Jumat, 16 November 2012

FF : At Least I Still Have You part 2-2(END)



Cast :
·        *  Kris EXO M / Wu Fan
            * Bang Min Ah
·         * Other cast

Genre :
 Romance, family, PG 15

Hoi. Author datang lagi, gak nyangka aja ya ff pertama bisa dapat respon yang bagus juga^^ jadi semangat buat lanjutinnya, thanks ya buat yang udah ngasih support buat author ^^ Special thanks for @xiummine yg udah bikinin posternya^^

Minah POV :
“bogoshippo” ucap Kris di telingaku, tangannya merengkuh tubuhku yang lemah, setiap matanya menjelajahi setiap inci tubuhku, tangannya menyentuh memar yang ada di lenganku, aku hanya tersenyum, merindukan setiap sentuhannya, merindukan aroma tubuhnya yang memabukkan dan mengganggu sistem kerja otakku. Tangannya membelai lembut pipiku dan ujung jarinya mengusap bibirku. Aku merasa mendapatkan kekuatanku kembali. Semua rasa lelah, takut dan sakit hati itu telah sirna, matanya benar-benar menyiratkan apa yang ia ucapkan benar-benar tulus dari hatinya.
“kajja, kau harus makan sayang” bisiknya.
“ne” aku mengangguk pelan, tangannya berniat untuk menopang tubuhku, namun aku mencoba mencegahnya. “ah, aku sudah bisa sendiri, aku merasa lebih baik sekarang” ucapku.
Kris tersenyum dan menggandeng tanganku menuju meja makan.
MWOO??  Apa ini? Mataku membelalak melihat masakan yang ada di hadapanku, telur goreng?? Tapi.. bentuknya tak beraturan..
“Ya!! Jangan dilihat saja, cepatlah makan, huh kau harusnya beruntung dimasakkan oleh seorang lelaki tampan sepertiku” Kris mengetukkan ujung sendok ke kepalaku.
Aiissshh... namja ini.. aku langsung melirik ke arahnya, alisnya sedikit terangkat, matanya menatap tajam ke arahku. “Puahaahhhhahhahaha” aku tak kuasa menahan tawaku.
                Kris bersiap ingin memarahiku, namun niat itu di tahannya, “Ya!! Berhenti tertawa!! makan yang banyak, setelah aku selesai mandi, aku akan langsung menyerangmu” ujarnya berlalu meninggalkanku menuju ke kamar mandi.
                Tawaku langsung lenyap seketika. Glekkk...me...menyerang?? aku menahan nafas. Tamatlah riwayatku.
                Selesai makan, aku langsung masuk ke kamar, tubuhku sudah mulai mengeluarkan keringat dingin, apa aku pura-pura tidur saja? Bagaimana kalau Kris membangunkanku? Aku...aku...arrgghhh...baboo.. kuremas selimut yang daritadi sudah menutupi tubuhku.  Kulirik jam dinding. Ehh?? Aku sudah sejam menunggunya, kenapa Kris mandinya lama sekali?
                Aku berjinjit ke kamar mandi, mendengarkannya dari luar. Hening. Tak ada suara apa-apa. Pelan-pelan kuketuk pi ntu dari kamar mandi. Tak ada respon..
                “Oppa??” tak ada jawaban, suara air mengalir pun tak ada.
                “Oppa?? Oppa??” aku terus memanggilnya dari luar, apa yang terjadi??
                Pelan-pelan pintu kamar mandi terbuka, Kris keluar dari kamar mandi dengan bibir yang mulai membiru, “oppa?? Kenapa??” tanyaku.
                Kris memijit keningnya, “ani, aku ketiduran di kamar mandi” dia berlalu di hadapanku dan menuju kamar untuk berganti baju.
                Ketiduran di kamar mandi? Bagaimana bisa? Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal itu, sepertinya aku harus membuatkan minuman hangat untuknya.
                TING TONG~ aku mendengar suara bel, aku langsung meletakkan minuman hangatku untuk Kris dan bergegas membukakan pintu.
                “Minaaaahhh~” sebuah pelukan hangat kudapatkan, eomma n appa Kris sudah pulang.
                “Ahjumma..Ah..”
                “ssstt..panggil eomma sama appa,ne?” eomma Kris langsung memotong ucapanku.
                “ne, eomma n appa^^”
                “Wu Fan mana?” tanya ayahnya Kris.
                “ahh ne, tadi dia baru saja selesai mandi appa, sekarang dia ada di kamar” jawabku.
                Kris appa langsung berjalan ke kamar, aku dan Kris eomma mengikuti dari belakang . “aiishh, habis melakukan apa sampai Kris pagi-pagi begini sudah mandi??” goda eomma kepadaku.
                “ngg..tidak melakukan apa-apa eomma-_- Aley mana eomma?”
                “haha, Aley sudah kembali ikut orangtuanya ke Jepang”
                Pembicaraan itu terhenti begitu saja saat kami tiba di depan kamar Kris, mataku dan kedua orangtua Kris membelalak kaget, Kris tergeletak di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri, “Oppa!!” aku berlari menghampirinya. Kutepuk-tepuk mukanya namun kesadarannya tak kunjung pulih. Appanya langsung memeriksa denyut nadi dan keadaan Kris.
                “sepertinya dia pingsan lama sekali di kamar mandi, cepat panggil Dae, kita harus membawanya ke rumah sakit!!” dia memerintahkan istrinya untuk menelpon Dae.
                Jantungku berdetak tak karuan, eottohke??
***
                Aku hanya mondar-mandir di ruang tunggu, menunggu kabar keadaan Kris, eomma sudah pulang lebih dulu untuk mengganti bajunya.
                Appanya Kris datang menemuiku, beliau duduk di sebelahku. “appa, bagaimana keadaannya?”
                Beliau menghela nafas panjang, “kata dokter yang menanganinya, dia mengalami gangguan saraf otak belakang akibat meminum minuman keras, hal ini membuat kepalanya akan terus menerus terasa sakit. Jinjja.. Sejak kapan anak itu minum alkohol? Padahal dia tidak pernah minum minuman seperti itu” wajah appanya terlihat tegang, aku dapat merasakan kekhawatiran yang sangat besar dari sorot matanya.
                “eottohke??” tanyaku, tubuhku sudah mulai melemah.
                “hmm, mungkin kami akan membawanya ke Jepang dan melakukan scan di bagian kepalanya apabila dalam beberapa hari ini tak ada perubahan padanya.” Beliau berhenti sejenak kemudian melanjutkan, “dokter Kim terpaksa harus menyuntikkan obat penenang terus menerus kepada Kris agar dia tak merasakan sakit”
Aku hanya terdiam mendengar penuturan dari Kris appa, ke Jepang? Aku berusaha mengingat-ingat, Kris tak pernah mengeluhkan sakit kepala kepadaku.
“kenapa bisa separah ini? Seingatku dia tak pernah mengeluh sakit kepadaku” tanyaku takut-takut.
“mollayo~ mungkin dia meminum obat penghilang rasa sakit yang ia curi di kamarku.”
Aiishhh.. aku lupa kalau dia cukup pintar mengetahui berbagai jenis obat mengingat orangtuanya adalah seorang dokter.
Kris appa memandang dan tersenyum ke arahku, “lebih baik sekarang kau pulang dan beristirahat, kulihat kau juga sedang sakit”
                “ne, tapi bolehkah aku melihat keadaan Kris sekarang?” pintaku.
                Kris appa langsung mengangguk, aku membungkukkan badanku dan masuk ke ruangan Kris. Kulihat dia sedang tertidur. Tak terasa air mataku menitik, aku tak pernah melihatnya selemah ini. Tanganku refleks merapikan rambutnya yang acak-acakan, kupandangi dia lekat-lekat. Wajah malaikat ini yang sudah membuatku lupa akan segala hal. Kutelusuri setiap bagian wajahnya dengan tanganku. Alisnya, Matanya, hidungnya, lekuk bibirnya.... ahh bibir pucat ini yang telah mencuri ciuman pertamaku. Ku genggam tangannya, “jaljayo, cepat sembuh sayang~” bisikku.
***
Besok pagi-pagi sekali, Kris akan berangkat ke Jepang untuk berobat dan sudah lima hari ini aku terus menemaninya di rumah sakit. Setiap Kris mengeluh sakit, dokter akan memberikannya obat penenang dan itu membuatnya terus menerus tertidur. Bisa dikatakan Kris mengalami koma...
                Namun dua hari terakhir ini Kris menolak untuk diberikan obat penenang, dia meminta untuk di berikan obat penghilang rasa sakit, dia juga meminta kepada appanya untuk melepaskan infusnya. Sekalipun appanya melarang, dia terus-terusan membujuk appanya, ahh~ bakat membujuk itu.. diperoleh dari eommanya.
                Perlahan aku membuka pintu ruang perawatan Kris, kulihat dia sedang membaca sebuah buku sambil bersandar. Dia tak mengalihkan pandangan matanya dari buku itu.
                “Sembarangan masuk tanpa mengetuk pintu lebih dahulu, tidak sopan sekali” Kris melemparkan tatapan tajam ke arahku.
                Aku mencibir “aku tak tau kalau kau sudah bangun, biasanya kau selalu tertidur saat aku datang kesini”
                “......” tak ada jawaban dari Kris, dia tak menghentikan perbuatannya, matanya terus menerus menatap ke arahku.
                Aku mengehela nafas panjang dan memutar bola mataku, “ahh.. Ok, baiklah aku akan mengulanginya, keluar dari pintu dan mengetuk pintu lagi meminta izin masuk darimu” aku membalikkan badanku dan bersiap melangkah pergi, namun sebuah lengan menarik pinggangku dan membuatku kehilangan keseimbangan.
 aku terduduk di pangkuan Kris, dia menarik tubuhku agar lebih dekat dengannya. Kurasakan hembusan nafasnya di kupingku. Tangannya memeluk erat pinggangku. Dia menyeruakkan kepalanya di sela-sela leher dan bahuku. “kau tau, aku sangat merindukanmu, huh?” Kris mengecupi pundakku.
Tangan kanannya menyentuh pipiku dan membuat mata kami beradu pandang. “kau tau, aku sangat merindukan ini” dia mengecup hidungku berkali-kali,“juga ini” dia mengecup bibirku. Aku menutup mataku. Kurasakan bibirnya menyentuh lembut bibirku. Melumatnya perlahan, namun perlahan-lahan ciumannya menuntut, dapat kurasakan ada kerinduan yang mendalam di balik ciumannya.
Kris melepaskan ciumannya dan mengusap bibirku perlahan. Dia terkekeh, “berani bertaruh kau pasti sudah menciumku berapa kali selama aku tertidur”
“....” aku tak berani menjawab, pipiku merona merah, dapat kurasakan darah mengalir deras di pipiku. Aku pernah mencuri ciumannya, tapi Cuma sekali saat aku mengucapkan selama tidur padanya.
“berarti memang benar kan?” dia menggodaku sambil menarik hidungku dengan gemas.
“appoo...” aku berusaha melepaskan hidungku dari tarikan tangannya.
Dia tersenyum menang, “huh” aku memanyunkan bibirku, “oppa, kenapa kau tak pernah bilang kalau kepalamu sering sakit akhir-akhir ini??”
Dia menarikku lagi ke dalam pelukannya dan merebahkanku, “berbaringlah di sampingku..” ucapnya. Aku menuruti permintaannya, dia memiringkan badannya ke arahku, satu tangannya menopang kepalanya, tangannya yang lain mengelus-elus rambutku. “untuk apa? Aku lebih memikirkan kesehatanmu daripada kesehatanku sendiri. Waktu itu kau jauh lebih menderita dibanding aku”
“tapi tak seharusnya kau menyembunyikannya seperti ini..”
“hmm” Kris tak mengatakan apapun, dapat kurasakan hembusan nafasnya terasa sangat berat, “besok aku akan ke Jepang, aku tak tau kapan akan kembali atau mungkin bisa saja aku tak akan pernah kembali”
“maksud oppa??” aku menatapnya tak mengerti.
Kris hanya tersenyum, “maksudku, kau tak perlu menungguku, aku tak tau sampai kapan penyakit ini akan terus berlanjut. Selama aku pergi, kau boleh mencari penggantiku. Aku tak ingin menghancurkan masa depanmu hanya dengan terus menerus menunggu hal yang tidak pasti..” tangannya turun ke pipiku dan mengelus pipiku lembut,”jika aku kembali dan kau sudah menemukan penggantiku, aku tak akan segan-segan merebutmu kembali darinya...”
 Aku merasakan ada aliran air yang mengalir deras di pipiku. Aku sudah mengerti maksud dan arah pembicaraan ini. Ucapannya, terasa mengikatku dan menyesakkan dadaku, membungkam mulutku dan melarangku untuk mengucapkan satu patah kata pun.
Kris mengusap airmataku perlahan, dikecupnya bibirku, “uljimaa~ mulai besok hiduplah dengan lebih baik, jangan sedih terus di sini dan terpuruk dengan keadaan, aku di sana juga berjuang, kita berjuang sama-sama....”
Tak ada sepatah katapun yang dapat keluar dari mulutku,aku menangis sejadi-jadinya, kurasakan Kris memelukku dan membiarkan airmataku membasahi bajunya.
Malam perpisahanku dengannya, awalnya ku harap aku akan menghabiskan malamku dengan bercanda dan berbagi keceriaan dengannya, namun semuanya tak sesuai harapanku...
***
                Hari ketiga...
                Aku semakin merindukan dan mengkhawatirkannya, tak ada kabar darinya maupun orangtuanya, jujur, aku masih memikirkan maksud ucapannya padaku, apakah sakitnya semakin parah sampai dia mengucapkan hal seperti itu padaku?? Mencari penggantinya?
                Hari ketujuh...
                Aku sangat merindukannya dan bingung harus melakukan apa disini... Aku disini sendirian, orang tuaku sudah di surga, dan..... haruskah aku kehilangan orang yang aku sayang untuk kesekian kalinya??
                Hari kedua belas....
                Aku tak tahan lagi, aku harus menemui Hyeri untuk membagi kesedihanku padanya, setidaknya dia bisa membuatku sedikit lupa akan sakit hati ini. Aku benar-benar merasa sebentar lagi akan merasa gila.. Arrgghh..nama itu.. Kris Wu Fan... benar-benar membuatku mati perlahan..
                Hari kelima belas...
                Sepertinya aku harus menemui Hyeri lagi, aku benar-benar tidak tahan.. eottohke?? Ini sudah 2 minggu dan mereka masih tak ada kabar...  Aku rasa, aku harus membuatkan makanan untuk Hyeri sebagai imbalan karena mau mendengarkan curhatanku..
                TING TONG~ suara bel menghentikan langkahku yang ingin menuju ke dapur, aku bergegas membuka pintu.
                “TADAAA!!” aku berdiri mematung melihat eomma dan appanya Kris berada di hadapanku. Eomma Kris kembali mengejutkanku.
                “eomma?? Appa?? Kyaaa” aku menghambur ke pelukan mereka yang sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri. Mereka membalas pelukanku. Mataku mencari-cari sosok yang sangat kurindukan. “mana Kris??”
                Raut wajah eomma Kris seketika berubah.. “ahh... Wu Fan...dia.... ” beliau menarik nafas panjang. Aku melirik ke arah Kris appa yang sejak tadi mematung melihat kami berdua. Jantungku mulai berdetak tak karuan, apa yang terjadi dengan Kris?? Tanganku menggenggam kalung pemberian Kris berusaha menenangkan diri.
                “kajja, masuklah dulu ke rumah, tak baik berbicara di depan pintu” Kris appa mengingatkan kami berdua. Aku merasa akan segera pingsan, aku tak dapat merasakan kakiku lagi, aku berjalan perlahan dengan digandeng oleh Kris eomma. Tiba-tiba seseorang menutup kedua mataku.
                “Yaa!! Siapa ini??” benar-benar kaget. Tunggu dulu... aroma parfum ini... “Kris...” desisku.
                Orang itu membalik badanku, aku benar-benar merasa tersihir dengan apa yang kulihat sekarang, Kris berdiri di hadapanku dalam keadaan sehat dengan senyumnya yang teramat sangat kurindukan.
                Kris berlutut di hadapanku, “eomma, appa, di hadapan kalian berdua, ijinkanlah anak semata wayangmu ini untuk melamar yeoja pilihannya dan menghabiskan seumur hidupnya bersama dengan yeoja yang sangat dicintainya.”
                “ne, tentu saja anakku,” sahut Kris eomma dengan mata berbinar, Kris appa memeluk Kris eomma dan mengangguk tanda setuju, dapat kulihat raut wajah bahagia dari kedua pasangan itu.
                Tiba-tiba Kris mengeluarkan sesuatu berwarna merah berbentuk hati dari balik sakunya, dibukanya kotak itu.. dikeluarkannya benda itu dari kotak, cincin... tangannya yang bebas meraih tanganku dan menyematkan cincin itu di jari manisku.
                “Bang Min Ah.. maukah kau menikah denganku dan menjadi ibu dari anak-anakku nanti??” kali ini Kris mendongakkan kepalanya dan matanya kembali beradu pandang dengan mataku.
                Kris melamarku? Aku merasa benar-benar bahagia, disekitarku seperti ada ribuan kupu-kupu yang mengitari tubuhku. Tubuhku merasa seperti akan meledak saking bahagianya. Aku mengangguk mantap.
                Dia bangkit dari posisinya, aku mendongakkan kepalaku, mataku tak berhenti menatap matanya, dia tersenyum dan langsung memelukku lagi, menarikku lebih dalam ke pelukannya dan langsung memutar tubuh kami berdua...
                “haha, pasti mereka sudah melakukannya kan sampai anakmu yang terkenal jaim itu berani melamar yeoja yang dicintainya di hadapan kita” bisik Kris eomma kepada suaminya, namun bisikan itu terdengar sangat nyaring di telingaku dan Kris.
                “MWOOYAA???!!”
***
Kris POV
                Ahh..aku menghempaskan tubuhku ke kasur. Hari ini sungguh melelahkan. Setelah selesai mengadakan pesta pernikahanku dari kemarin malam sampai tadi sore. Melayani tamuku yang datang dari kerabat appa dan eommaku sampai teman-temanku di kampus, aku tak melihat kerumunan fansku datang ke pesta pernikahanku. Mungkin mereka sudah membenciku. Ah masa bodohlah, aku bahagia sekarang dengan yeojaku.
 Aku dan Minah juga harus kembali ke rumah orang tuaku untuk mengambil barang-barang yang masih tertinggal dan memindahkannya ke rumah baruku.
                Aku tak menyangka rumah ini adalah hadiah pernikahanku dari eomma dan appaku, rumah ini bahkan sudah lengkap dengan segala perabotan mahal dan... peralatan bayi...
                Aku tak menyangka eomma dan appaku begitu menginginkan cucu dariku dan Minah, pantas saja eomma mengirimkanku email dengan isi yang menjijikan itu. Tch...semoga saja Minah tak membacanya.
                Kulihat Minah sudah selesai mandi, dia keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang hanya menutupi bagian dada sampai pahanya, aku terpana dibuatnya, biasanya Minah selalu keluar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap, apa ia mencoba menggodaku. Huh. Aku menelan ludah.
                Minah yang daritadi menyadari tatapanku langsung meminta maaf, “Mi..mian..aku lupa membawa pakaianku” aisshh..pipinya yang merona itu membuatku ingin segera menciumnya saja.
                “ehmm.. aku mandi dulu” jawabku sambil menyambar handukku dan berjalan ke kamar mandi.
                Ahh.. kurasakan air meluncur di atas kepalaku, benar-benar menyejukkan. Sayang tak ada kolam renang disini, hanya ada lapangan basket untukku. Padahal aku tak bisa lepas dari kedua benda itu.. alasannya karena sebentar lagi aku akan mempunyai anak sehingga orang tuaku takut apabila aku tak hati-hati menjaganya, anakku bisa terjatuh ke kolam. Cih,alasan macam apa itu?
                Aku segera melilitkan handuk dan berjalan ke luar, aishh.. sial.. aku lupa membawa koperku ke kamar, ahh disini saja. Aku langsung memakai celana pendekku di ruang tamu. Semoga Minah tak melihat kekonyolanku di sini.. batinku.
                Aku berjalan ke kamarku dan kudapati Minah sedang membaca majalah membelakangi pintu kamar, dia tak sadar aku masuk ke kamar. Apa yang ia baca? Aku berjalan mengendap-endap dan mengintip majalah yang sedang dibacanya.
                ‘kiat-kiat memuaskan suami di malam pertama’ aku menahan tawaku ketika membaca judulnya.
 ‘hal pertama yang anda lakukan adalah berpakaian seksi atau sedikit transparan di hadapannya agar anda menjadi pusat perhatiannya. Hal selanjutnya yang harus anda lakukan adalah mulailah merangsang pasangan anda dengan memberikan sentuhan-sentuhan lembut di daerah sensitifnya agar dia semakin bergairah dan mulai memonopoli permainan anda’ , kulirik Minah, dia saja tak memenuhi tips pertama, kenapa harus memakai baju? Toh sudah pasti aku akan melepaskannya nanti, apalagi dengan tips berikutnya.....dia saja tak punya keberanian untuk menciumku lebih dulu.. aku tak kuat lagi menahan tawaku. “HUAHHAHHAHAHA” aku melepaskan semua tawaku.
Minah terlonjak kaget ketika mendengar tawaku, dia langsung menyembunyikan majalah yang dibacanya.
“oppa?? Wae??” tanyanya polos. Tawaku semakin keras, ditambah lagi pipinya yang merona merah melihat keadaanku yang hanya menggunakan celana pendek. “oppa, ke...kenapa kau tak memakai bajumu??” tanyanya lagi.
“untuk apa? Bukankah kau nanti akan melepaskannya?” aku balik menanyainya. Dia sukses kubuat malu. Ku dekati Minah yang menundukkan kepalanya, aku tau dia menyembunyikan rasa malunya. Kuraih dagunya dan kudongakkan mukanya, matanya menatapku takut-takut.
“jangan takut, aku suamimu, ingat itu” bisikku tepat di telinganya, ku rebahkan dan langsung kutindih tubuhnya, kukecup kupingnya. Napasnya memburu, ku pandangi lagi wajahnya, meneliti setiap inci wajahnya, wajah yang selalu kurindukan, wajah yang selalu mengganggu hidupku dan hadir di setiap mimpiku. Kucium kedua matanya.
“bukalah matamu” pintaku, aku tau dia takut. Dapat kurasakan detak jantungnya. Minah membuka matanya perlahan, kukecup lagi hidungnya, kukecup pipinya dan kucium bibirnya. Kulumat perlahan-lahan. Dia membalas ciumanku, ku jilat bibir bawahnya, meminta ijin agar lidahku bisa masuk. Minah membuka mulutnya dan langsung saja lidahku dan lidahnya saling membelit.
Ku lepaskan ciumanku pada bibirnya, kuturunkan ciumanku ke lehernya dan mulai membuat tanda kepemilikan dirinya atas diriku. Sementara tanganku mulai membuka kancing piyamanya.
“hhhhh” Minah mendesah tertahan, tangannya langsung menahan tanganku dan menghentikan tanganku bekerja membuka kancing piyamanya.
“aku...aku...takut...” Minah berkata dengan terbata, tubuhnya bergetar hebat. Aku langsung menenangkannya, “jangan takut...aku takkan menyakitimu..” kubuka bajunya perlahan, kulihat di dada kirinya terdapat bekas luka, “bekas apa ini?” tanyaku.
“itu...itu..bekas..orang yang waktu itu....hhhh...” Minah tak kuasa lagi melanjutkan penjelasannya, airmatanya mulai menggenangi pelupuk matanya, aku langsung mengerti maksudnya, lelaki yang waktu itu diceritakan Dae..
“Uljimaa~ lupakanlah.. dia tak akan bisa lagi menyentuhmu...ada aku sekarang... aku takkan menyakitimu” kutatap matanya, ia mengangguk dan menghapus airmatanya, kemudian mencoba untuk tersenyum kepadaku. Kukecup bekas lukanya di dadanya, “lihat..aku takkan menyakitimu...”
Dia mengangguk pelan, tangannya mulai menelusuri dada bidangku dan memelukku, “tolong, lakukan dengan lembut..” bisiknya tepat di telingaku...
***
6 bulan kemudian...
aku sudah bekerja sebagai wakil direktur di rumah sakit appaku, aku hanya memantau perkembangan rumah sakit itu dan melaporkannya kepada appaku,beliau tak memberikanku tugas yang berat mengingat Minah sedang hamil anakku yang pertama, buah dari kerja kerasku selama 2 bulan merencanakan program kehamilan, ini adalah bulan ke-4 kehamilannya, bisa dikatakan kehamilannya cukup merepotkan, pada 3 bulan pertama, dia terus menerus muntah di pagi hari dan parahnya, dia akan mual apabila melihat wajahku, jujur, keadaan ini cukup memuakkan, bagaimana bisa ada seorang yeoja yang muntah karena melihat wajahku? Minah terus menerus memaksaku tersenyum ke arahnya agar dia tak mual ketika melihat wajahku. Rasanya otot-otot sekitar mulut dan rahangku sudah kaku dan menegang karena terus ditarik untuk tersenyum. Aku bisa tenang sekarang, memasuki bulan ke 4 ini Minah tak lagi mual kepadaku.
“oppaa...” Minah berjalan perlahan mendekatiku.
“ne...”
“oppa.. bisakah kau bermain basket untukku?? Aku ingin melihat oppa bermain basket...sepertinya anak kita akan senang kalau melihat appanya bermain basket” bujuknya.
Ahh...basket,  aku tak keberatan kalau dia mengidam hal-hal seperti ini, “your wish, my command” jawabku sambil bergaya ala prajurit.
Aku akan menunjukkan kebolehanku kepada anak pertamaku ini, siapa tau kalau nanti dia lahir, dia bisa sekeren appanya..

3 bulan kemudian....
Aku baru saja datang mengunjungi eomma dan appaku ke rumah. Eommaku tertawa saat mendengar keluhanku tentang kehamilan Minah~ beliau malah membagikan kenangannya saat mengandungku.
 Untung saja aku bisa mengabulkan permintaan Minah untuk melihatku bermain basket selama sebulan... aku senang saja kalau disuruh bermain basket siang hari, tapi yang sangat mengganggu adalah saat aku sedang terlelap dalam mimpiku, Minah membangunkanku dan memintaku untuk bermain basket pagi-pagi buta.
Huft, aku menghela nafas panjang, sudah 2 bulan terakhir ini Minah tak merengek macam-macam kepadaku, eomma bilang aku harus siaga kalau Minah tiba-tiba mengidam hal-hal yang aneh lagi untuk kebaikan janin yang ada di perut istriku.
Ku lirik Minah yang dari tadi sibuk menyiapkan makanan untukku di dapur, akhir-akhir ini dia memasak beras sedikit sekali. Apa dia menghemat uang bulananku?
Kudekati dia perlahan-lahan, aku terkesiap melihat pemandangan yang kulihat, Minah memasak sambil menguyah beras-beras yang akan dimasak.
“Minah, kenapa kau memakan beras-beras itu?” aku menatapnya tak percaya.
“ahh..entahlah oppa, beras-beras ini terasa sangat enak” jawabnya sambil terus menjumput beras-beras itu dan memasukkannya ke mulut mungilnya.
Aku menepuk keningku dan menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, “sudah berapa hari kau mengidam hal seperti ini?”
“entahlah oppa, mungkin sekitar seminggu ini, wae?” dia memandang wajahku sebentar dan langsung kembali berkutat dengan masakannya.
Aku kembali menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, kubalikkan badannya, “dengar, biar aku yang mencuci beras dan memasaknya, kau hanya menyiapkan masakan yang lain. Arasseo?”
“arasseo” jawab Minah dengan raut wajah bingung. Aiishhh.. yeoja babo..
“sekarang  ajarkan kepadaku bagaimana cara memasak nasi” ujarku.
Minah mengajarkan cara-caranya kepadaku, sekali-kali wajahnya terlihat cemberut melihat praktik memasakku yang sangat payah itu.
Yah, sejak saat itu aku memasak nasi setiap hari untukku dan untuknya selama 2 minggu berturut-turut, selama itu pula Minah merengek meminta sedikit beras untuk ia makan, aishhh.. aku mengabulkan permintaannya dengan memberikannya sejumput beras untuk ia makan, aku tak ingin mengecewakan permintaan bayi dalam kandungan istriku, setidaknya aku berusaha menyenangkan istri dan bayiku. Untunglah sekarang istriku sudah tidak mengidam hal seperti itu lagi.
Aku menghela napas panjang dan merentangkan tanganku lebar-lebar, menghirup sebanyak mungkin oksigen untuk mengisi paru-paruku. Aku merasa bebas sekarang, bebas dari tugas memasak yang benar-benar menyiksaku.
***
                “Morning baby” ucapku sambil mencium kelopak matanya, matanya bergerak-gerak.. Chuu~ aku mencium bibirnya. “Morning kiss untuk istriku.....” aku mengelus perutnya dan menciumnya, “dan morning kiss untuk anakku...”
                Aku merasa sangat bahagia sekarang, besok usia kandungan istriku sudah memasuki bulan ke-9 .. ah sebentar lagi aku akan menjadi seorang appa~
                “oppaa..” Minah mengelus rambutku saat kutempelkan kepalaku di atas perutnya.
                “hmmm”
                “oppa aku ingin ke pulau Jeju.. aku ingin melihat ubur-ubur disana...”
                “MWOO??” aku mengangkat kepalaku dan menatapnya, permintaan macam apalagi ini?
                “ayolah oppa...” Minah mulai membujukku, “sekali iniiii sajaaa....”
                “tapi...”
                “your wish, my command” Minah menirukan ucapanku yang pernah kukatakan padanya. Aishh. Masih ingat saja.
                “ne, ne kita akan berangkat besok, hari ini kau siapkan barang-barang saja, aku akan memesan tiket untuk kita, ingat jangan mengangkat barang yang berat-berat. Kau cukup memasukkan baju-baju kita ke dalam koper, arasseo?”
                “ne..ne...aaaa gomawo oppaaa~” Minah langsung memelukku.
***
                Ah.. aku senang sekali...udara di pulau Jeju yang benar-benar sejuk mengisi paru-paruku dan menyegarkannya kembali.
                Aku menggandeng tangan Minah dan menuntunnya ke hotel, ah..tubuhnya sudah benar-benar gemuk sekarang, berat badannya bertambah seiring membesarnya janin dalam perutnya.
                Ku antarkan Minah ke kamar untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, sementara itu aku sibuk mengangkut koper dari depan pintu ke depan kamar. Tak sampai 10 menit aku meninggalkannya di kamar, Minah sudah memanggilku.
                “oppaaa...”panggilnya, dia memandangku, menampakkan aegyonya kepadaku.
                “ne.ne.., aku akan mencarikan ubur-ubur itu setelah pekerjaan ini selesai..” jawabku cepat.
6 PM
                Ahh~ aku membawa toples berukuran sedang ke dalam hotel dan meletakkannya tepat di hadapan istriku yang menungguku seharian dan terus menghubungiku. Matanya berbinar melihat ubur-ubur yang kubawa.
                “woaaah .... kyeopta~ oppa, dapat darimana?” Minah membulatkan mulutnya. Kau tau, kau jauh lebih lucu dan imut dibanding ubur-ubur itu.
                “kau tau, aku harus berjalan di sekeliling pantai sampai menemukan petugas pantai dan menyuruhnya mencari ubur-ubur untukmu. Aku dan dia terus mencarinya di sekitar dermaga sampai menemukan ubur-ubur kecil ini” jelasku.
                “woaahh~ coba lihat, imut sekali, aku ingin anak lelakiku seimut ubur-ubur ini...” Minah kembali menatap ubur-ubur di hadapannya.
                “shireo” jawabku.
                “wae?” tanyanya.
                “aku tak mau mempunyai anak berbentuk ubur-ubur seperti itu, anakku akan tumbuh cantik seperti Aleyna, bahkan aku berani bertaruh, dia lebih cantik daripada Aley”
                Minah menyipitkan matanya kepadaku, “MWO??  anakku akan tumbuh menjadi anak yang tampan dan lucu”
                “dia yeoja...” desisku.
                “namja!!!” Minah pergi sebentar dari hadapanku dan kembali lagi dengan menenteng kertas, “oppa coba lihat, aku bahkan sudah memikirkan bagaimana bentuk muka anak kita nanti”
                Kulirik kertas yang disodorkannya padaku, “apa-apaan ini? Jelek sekali gambaranmu. Haha” aku terkekeh melihat hasil gambarannya yang seperti anak TK itu.
                Minah kembali memanyunkan bibirnya, kutarik lagi hidungnya, “aigoo sensitif sekali~ haha” aku terus tertawa melihat kelakuannya. Sebenernya aku merasa lelah menuruti segala kemauannya yang terdengar aneh, tapi jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku bahagia. Aku rela lebih lelah lagi hanya untuk membuatnya tersenyum.
                “haha, aku mau mandi dulu sayang, jangan lupa masak yang enak untukku” aku berdiri dari hadapannya, kutarik lagi hidungnya yang sudah memerah akibat ulahku.
                “ya!! Oppa!! Aku tak akan memasakkan makanan untukmu!!”
***
                Hari ini adalah hari ketigaku berada di Pulau Jeju, aku menghirup udara pagi di pulau ini dengan berjalan-jalan di sekitar pantai sementara Minah belum bangun, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.
                “Wu Fan~ahh”
                Aku berdiri mematung melihat seorang yeoja di hadapanku, Geummi.. “mau apa lagi kau?” tanyaku dingin. Sudah setahun lebih ia menghilang dari hadapanku.
                “Wu Fan~ahh, aku tak menyangka bisa bertemu lagi denganmu, aku ingin berbicara sedikit denganmu” ucapnya.
                “hmmm”
                “bagaimana kalau kita duduk di cafe sana? Cukup dekatkan dengan hotelmu?” tawarnya.
                “hmm...” aku mengikuti Geummi, dan berjalan menuju ke cafe itu.
                “duduklah sebentar Wu Fan, kau mau pesan apa?” tawarnya lagi.
                “langsung saja Geum, kau ingin berbicara apa?”
                Geummi mengangguk-angguk tanda mengerti akan sikapku, dia mencoba tersenyum. “Wu Fan~ahh.. sebelumnya aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu dengan yeoja yang kau cintai itu...”
                “hmm”
                “.....” Geummi menghela napas panjang, “aku juga meminta maaf tak bisa datang ke pernikahanmu, kudengar, kau sakit karena ulahku? Mianhaeyo ;( aku benar-benar merasa bersalah sudah membuatmu sakit..”
                “itu sudah lama sekali, Geummi” suaraku menekankan pada kata lama itu, menandakan bahwa tak ada gunanya mengungkit-ungkit masa lalu.
                “ahh ne, aku hanya ingin meminta maaf secara pribadi saja, aku tak berani menemuimu lagi setelah kejadian itu, aku melarikan diri dari duniamu dan Seoul, aku merasa di kejar dengan semua kesalahanku. Aku pergi ke Aussie dan menemukan penggantimu.. bulan depan aku akan menikah..” Geummi meminta maaf dengan tulus kepadaku, dielusnya punggung tanganku.
                “hmm.. chukkae...” kutatap tajam matanya, “bagaimana kau bisa tahu keberadaanku disini?”
                Dia mencoba tersenyum lagi,“ ohh, aku datang kesini sedang memilih tempat untuk foto praweddingku.. Wu Fan~ahh, kau mesti datang ke pernikahanku bersama istri dan anakmu...” dia melanjutkan, “emmm, sepertinya aku harus meminta pendapatmu tentang gaun pengantin yang harus kupakai saat malam nanti, aku ingin membuat calon suamiku terkesima dengan penampilanku nanti..” dia mengeluarkan sebuah majalah dan menunjukkan beberapa contoh gaun pengantin. Aku mencoba mencari gaun yang sesuai dengannya.
                PRANG!! Sesuatu terjatuh di belakangku, aku menengok ke belakang, Minah? Kulihat Minah berjalan menjauhiku menuju ke hotel, aku langsung berlari mengejarnya.
***
Minah POV :
                Aku baru saja bangun dan melihat pemandangan dari balik jendela hotel. Mataku langsung tertuju pada sesosok makhluk yang kukenali sebagai suamiku sendiri. Aku menyipitkan mataku mengenali sosok yeoja yang bersamanya,Geummi?? Untuk apalagi dia datang menemui suamiku?? Aku menggertakkan gigiku.
                Aku langsung turun ke bawah dan menuju tempat mereka, kulihat mereka berjalan menuju cafe, aku mengikuti mereka, memesan segelas susu coklat dan duduk di belakang Kris, aku menundukkan kepalaku. Geummi takkan mengenaliku mengingat banyak sekali perubahan pada diriku. Kuperhatikan Kris dari kejauhan.
                Kulirik dua yeoja di sampingku yang sedang memperhatikan suamiku, sayup-sayup kudengar pembicaraan mereka berdua.
                “aigoo, siapa namja itu? Tampan sekali, sayang dia sudah mempunyai yeojachingu. Mereka benar-benar terlihat cocok.” Ujar yeoja berambut panjang.
                “ne, seandainya dia tak bersama yeoja itu, mungkin kita bisa mendekatinya” sambung temannya.
                Aiishh.. aku mencoba untuk tak menghiraukan ucapan mereka dan fokus pada suamiku sendiri, kulihat Geummi membelai punggung tangan suamiku.. shhhh.. aku menggeram. Kemudian Geummi mengeluarkan suatu majalah dan memperlihatnya pada suamiku.
                “Aigoo~ lihatlah mereka akan menikah, yeoja itu menunjuk artikel tentang gaun pengantin pada namjachingunya...” lagi-lagi aku mendengar celetukan kedua yeoja di sebelahku.
                Cafe.. berdua.. tangan.. gaun.. Kris akan menikah? Lagi? Aku meremas bajuku dan langsung bangkit dari tempat dudukku.
                PRANG!! Lenganku menyenggol susu coklat daritadi belum kuminum. Untung gelasnya tidak pecah.. aku langsung bergegas meninggalkan tempat itu menuju ke hotelku. Yeoja mana yang tak sakit hati melihat kelakuan suaminya yang seperti itu?
                Tiba-tiba sebuah tangan mencengkram lenganku dan memutar badanku, Kris berdiri di hadapanku dan langsung menangkup kedua pipiku dengan tangannya, “ya!! kenapa kau tak duduk saja di sampingku daripada harus sembunyi-sembunyi seperti itu....”
Bulir-bulir airmata mulai menuruni pipiku, “aku takkan mengganggumu dengan calon istri barumu itu, aku tahu aku tak cukup menarik lagi bagimu sampai-sampai kau memutuskan untuk menikah dengan yeoja itu!!” aku melepaskan pipiku dari tangannya dan langsung mempercepat langkahku. Kris tak mengejarku. Sepertinya dia berusaha mencerna apa yang kukatakan.
***
“Morning baby~” kurasakan bibir Kris mencium kelopak mataku dan bibirku, aku tak membalas ciumannya, sejak pulang dari pulau Jeju kemarin, aku hanya berdiam diri. Meskipun ia sudah menjelaskan tak terjadi apa-apa antara dirinya dengan yeoja itu, aku tetap saja merasa kesal. Bukan karena dia berteman kembali dengan Geummi, aku hanya kesal dia tak meminta ijinku terlebih dahulu untuk berjalan-jalan dengan yeoja yang sudah jauh lebih lama mencintainya daripadaku.
Kurasa Kris sadar akan kekesalanku padanya, “jangan marah terus chagiiiii..” bisiknya di telingaku, leherku ditiupnya. Aku tak menyahut, aku langsung bangkit dari tempat tidurku dan bergegas menuju kamar mandi.
Aigoo.. apa ini? Aku melihat bercak-bercak darah di celana dalamku. Eottohke??

Kris POV
                “wae?” tanyaku saat melihat Minah keluar dari kamar mandi dengan wajah tegang.
                “ada bercak darah di celana dalamku” jelasnya. Mwoo?? Darah? Apa yang terjadi dengan bayiku? Aku langsung meraih ponselku dan menelpon eomma.
                “yoboseyo?” terdengar suara di seberang sana.
                “eomma, Minah mengeluarkan darah, eottohke?” aku langsung menyerbu eomma.
                “ah. Tenangkan dirimu Wu Fan-ahh, berarti sudah waktunya istrimu untuk melahirkan, cepatlah bawa dia ke rumah sakit. Eomma akan segera menyusul kalian.”
                Aku langsung menutup ponselku dan langsung menyiapkan barang-barang yang harus kubawa ke rumah sakit.
                “Minah, kau tunggu disini, aku akan menyiapkan barang-barang untuk persalinanmu, kita harus ke rumah sakit sekarang” ucapku sambil bergegas mengambil barang-barang dan mengangkutnya ke dalam mobilku.
                Aku melajukan mobilku dengan kencang menuju rumah sakit appaku, keringat dingin mulai mengucur di dahi Minah, dia menggigit bibirnya terus-menerus, khawatir akan keadaan bayi dalam kandungannya. Tenanglah sayang, kau dan bayi kita pasti selamat. Batinku.
***
                Aku sudah menunggui istriku hampir 11 jam di rumah sakit. Tiba-tiba Minah mengeluh perutnya mulai berkontraksi, aku langsung memanggil dokter.
                Tuhan..selamatkan istri dan anakku.. aku memohon sambil terus memegang tangan istriku, keringat dingin membasahi kening istriku...
                Apa aku benar-benar akan melihat proses persalinan ini? Aku takkan tega meninggalkan istriku berjuang sendirian.. aku mencoba menenangkan istriku yang mulai berteriak kesakitan.
                Kulihat dokter membimbing istriku untuk menarik nafas dan menghembuskannya secara teratur. Ahh~ perutku serasa diaduk-aduk melihat pemandangan seperti ini.
                Aku terus menyemangati istriku sambil terus memegang tangannya yang menggenggam erat tanganku, sesekali kuseka peluh yang bercucuran di wajahnya. Istriku sedang berjuang antara hidup dan mati. Memperjuangkan darah dagingku. Ahh.. aku jadi teringat ibuku...
                “Waaaaaaa” tiba-tiba suara bayi memecah ketegangan malam ini, suara anakku... aku tak percaya aku telah menjadi seorang appa sejak malam ini. Terima kasih Tuhan..
                “Chukkae Tuan Wu, bayi anda laki-laki..” kata suster yang membantu persalinan istriku, dia membawa bayiku yang masih berlumuran darah itu untuk dibersihkan.
                Kutatap Minah yang sedang tersenyum dan kuseka airmata yang keluar dari pelupuk matanya, aku tahu dia sangat bahagia, kugenggam erat tangannya dan kukecup dahinya, “gomawo..” bisikku. Minah hanya mengangguk lemah.
                Tak lama kemudian suster datang dan langsung menyerahkan anakku kepada Minah, Minah menyambut anaknya yang terus-menerus menangis dan langsung mendekapnya. Kupandangi wajah anakku dengan seksama, hidungnya mirip sekali dengan ibunya... dan... dia benar-benar lucu.
                Aku langsung mencondongkan badanku dan mengecup pipi bayi mungilku, “mau dinamakan apa anak kita?” bisikku pada Minah.
                “hmm.. Dennis, karena dia laki-laki dan keren seperti appanya” Minah mengatakannya dengan mantap walau suaranya masih terdengar parau.
                “Dennis Wu.. ingat itu, karena aku appanya” aku mengingatkan  istriku sendiri sambil menempelkan keningku dengan keningnya, “kau tau? Sepertinya akulah namja paling bahagia malam ini” ucapku sambil mengecup hidung istriku. Saranghae ..
 ***
3 tahun kemudian...
                “Yaa!! Oppa.. apakah kau sudah membelikan popok dan membelikan susu untuk Dennis??” Minah menyambutku sepulang bekerja dengan pertanyaan itu.
                “hmm...” sahutku sambil berlalu dan duduk di depan tv, ku longgarkan dasiku, Minah membantuku melepas jas dan langsung menggantungkannya ke kamar. Aku memperhatikan kelakuan puteraku yang sedang asyik menonton tv tanpa mempedulikan kehadiranku. Aigoo, anak ini cuek sekali...
 Mataku menangkap sesuatu yang baru di dalam rumahku, aku menatap dua buah foto berukuran cukup besar yang di pajang di dekat ruang tamu.

“sejak kapan ada kedua foto itu di sana?” tanyaku kepada Minah yang sudah kembali dari kamarnya.
“tadi siang oppa, kebetulan Dae mampir ke sini untuk mengambil barangnya yang tertinggal di mobilmu kemarin, sekalian saja aku meminta bantuannya untuk memasangkan foto itu disana” Minah tersenyum kepadaku sambil memperlihatkan eyesmilenya.
                Mataku sibuk memperhatikan foto itu... Ahh~ keluarga kecilku....
Minah mengalihkan pandangannya dariku dan menatap Dennis, “sayang, sebentar lagi eomma akan membuatkan susu untukmu, kau harus menghabiskannya, arra?” Minah berbicara dengan Dennis, anakku.
                “Shireo!! Dennis liat tetangga sebelah tidak meminum susu botol.. dia meminum susu dari sana” Dennis menunjuk dada istriku, “eomma, kenapa aku tidak pernah menyusu dari sana?”
                “Andwae!!  Itu milik appa...kau sudah besar jadi tak boleh lagi menyusu disana.” terangku.
                PLETAKK!! sebuah pukulan mendarat di kepalaku, “jangan coba-coba mengotori pikiran Dennis....” kulihat Minah menatap geram ke arahku.
“appa juga sudah besar, appa curang, Dennis kan pengen menyusu di sana juga, itukan gunungnya ada duaa...” Dennis mulai meracau mendengar jawabanku.
“kalau begitu, Dennis yang sebelah kanan, appa yang sebelah ki....” Minah langsung membungkam mulutku dengan tangannya.
 “ahh..jangan dengarkan appamu sayang, Dennis kan sudah besar makanya harus minum susu botol saja jadi tidak boleh menyusu di sana lagi...” Minah menjelaskan kepada Dennis.
                Huh.. kenapa aku selalu dinomorduakan sekarang? Semenjak anakku lahir, aku harus membagi tempat tidur juga dengannya. Sudah terpisah jarak dengan Minah, aku juga terpisah dengan anakku, Minah meletakkan guling di antara aku dan anakku mengingat aku pernah tertangkap basah ingin menindih Dennis saat aku tidur.
                Minah hanya meletakkan Dennis sendirian di kamarnya apabila aku meminta jatah dengannya, selebihnya aku harus membagi tempat tidurku dengan guling dan Dennis. Untung saja mulai malam ini dan seterusnya Dennis akan tidur sendirian di kamarnya.
                “chagii, aku cemburu selama tiga tahun ini....” rengekku.
                “hah? Cemburu dengan siapa?” Minah menatapku bingung. Aku memeluknya dan langsung menciumi lehernya.
                “dengan dia...” kutunjukkan ekspresi cemburuku kepada Dennis.
                “ssshhh...lepaskan Kris, jangan lakukan disini...malu sama Dennis” desahnya.
                Kuraih bola basket yang daritadi berada di dekatku, kugelindingkan bolanya ke arah anakku, “Dennis, bermainlah di luar sebentar, appa akan membuatkan adik baru untukmu”
                Dennis langsung meraih bola basket dan langsung berlari meninggalkan kami berdua, aku tersenyum licik sambil menatap Minah.
                “licik sekali...”desisnya.
                Aku tertawa dan mulai menciumi bibirnya, Minah mengalungkan tangannya ke leherku, ku gendong dia ke kamar tanpa melepaskan ciumanku. Kuhempaskan Minah ke ranjang sambil terus kuciumi bibirnya, tanganku bergerak ke balik bajunya dan mulai meremas dadanya.
                PRANG!!
                “EOMMAA...DENNIS MEMECAHKAN JENDELAAAA..”
Kudengar Dennis berteriak memanggil eommanya. Minah langsung melepaskan ciumanku dan merapikan bajunya saat mendengar teriakan anakku.
                “tunggu sayang, jangan bergerak dari tempatmu. Eomma akan menyusulmu” Minah langsung berlari menemui Dennis dan meninggalkanku sendirian di kamar..
                Aigoo.. jinjayo...anak itu... aku mengacak-acak rambutku dan meninju tempat tidurku sendiri, “hilang sudah kesempatan bermesraan dengan istriku-__-”

THE END
Fiuuhh..akhirnya selesai juga FF pertamaku, maaf ya kalau mengecewakan-_- maaf juga kalo gajelas n alurnya kecepetan.. beneran bingung mau nulis apa lagi..
Agak bingung juga nulisnya soalnya sulit membayangkan hal yang belum pernah dirasakan.
Duuhh.. sekali lagi maaf ya *bow*

1 komentar:

  1. Haha, kasian kris oppa, kalah sama anak nya hehe,, ff nya keren,, smgt ya buat nulis ff. Yg lain, tp plg di tgu yg cast nya kris ama minah

    BalasHapus