Senin, 08 Juli 2013

FF KRIS: KNOW ME FIRST, KISS ME LATER(PART IV)


Author:  Mei F.D

Cast :

·         Wu Yi Fan/ Kris EXO M as Kristanius A. S.

·         Mello as Priscilla N. Melody

·         Miranda Kerr (umurnya 26th ya di sini n__n)

·         Lee HyukJae as Jae

·         Do Kyungsoo as D.O

·         Oh Sehun as Odult

·         Yoon Bora as Bora

Length : multichapter

Genre : romance, drama, antara kocak dan ngenes ckck

PG : 15++
Dibaca dulu siapa tau suka, kalau gak suka baru tekan tombol back^^. Klo ff ini dijamin udah tamat hehehe. Jgn lupa follow @meiokris :*
***
Mello’s POV
Ahh aku merebahkan diri di kasurku yang tak terlalu empuk ini daaan menatap langit-langit kamarku untuk yang ke sekian kalinya.
Diam-diam tanganku meraih kalung yang masih tergantung di leherku. Maksudnya Kris ngasih kalung mahal ini untukku apa? Jangan-jangan di dalam kalung ini ada semacam radar yang bisa melacak  keberadaanku di mana? oke baiklah, abaikan kalimat terakhir.
Kenapa harus kupu-kupu sih? Padahal aku mengharapkannya bentuk hati. Plaakk. Mello Mello, dikasih hati minta jantung. Tapi emang yah yang ada di pikiranku tiap denger kata kalung itu pasti ngehayalinnya yang bentuk cinta begitu.
Tapi yaah terlepas dari sikap dia yang super duper nyebelin itu aku yakin kok dia orang baik, tapi sikap nyebelinnya itu yang keterlaluan dan minta di gampar, orang-orang jadi takut kan mau deket sama dia.
Beda denganku yaa yang penganut sistem muka tembok di mana saja yang akhirnya membuatku bisa dekat dengannya sama kemampuan tuli mendadak kalo dia lagi nyindir atau ngomel-ngomel sama aku -_-)q
Tiba-tiba ponselku berdering dan nama “Odult Ganteng Tapi Suka Rewel” terpampang dengan jelas di layar ponselku.
“halo” sapaku malas-malasan. Ntar dianya nelpon ngomongin soal si Miranda Kerr atau ngomongin mantannya siapa tuh, Soimah yah.
“halo kakak jelek” sapanya dari seberang.
“maaf nggak kenal” sahutku ketus. Apa-apaan ini, masa manggil kakaknya begitu, gak sopan!
“yeee kakak gitu aja ngambek” gerutunya.
“biarin” sahutku masih pura-pura ngambek.
“yee kakak, tuh di tanyain ayah sama ibu”
“di tanyain apa?” tanyaku ogah-ogahan. Wah jangan-jangan di tanyain kapan nikah sama Kris *plak*
“di tanyain katanya kapan pulang kampung” sahutnya lagi.
“ohh itu mungkin beberapa hari lagi, awal bulan, kerja sambilan di rumah pak Kris belum dapat gaji tau, gimana bisa pulang” jawabku jujur.
Akhirnya kami berbla-bla ria, berkangen-kangenan dengan adikku si Odult yang ternyata masih galau gara-gara mikirin mantannya si Soimah, katanya sih putus gara-gara Odult lebih banyak ngoleksi foto si Miranda dari pada Soimah. Sampai kupingku terasa sangat panas baru akhirnya Odult mau mematikan telponnya.
Ohiya, sebelum tidur aku mau nelpon DO dulu ahh..
“halo, Mell... ada apa?” sahutnya dari seberang, “kamu gak papa kan?”
“iyaaaa... aku lagi bahagia sekarang”  kataku masih sambil senyum-senyum gak jelas. Apa banget deh, kalau Bora ngelihat aku senyum-senyum begini mungkin aku udah di seret ke rumah sakit jiwa, gila karena cinta, eaaa.
 “hahaha baguslah, bahagia kenapa?”
“aku udah baikan sama pak Kris hehe, ohiya besok aku mau nunjukin sesuatu sama kamu.. hehehe Cuma mau ngasih tau itu doang sih.. udah yaa aku mau tidur dulu...” kataku cepat-cepat. Pulsakuu pulsakuu.. aku baru ingat malam ini nggak ada gratisan, huaaah.
“haha....selamat....iya... bye...”
Klik, yah aku hanya bisa samar-samar mendengar suara DO, tapi kenapa suaranya kaya muram gitu ya? Apa karena aku buru-buru nutup telponnya yah?? Ih mungkin Cuma perasaanku aja. Udah ah aku mau bobo.
***
Kris’s POV
“Alva... Alva...”
Hah...suara itu... panggilan itu.. kenapa? Kenapa dia ada di sini?
Susah payah aku membuka mataku dan merasakan sinar matahari yang menusuk mataku.
Damn! Aku di mana? aku tertegun mendapati diriku yang terbangun dalam sebuah kamar mewah dengan warna putih yang mendominasi.. semuanya putih..
Kepalaku masih berdenyut-denyut, hangover... setelah urusan kantorku yang memusingkan rasanya aku ingin melupakannya sejenak.. dan apa ini? ada bercak darah di sprei putih ini...
“Alva...hmm...” lagi-lagi aku mendengar suara itu.. aku menoleh ke samping tempat tidurku.
Mi..Miranda! aku mendapati tubuhnya yang polos dan hanya tertutup bed cover. Tidurnya gelisah, kadang ia merintih pelan. Dan aku??
Aku mencoba mengingat kejadian semalam, ada apa denganku dan Miranda? Samar-samar ku ingat apa yang kulakukan dengannya semalam...
What the...jadi..aku.. lelaki pertama?
Ting tong...
“hmmm” aku menggeliat perlahan dan membuka mataku.
“mimpi itu lagi” gumamku.
Kenapa masa lalu itu terus sih yang datang di setiap mimpiku?
Kenapa harus aku yang merenggutnya dari Miranda?
Ting tong...
Ah yaa... aku terbangun dari tidurku karena suara bel itu. Siapa sih yang bertamu pagi-pagi? Mengganggu saja. Tidak mungkin Mello. Dia kan biasanya langsung masuk tanpa ijin dan membangunkanku dengan suara cemprengnya itu.
Lalu siapa? JB?
Ting tong....
“ya ya ya bentar” teriakku yang langsung bergegas menuju ke pintu depan.
“heh JB kalo main liat-liat jam dulu dong....”
Dan untuk kali ini aku benar-benar tak bisa berujar saat melihat sosok yang datang di hadapanku. Ini... apa masih bagian dalam mimpiku?
“Alva...” gadis ini...gadis ini muncul di hadapanku dengan style modelnya yang sering kulihat di TV, Stiletto rancangan Stuart Weitzman, tas Diamond Forever, dan baju rancangan dari perancang busana Rosemary Armstrong... ini...
“Alva... kau jauh lebih tampan sekarang” gadis itu sama terkejutnya dengan perubahan dari diriku.
“Mi...Miranda” aku terbata. Mataku masih membelalak kaget melihatnya. Ya Tuhan dimana otakku kececer? Mana sikap songongku dan kenapa aku mesti terbata-bata saat melihatnya? Dimana otakku? Ikut terbawa Mello pulang ke rumah kah? Bah.
Hatiku masih berdenyut-denyut karena bisa menatap langsung gadis yang muncul di mimpiku, Miranda Kerr...
Apa...siapa?? siapa gadis kecil yang di bawanya? Aku baru menyadari Miranda tidak sendiri, ada gadis kecil yang bersembunyi di belakangnya. Kini ia memberanikan diri menyembulkan kepalanya dan menatapku. Astaga, kenapa wajahnya mirip sekali dengan Miranda? Mungkinkah....
“Papa” sapanya takut-takut.
Hah? Apa? Aku tidak salah dengar kan? Dia bilang apa? Papa? What the heck!
Ini Cuma mimpi kan? Seseorang tolong bangunkanku dari mimpi buruk ini...
***
DO’s POV
Ahh.. pagi yang cerah untuk jiwa yang sepi. Aku bersenandung kecil, sekalian curhat.
“Pagi Dioohh” sapa seseorang yang sangat ku kenal suaranya.
Aku mendongakkan kepalaku dan mendapati sosok Mello tengah tersenyum lebar ke arahku. Matanya yang seperti bulan sabit ketika tersenyum itu membuatku gemas ingin mencubit pipinya.
“pagi Mell, tumben udah ke sini pagi-pagi, biasanya kan nyiapin sarapan untuk pangeran tercinta” ejekku.
“hehehe, gak tau tuh tadi pak Kris udah nelpon katanya udah bangun dan bikin sarapan sendiri, terus katanya aku boleh cuti kerja sampai minggu depan” jelasnya.
Hah? Entah kenapa aku merasa ada sedikit kebohongan dari ucapan pak Kris, “wih asik dong” aku tersenyum senang, diam-diam aku bahagia.
“ya kok asik sih kan gak bisa ketemu dia” Mello memanyunkan bibirnya.
“engg.. maksudnya asik bisa santai-santai lagi, hehehe terus rencana kamu apa?”
“ya nggak tau Yo ntar liat keadaan deh, aku dibolehin pulang kampung sih aku pulang lah”
“heh?! Malah ngobrol yang tidak penting! Buruan kerja, malas-malasan aja jadi pelayan” bentak seseorang yang akhirnya membuat kami terpaksa harus mengakhiri percakapan singkat kami.
“i..iya bu” sahutku yang langsung membubarkan diri bersamaan dengan Mello yang kembali membersihkan makanan sisa pengunjung.  Bisa mati kalau membangkang. Karirku yang mati.
Usai manajer pemasaran itu kembali ke dalam ruang khususnya, Mello kembali mendekatiku.
“dia siapa?” tanya Mello penasaran.
“siapa? Wanita yang tadi negur kita?” aku balik bertanya.
“yoi” bisiknya.
“ohh itu manajer pemasaran baru katanya sih gantiin ibu kepala dapur yang cuti sementara waktu. Baru masuk ke sini hari ini” jelasku.
“ohhh.. merakyat sekali ya” entah itu pujian atau ejekan yang di lontarkannya.
“iya merakyatnya pas ada pak Kris” aku tertawa tapi tiba-tiba tawaku berhenti seketika ketika aku melihat kalung yang di pakai Mello.
“kalung baru Mell?” ditanya begitu mukanya langsung merona malu.
Di keluarkannya bandul kalung berbentuk kupu-kupu dari balik baju seragamnya.
“hehe, bagus gak?” tanyanya masih mengelus-elus kalung itu.
“bagus kok, mahal ya” pujiku tulus.
“iya kali, ini kalung pemberian pak Kris, ini yang mau kuceritakan tadi malam padamu” ia kembali tertersipu, “tapi pulsaku lagi sekarat jadi gak jadi cerita deh. Maaf ya”
Hehe, gak di  ceritain juga gak apa-apa kok, kataku dalam hati. Kemarin bunga kemudian kalung, besok-besok apa? Cincin pertunangan? Ahh.. aku benar-benar gak bisa nebak apa yang udah Kris rencanain buat Mello. Ku harap ini gak seburuk yang ku bayangkan. Batinku mencelos.
***
Jae’s POV
Siang-siang begini kalo lagi suntuk enaknya nonton Spongebob sambil berleha-leha di kursi kebesaran. Kalau ada pacar sih lebih enak lagi, hehehe. Efek jomblo.
Tiba-tiba ada seseorang yang langsung menerobos masuk ke dalam ruanganku. Aku kaget dan buru-buru mematikan televisi.
“Woy bi” suara ngebass itu, siapa lagi kalau bukan si babu Kris Alva .
“apaan sih bu bikin kaget aja” aniwei kami terdengar seperti pasangan homo dengan panggilan kesayangan satu sama lain. Aku tertawa dalam hati.
“kau ini malah enak-enakan minum” bentaknya ketika dilihatnya aku kembali menyeruput kopiku.
Ia kelihatan sangat semrawut dengan muka di tekuk begitu, “kalau mau kopi juga ya minta dong sama OB gak usah main masuk-masuk ke ruangan kaya orang kesurupan” gerutuku.
“bukan itu biiii” ia mengerang frustasi kali ini mukanya 2x terlihat lebih tua dari umur sebenarnya.
“kenapa lagi sih? Mello?” tebakku.
“kali ini lebih parah” suaranya kali ini seperti sedang terluka.
“apa? Perusahaan orang tuamu bangkrut terus orangtuamu kabur ke luar negeri dengan meninggalkan banyak hutang padamu? Atau kau dituduh menghamili anak orang dan dipaksa buat nikahin anaknya?” tebakku lagi.
“biii, bisa ngasih sedikit pertanyaan yang lebih logis gak sih??!!” dia menatapku dengan pandangan ingin menerkamku sekarang.
“ya apa dong?” aku jadi bingung.
“Miranda datang ke rumahku beberapa hari yang lalu” dia meringis.
“hah? Miranda Kerr?” tatapku tak percaya.
“iyalah, siapa lagi” gerutunya dengan nada yang terdengar menyedihkan.
Miranda? Ah jujur saja aku tak menyukai kedatangannya, di saat ku lihat dia mencoba bangkit dari keterpurukannya dengan melakukan pendekatan terhadap Mello kenapa dia muncul? Padahal Alva sudah mau membuka hati dengan gadis lain.
“terus dia menginap di rumahmu?” aku mendadak cerewet kalo soal ini.
“ya nggak lah, dia nginep di penthouse tapi lebih sering menghabiskan waktu dengan menungguku di rumah sampai aku pulang kerja” jelasnya.
“terus Mello gimana? Kau belum ngasih harapan padanya kan?!” cecarku.
“telat bi telatt!! Aku bahkan sudah memberikan kalung di hari ulang tahunnya” dia kembali mengacak rambutnya.
“tapi kau sudah tak mengharapkan Miranda lagi kan?”
“tau ah bingung bi, Miranda..Mello.. sama-sama wanita.. sama-sama menarik dan sama-sama memusingkan, Mirandanya ngarepin hubungan kami bakalan balik kaya dulu meskipun harus LDR, si Mello udah terlanjur basah di kasih harapan” keluhnya, “bunuh aku aja bi bunuh aku sekarang biar gak ada wanita yang ngejar-ngejar lagi” Alva mendadak melow.
Apa sih yang kau lakukan sampai semua wanita tergila-gila padamu? Dosa apa sih sampai kau mencintai dua orang sekaligus dalam waktu bersamaan? Jalan lurus berdua dengan Mello, wanita yang kau sayangi dan kau niatkan akan menjadi wanita masa depanmu kini harus terhenti di tengah jalan, tepatnya di persimpangan dengan seseorang yang kau cintai di masalalumu kini sedang menghadangmu. Dramatis sekali!
“kalau membunuh itu legal di negara kita kau adalah orang pertama yang kubunuh karena kau sudah memasuki peringkat kedua yang membuatku pusing setelah pekerjaanku” kataku sarkastis.
Aku mendesah pelan. Kau terlalu laku apa gimana sih Tuan Besar Kristanius Alva Stevano?
“sudah berapa hari dia di sini?”
“hmmm... lima harian kali” jawabnya dengan tampang depresi.
“terus si Mello nggak kenapa-kenapa gitu liat cewek di rumahmu?” tanyaku lagi.
“sayangnya dia masih belum tahu, aku meliburkannya tepat setelah si Mira datang”
Aku menghembuskan napas pelan, “memangnya kau lebih sayang siapa? Mello apa Miranda?”
“dua-duanya bi, kacau kalau ga ada salah satu dari mereka sekarang.. harus gimana dong bi? Kepikiran terus tiap hari” yaiyalah kepikiran tiap hari, maruk begitu.
Baru kulihat Alva sebingung ini, biasanya dia selalu nemuin solusi jitu untuk seluruh masalahnya. Lagian dia juga maruk banget jadi cowok masa mau dua-duanya.
“masalah nggak akan selesai kalau kau ngotot pilih dua-duanya, mana ada cewek yang mau diduain. Coba pikirin lagi siapa yang jadi prioritasmu sekarang” aku mencoba memberikan solusi dengan memberikan kata kunci ‘sekarang’. Ayolah Alvaaa.. kau mengerti kan?! Jangan bilang gara-gara masalah ini otakmu mengalami penyusutan dalam hal berpikir.
“istri Eyang Subur mau tuh, lebih dari dua malah.. susah bi milih salah satu..serba salah” kali ini dia menangkupkan kedua tangannya di belakang kepalanya.
“hmmm” aku hanya bisa diam sementara dia keliatan berpikir.
“coba saja keluargaku membolehkanku beristri dua” gumamnya.
“gak apa-apa bi beristri dua selama bisa ngasih nafkah batin secara adil aja” kataku dengan suara tertahan karena ingin tertawa.
“hih, geli ah dengernya..udah homoan aja kita,  ribet sama cewek”gerutunya.
“behahaha” akhirnya tawaku meledak juga, Alva...Alva...
***
Miranda’s POV
“Alva...” sapaku ketika melihat Alva yang baru datang kerja... ah.. ada banyak sekali yang harus kutanyakan padanya, mengenai gadis itu...
“bisa kita bicara sebentar?” aku datang ke arahnya sambil membantunya melonggarkan dasinya.
“boleh” jawabnya malas-malasan sambil duduk di sofa dan langsung menyalakan televisi.
“aku mau bicara serius Alva” kataku yang langsung mencondongkan tubuhku ke arahnya dan merebut remote televisi kemudian mematikan layar datar itu, “kau kenal dengan gadis bernama Mello?”
Lama dia terdiam baru akhirnya menjawab, “kenal kok, dia pekerja di cafeku” jelasnya.
Aku sudah merasakan ini dari awal aku bertemu dengan gadis bernama Mello itu dan dari perubahan sikap Alva sekarang, ada sesuatu antara mereka berdua.
“pekerja atau orang spesial di hatimu?” selidikku, “kayaknya dia suka banget deh sama kamu”
“hahaha gak kok” sanggahnya.
Alva.. jangan mencoba membohongiku, apa kau lupa dulu aku pernah mengenyam pendidikan kuliah di jurusan psikologi? Bagaimana mungkin aku tak mengetahui semuanya? Jelas sekali aku menangkap sorot kerinduan di matamu ketika aku menyebut namanya.
“jangan bohong Alva” keluhku. Ayolah...
“siapa yang bohong, kau mengenalnya darimana?” dia berkelit lagi.
“aku kenal dia gak sengaja sewaktu dia mampir ke sini nanyain kamu” kataku jujur.
Alva terdiam. Tubuhnya menegang. Kenapa? Kau masih tak mau mengakuinya? Oh apa jangan-jangan kau sudah mencintai gadis itu?
“kenapa? Kau takut aku menyebut diriku calon isterimu? Apa kau takut Carol menyebutmu papah di hadapannya?”
Dia hanya terdiam, “sepertinya janjimu yang tak akan pernah melirik gadis lain itu tak berlaku lagi ya sekarang” sindirku. Kau memikirkan gadis itu, Kristanius Alva Stevano....
Dia menghembuskan napas panjang, “ayolah Miranda bisa tidak kita tidak membahas masalah ini? aku capek, mau istirahat” kali ini menatap lurus ke arahku.
Tak terasa air mataku jatuh satu-satu dari pelupuk mataku, “You changed” kataku dingin sambil meraih tasku dan berniat untuk pulang.
“yes I did” sahutnya pelan.
***
Mello’s POV
Sudah beberapa hari ini aku tak melihat Kris ge di cafe mana dia gak ngebolehin aku mampir ke rumahnya lagi? emang kenapa sih? Tau gak aku lagi sakit? Tau gak aku lagi terserang penyakit apa? Kata dokter sih istilah kerennya sih sakit kangen.
Aku udah nyiapin kue-kue basah yang udah aku bikin khusus buat Kris. Biasanya kan dia suka nyari camilan gitu ketika lembur.
Akhirnya ku langkahkan kakiku menuju rumahnya. Ah lagi-lagi Lexus silver itu masih terparkir dengan gagahnya.  Siapa sih? Akhir-akhir ini aku sering melihat mobil itu bolak balik ke rumah Kris.
Akhirnya kuberanikan diriku melangkah memasuki pekarangan rumah Kris yang luas itu dan mulai membunyikan bel.
“yes, wait me..okay” sahut seseorang dari dalam.
Loh? Suara cewek? Siapa sih? Bi Ina? Tapi kok aksen bulenya kental banget. Apa Kris yang kena penyakit radang tenggorokan jadi suaranya tiba-tiba jadi kaya suara cewek gitu?
Akhirnya pintu pun terbuka dan aku terpana saaaangat lama begitu menyadari siapa yang berada di depanku sekarang.
Gadis dengan kulit cokelat eksotis dan rambut cokelat bergelombang. Tubuh yang tinggi dan berlekuk bak gitar Spanyol dan bola mata biru itu kini tengah menatapku dengan pandangan tajam. Aku merasa terintimidasi.
Dia...Miranda Kerr...
Mungkin sekarang harusnya aku langsung menghambur ke pelukannya dan meminta tanda tangannya atau foto bareng untuk adikku Odult tapi hal ini kuurungkan begitu saja. Kenapa? Sejak kapan Kris mengenal model ini? kenapa gadis ini bisa berada dalam rumah Kris?
Di belakang gadis itu tiba-tiba ada seorang bocah kecil yang memeluk kakinya dan memanggilnya dengan sebutan “mama”
“ma ma ma... pa pa” katanya terbata.
“kamu mau main? Papa Alvanya kan masih di kantor sayang” jelasnya dalam bahasa Inggris sederhana yang aku dapat mengartikan sendiri artinya.
Argghh. Apa dia bilang? Papa Alva? Kenapa anak itu memanggilnya dengan sebutan Papa pada Kris dan mama pada Miranda?
“huwaaaaa” lagi-lagi aku meringis, hatiku terasa di iris-iris kalo ingat kejadian itu, mataku rasanya udah kaya bola golf bengkaknya karena kebanyakan nangis, stok air mata juga udah habis. Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagiii.. aku tenggelam dalam lautan luka dalam... ya Tuhan sakit banget kalo ingat masalah itu.
“kak sabar kak, yang tabah ya” Odult dari kemarin sibuk menenangkanku.
“gimana sih dek kamu gak ngerasain sih apa yang aku rasain, sakit banget tau ga, gimana bisa dek aku jatuh cinta sama orang yang udah punya anak” aku memeluk adikku sampai berderai airmata.
Kris punya anak? Kapan nikahnya? Ohiya aku lupa sekarang kan banyak artis yang hidup dan punya anak bersama tanpa ikatan suci yang di sebut pernikahan, terus si Kris juga begitu? Ih apasih yang aku pikirkan, dia aja nganggap making love itu biasa, apalagi dalam dunia model, lah aku? Aaaa wajar kan kalo dia punya anak. Sakitttt....
“kan namanya juga jatuh cinta kan gak harus sama siapa, Raffi Ahmad aja bisa suka sama Yuni Shara”  Odult masih berusaha menghiburku.
Oke kayak ucapan aku sama Bora waktu itu ya, aku tarik lagi ucapanku, jatuh cinta itu harus sama orang single biar gak sakit hati, jatuh cinta itu sama orang yang udah jelas statusnya masih single atau udah menikah, ntar salah-salah pas udah cinta mati dianya malah bawa anak ke hadapan kita. ;”(
“jatuh cinta itu menyenangkan tapi susah di jalani” aku masih sibuk meratapi nasibku, sakit hati banget ini T.T kenapa aku mesti jatuh cinta sama orang kaya? Pebisnis terkenal? Jelas-jelas orang kaya macam Kris itu pasti nyari istri yang lebih berbobot, kalo gak artis ya model, good looking pokoknya. Huhuhuu terus aku siapa? Cuma anak kampung yang nggak punya apa-apa. Aku masih saja sibuk meratapi nasib sial yang menimpaku sekarang.
“tapi kak si seksi Miranda Kerr itu setauku belum punya anak” kata Odult. Apa-apaan sih kamu dek, kamu masih mau belain si Miranda? Terus aja dek belain dia sekalian nikahin aja dia, lupain aja kakak, percuma punya adik yang gak ngerti perasaan kakaknya. Mentang-mentang kakaknya punya saingan berat si Miranda.
“au ah gelap gak mau denger nama Miranda siapa sama cowoknya siapa tuh Kris ya lupa” kataku yang langsung menutup mukaku dengan bantal. Nyessseeekkk <//3
Rasanya mau mati ajah, kalau aku nggak punya siapa-siapa di dunia ini mungkin aku udah minum racun tikus dari kemarin.
**
Odult’s POV
Haduuuh kak Cuma patah hati sama orang yang bukan pacarnya aja efeknya dahsyat begini sampai mengurung diri di kamar, nggak mau makan lah, nggak mau mandi lah, yang dulunya jorok sekarang malah tambah jorok, dekil lagi. Perasaan dulu waktu dia putus sama Beki baik-baik aja. Malah sok jadi cewek paling bahagia pas Beki nikah kemarin.
“kak ayoo kak bangun bantuin kak Bora beres-beres” kataku yang masih sibuk membujuki kak Mello.
Padahal aku kan niatnya juga mau bantuin kak Bora bongkar-bongkar baju tapi nggak enak, masa di lihat kak Bora aku nenteng-nenteng BH punyanya ka Mello buat dimasukin ke koper? Kan nggak lucu.
“kak, mau sampai kapan selimutan terus? Bantuin kak Bora tuh” suruhku lagi, “daleman kak Mello juga masih belum di angkat dari jemuran tuh”
“males” jawabnya dari balik selimutnya, “kamu aja yang angkatin jemuran”
Lah? Masa aku yang ngangkat jemuran? Itu jemuran kan sisanya tinggal daleman mama, kak Bora yang nginap di sini sama kak Mello,”yah kakak masa aku yang ngangkat jemuran kan itu pakaian cewek semua, ntar dikira tetangga aku yang pake BH-BH itu” protesku.
“bodo ah bodo, dibilangin nggak mau kemana-mana juga, nggak mau balik ke sana juga” sungutnya.
Akhirnya kak Bora beranjak dari tempatnya dan langsung menyingkap selimut kak Mello, “astaga Mello Cuma gara-gara patah hati kau sampai mau resign dari semua tempat kerjamu? Bocah sekali!” bentak kak Bora sementara kak Mello hanya terdiam dengan tubuh yang ditekuknya.
“kamu pikir duit itu jatuh dari langit apa? Duit bisa datang hanya dengan menggali tanah pekarangan hah?! Ingat Mell orang tuamu udah tua. Odult juga masih sibuk nabung buat kuliahnya nanti, dia juga pengen kaya kamu kan bisa kuliah?! Siapa lagi yang bisa diandelin di keluarga ini kalau bukan kamu? Wake up Mell!!” kak Bora masih sibuk menceramahi kak Mello.
Di marahin begitu akhirnya kak Mello bangkit juga, “terus aku harus ngapain lagi?!” dia mengucek-ngucek matanya.
“ya nggak apa-apa kalau resign dari rumah pak Kris tapi aku mohon jangan lepasin jadi pekerja Cafe itu, emangnya nyari kerja itu gampang apa?! Lagian kamu juga sibuk di rumah pak Kris kan mana sempet ngelamar kerja abis lulus..”
Hmmm, kak Mello menghela napas panjang, “iya sih lagian pak Kris udah lama nggak datang ke cafe itu” kataku menghibur diriku sendiri dan berharap kalau aku nggak ketemu dia lagi.
“yaudah ayoo bantuin beres-beres, kasihan kerjaan kamu ditinggalin cuti begitu” ajak kak Bora.
“nahkan ayo kak Mello semangat dong” aku menyemangati, “ntar kalo ketemu sama kak Miranda Kerr titip salam ya” godaku.
“Oduulttt!!” bentak kak Bora dan kak Mello bersamaan.
***
Mello’s POV
Selama perjalanan moodku sudah sedikit membaik, seenggaknya sejak aku inget kalau akulah tulang punggung keluarga selama ini.
“Ra, gimana ya caranya ngomong sama Kris kalau aku mau berenti aja kerja jadi pembantu di rumahnya?” pandanganku menerawang ke jalan.
“ketemuan lah” sarannya.
Tanganku yang dari tadi sibuk memutar-mutar handphoneku kini mendadak berhenti,”big NOOO. Bisa mati perlahan aku kalau ngomong lama-lama sama dia. Nyeseek ” protesku.
“ya gimana lagi. telp aja biar nggak ketemu” sarannya lagi.
“ogah” bah, denger suaranya bikin hatiku krenyes-krenyes. Kreeeek.
“sms berarti”
“wah kalau itu kurang greget, rencananya aku mau ngomong banyak” protesku lagi.
“yaudah pake apalagi dong?!” Bora mendadak hipertensi gara-gara di protes terus.
“ntar deh mikir dulu” kataku takut-takut dan langsung memasangkan headset ke telingaku.
Aku yang memikirkan namun aku tak banyak berharap
Kau membuat waktuku tersita dengan angan tentangmu
Mencoba lupakan tapi ku tak bisa, mengapaaa, begini~
Oh mungkin aku bermimpi, menginginkan dirimu untuk ada di sini menemaniku.
Oh mungkinkah kau yang jadi, kekasih sejatiku, semogaaaa tak sekedar harapku~
Rencananya aku mau nyanyi lagu kekasih sejati buat Kris biar ngungkapin perasaanku selama ini, tapi suaraku nggak nyampe. Apa lagu antara ada dan tiada aja ya?
Kan selalu, kurasa... hadirmu... antara ada dan tiada...
Lah kok kaya setan ya? Astaga horor banget di kata Kris setan apa ya-_-)a
“arrgghh tau ah nggak bisa nyanyi” gerutuku depresi karena dengerin hasil rekamanku sendiri di handphone, niatnya romantis malah nggak bisa. Ckck.
“kenapa?” tanya Bora yang dari tadi tertidur di sebelahku kini terbangun karena gerutuanku sendiri.
“nggak denger apa suaraku tadi kayak banci salon kebelet kawin gitu” gerutuku lagi. lah, yaiyalah dia nggak denger kan dari tadi dia tidur, gimana sih Mello Mello...
Aku langsung menghempaskan tubuhku di kursi penumpang dan menatap sekitarku dari balik jendela bus, di luar sedang gerimis dan bus ini harus berhati-hati apalagi sekarang lagi lewatin gunung-gunung. Jalan-jalan yang berkelok seperti ular dan gunung-gunung yang menjulang di mahkotai pepohonan hijau.
Sayang di luar kan sedang gerimis jadi nggak begitu jelas liatnya, aku benci hujan, nggak suka aja, hujan itu identik dengan melow-melowan, sedih-sedihan, lagian kalau hujan juga nggak bisa pergi kemana-mana kan? Aku benci sakit hati dan melow-melowan jadi aku juga benci sama hujan. Hahaha. Pemikiran macam apa itu?!
Sekarang bus ini melewati perkebunan teh yang berada di kaki gunung seluas mata memandang, aku masih mengintip dari bis itu.
“Stavano” sebuah kata tercetak jelas dari kerimbunan tanaman teh yang dibentuk sedemikian rupa agar membentuk huruf itu. Bah. Lagi-lagi Stavano, jadi bete. Buru-buru aku memejamkan mataku dan berharap mataku nggak iritasi gara-gara nemuin tulisan itu di mana-mana.
***
Kris’s POV
“bi” panggilku ketika aku sudah selesai mengerjakan beberapa berkas dari perusahaan.
“kenapa lagi?” tanya Jae yang masih sibuk membaca koran, tumben, biasanya juga dia hobi nonton Spongeboob. Sorry Jae, gara-gara masalah ini kau juga ikut kena imbasnya kan.
“bingung” keluhku.
“ya ya ya, kau terus mengulang-ngulang kata-kata itu dari beberapa hari yang lalu sejak kedatangan Miranda dan kepergian Mello yang tiba-tiba itu kan” gerutunya.
“iya bi” sahutku pelan, “mau gimana lagi bi, kacau-kacau” aku mengacak rambutku.
Siapa sih prioritasku selama ini?? Mello? Miranda? Rasanya tak adil kalau aku milih salah satu dari mereka, apalagi sejak hilangnya Mello secara tiba-tiba ini aku jadi semakin stres.
Mello Mello, dimana sih?! Aku tak bisa terus-terusan liat dia berpikiran yang tidak-tidak tentangku, jangan-jangan Miranda ngomong macam-macam sama dia sampai dia hilang begini.
Arrrggh kenapa semuanya jadi kacau begini sih?! Miranda juga terus-terusan mengungkit-ngungkit masalah Mello. Kenapa semua cewek nggak ada yang ngerti posisiku sih? Egois semuanya.
“nggak nyoba nyari tau di mana keberadaan Mello?” saran Jae.
“udah nyari tau ke cafe, ke rumahnya sama ke rumah temennya tapi hasilnya nihil, mereka nggak ada, udah tanya juga alamat rumah Mello sama kepala dapur tapi katanya rumahnya mereka sudah pindah dan sampai sekarang Mello belum memberikan alamat rumah barunya kepada kepala dapur” keluhku lagi. Great Mell! Pintar sekali kau menghilangkan jejak dan membiarkanku pusing setengah mati mencarimu.
“Line? Kakaotalk? Sms? Wattsapp? We chat? Oh telpon” tanya Jae lagi.
“belum nyoba sih” aku salah tingkah sendiri, saking pusingnya aku lupa menghubunginya lewat jalan begituan, “tapi pasti dia ganti nomor atau nggak aktifin itu” kelitku.
“ckckck..cakep-cakep kok bego” ejek Jae yang langsung memainkan handphonenya dan menelpon seseorang, “iya, nggak ada yang bisa di hubungi” katanya akhirnya.
Ia kan? Tak rugi kan lupa dengan fasilitas yang ditawarkan smartphone, kalau orangnya tak bisa dihubungi, secanggih dan sekeren apapun aplikasinya ya tetap aja nggak ada gunanya.
Mello, balik please. Rasanya sudah beberapa kali aku memohon dengan orang-orang agar  bisa mencarimu di setiap sudut kota ini.
Jujur, aku tak mau kehilangan Mello, tapi aku tak mau kehilangan Miranda setelah kedatangannya yang sudah kutunggu-tunggu sekian lama ini. kalau di suruh memilih, aku masih bingung harus memilih salah satu di antara mereka.
“siang” sapa seseorang yang langsung masuk ke dalam ruanganku. Aku dan Jae menoleh bersamaan. Miranda! Great! Kau membuatku makin pusing dan sadar kalau masalah yang aku pikirkan itu bukan Cuma khayalan belaka tapi ini kenyataan.
“siang Miranda” sapa Jae, “wah ada yang bawa makanan nih” godanya.
Aku diam saja dan kembali menyandarkan tubuhku sambil memijit pangkal hidungku.
“ups, sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat” Miranda melirikku sambil menaruh bekal makan siangku di meja.
“maksudnya?” tanya Jae.
“itu tuuh tuan Alva lagi sibuk mikirin penjahat hatinya” aku masih diam.
Duuh Miranda kenapa kau jadi terlihat sangat menyebalkan sekarang? Mana Miranda yang pengertian dulu? Pengertian karena waktu itu kita tak pernah ada masalah?
“siapa?” tanya Jae lagi.
“siapa lagi kalau bukan gadis yang bernama Mell......”
“Miranda please berhenti ngebahas Mello” kataku to the point.
Dia merengut tak suka karena omongannya ku potong “well, ok baiklah aku pergi” katanya yang langsung mengangkat kedua tangannya dan berbalik meninggalkan ruangan kami.
“liatkan Jae? Semuanya tak ada yang bisa mengerti posisiku” dia terus saja ngejudgeku seakan aku yang bersalah atau nggak dia bakalan bilang kalau dia itu Cuma bikin kehancuran setelah aku bahagia dengan Mello lah bla..bla..bla..
“kalau aku mau pergi mungkin aku udah pergi dari kemarin-kemarin... tapi aku masih sayang sama kamu, lagian kamu masih belum ngasih kepastian kan mau milih siapa?”kata Miranda waktu itu.
Memilih? Milih siapa? Persetan dengan piihan. Persetan dengan komitmen menikah , kalau masalahnya terus-terusan berlanjut tanpa ujung begini mungkin aku udah jadi bujangan seumur hidupku.
“kau tak ingin mencari penggantiku?” tanyaku pada Miranda.
“pengganti? Aku bahkan tak berniat memiliki lelaki lain setelah bertemu denganmu”
Nah.. kalau sudah begini aku harus mengatakan apa? Tak ada yang bisa di salahkan dalam seluruh hubungan ini, aku tak bisa menyalahkan Mello yang datang di hatiku, aku tak bisa menyalahkan Miranda yang telah pergi tiba-tiba datang kembali dan mengajakku menjalin hubungan seperti dulu lagi.
Lantas harus memilih siapa? Stay cool dengan dua gadis di sisi? Atau ninggalin mereka berdua? tapi jujur aku masih belum bisa menerima opsi kedua.
Kenapa pikiranku jadi random begini sih? Kris...Alvaaaa....
“minum dulu deh bi, stres banget kayaknya” suara Jae membuyarkan lamunanku.
**
Mello’s POV
Akhirnya aku balik juga ke kota ini. buru-buru kuaktifkan handphoneku yang sudah teronggok beberapa hari di bawah ranjang.
23 pesan Line dari DO dan 0 pesan Line dari Kris. Hahaha apa sih yang kuharapkan dari dia? Dia mana inget sama aku, kan dia udah punya anak begitu. Aku tertawa miris mengingat status Kris yang sudah berganti dari single menjadi daddy itu.
Aku tersenyum pilu usai membalas pesan Line dari DO dan menenangkannya yang ternyata sangat mengkhawatirkanku. Di luar juga masih hujan dan mau nggak mau aku nggak bisa mampir ke rumah DO.
Ahh...mungkin ini saatnya aku mengirim VN buat Kris, seenggaknya dia sadar kalau aku mau resign dari pekerjaanku.
Hahaha. Lagi-lagi aku tertawa miris. Udah tau dia nggak peduli sama aku kenapa masih aja ngotot pengen ngirim beginian sama dia. Mello Mello... udah gila ya kamu?
“pak..hmm.. sebelumnya saya minta maaf udah ngilang beberapa hari ini.. saya lagi sibuk” sibuk menata hati maksudnya. Sambungku dalam hati, “lagian kan bapak istrinya engg siapanya gitu pokoknya udah datang kan pasti nggak akan kelaparan lagi kalau nggak ada saya” ok di bagian ini aku berusaha mati-matian buat nggak nangis., “makasih ya pak udah banyak banget ngasih bantuan buat aku, kayaknya aku mau ngundurin diri aja.. maaf kalau aku banyak salah, sekali lagi maafin aku ya pak” kataku yang langsung mengirimkan VN padanya begitu aku selesai mengucapkannya.
Udah terkirim! Aku langsung harap-harao cemas nungguin jawabannya. Jujur aku gugup, takut, bukan takut di larang resign tapi takut dia bakal balas sesuatu yang nyakitin hatiku lagi.
Berbagai pemikiran buruk juga mulai melingkupi otakku.
Mungkin Kris bakalan balas, “iya nggak apa-apa, makasih ya udah mau bantuin aku selama dia nggak ada. Aku minta maaf juga ya kalau ada salah :-)” tapiiii itu kemungkinannya 0,0005% dia bakalan balas kayak gini, terlalu sopan untuk orang kayak dia.
Terus yang ukuran Kris yang kaya gimana dong? Dia Cuma jawab, “oke” gitu doang? Bah kalau jawab seperti ini sudah kupastikan aku akan minum racun tikus malam ini juga, tapi sebelumnya aku sudah mampir ke rumahnya dengan menusukkan tembaga panas di bokongnya. Kejam sekali.
Tring. Ada notif Line..
Buru-buru aku berdoa dalam hati semoga kedua opsi yang aku pikirkan tadi nggak ada yang bener, apalagi opsi yang kedua, “Cilla macih beyum ingin mati teman-teman”
Dengan tangan bergetar aku memberanikan diri untuk membuka pesan Line darinya..
Isinya...
“suaramu dibandingkan suara hujan masih bagusan suara hujan ya”
Hanya itu pesan yang ia kirimkan padaku.
WHAAT??!! DIA DENGERIN SUARAKU APA DENGERIN ISINYA SIH?!! MASA CUMA BALAS BEGITU? KOMENTARNYA BUAT MASALAH RESIGNKU APA KABAR??!! TERUS STATUSKU INI MASIH JADI PEMBANTUNYA APA UDAH BERENTI??!! FREAKK!! KRIS SIALAN!! AAAAAAAAAA..............
***
Hai..aku kembali hehe-_-)/ tak ku kira bisa sepanjang ini, ada yang masih ngikutin nggak sih? Aku waswas nggak ada seorang pun yang baca. Jangan jadi silent reader ya ntar aku potek-_- 

3 komentar:

  1. Udah sekian lama ga baca FF akhir nya baca lagi :D
    Ditunggu part selanjutnya, nice FF, sukasukasuka <3

    BalasHapus
  2. WAH, ade'a kk yg jorok ini FF'a bagus jg... goodluck ya :)
    sblm bikin tp mandi dulu de, ga enk klo nnti ada fans dtg k'rmh eh msh jelek :D

    BalasHapus
  3. wkwkwkw gila, gua ngakak malem malem. sumpah ini ff lawak banget wkwkwwk

    BalasHapus