permintaan pertamanya yang cukup ekstrim ini).
Aku menghela napas panjang berusaha untuk mengabaikan tatapan para ibu-ibu dan wanita muda di sini, entah mereka menatapku karena mengenaliku sebagai artis papan atas yang pernah naik daun ketika masih lajang, atau mereka sedang dilanda kebingungan ketika melihat makhluk beda jenis memasuki toko pakaian dalam wanita? Apa jangan-jangan mereka mengira aku banci? Ahh.. apapun yang ada dalam pikiran mereka sekarang, aku harus memikirkan pakaian untuk isteriku sekarang.
“nona” panggilku misterius.
“ya? Ada apa Tn. DO?” tanyanya sopan. Sial, mereka mengenaliku.
“bisa minta tolong carikan aku pakaian wanita yang biasa di pakai di tempat umum?” tanyaku langsung.
Pelayan itu terlihat tengah berpikir sejenak sampai akhirnya dia membimbingku ke sebuah tumpukan pakaian berbagai warna dan jenis.
“mau beliin isterinya ya?” godanya.
“iya” aku tersenyum samar.
“mau warna apa?”
Hmm... warna apa ya? Aie? Song Aie kan biasanya galak, kadang misterius, susah di tebak, nano-nano gitu, yasudah warna pelangi saja, dia kan juga wanita yang enerjik.
“ini saja” jawabku mantap sambil menunjuk sebuah pakaian berwarna cerah seperti warna pelangi (aku seperti melihat rambut Sehun jaman dulu)
“tolong dibungkus yang rapi ya” pintaku sambil mengeluarkan beberapa lembar uang.
***
Aie’s POV
“yuhuu, kita mulai acara Lingerie partynya ya” ajak Renata (isteri Tao) yang datang sambil membawa kado miliknya.
“sebelum kita pesta tidur, lebih baik kita buka satu persatu hadiah dari suami kita” ajak Lily (isteri Suho)
Aku? Oke baiklah. Aku dari tadi hanya terdiam dan hanya sesekali tersenyum menanggapi gurauan mereka, bagaimana bisa? Suamiku yang teramat sangat cuek dengan penampilannya ini tiba-tiba saja langsung kusuruh membelikanku pakaian dalam wanita. Bukankah itu kedengarannya konyol mengingat dalam urusan pakaian dalamnya sendiri, aku yang memilih dan membelikannya.
Aku menutup mataku sebentar, semoga DO nggak malu-maluin nantinya sebagai suami, masa nanti dia kalah sama Kris (lelaki cuek dan kasar yang dicintai Mello) dan mantan gay (read : Tao) itu, doaku dalam hati.
Akhirnya setelah Minnie (isteri Baekhyun) datang sambil membawa kado miliknya, kami berkumpul membentuk lingkaran.
“ayo pertama-tama kado dari Xiumin” pinta Lily sambil bersemangat, Jihyo yang sedikit pendiam itupun akhirnya dengan malu-malu kucingnya menyerahkan kado yang dibungkus Xiumin untuknya.
“woaaaaahh selera suamimu bagus juga. Suka lingerie warna hitam ya? Cocok banget sama kulitmu, langsung di pakai ya” puji Renata dengan berapi-api.
Ahh ya, sebuah lingerie hitam polos dengan sedikit renda di dada dan beberapa kain yang bersifat transparan di bagian punggung.
Aku masih menunggu giliran sampai akhirnya isterinya Suho yang membuka kado.
“Ya Tuhan, tak kusangka wajah polos suamimu itu nggak sebanding dengan sifat aslinya. Tak kusangka. Good good!”
Semua wanita berdecak kagum melihat lingerie berwarna biru malam dari Suho yang sangat sensual itu.
Akhirnya satu persatu para wanita pun membuka lingerie hadiah dari suami mereka dan langsung memakainya.
“tak kusangka Kris mempunyai pikiran seliar itu!” decak Renata begitu melihat lingerie di tangan Mello. Aku bahkan kaget dengan pakaian kekurangan kain yang benar-benar kekurangan kain untuk dikenakan Mello. Lingerie putih tulang yang sangaaat seksi semuanya transparan dan lingerie itu bahkan hanya menutupi bagian sensitif saja dengan bunga mawar yang disusun bertumpuk-tumpuk di bagian bawah perut dan dada.
“ugh, sudah kuduga Kris bener-bener nggak waras, untung aku sudah bawa baju piyama teddy bearku” sungut Mello kesal, “pakaian macam apa itu, kenapa nggak sekalian telanjang aja daripada beli pakaian kekurangan kain begini, mahal pula” gerutunya.
Sekarang giliran Renata yang membuka kado miliknya, “woaaaah, ini sih saingan sama miliknya Melo” decak isteri Lay kagum begitu melihat lingerie bermotif leopard milik Renata.
“bah, kalian tahu? Di dalam lemari pakaianku bahkan ada selusin lingerie bercorak binatang dari belang macan, tikus, harimau sampai panda, aku serasa memakai pakaian binatang di rumahku sendiri” keluh Renata sedikit kecewa.
Sementara aku hanya tersenyum mengagumi kelihaian para suami mereka dalam memuaskan isteri-isteri mereka, romantis! Kata itu jelas terpampang dalam pundak para suami mereka, predikat yang cukup membanggakan kan (bagi para wanita itu adalah anugerah punya suami romantis), tentu saja hal ini nggak jauh-jauh dengan urusan ranjang yang panas dan bergairah.
Oke, baiklah... jadi sekarang tinggal aku saja yang belum membuka kado, semoga DO suami ala kadarku itu lebih baik daripada mereka (dalam pandanganku tentu saja) seenggaknya nggak bikin aku malu malam ini.
U know lah? DO kan mantan artis, dia juga cukup kaya untuk sekedar membelikanku sebuah lingerie bertahtakan berlian, maaf jika aku sedikit matre tapi aku tidak mau predikat suami tercuek jatuh kepada DO.
Tuhan, tolong aku malam ini, pintaku sambil membuka bingkisan kado dari DO perlahan-lahan.

DO’s POV
“Di malam yang sesunyi ini...aku sendiri... tiada yang menemani” aku bersenandung kecil sambil membawa segelas susu hangat, “baiklah ada berita apa hari ini?” aku mengambil koran yang tergeletak di teras rumah sore tadi.
Aku pulang hari ini, padahal harusnya aku pulang besok pagi, tapi mengingat kemisteriusan Aie dua malam yang lalu, aku mengurungkan niat untuk memperpanjang liburanku.
“MWO?” aku hampir saja tersedak ketika membaca headline koran tadi pagi.
MEMBER EXO KEDAPATAN SEDANG MEMBELI PAKAIAN DALAM WANITA
Hhahaha, terkutuklah para paparazzi dan netizen yang bisa mengabadikan fotoku ketika sedang membayar barang untuk Aie.
Aku menghela napas panjang, hanya membeli pakaian wanita aku bahkan sudah masuk hotnews pagi ini. sial. Umpatku.
“uhukkk” untuk kedua kalinya aku hampir tersedak gara-gara melihat sosok berpakaian putih yang melintas di belakangku.
“Aie?” aku memastikan kalau yang barusan lewat tadi adalah isteriku.
“apa?” sahutnya galak. Nahloh, sifat aslinya keluar lagi kan, padahal baru kemarin-kemarin aku bahagia dia bermanja-manja di hadapanku. (kubocorkan sedikit rahasia malam pertamaku ya, malam pertama kami dulu bahkan dia sempat mencium bibirku dengan telapak tangannya hanya karena aku berusaha mencium pipinya, oke bahasa kerennya aku digampar...)
“loh? Nggak jadi nginep bareng?” tanyaku bingung.
“nggak jadi” sahutnya pendek.
“kenapa?” tanyaku penasaran, “aku bahkan sudah rela masuk hotnews pagi ini hanya untuk membelikanmu pakaian itu” terangku.
Dia tersenyum sinis ke arahku, “terima kasih sayang kadonya, aku bahkan berani bertaruh kau mengatakan tempat umum pada pelayannya kan?”
“eh kok tau?” tanyaku bingung, widih Aie sekarang berubah jadi peramal setelah menikah denganku.
“iyalah, sejak kapan BAJU RENANG ROXY disamakan dengan LINGERIE?!?!?!?!?!”

-----END-----

Kamis, 05 September 2013

KNOW ME FIRST, KISS ME LATER(PART VII-END)


Author:  Mei F.D

Cast :

•    Wu Yi Fan/ Kris EXO M as Kristanius A. S.

•    Mello as Priscilla N. Melody

•    Delida Rahardika as Delida

•    Park Chanyeol as Yeol

•    Do Kyungsoo as D.O

Length : multichapter

Genre : romance, drama, antara kocak dan ngenes ckck

PG : 15++
Dibaca dulu siapa tau suka, kalau gak suka baru tekan tombol back^^. Klo ff ini dijamin udah tamat hehehe. Jgn lupa follow @meiokris :*

***
Mello’s POV

“Lain kali saya mampir lagi ke sini di pernikahannya DO dan Mello nanti” Dae tersenyum kecut. Aku tau dia kecewa tapi yah mau gimana lagi... aku nggak mau dia kebawa-bawa masalah aku nantinya.

Menikah? Seumur hidupku aku bahkan belum pernah membayangkan yang namanya menikah dengan orang yang kuanggap sahabat dekatku sendiri, apalagi diam-diam ternyata dia menyukaiku, gila nggak tuh? Hahaha nggak juga sih sebenernya -_- tapi ya cukup gila kalau aku yang ngalemin.

Bukan masalah apa-apa sih sebenernya...hanya.... ah sudahlah, aku bahkan gatau gimana cara mendeskripsikannya, rumit ruwet kek benang kusut, puyeng pusing... capek harus begini..

Emangnya gak ada orang yang tulus kasih perhatian dan kasih sayang sama aku ya disaat begini juga aku bahkan gak bisa gak mikirin Kris, lagi dimana sekarang? Udah makan belum? Udah cuci kaki sebelum tidur? Waaaa ;;;;

Seandainya aku harus menikah dengan DO.... apa dia mau ngerasain yang namanya menikah tanpa cinta? Apalagi kalau ternyata aku nggak jadi hamil anak dia? Terus ternyata kalau Kris balik lagi? ahhh... Kris atau DO?

“Mell, kamu sudah siap dengan pilihanmu untuk menikahi nak DO?” aku langsung kaget begitu bapak menanyakan ini padaku, “eh....eh...kalau tidak ada halangan apapun aku siap...”

“yasudah, nak DO... kenalkan saya Andrea Heris dan ini Ria Kumala ibunya Mello dan itu Odult...”
bapakku memperkenalkan anggota keluarganya, tut tut gujes gujes nyessss......,”jadi kapan kamu akan menikahi Mello?”

Aku hanya bisa terdiam menunduk sambil menunggu jawaban dari DO, “kalau bisa secepatnya Pak Bu...” jawab DO mantap yang sukses membuatku menatap tajam ke arahnya.

Whattt?? Menikah secepatnya? Entah sekarang aku harus berterima kasih atau malah membencinya sekarang...dia penyelamat sekaligus pengacau... apa dia benar-benar meracuniku dengan memberikan alkohol di malam kami menginap itu?

DO balas menatapku tanpa sedikitpun rasa bersalah... aku langsung membuang muka..

“kalau Bapak boleh tau, nama nak DO sebenernya siapa ya?”

Aku tetap menunduk, biar begini-begini juga aku udah pasang telingaku tajam-tajam, aku kan nggak pernah tau nama DO sebenernya..

“nama asli saya Dio Alif Fernanda” ujarnya.

Aku meringis kecil, Ny. Fernanda ya? Bukan Ny. Stevano.....

Aku memberanikan diri menatap wajah ayahku, ehh bukannya merespon ucapan dari DO ayahku malah mematung kek patung pancoran begitu, eh nggak ding, diem pokoknya. Aku, ibu dan Odult yang daritadi Cuma jadi saksi bisu di sini juga sadar kalau ayah tak kunjung bicara.

“Fer...Fernanda?” ulang ayah lagi. kenapasih?

“iya Pak, sebenarnya itu nama marga ibu saya, kebetulan juga saya yatim piatu kata ibu saya jadi lebih baik memakai marga ibu saya saja” jelasnya panjang lebar.

Kening ayahku berkerut dan keringat dingin mengucur,”siapa nama ibumu?” tanyanya lagi, sementara kulihat ekspresi ibu juga berubah, tak terbaca... datar....

“nama ibu saya Jessica Fernanda, beliau juga sudah meninggal sewaktu saya masih SMP, tapi saya dibesarkan oleh sanak keluarga dari ibu saya”

Hmmm...anak yatim piatu? Sebenernya sih kasihan dengernya tapi kalau ingat pagi kelabu itu aku langsung benci lagi sama DO, huh...

“kenapa Pak?” tanyaku bingung begitu menyaksikan ayahku mengatur napas beberapa kali.

“kalian tidak bisa menikah” ucap Ayah pelan bahkan seperti mendesis.

Aku terhenyak, ti...tidak jadi menikah? Tidak bisa? Ke..kenapa????

“kenapa?” tanya DO sedikit tak terima mendengar keputusan dari Ayahku.

“kalian...bersaudara” desis Ayahku pelan yang terdengar seperti ledakan bom di telingaku.
Apa bersaudara? Anak siapa? Jadi... Ayahku ini....

Aku langsung menatap wajah ibu yang sama sekali tidak berubah, tetap datar... aku menatap Ayah yang ekspresinya masih kaget, bingung, senang sedih... aku menatap Odult... semuanya memusingkan...gelap...sampai akhirnya aku tak sadarkan diri....


2 minggu kemudian....

    Aku menghirup pelan udara yang mengalir memasuki kedua lubang hidungku... segar sekali, rasanya aku takkan bisa menjumpai udara sebersih ini di kota besar yang penuh debu.

    “ehm..” seseorang berdehem dari belakang.

Aku memalingkan muka, “kak DO?” sapaku agak canggung , ya sampai saat ini aku masih belum begitu terbiasa dengan ‘anggota baru’ kami, tapi seenggaknya aku bahagia nggak jadi menikah dengannya.

Astaga, miapahh cumpah ciyus... aib keluarga, begitu lebih tepatnya, aku bahkan nggak tau kalau sebelum menikah dengan ibu ternyata ayahku sudah bikin anak orang hamil, dan ibu baru menyadarinya setelah beberapa bulan pernikahan mereka.

Ibuku juga sudah ikhlas di madu, tapi wanita –mamanya DO— itu menolak dan menghilang dari hadapan ayah hingga sekarang anaknya muncul di hadapan kami dengan topik, ‘ingin menikahiku?’ lol, aku bahkan nggak tau harus berkomentar apalagi, antara bahagia atau bahkan berduka melihat keteguhan hati ibuku.
Anak? Tiba-tiba aku teringat lagi, ini udah 2 minggu lebih, kalau tes pack gitu, bisa ketauan nggak ya? Tanpa sadar tanganku terulur mengelus perutku.

“ak...aku mau bicara” DO nampak gugup begitu melihat kedua tanganku yang berada di atas perutku.

“mau bicara apa?” tanyaku miris, kalau anak ini memang benar-benar ada juga pasti punya kemungkinan cacat.... bukankah dalam dunia kedokteran pernikahan sedarah juga di larang?

“mengenai malam itu....”

“sudahlah kak, kita sudah pernah bicara kan kalau kita udah nggak usah bahas masalah itu lagi” napasku mulai tak teratur.

“aku mau jujur sama kamu Mell...sebenernya kita nggak ngapa-ngapain malam itu” jelasnya yang langsung membuat mataku hampir melompat keluar kalau bisa.

What? Dia bilang apa? Apa? Nggak ngapa-ngapain? Jadi... jadi selama ini??!?!?!

“jadi...selama ini aku diboongin? Jadi selama ini aku masih perawan?” tanyaku ngelantur.

“hmmm” ia mengangguk.

Boleh nampar orang nggak nih? Aku harus apa? Bahagia? Atau sedih? bahagia karena aku masih perawan, nggak pernah ngono-ngono sama cowok yang ternyata sodara kandungku sendiri apa sedih karena aku dibohongin?

PLAK!! Sebuah tamparan itu kayaknya cukup mewakili kekesalanku yang bahkan saking banyaknya umpatan yang pengen keluar aku sampai bingung mau ngeluarin yang mana.

“terus kenapa pas aku bangun bajuku udah kebuka?” jeritku histeris.

“Mell...”

“terus...kenapa pas kamu ngasih aku minuman aku langsung pusing dan nggak ingat apa-apa?”

“Mell!! Dengarkan aku dulu!!” DO balas berteriak.

“malam itu aku bahkan nggak tau kalau itu sejenis wisky, aku bahkan belum pernah meminumnya, waktu kamu meminum itu lebih dulu kamu langsung pusing dan mulai membuka pakaianmu sendiri, itu yang membuatku menyeretmu ke kamar.... dan... aku berusaha mati-matian menahan nafsuku karena aku menghormatimu!!” jelas DO.

“tap....”

“mengenai kebohongan itu...ak minta maaf, bahkan aku nggak tau kalau kebohonganku itu lebih menyakitimu... aku terobsesi memilikimu Mell... karena kamu nggak pernah mandang aku... sekarang.. liat? Bahkan Tuhan nggak ngizinin kita buat bersatu dengan aib keluarga ini, apa aku bahkan nggak layak buat bahagia? Karena aku anak haram?”

“STOPPP!!” aku menatap DO geram. “hentikan ocehanmu DO, bisa nggak sih nggak usah meratapi nasib begitu? Nggak bisa mensyukuri hidup!” akupun langsung berlari meninggalkan DO ke dalam rumah.


Author’s POV

    “halo” Kris menjawab dering telepon di ponselnya sementara tangan kanannya sibuk menyetir.
“baby, kamu nggak bener-bener pergi kan?” terdengar suara dari seberang telepon.

“otw malah”

“Alva... Mama kan nggak nyuruh kamu cepat-cepat menikah juga sama Delida?”

“Alva nggak mau nikah sama dia” desis Kris.

“tapi Mama nggak percaya kamu benar-benar punya pacar, buktinya nggak pernah di bawa ke rumah...”
“makanya Alva mau jemput dia biar bisa di kenalin sama mama”

“nggak biasanya kamu nyembunyiin pacar kamu loh ay, apa jangan-jangan pacar kamu itu cowok?”

“Ma..cukup... Mama mau bikin Alva celaka? Mama nggak denger Alva lagi sibuk nyetir?”

“hmm... yaudah deh kalau gitu hati-hati di jalan sayang”

“ya Ma, bye”

ARRGGHHH, kenapa sih Mama ngebet banget pengen nikahin aku sama Delida? Kan aku udah bilang aku udah punya Mello... 

Benar-benar wanita pecinta drama, bisa-bisanya beliau mikir aku pacaran sama sesama jenis.

Kris membanting ponselnya ke jok belakang, “pls Mell... baikan lagi, selamatkan aku”
----

    “permisi” Kris mengetuk sebuah pintu depan rumah yang bisa dibilang sederhana itu.

“siapa ya silakan ma....suk..” seorang ibu paruh baya membukakan pintu untuk Kris.

“anda siapa?” ibunya Mello tercengang menatap seorang lelaki berwajah rupawan yang berada di hadapannya. Kris yang mengenakan  setelan kemeja berwarna biru gelap itu hanya bisa tersenyum simpul.

“saya Kris Alva atasannya Mello. Kalau saya boleh tau benarkah ini rumahnya Mello?” tanya Kris halus.

“walaaaah dalaaaah... pak Alva toohh.. aduh cakep bener iki.. ayo masuk nduk ibu panggilkan si Mello”

“ehmmm” Kris berdehem sekali dan langsung memasuki rumah Mello dengan sedikit menunduk.

“aduuh nak Alva ketinggian sih sampai takut kepentok lawang(?) gitu” celoteh ibu Mello.

Bah, baru sekali ketemu ibu Mello aja udah tau sifat ceplas-ceplos Mello itu darimana, celetuk Kris dalam hati.

“mau ngomong sama ibu dulu atau mau ngomong sama Mello langsung?”

“ahh.. sama ibu saja, langsung saja, saya ke sini Cuma ingin meminta izin dari ibu untuk membawa Mello balik ke Jakarta karena dia sekarang saya pindah tugaskan” jelas Kris.

“maksudnya apa ya nduk ibu kurang paham ini loh...”

“haha, nggak apa-apa bu, saya pribadi meminta Mello untuk bekerja di perusahaan utama saya di bagian keuangan...” ujar Kris.

“APAAAKHHH???!?!?!??!” kali ini suara Mello terdengar.

“ish gasopan” ibu Mello langsung beranjak dari tempat duduknya dan mencubit Mello.

“ini lo ada atasannya ke sini malah nggak sopan begini” omel ibunya.

Mello terdiam begitu melihat sosok lelaki yang sangat di rindukannya kini berada di dalam rumahnya, Mr. Limited Edition yang kaya, gagah, ganteng dan menyilaukan ini kini sedang bertamu di rumahnya.

“ada apa ini bu...” kedatangan DO dari belakang membuat Kris terhenyak.

“heh nggak sopan begitu, ayo duduk semua kalian?” perintah ibu yang nggak menyadari atmosfer kecanggungan antara Kris-Mello-DO.

**
“Kris” Mello memberanikan diri untuk menyapa Kris yang dari tadi hanya membisu di dalam mobil.

“hmmmm”

“ge....”

“.....”

“ihhh gegeee” Mello membalikkan badannya.

“apa Mello?”

“maksudnya tadi dirumah apa?”

“yang mana?”

“yang tadiiii”

“yang tadi mana?” Kris masih sibuk menyetir mobil.

Mello mendelik kesal, “ituloh yang kamu datang ke rumahku terus jemput aku sampai sekarang aku ada di sini”

“ohh itu...”

“.......” Mello menunggu ucapan Kris selanjutnya.

“.......”

“IHHH KOK DIEM SIHH?!?!?! Aku kan butuh penjelasan” teriak Mello frustasi.

“berisik. Penjelasan apa?”

“banyak... banyak juga tanyaan yang harus di jawab”

“mana? nggak ada pertanyaan juga”

Aduuuhh, sabar Mell sabar, orang sabar cepet nikah, di sayang Tuhan, aaaa rasanya aku rela jadi pembunuh bayaran buat musnahin spesies makhluk paling nyebelin kayak Kris di muka bumi ini.. ihh.. capek ngomong sama dia, ngeselin...

“ngapain coba kamu jemput aku?”

“lah, kerja kan”

“kenapa harus aku coba?”

“pls ya Mell aku nggak mau uangku buat bayarin kuliahmu itu terbuang percuma kalau akhirnya kau Cuma jadi sarjana pengangguran” jawabnya ketus.

“jadi ceritanya aku dibiayain kuliah buat kerja sama kamu?”

“iyalah apa lagi”

Uhhhh ihhh keseeel pengen jambak cowok ganteng di sampingku ini kalau aku nggak inget dia lagi nyetir mobil sekarang, ntar kalau dia marah sama aku kan bisa aja aku di tinggal di jalan, Kris kan orangnya tegaan, dulu aja aku pernah ditinggal di jalan gara-gara aku waktu itu pengen dibeliin es krim -_----

“kamu nggak nanya gitu kenapa DO bisa ada di rumahku?”

“ngapain? Nggak kepoan juga”

“hmm.. kamu kenapa nggak sama cewekmu itu” Mello mulai mengungkit-ungkit masalah Delida.
“cewek yang mana?”

“yang dicafe itu”

“dia bukan cewek juga”

“hah? Maksudnya?” Mello menatap Kris bingung.

“gapapa, pokoknya ga ada hubungan apa-apa sama dia”

“ciyusss...miapah.. haha, nggak nanya hubunganku sama DO?”

“nanya buat apa?”

“ ya gapapa... aku sama DO ternyata sama-sama sodaraan, sodara kandung gitu”  Mello mengatakan sambil sesekali mencuri pandang ke arah Kris.

“oh gitu....”

Mello berdecak gemas, “ihh baru juga ketemu udah ngeselin lagi” protesnya.

“lah kenapa lagi?”

“ya komen kek, salto kek bilang wow kek” Mello menatap Kris gemas.

“males ah” jawab Kris yang langsung mengabaikan Mello.

Pisauu mana pisaaaauuu ihhhh -____-

Mello’s POV
Aku sama Kris udah baikan, dia bilang dia kan nggak ada hubungan apa-apa sama cewek itu, aku bahagia lah, hehehe, tapi ya itu, bingung.. yang masalah nembak itu loh aku emang bener-bener udah putus ya sama Kris?

“woyy buruan masuk” Kris meneriakiku dari dalam mobilnya, tuh kan pagi-pagi udah main teriak aja.

“iya iya” aku langsung bergegas masuk ke dalam mobil Alphardnya Kris, ihh nggak sabaran banget kan nunggu akunya.

“belum juga kerja udah main telat aja” sindir Kris.

“yasalam iya iya maaf Bos” aku menghembuskan nafas keras-keras di hadapannya, pagi-pagi jangan Cuma bisa bikin bete doang, HIKZ.

“nanti pas udah sampai di dekat kantor kau turun terus jalan kaki ya” ucap Kris tanpa menoleh sedikit padaku. What? Maksudnya nurunin aku di jalan apaan coba?

“kenapa? Malu ya berangkat bareng pembantu?” tanyaku.

“pagi-pagi nggak baik nevthink” sindirnya lagi.

“ya terus kenapa dong kalau bukan itu?” protesku lagi.

“ya nggak apa-apa pengen aja”

“.....” kalian tau, ahh, aku bingung, masa nggak ada apa-apa tapi aku diturunin di jalan? AAAA ALVA KRIS itu terlalu jauh, misterius, tampan dan nyaris tak tersentuh, rasanya aku sama dia kaya jauuuh banget, dianya di tebing akunya di dalam jurang tanpa dasar :”””””

Well, aku bahkan susah nebak jalan pikirannya, aneh, nggak jelas dan dia terlalu pelit untuk ngasih alasan logis yang bisa diterima oleh akal sehatku.

Alva Kris, limited edition, tampan, menawan, sekeras batu haha, hatinya sedingin es dan... mungkin tertutup. Dia selalu dominan dalam segala hal. Ku akui aku memujanya dalam pesona iblisnya itu. Dia selalu mendominasi dan satu-satunya yang hadir dalam setiap mimpiku.

“udah sampai tuh” tanpa kusadari Kris sudah memarkirkan mobilnya di samping trotoar.

“jadi aku harus bener-bener turun nih?” tanyaku tak percaya, hell ya, aku di usir oleh atasanku yang super duper nyebelin dan tegaan kayak gini.

“iyalah”

Ugh ugh tahan Mell, ini hari pertamamu bekerja, okay?

“sampai jumpa di kantor, sayang” pamitnya sambil menyeringai, ihh, kata sayang sekarang mengerikan ya, apalagi kalau spesies Alva yang ngucapinnya. Bener-bener nggak romantis!

Akhirnya aku melangkahkan kakiku menuju halaman perusahaan Stavano yang luasss, mobil-mobil mewah bertengger di halaman parkir khusus pegawai, ugh gedungnya juga tinggi banget, leherku sampai sakit untuk melihat puncaknya. Megah mameeen.

Akhirnya aku berjalan dengan menenteng tas kerja kecilku, aku bingung mau membawa apa, Kris Cuma nyuruh aku kerja di bagian keuangan kan? Ku bawa aja berkas-berkasku sehabis kuliah itu.
“selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionisnya.

“Anu...saya pegawai baru di sini” sahutku takut-takut.

“karyawan baru?” resepsionisnya kelihatan bingung. Belum juga aku menjawab udah ada panggilan telepon, resepsionis itu terlihat sedang berbicara serius dengan seseorang di telepon.

“ah iyaa, karyawan di bagian keuangan ya? Sini saya antarkan” bimbingnya.

Tiba-tiba di depanku terdengar ribut-ribut dan beberapa karyawan mulai berdiri dari tempatnya sambil bisik-bisik, kenapa sih?

Oke, haruskah aku salto sekarang atau gelindingan di gunung salak? Kris –yang paling menonjol dingin dan menawan- muncul dengan beberapa jajaran direksi perusahaannya berjalan masuk ke ruang rapat, banyak karyawan wanita yang menyapanya.

Oww, mulutku bahkan sudah membuat bulatan kecil membentuk huruf O, sebesar itukah pengaruh lelaki yang aku cintai ini? aku bahkan nggak berani buat nyapa dia...hahhh....

“ini ruangan untukmu, nanti ada supervisor yang membimbing” kata resepsionis yang mungkin di tugaskan untuk mengantarkanku.

Akupun hanya mengangguk-angguk kecil dan mulai duduk di tempat kerja baruku. Beberapa karyawan di sekitarku bahkan masih membicarakan pesona Kris yang menggugah selera itu.

“hi, ku dengar kau pegawai yang masuk ke sini tanpa tes ya?” tanya seseorang yang meja kerjanya berdekatan denganku.

“ahh ya kali, pak Kris yang memintaku langsung” jawabku sedikit bingung, nggak ngerti ah, pokoknya aku di suruh kerja di sini, nggak ngerti juga tes yang bagaimana, hehehe.

Bola mata gadis yang menanyaiku itu langsung melebar,”waahh benarkah? Jadi kamu sudah pernah ngomong dong sama pak Kris?” dia menatapku kagum.

“iya begitulah” jawabku canggung, emang kenapa? Cuma ngomong doang sama lelaki sok kayak dia sih udah biasa, lagian nggak ada yang spesial juga ngomong sama dia, yang spesial itu kalo diromantisin sama dia, hahaha kiamat kali ya kalo dia romantis, atau otaknya lagi kena virus makanya bisa romantis.

Akhirnya aku kenalan sama gadis itu yang ternyata namanya Reyna, teman baruQ dan dia banyak mengajariku apa-apa yang harus kukerjakan di sini sebagai staff baru di bagian keuangan.

“ehh..ehh..pak Kris udah selesai rapat” seseorang gadis yang aku belum tau namanya memberikan kode sehingga semua pekerja diminta berdiri untuk memberikan salam hormat, bah.. apa-apaan ini, macam Presiden aja.

Akhirnya aku ikut berdiri dan membungkuk saudara-saudara setanah air, padahal jajaran direksi juga nggak kalah keren tapi kenapa Cuma pak Kris yang begitu terekspos.

Bukannya membalas sapaan mereka, Kris langsung berjalan dengan angkuhnya, bahkan dia melewatiku tanpa sedikitpun menoleh apalagi menyapa. Huh!

“nah yang jalannya paling belakang itu namanya pak Chanyeol, dia orangnya baik, ramah, kalau ngomong sama dia itu kesannya kaya nggak ada kasta di antara kita” bisik Reyna.

Aku Cuma mengangguk-angguk dan memperhatikannya, lumayan loh ya, eh nggak lumayan ding, cakep, keren, kece, bahkan aku bingung mau bilang apa sama dia, mukanya beda jauuuh sama Kris, Kris kan boros mukanya, aku sama dia aja kayak beda lima tahun padahal Cuma beberapa tahun, hahaha.

Akhirnya setelah bergunjing ria dengan Reyna yang membuat kami ditegur oleh supervisor, tiba-tiba seseorang mengejutkanku.

“Ba!!”

“AAAA” aku berteriak kaget, yasalam Mello adooohh emang ini penculikan? Ngerasa lagi di pasar apa gimana sih pake acara teriak-teriak segala. -_-)

Seseorang-yang katanya namanya Chanyeol- itu langsung terkekeh, “idiihh ngapain sih pak pake acara ngagetin?” protesku sewot.

“pegawai baru ya? Kok imut?” dia malah muji aku bukannya ngasih tau alasan dia ngagetin aku, ihh ngeselin.
“itu muji apa ngejek?” tanyaku galak. Abisnya jantungku langsung lari maraton gara-gara dia.

“serius muji, hahaha, kenalan dulu, Chanyeol”  dia ngulurin tangan ke arahku.

“Mello” jawabku.

“ciyeee ehem Pak Chanyeol tumben ngajak cewek kenalan duluan” sindir Reyna sambil ketawa.
“mumpung jomblo” jawabnya, nah loh? Maksudnya jomblo apaan? Siapa yang jomblo? Dia? Aku? Siapa sih? Duuuhh Mello, otakmu kayaknya lagi kekurangan cairan, susah banget cerna omongan orang.
“oy oy perhatian perhatian” gadis yang daritadi teriak-teriak ngasih pengumuman kesana kemari ternyata mau ngasih pengumuman lagi/?

“bentar lagi Stavano bakalan ngerayain pesta nih” katanya, “terus ntar ada acara Love Game gitu, ntar bagi para pekerja yang ngerasa jomblo bisa daftarin diri,kali aja dewa cupid nembakin panah cintanya sama kalian”

“gue ikut” kata Chanyeol yang daritadi masih sibuk gangguin aku, aku kan jadi nggak konsen kerjanya, mana supervisorku kayak lagi melototin aku terus.

“Mello juga ikut ya, jomblo kan?” ajak Chanyeol to the point.

“hah?” aku melongo.

“iyakan? Udah ikut aja, nama kamu juga udah aku daftarin”

“hah?” aku ikut Love Game? Aku jomblo? Aku bahkan nggak tau statusku sekarang masih jomblo apa tetap taken sama Kris............

“udahan hah hohnya, tuh pak Kris sama Bu Delida juga ikut” jelasnya.

DEG.. Kris sama Delida ikut Love Game? Bedua? Kalau yang ikut Love Game itu jomblo semua berarti Kris ngerasa jomblo dong? Berarti kita emang bener-bener udah putus dong waktu di taman itu?
“ntar kita pasangan, mau kan?” rayu Chanyeol yang membuatku kembali ke alam sadarku.
“hah...iya” jawabku seadanya, jadi...emang bener-bener putus ya sama Kris.........

Author’s POV
    “Delida!” Kris langsung masuk ke ruangan Delida.

“Apa say?” Delida menjawab tanpa menoleh ke sumber suara.

“apa maksudnya ini?” Kris langsung melemparkan selebaran ke atas meja belajar Delida.

“itu acara ang dibuat para karyawan buat meriahin acara perusahaanlah” jawab Delida cuek.

“terus kenapa namaku ikut terdaftar?”

“apa salahnya sih, Alva? Toh kamu juga jomblo kan?”

“maksudmu?” Kris menatap Delida tajam.

“ya nggak apa-apa buat seru-seruan, ntar kita pasangan” sahut Delida sambil memainkan kukunya.

“haah... Delida. Coret. Namaku. Di daftar. Peserta. Love. Game.” Kata Kris.

“loh... kenapa? Ya nggak seru dong, masa belum tanding udah kalah duluan sama Mello-Yeol” protesnya.
“maksudmu apa?!”

Delida bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Kris. “Mereka. Ikut. Love. Game. Dan. Mendaftarkan. Diri. Sebagai. Pasangan.” Ia memainkan ujung dasi Kris dan pergi meninggalkan ruang kerjanya.

Hari-H
Mello’s POV

    “Mell udah selesai?” Chanyeol yang dari tadi pagi sibuk bujukin aku ke salon akhirnya udah nggak sabar juga ngelihat penampilanku.

Ugh, salah dia bawa aku ke salon, yang ada aku malah tetep biasa-biasa aja, padahal aku males banget ikut acara Love Game ini, tapi Chanyeol malah memaksaku dan tadi sore sehabis pulang kerja dia malah ngajakin ke salon.

“bentar lagi Pak” jawabku yang masih sibuk dipoles/?

Udah dua jam aku di salon, capek lah dibawa ke sana kemari buat perawatan, pembersihan ini itu, aku bahkan nggak tau namanya apa.

Mello pokoknya kita harus menang biar jadi couple terbaik sepanjang tahun.

Kenapa sih Mello? Kamu kan karyawan baru jadi semua orang juga harus kenal sama kamu makanya kamu harus ikut acara ini

Aku baru pertama kalinya ikut acara beginian jadi jangan kecewain aku.

I’m a Peterpan and You’re my Wendy.

Daaaan segudang kalimat-kalimat romantis, bujukan segala macam yang kuterima dari Chanyeol, ahhh... andai Kris bisa seromantis Chanyeol mungkin aku sudah pingsan lebih dulu, atau bahkan sebelum dia berujar pun aku udah kena serangan jantung, paru-paru tersumbat dan darah berhenti mengalir.

“silakan liat ke cermin mbak” pegawai salon itu akhirnya membawaku ke sebuah cermin besar dan...

“itu yang di cermin siapa?” aku melongo menatap bayangan wanita cantik di depanku.

“wuidiiiih cantik bener” Chanyeol langsung menghampiriku sambil bertepuk tangan, “nggak salah kan, kamu emang cantik” bisiknya di telingaku sambil mengusap pipiku.

Oh god, aku baru banget kenal sama dia tapi dia udah berani mengusap-usap pipiku, bohong kalau aku nggak seneng ya, siapa sih yang nggak bahagia di deketin cowok ganteng?

“ayoo...nanti telat” ia langsung menggenggam tanganku dan menarikku ke luar.


“ehmmm...nampaknya peserta terakhir sudah mulai memasuki ruangan” sapa seorang MC ketika aku dan Chanyeol mulai memasuki ruangan, haaah rasanya telapak tanganku sudah basah, aku gugup. Banget.

“jangan gugup, just act like a princess” bisik Chanyeol di telingaku, aku mengangguk pelan dan pasrah ketika tangannya menggenggam erat tanganku dan menuntunku memasuki ruangan pesta. Pantas saja dia mengajakku kesana kemari ternyata untuk mengulur waktu dan membiarkan kami sebagai tamu terakhir di pesta ini.

Aku berjalan perlahan dan berusaha menenangkan diriku sampai akhirnya mataku menangkap sosok yang membuat tubuhku limbung kalau saja Chanyeol tak menahan pinggangku.

Alva Kris.. dengan setelan tuxedo berwarna hitam dan kemeja putih yang kancingnya sengaja dibiarkan terbuka di bagian atasnya membuatku harus menelan ludahku berkali-kali. Ia tak bergeming dari tempatnya berdiri, hanya menatapku tajam seakan berkata, kau-takkan-selamat-malam-ini.

“OK baiklah, sekarang peserta love game silakan naik ke atas panggung” perintah sang MC yang membuatku tersentak kaget dan rasa gugup kembali menyelimutiku.

Baiklah aku merasa terintimidasi sekarang, Chanyeol ternyata nggak kalah terkenalnya dengan Kris, ada banyak cewek yang memujanya bahkan aku bisa mendengarnya langsung dari tempatku berpijak.

Chanyeol memeluk pinggangku erat dan menuntunku naik ke atas panggung.

Ada 4 orang pasangan yang akan menjadi saingan kami malam ini, Mark-Lauren, Ron-Stella, Albert-Keira, dan terakhir Kris-Delida. Huhh... sulit rasanya untuk menyebutkan nama pasangan terakhir karena jauh di lubuk hatiku yang terdalam aku sangat sangat tidak merelakan acara perjodohan kilat ini.

Akhirnya acara pun di mulai dengan kami dan pasangan-pasangan lainnya yang berdiri di atas sebuah lingkaran dengan peraturan ‘tak boleh keluar dari lingkaran’ tempat kami berpijak. Haaah.. game pun di mulai.

Pertama-tama kedua tangan kami diikat dan kami saling berjuang untuk melepaskan tali ikatan satu sama lain dan serangkaian permainan lainnya hingga akhirnya hanya ada dua peserta di atas panggung, Chanyeol-Mello dan Kris-Delida ;A;

Huhh hah huhh hah.. sabar Mell sabar, si Kris mungkin benar-benar menikmati perannya sebagai peserta Love Game, buktinya tadi dia seenak udel grepe-grepe tubuh Delida, memang sih ada banyak skinship di antara semua pasangan, tapi kalau aku ngelirik pasangan ini, darahku rasanya naik ke ubun-ubun, tensi darah naik dan mungkin otakku sudah mau meledak, kalau saja Chanyeol tidak mengiba padaku untuk nggak bertahan sampai akhir, mungkin aku lebih memilih untuk pulang ke rumah daripada bertahan dan melihat semua pemandangan menjijikan ini.

“baiklah, sekarang hanya ada dua pasangan, silakan para lelaki diminta untuk mengambil peppero stick”
Hah? Peppero stick? Otakku sudah mikir yang engga-engga, akhirnya setelah berbagai macam instruksi yang diberikan, kami dan satu pasangan –yang aku nggak mau nyebutin nama mereka— diminta untuk menghabiskan stik peppero itu berdua.

Aku memakan ujung stik pepero dan Chanyeol di ujung yang lain hingga akhirnya bibir kami saling berdekatan, nyaris bersentuhan. Tanpa sadar tanganku menekan bahu Chanyeol, memintanya untuk menyerah daripada aku harus merelakan bibirku tersentuh oleh bibirnya.

Chanyeol mungkin mengerti dan dia menghentikan gerakannya, ia melepaskan stik pepero yang tersisa dan menyerahkan kepada panitia acara untuk dihitung, sedangkan samar-samar sang MC mengatakan, “waaah, pak Kris dan Ibu Delida berciuman”

Hah? Apa... apa dia bilang? Mereka berciuman? Rasanya kepalaku sudah berputar-putar saat mendengar kalimat itu di ucapkan. Kakiku terasa lemas kalau saja Chanyeol tak menahan pinggangku. Ia menahan pinggangku dan membawaku mendekat ke arahnya.

“ok. Karena suasana semakin panas dan romantis antara Yello couple dan Deris couple, panitia memutuskan untuk tidak mengukur panjang stik yang tersisa, tapi ada satu tantangan yang mungkin akan menjadi tantangan terakhir dan kita akan mengetahui siapa couple paling romantis di tahun ini” jelas MC.

“apa apa?” samar-samar aku mendengar sorak sorai dari para tamu undangan, aku udah nggak kuat lagi, aku....sakit hati...

“Mell, bertahanlah untukku” bisik Chanyeol, “kita sudah berjuang sejauh ini, tolong jangan buat ini jadi sia-sia” pintanya.

“oke, jadi... para pria diminta untuk mencium gadisnya... ciuman yang paling dalam dan romantis itulah yang akan dinobatkan jadi couple teromantis tahun ini” tantang MC.

Aku mematung, berciuman? Di depan umum? Dengan orang yang bahkan belum lama kukenal? Tapi... aku teringat akan Kris yang bahkan tadi sudah mencium Delida. Sabar Mel.. sabar...

“masih mau lanjut Mel?” tanya Chanyeol padaku.

Aku mengangguk, baiklah.. mungkin dengan adanya acara ini, aku juga bisa belajar untuk melupakan Kris, ciuman bisa bikin orang jatuh cinta nggak sih?

Aku menutup mataku pelan dan membiarkan Chanyeol bertindak, satu menit...dua menit...tiga menit.. aku menunggu tapi tak ada sentuhan seperti yang kuharapkan. Perlahan lahan aku membuka kedua mataku, ok Ya Tuhan, apa yang kulihat sekarang? Kris menahan bahu Chanyeol?

Dia melirikku sesaat, “sorry, Mello milikku” ucapnya sambil menekankan kata pemilik di bagian akhir.
Ap.. apa? Dia bilang apa? Milikku? Aku milik Kris? Sejak kapan? Maksudnya apa? ;AA;

Kupastikan Chanyeol tak kalah kaget ketika mendengar pernyataan yang keluar dari bibir atasannya sendiri, “maaf pak, saya nggak bermaksud buat ngerebut dia dari bapak”

“kalau Mello menyukaimu, kau boleh mengambilnya dariku” kata Kris dengan angkuhnya.

Oke baiklah, sekarang semua karyawan terdiam melihat pemandangan ini. tak ada yang berani berujar sampai akhirnya Delida bersuara.

“Kris, sejak kapan kau suka merebut lahan orang lain?” sindirnya.

“udahlah, hentikan permainan konyol ini, semuanya duduk tempat tamu undangan” perintah Kris.

Hah, di saat begini sifat bossynya emang bener-bener berguna, nggak ada yang berani ngelawan dia di saat menegangkan seperti ini. ada semburat kecewa di wajah Chanyeol saat menatapku dan raut wajah kesal terukir di wajah cantik Delida.

Aku menghela napas pelan dan berbalik untuk mencari tempat duduk.

“Mello, aku tidak menyuruhmu untuk kembali ke tempat dudukmu” perintah sebuah suara.

Aku berbalik menatapnya, “mau apa lagi? udah selesai kan? Aku males kalo dikasih-kasihin ke orang kayak gitu, kaya barang aja” sungutku kesal. Maunya apa sih? ‘kalau suka ambil aja’ maksudnya apaa? Emang aku barang apa? Kenapa ngomongnya gitu. Nggak berperikemanusiaan -__-

Bukannya minta maaf dia malah ketawa, dikeluarkannya iPad miliknya dan dia mulai menuliskan sesuatu, usai menggoreskan sesuatu di layar iPadnya, ia memperlihatkan hasil pekerjaannya padaku.

Bukan tulisan yang diperlihatkannya padaku melainkan sebuah gambar, gambar binatang seperti kucing, diatas gambar kucing ada lambang bentuk hati dan panah yang mengarah ke sebuah huruf LU.

Maksudnya apa? Kucing cinta kamu? Apa coba artinya? Atau kucing itu melambangkan dirinya terus bilang sayang aku? Aku nggak tau artinya ;__;gambaran Kris

“itu gambar binatang apa?” tanyaku.

“kebo” jawabnya cuek.

“kebo apaan itu kayak kucing” protesku.

“berisik, bukannya bilang makasih udah digambarin” omelnya.

“makasih  yaaaa.... tapi itu maksudnya apa coba?” tanyaku masih takjub melihat hasil gambaran ajaibnya.

“nggak ada maksud” dia langsung berjalan menuju ke arah piano besar.

Ishhh, nyebelin kan, aku belum selesai ngomong dianya malah main ninggalin aku. Oh ya, aku baru sadar, tak ada yang berani berbicara kecuali aku dan Kris, yang lain hanya memilih diam dan menyaksikan pertengkaran kecil kami.

“mau kemana?” teriakku, tapi Kris malah nyuekin aku dan lebih milih duduk di depan pianonya, jari-jarinya dengan lincah memainkan tuts piano.

(Can I) call you my own and can I call you my lover
Call you my one and only girl
(Can I) call you my everything call you my baby
U’re the only one who runs my world
Girl can I, call you mine, you and me, happily, by my side
Through day n night, let it be known, that u’re my own...

Tak terasa aku meneteskan airmata ketika Kris memainkan piano untukku, ia tersenyum ke arahku dan berjalan menghampiriku perlahan.

Tangannya yang bebas terulur menyeka airmata yang keluar dari kedua mataku, hingga tangan yang lain meraih tangan kananku dan jarinya bergerak lincah menyematkan sebuah cincin emas sederhana di jari manisku.

“aku tau kau tak suka barang mewah jadi kuputuskan untuk memilih yang sederhana”

Otot-ototku terasa lemas kalau saja dia tak merapatkan tubuhnya dan meraih pinggangku, “ini...apa....” bisikku terbata.

“kau harus menikah denganku, aku tak terima penolakan” ujarnya sambil mencium lembut bibirku... aku tersipu malu sampai tak menyadari ada banyak pasang mata yang menyaksikan kejadian ini.

“bisa nggak sehari aja nggak bikin aku lemes?” bisikku pelan.

“bikin lemes itu hobi” bisiknya sambil mengeratkan pelukannya.

THE END

EPILOG
Akankah kau berada di sisiku? Dalam keinginan besar yang perlahan menghilang
Kedamaian selalu tak pernah terlihat di hadapan tragedi
Aku mengumpulkan kepingan kecil cinta ini, satu bagian, dua bagian, aku menumpuknya.
Hanya dengan berharap bisa bertemu denganmu
Airmataku mengalir sebanyak ini, cintaku.
Kubiarkan kekesalanku melayang pergi ke langit malam,(pls stay with me)
Aku bisa menahannya tapi jangan dingin kepadaku
Karena suatu saat kata-kata akan berubah menjadi kebenaran
Kebanggaan dan bakat yang tak bisa di dengar, tak bisa berakhir seperti mimpi.
Satu hal, dua hal, jelaskan semuanya padaku.
Apakah aku akan menyakiti diriku lagi jika kukatakan aku merindukanmu?
Airmataku mengalir lagi, cintaku.
Setiap kita berpapasan, kau semakin berharga bagiku(pls stay with me)
Aku ingin mengetahui lebih banyak tentangmu, aku ingin mendengar suaramu.
Rasanya ingin menangis, rasanya aku bingung. Aku begitu lemah kan?
Please...stay with me (YUI-PLEASE STAY WITH ME)

“nggak bosen dari tadi dengerin lagu itu mulu?” tanya Kris tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.

“kamu nggak tau itu lagu aku dulu tau nggak” sungut Mello.

“engga, maksudnya?”

“au ah bete” Mello melipat kedua tangannya, punya kuping kan? Dengerin kek liriknya maksudnya apa? Dasar!! Itukan lagu pengharapan/? Lagu ungkapan perasaan aku, ya masa aku harus jelasin juga ke dia, bego apa gimana sih? Masa penerus perusahaan Stavano nggak ngerti yang beginian? Dasar otak beku. Cairin dulu sanah.

“ngambek mulu ckck” Kris berdecak.

“au ah bodo bodo bodo” teriak Mello di dalam mobil.

“tukang ngambek bikin gemes deh, jadi pingin nimpuk” komentar Kris.

“bawaan bayi kali, yaudah pokoknya abis ini kamu harus bikinin aku makanan.. aku lapar” perintah Mello.
“bawaan bayi mulu, males ah”

“KRIS!! Ntar anak kita ileran gimana?” Mello menatap Kris sambil berkacak pinggang.

“mirip ibunya berarti” jawab Kris seenaknya.

“Alvaaa!! Ihhh!!”

“berisik, diem kalo nggak mau kuperkosa di sini”

“ALVAAA KRIS!!!”

Yang naksir sama Alva Kris bisa ketemu sama realnya Alva Kris
Sebenernya ff ini khusus buat dia, tapi ya karena ada something gitu jadi ya nggak jadi dikasih tau aku bikin ff buat dia, kkkk.
Krisnya baik kok, kadang nyebelin ^^; aku ngambil sifat Alva Kris dari dia, sekalian minta fanservice sama dia pasti di kasih kok, kalau sifat pelit sama songongnya gak kambuh ^^v , sekalian nanya Mello dimana juga nggak papa sama dia, hahaha^^)v
Udah ah, bye all. Makasih udah ngikutin ff aku sampai selesai. *bow*