Senin, 08 Juli 2013

FF KRIS: KNOW ME FIRST, KISS ME LATER(PART III)



Author:  Mei F.D

Cast :

·         Wu Yi Fan/ Kris EXO M as Kristanius A. S.

·         Mello as Priscilla N. Melody

·         Miranda Kerr (umurnya 26th ya di sini n__n)

·         Lee HyukJae as Jae

·         Do Kyungsoo as D.O

·         Oh Sehun as Odult

·         Yoon Bora as Bora

Length : multichapter

Genre : romance, drama, antara kocak dan ngenes ckck

PG : 15++
Dibaca dulu siapa tau suka, kalau gak suka baru tekan tombol back^^. Klo ff ini dijamin udah tamat hehehe. Jgn lupa follow @meiokris :*

Miranda’s POV
Aku masih mengingatnya. Tatapan dari mata hazelnya yang menusuk membuatku terpana sesaat sebelum ia melepasku di Bandara Soetta hari ini.
Ia memelukku erat seakan tak ingin menyisakan sedikit celah untuk kami berdua, dada kami saling menempel dan aku dapat merasakan jantungnya berdetak kencang, dan ini menyesakkan, membuat paru-paruku terasa sakit, perpisahan ini betul-betul menyakitkan.
Ia mencium aroma tubuhku, menelusupkan jari-jarinya ke sela-sela rambutku, ia mencium baunya selama yang ia mampu. Begitupun denganku, berusaha untuk memejamkan mata, merekam setiap jengkal tubuhnya dan menyimpannya dalam memori otakku. Akhirnya kami sama-sama melepaskan diri dengan tangan yang masih bertautan.
“Miranda, come on!” seru Ayahku.
Sekali lagi ia tersenyum, sambil merapikan rambutku yang berantakan, “jaga diri baik-baik” pintanya.
“kau juga ya, kalau kau mau, kau bisa mencari gadis yang lain, aku takkan menyuruhmu menungguku” suaraku tertahan ketika mengucapkan kalimat itu. Munafik. Mana ada gadis yang rela melihat pria yang dicintainya berpaling darinya.
“aku akan menunggumu di sini, aku takkan mencari gadis yang lain. I’m promise” janjinya.
Entah kalimat yang meluncur dari bibirnya itu suatu ketulusan atau Cuma sekadar bualan belaka, tapi setidaknya ini cukup membuat hatiku berdesir dan menghangat.
Yah, jalan kami memang sudah berbeda sekarang, aku lebih memilih meneruskan karirku di dunia model sedangkan dia harus berhenti karena memenuhi keinginan ayahnya untuk meneruskan perusahaan dan bergabung sepenuhnya pada keluarga besar Giovanni Stevano. Ah, selamat tinggal Alva.. akhirnya aku melemparkan sebuah lambaian di hari itu, entah sampai kapan aku bisa melihat wajah itu lagi.
“Miranda?”seseorang datang dan menepuk bahuku.
Aku menoleh, “Ron?” saat mendapati sosok yang menemaniku setiap kali aku ada acara. Ron Smith.
Ia melirik ke arah tanganku yang ternyata masih sibuk mencengkram erat ujung majalah Forbes yang baru saja kubeli tadi pagi.
“kau kenapa?” tanyanya bingung melihat aksiku.
“tidak...umm...aku hanya sedikit gugup” aku menggigit bibirku kecil, hal yang ku lakukan ketika aku sedang gugup, “kau tahu kan..hmmm..yeah.. yah jadi model Victoria’s secret itu benar-benar memacu adrenalin, dan aku gugup”
Hah, awalnya memang aku sedang gugup dengan proyek besar yang akan ku jalani sekarang, jadi model Victoria’s secret, tapi ketika aku menemukan sosok itu lagi di Forbes, rasa gugup itu pun menguap entah kemana dan berganti dengan rasa rindu yang memuncak.
Seorang putra taipan dari Indonesia kini menjadi orang ke-6 terkaya se Asia Tenggara....
Kristanius Alva Stevano yang bekerja di bidang perkebunan dan jasa makanan ini kita telah berhasil menggeser kedudukan Chang, warga keturunan Cina yang berkutat di bidang software komputer.....
Hanya itu berita yang aku tangkap dari majalah ini, jariku fokus membelai permukaan kertas yang licin begitu mendapati sosok yang ia rindukan sedang meraih suksesnya. Sudah hampir dua tahun lamanya ia tak menjalin komunikasi denganku.
Awalnya kami masih sering berkirim e-mail, tapi semenjak gosip yang menerpaku menjalin hubungan dengan Ron Smith, pemilik hotel berbintang di kawasan Australia, ditambah dengan jadwal modelingku yang padat membuat kami menjauh satu sama lain, dan tentu saja tanpa kata putus di antara kami.
Aku masih di sini, masih sama dan masih mencintainya...tapi kenapa ia hanya diam? Menungguku? Apa itu mungkin?
“Miranda....hey...” sapa Ron lagi.
“....hah..yeah?” sahutku gelagapan.
“high heelsmu menarik hari ini” pujinya ketika memandang Stiletto Diamond Dreamku yang kukenakan, sepatu seharga 5M (kalau di konversi ke dalam mata uang Indonesia) karya Stuart Weitzman ini memang menjadi salah satu dari beberapa karyanya yang pantas masuk nominasi sepatu termahal di dunia. Aku tersenyum simpul.
“ma ma ma” tiba-tiba seseorang datang dan memeluk kakiku.
“Oh Carol...” aku baru menyadari malaikat kecilku mampir ke lokasi pemotretanku, ia berjalan sangat lincah padahal umurnya baru 1,5 tahun.
“hello my lil Carol” sapa Ron yang langsung menggendongnya, Carol yang cepat akrab dengan orang lain langsung menghadiahi ciuman bertubi-tubi padanya.
“basah” protes Ron yang langsung mengelap pipinya dengan sapu tangan. Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua.
“seriously, dia mirip sekali denganmu” Ron mengamati wajah kami bergantian. Lagi-lagi aku hanya tertawa melihat tingkahnya.
“Charry” panggilku pada asistenku.
“yea?” sahutnya.
“setelah aku selesai pemotretan ini, kosongkan semua jadwalku karena aku ingin liburan ke Indonesia” seruku yang langsung di jawab dengan isyarat, kedua jempol Charry yang mengayun di udara.
“ow...ow.... jangan bilang kau mengajak Lil Carol?!” protes Ron.
“tentu saja aku mengajaknya” aku tergelak.
Alva....tunggu aku..... batinku dalam hati...
***
Author’s POV
happy Bday Mello, happy Bday Mello, kami datang untuk Mello, happy Bday Mello~~~” terdengar nyanyian Bora di sela-sela keributan yang ditimbulkan para pekerja di Stavano cafe hari ini. Mello ulang tahun dan semua pelayan merayakannya di dapur Cafe, yah hanya kejutan sederhana yang mampu membuat Mello kaget, semua ingat ulang tahunnya!
“nih kuenya, tiup lilin dulu dong baru make a wish” suruh Bora yang menyodorkan kue tart kecil bikinannya. Mello mengangguk. Ia meniup sebuah lilin yang bertengger di atasnya dan membuat permintaan.
semoga aku cepat kaya, semoga aku bahagia, semoga nanti aku dapat suami orang kaya dan ganteng, semoga nanti pas pacaran hubungan kami awet sampai menikah, semoga nanti kami di karuniai anak yang cantik dan tampan, semoga kami bisa awet sampai ajal memisahkan, eh engga ding, sampe kakek nenek dulu baru meninggal. Pintanya.
“lama amat sih Mell dibilang Cuma satu permintaan” celetuk Bora.
Mello hanya nyengir kuda. “mumpung hari spesial Ra”
“nih spesial buat Mello” kepala dapur memberikan satu gelas Cappucino besar lengkap dengan 2 scoop es krim rasa coklat di atasnya.
“halooo cappucinokuuu” sapa Mello bahagia.
“udah gede juga masiiih aja kelakuan kaya bocah” celetuk Bora.
“nih khusus buat Mello” DO memberikan sebuah kado mungil untuknya.
“apaan ini?” tanya Mello penasaran.
“buka aja” kata DO.
Mello buru-buru membuka kadonya, “aaaaa thanks DO” serunya ketika melihat kado DO yang berisi gantungan kunci couple berbentuk hati, “tapi aku kan gak punya pacar, ngapain di kasih beginian” protesnya.
“nanti kalo punya pacar kan bisa di kasihin sama pacarnya” sarannya.
“noh ada video dari Odul khusus buat kamu” kata Bora yang langsung menyerahkan ponselnya pada Mello.
Mello terharu ketika melihat ayahibu beserta adik lelaki satu-satunya mengucapkan selamat padanya hari ini.
“makasih Odult” gumam Mello sambil menyeka airmatanya, kemudian pandangannya beralih ketika dilihatnya Kris masih dengan baju kebesarannya yang tiba-tiba masuk ke ruang karyawan.
Mr.Limited Editionku! Hai ganteng! Panggilnya dalam hati.
Ah...ide bagus, batin Bora, “pak Kris ciyeee tumben jam segini udah datang, pak kasih ucapan dong buat Mello, dia ulang tahun tuh, nyanyi pak nyanyiiii” kata Bora yang langsung disambut dengan teriakan riuh dari teman-temannya.
Aduuuuh, gimana ini Kris mau nyanyi untukku...aaaa..kapan lagi bisa dengerin dia nyanyi... jerit Mello dalam hati. Sabar Mello sabar, belum tentu kan dia mau nyanyi.
“huh?!” Kris menatap Bora tak percaya, tatapan angkuh itu muncul lagi.
Bernyanyi? Untuk Mello? Di sini? Hah! Gak salah? Protesnya. Tapi kalau tidak di turuti, bisa-bisa aku dicap yang tidak-tidak sama pelayan-pelayan di sini.
Kris menatap wajah pelayannya satu persatu, bah, gadis bodoh itu bahkan hanya melongo menatapku.
“gimana pak? Kali iniiii saja” pinta Bora yang masih sibuk mendesak Kris.
Akhirnya Kris mengalah juga, di raihnya mic di tangan Bora, “happy bday Mello, happy bday Mello...terus terus ulang sampai habis” diserahkannya kembali mic itu kepada Bora yang mendapat serangan jantung mendadak melihat aksi sadis dari Kris, “udah kan?” tanyanya.
Dilihatnya Bora masih saja terpana melihat ulahnya sambil menerima mic yang diserahkan oleh Kris.
“buang-buang waktu” gerutu Kris yang langsung berjalan menuju ke arah Mello.
Apa? Aku gak salah denger kan? Kris nyanyi untukku? Dengan nada dan isi lagu yang saaaaaangat gak ikhlas itu,aaaaa padahal aku sudah dibuat terbang tinggi karena ia menyanyi untukku, tapi pas tau begitu... ah sudahlah... tembok mana temboook rasanya aku pingin jedotin kepala aku biar lupa kalo Kris pernah nyanyi di ulang tahunku. Jerit Mello. Ia mendesah pelan.
Kris berjalan ke arah Mello yang berada di samping kepala dapur, “tolong laporan keuangan bulan ini” pintanya pada kepala dapur tanpa menatap sedikitpun ke arah Mello.
Kepala dapur langsung berlari ke sebuah loker dan mengambilkan berkas-berkas yang diminta Kris, sementara itu Kris berada di samping Mello yang masih tertunduk menahan perih hatinya karena lagu tidak ikhlas dari Kris itu. Kris hanya menatap lurus ke depan dengan kedua tangan di kantong celananya.
“ini pak” kata kepala dapur takut-takut.
Mell.. dosa apa kau bisa suka sama makhluk yang tak punya perasaa ini? celetuk Bora.
Kasihan Mello. Kali ini batin DO yang berbicara.
“umm... ah.. itu tadi pak Kris sudah nyanyi buat Mello, gimana Mell? Baguskan suaranya?” tanya Bora mencairkan suasana. Mello hanya mengangguk pelan tanpa berani menatap Kris, hatinya hancur kali ini.
“udah selesai pestanya? Pelanggan di luar sudah banyak menunggu, lain kali kalo bikin pesta jangan di sini” sindir Kris yang langsung berjalan keluar meninggalkan ruang karyawan.
“gi...gimana Mell? Mau di lanjutin gak pestanya?” tanya Bora begitu menyadari perubahan raut wajah Mello.
“gak, makasih ya semuanya, aku ijin pulang boleh gak? Gak enak badan” pintanya dengan senyum dipaksa. Matanya sudah benar-benar terasa panas dan ia ingin menumpahkan segala kekesalannya di rumah.
-----------------DO’s POV----------------
Waah tumben hari ini banyak pelanggan, aku membetulkan letak topi petku, gak biasanya juga pak Kris berkunjung ke sini, dia dengan segala karisma, wibawa dan wajah tampannya itu benar-benar seperti Pangeran di dunia bisnis.
“mas.. mas.. saya mau melamar pekerjaan di sini” seseorang membuyarkan lamunanku. Siapa? Aku membelalakkan mataku melihat gadis yang berada di dekatku, dia.... gadis yang menarik, hanya itu kata yang bisa aku berikan padanya tapi dia sukses membuat tubuhku terasa membeku.
“hah?” tanyaku bingung, dia tadi ngomong apa ya?
Lama aku mencerna perkataannya sampai akhirnya aku mengingat kalau dia sedang ingin melamar pekerjaan, “oh, haha” aku menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal itu, “mari saya antar bertemu tuan muda, kebetulan pemiliknya sedang berkunjung” kataku sambil menyunggingkan senyum terbaikku.
“terimakasih ya.....” katanya yang sepertinya ragu untuk menyebutkan namaku, ah ya aku lupa mengenalkan diri.
“D.O panggil aja DO” kataku akhirnya sambil mengantarkannya pada atasanku.
Akhirnya kami sampai juga pada ruangan khusus buat atasan kami, yah ruangan yang berbatasan dengan kaca yang menghubungkan langsung dengan dunia luar, kau bisa melihat taman di sana. Itu dia atasanku, sedang memandang ke luar tanpa menyadari kedatangan kami, sementara aku melirik ke arah gadis yang sepertinya gugup itu.
“Tuan Kris” panggilku sesopan mungkin sampai akhirnya dia menoleh.
Dia hanya menunjukkan wajah datarnya tanpa ekspresi itu, tapi sanggup membuat wanita manapun membeku, diam-diam aku melirik gadis di sebelahku, sama aja, dia tak ada bedanya dengan puluhan gadis yang menatap Kris dengan pandangan terpesona, kagum dan mendamba.
“Pak, ini mau melamar kerja” kataku yang langsung mengantarkan gadis ini dan kemudian pamit, meninggalkannya berduaan dengan pak Kris.
**
“DO, aku mau jujur sama kamu” kata Mello, gadis yang sudah ku dekati semenjak dia mulai bekerja di sini sebagai pelayan, dia gadis berkepribadian menarik, sikapnya yang gampang akrab dengan orang lain membuatku jatuh hati padanya.
“mau jujur apa?” tanyaku.
“aku lagi suka seseorang” katanya malu-malu.
“suka siapa? Pak Kris?” godaku sok tau padahal dalam hati aku berharap akulah yang dia suka mengingat dia tak pernah dekat dengan lelaki lain, apalagi pas dia menyampaikan status singlenya selama hampir satu tahun itu.
Ia mengangguk, “iya... iyaaa aku suka banget sama dia”
Hmmm... aku berdehem pelan, hatiku mulai terasa nyeri. Gadisku menyukai orang lain.
“emangnya kamu gak illfeel gitu sama kelakuannya yang dingin itu?” tanyaku lagi.
“enggak kok, aku yakin dia baik, aku suka dia udah lama loh”
Sudah sering aku mendengar curhatan dari para gadis-gadis yang baru melamar kerja di sini, mereka jatuh cinta dengan pak Kris tapi akhirnya mereka sadar kalau pak Kris benar-benar orang yang berhati dingin dan cuek hingga mereka mundur teratur walau masih saja memuja pak Kris dengan ketampanannya, tapi kali ini, lain dengan Mello, reaksi tubuhku berbeda, aku...merasa cemburu.
Dan sejak saat itu dia mulai curhat denganku mengenai ketertarikannya dengan pak Kris........
Kadang ia menangis karena sikap pak Kris yang terbiasa berbicara cuek dan menyakiti perasaan pegawainya, terlebih dengannya yang selalu berpikir bagaimana caranya bisa dekat dengan pak Kris. Kenapa? Kenapa kau mau menangis karenanya?
Aku pernah menanyakan itu padanya, kenapa juga dia tak menyukai lelaki yang bisa bersikap ramah dengannya?
Dia hanya tersenyum dan menjawab, “namanya juga jatuh cinta gak bisa milih kan mau suka yang mana?” balasnya bertanya, “cowok baik terlalu mainstream makanya aku mencoba terobosan baru dengan menyukai cowok yang super duper nyebelin kaya Pak Kris”
*
“malam ini nyanyi Korea ya? Banyak yang request tuh” kata pemilik cafe tempatku bekerja. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
“malam ini mau nyanyi lagu Baby,Don’t Cry dari Boyband Korea EXO, pasti udah pada tau kan?” kataku yang menghibur para pengunjung cafe yang di dominasi oleh para remaja SMP, mungkin habis pesta kelulusan.
“lagu ini didedikasikan buat para pengunjung cafe” dan untuk Mello, gadisku di sana, sambungku dalam hati “listen it...”
deoneun mangseoriji ma jebal
nae simjangeul geodu-eo ga
geurae nalkaro-ul surok joha
dalbit jochado
nuneul gameun bam
na anin dareun namja yeot damyeon
huigeuk ane han gujeori eotdeo ramyeon
neoye geu sarang gwa
bakkun sangcheo modu taewo beoryeo

* Baby don't cry tonight
eodumi geochigo namyeon
Baby don't cry tonight
eobseot deon iri doel geoya
mulgeo pumi doeneun geoseun nega aniya
kkeutnae mollaya haet deon
so Baby don't cry cry
nae sarangi neol jikil teni

ojik seororeul hyanghae inneun
unmyeongeul jugo bada
eotgallil su bakke eomneun geu mankeum deo
saranghae sseumeul nan ara
When you smile, sun shines eoneoran teuren chae
mot dameul challan
oh on mame pado chyeo buseo jyeo naeri janha oh

Baby don't cry tonight
pokpungi morachi neun bam (haneuri muneojil deut)
Baby don't cry tonight
jogeumeun eoulli janha
nunmul boda challanhi bitna neun i sun gan
neoreul bonaeya haet deon (yeah...)
So Baby don't cry cry So Baby don't cry (don't cry)
cry (cry)
nae sarangi gi-eok doel teni
**
                “hmmm...” aku melihat Mello menatap seragam pelayannya dan menggaruk-garuk kepalanya,”huwaaaaaa”
                “kenapa sih Mell?” tanyaku yang membuatnya menghentikan aksinya.
                “aahhh DO...” dia berjalan menghampiriku.
                “kenapa?” tanyaku.
                “Yo...”
                “ada masalah?” tanyaku lagi.
                “Yo, DO..”
                “apa apa?” apaan sih Mello?
                “Yo, DO, De I O, Dioooooo” dia memanggil namaku dengan berbagai ejaan.
                “apa Mello??” aku makin bingung.
                “kayaknya umurku kerja di sini bakalan lebih pendek deh” dia kembali curhat padaku, maksudnya?
“maksud kamu apa Mell? Kok ngomong gitu?” aku penasaran di buatnya. Tapi dia tak menyahut, hanya melongo menatapku, aku jadi salah tingkah sendiri dan mengecek seragamku, kalau-kalau ada yang salah dengan penampilanku. Tidak ada.
“hoy..hoy Mello” sapaku lagi karena ia tak juga menjawab pertanyaanku.
“engg.. kayaknya aku lagi gak enak badan deh DO, jadi ngelantur gini kan. Aku bisa ijin pulang duluan kan?”
“ya ya ya, pamit sama kepala dapur sana” suruhku.
Mello...Mello... kau bisa membuatku gila lama-lama kalau bersikap seperti ini padaku, aku menatap Mello yang berjalan membelakangiku.
**
3 hari kemudian...
                Ini sudah kesekian kalinya dari tiga hari yang lalu semenjak ia bisa mengajak berbicara Pak Kris ia jadi bertingkah aneh begini, dan apa yang membuat Pak Kris menanyai riwayat hidup Mello pada kepala dapur? Mungkinkah......
                “Baby don’t cry, tonight..” godaku pada Mello yang masih melongo menatap orang-orang dengan pandangan kosong.
                “apaan sih DO?” dia mengacak rambutnya frustasi. Lah? Kenapa lagi?
“kamu kayaknya stres banget deh” kataku, “kerja aja kaya mayat hidup, gak ada gairah sampe temen-temen yang niatnya mau godain kamu ngurungin niat mereka” kamu kenapa sih Mello???
                “ah bodo lah sama mereka” dia memajukan bibirnya tanda kesal.
“eh harusnya kamu bahagia dong di ajak dinner bareng sama atasan sendiri, berduaan lagi” yah....aku baru saja mendengar ini... riwayat hidup? Dinner bareng? Pak Kris? Ada sedikit perasaan terluka di sini..
“iyalah undangan makan malam berdua sama pak Kris itu semacam undangan pengambilan surat pemutusan hubungan kerja” keluhnya.
“pothink dong Mell kan belum tau kebenarannya” hiburku, yah, aku juga harus berpikir positif kan kalau pak Kris takkan menjadikan Mello istrinya secara tiba-tiba hanya karena perkenalan singkat itu.
“pothink apaan?” tanyanya bingung. Astaga gadis polosku.
“positif thinking Melloooo” jelasku gemas.
Dia terdiam.
“di cafe mana tadi?”
“di cafe Pink Mell, jam 7 malam, mau kuantar?” tawarku, mumpung malam ini aku juga ada kerjaan di cafe sebelah jadi sekalian kan?
“boleh, lagian aku gak tau tempatnya dimana, harus pakai dress?” tanyanya kikuk.
“hmmm gak ada suruhan pake dress sih. Tapi kalau kau mau kita bisa berangkat sekarang deh buat beli dress di sini” tawarku lagi,uangku cukup kok untuk membelikannya sehelai dress, setidaknya setiap dia menatap dress itu dia bisa mengingatku.
Dia mendesah pelan, “gak usah deh. Kalo emang bener di PHK kan ntar bisa-bisa aku benci sama dress itu”
“apa hubungannya di PHK sama benci dengan dress?” tanyaku tak mengerti.
“nggg itu loh kan di PHK, terus terus aku gak kerja lagi, terus mau jalan, liat baju eh ngeliat dress itu kan jadi keinget sama kejadian PHK itu” jelasnya. Ohh, aku pikir dia bakalan membenciku.
Buru-buru ku lirik arlojiku. “udah keburu malam nih, yaudah buruan ganti baju ntar kita telat gara-gara macet dan pak Kris gak suka nunggu terlalu lama” ajakku.
Yah, di dalam mobil kami lebih banyak diam, aku bingung harus memulai pembicaraan seperti apa. Biasanya Mello yang selalu mengajakku berbicara kalau tidak ada topik seperti ini.
Diam-diam aku meliriknya, gadisku yang manis apa kau mau pergi menemui pak Kris dengan rambut yang masih terkuncir dua itu? Desahku pelan.
“makasih ya DO” katanya yang lagi sibuk nurunin sabuk pengamannya ketika kami sudah sampai di depan cafe yang di maksud pak Kris
“eh tunggu dulu” aku menghentikan gerakannya yang ingin membuka pintu mobil.
Aku membalikkan badannya. Merapikan poninya dengan sebelah tangannya sementara sebelah tangannya yang lain melepas ikat rambutnya dan membiarkan rambut panjang bergelombangnya tergerai, aroma sampo yang biasa ia pakai pun langsung masuk mengisi paru-parunya, aku menyukainya... terakhir aku menyematkan jepit rambut yang kubeli khusus untuknya di sisi rambutnya, “nah kan begini lebih baik” pujiku tulus. Kau cantik Mell...
Aku menepuk-nepuk pundaknya, “fighting Mell” kataku sebelum ia turun.
Ia hanya mengangguk dan melambaikan tangannya ketika aku memalingkan mobil. Mello, tidakkah hatimu sedikit berdesir begitu aku menyentuhmu tadi?
**
Hari ini Mello sidang skripsi, aku mau menemuinya tapi dia ijin cuti dari dua hari yang lalu, akhirnya aku mengirimkan foto selcaku sambil memegang balon.
Setelah pesanku terkirim tiba-tiba dia menelponku.
“halo?” sapaku
“DO! Makasih ya udah ngirimin aku foto. Muaaah muaaaah” dia langsung menghadiahiku ciuman bertubi-tubi. Aku terkekeh pelan.
“eiittsss... awas rusak hapenya kena cium.. semangat ya” kataku sambil tertawa.
Dia terkekeh, “kamu tuh orang pertama temen aku yang nyemangatin aku pagi ini, except keluargaku yaaa” katanya.
“iyaaa” sahutku, benarkah? Aku benar-benar merasa bahagia saat mendengar ini. kukira aku orang ke sekian yang mengucapkannya padanya.
“ngomong-ngomong, fotonya ganteng” pujinya.
Aku tersipu, “jangan liat orangnya, liat balonnya dong” protesku sambil menutupi kegugupanku.
“iyaaa...iyaaa... engg.. aku pergi dulu yaa takut telat” pamitnya.
“yooo hati-hati di jalan” kataku yang langsung menutup telepon.
Aku langsung merebahkan diri di kasurku dan tersenyum senang, ahh Melloku...kenapa hidupku benar-benar terasa menyenangkan saat kau berbicara denganku.
Aku larut dalam lamunanku sampai hapeku kembali berbunyi. Mello? Ada apa lagi?
“halo Mell” sapaku.
“makasih ya udah ngirimin aku bunga, bagus loh bunganya, harum lagi” katanya.
Bunga? Bunga apa?
“hah? Maksudnya apa Mell? Bunga apa?” tanyaku bingung.
“loh... kamu kan yang ngirimin aku bunga?”
“.....” aku tak menjawab, hatiku terasa berdenyut... bunga? Mungkinkah dari pak Kris? Siapa lagi orang yang sanggup membeli bunga mahal kalau bukan dia?
“DO? Iyakan?” tanyanya memastikan.
“bukan aku kok. Serius, uangku mana cukup buat beli bunga mahal” kataku jujur.
”oh gitu, yaudah deh maaf ya udah ganggu” katanya.
Aku hanya menjawab dengan erangan pelan, “iya”
“................................”
**
Yah, ku pikir hariku akan sangat menyedihkan untuk ke depannya, kedekatan Mello dengan pak Kris di luar jam kerja benar-benar membuat hatiku sakit, aku bahkan tak tahu apa yang dilakukan pak Kris padanya hingga malam itu... Mello menginap di rumahnya.
Kau tahu rasanya gadis yang kau cintai itu ternyata malam itu menginap di rumah lelaki yang disukainya? Kau tahu rasanya ketika mendengar berita itu rasanya aku ingin datang ke kantor pak Kris dan meremukkan tulang-tulangnya. Aku terbakar cemburu.
Hari ini Mello ulang tahun, aku sudah menyiapkan kado istimewaku untuknya yeah, dia bahagia ketika aku memberikan gantungan kunci itu. Semuanya berjalan lancar sampai akhirnya pak Kris datang dan mengacaukan semuanya, Melloku.. Melloku terlihat sangat sedih dengan tindakan yang dilakukan oleh pak Kris, benar-benar lelaki yang tidak punya perasaan.
Yeah, dia tak merasakan kesedihan yang dirasakan Mello karena dia tak mencintai Mello!
Aku merebahkan diriku da menatap langit-langit kamarku, Mello... kau di mana? Masihkah kau menyiapkan makan malam di rumah lelaki yang senantiasa menyakiti hatimu itu? Tidak bisakah kau memandang ke arah seseorang yang lebih memedulikan dan menyayangimu?
Jatuh cinta itu rumit.....
Baru saja aku ingin memejamkan kedua mataku, ponselku berbunyi dan aku menemukan nama Mello di sana.
“halo, Mell... ada apa?” aku langsung bangkit dari tempat tidurku, “kamu gak papa kan?”
“iyaaaa... aku lagi bahagia sekarang”
Mello? Bahagia? Kenapa?
“hahaha baguslah, bahagia kenapa?” tanyaku turut senang.
“.................”
“haha....selamat....iya... bye...” kataku yang langsung memutuskan sambungan teleponku. Mello? Kris? Hah, itu tidak terdengar seperti berita yang mengenakkan di telingaku. Batinku sambil memejamkan mataku.
Mungkin, dia benar-benar orang yang tepat untukmu Mel, berjuanglah....
***
Author’s POV
Kris memperhatikan gerak gerik Mello yang daritadi sibuk mengaduk-aduk makanannya tanpa menyuapkannya ke dalam mulutnya.
“kalo malas makan gak usah masak buat dua orang, buang-buang duit” pancing Kris, biasanya kalau di bentak gini dia bakalan balas marah-marah sambil menggembungkan kedua pipi tembemnya itu.
Mello tak menyahut, ia hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa sedikit pun menatap Kris.
Kenapa nih bocah? batin Kris. Biasanya tiap makan malam dia selalu heboh dengan mulut bawelnya itu.
Kris menatap Mello tajam, ia kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati Mello.
Di dongakkannya wajah Mello dan mereka saling menatap satu sama lain, Kris dapat melihat dengan jelas raut terluka dari wajahnya, kedua mata Mello berkaca-kaca.. menatap Kris semakin membuat hatinya terasa hancur.
Mau apa lagi, Kris? Batin Mello mengeluh, ia lelah. Akhirnya Mello tak tahan lagi, butiran kristal bening itu akhirnya jatuh dari pelupuk matanya, meluncur dengan bebasnya menuruni pipinya.
Kris tak berkomentar apa-apa selain menarik Mello ke sofa dan mendudukkannya di sana, “cengeng” ejeknya yang langsung meninggalkan Mello ke kamarnya.
Sementara itu Mello masih sibuk menguasai dirinya Kris kembali dengan sesuatu di tangannya. Mello menunduk, baru kali ini ia benar-benar merasa sakit hati Cuma karena nyanyian Kris pas ulang tahunnya.
Tiba-tiba ia merasakan aroma Kris semakin keras tercium oleh hidungnya dan memenuhi rongga dadanya, ya.. Kris datang menghampirinya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Mello.
Mello menahan napas, aroma mint yang menguar dari tubuh Kris benar-benar memabukkan, apa yang Kris lakukan? Mello terdiam membeku sementara tubuhnya terasa kaku.
Mello menutup matanya perlahan, , dirasakannya Kris yang melepas ikat rambutnya dan membiarkan rambutnya tergerai, di sampirkannya rambut Mello ke sebelah kanan dan membiarkan leher Mello di sebelah kiri terekspos dengan jelas.
Wajah Kris semakin dekat dengan kupingnya dan ia bisa merasakan deru napas Kris di lehernya, membuatnya merinding dan semakin menahan napasnya. Baru pertama ia merasa dekat sekali dengan Kris.
“happy birthday Mello” bisiknya tepat di telinga Mello dengan bibir yang nyaris menyentuh kupingnya, ini membuat bulu kuduknya berdiri.
Detik berikutnya ia merasakan tangan Kris yang melingkari lehernya dan memasangkan sesuatu di lehernya.
“hadiah ulang tahunmu, jangan nangis lagi, jelek” bisiknya.
Dalam keadaan bingung dan kaget dengan perilaku Kris, Mello pun mulai membuka kedua belah matanya yang tertutup dan mulai memberanikan diri menatap benda yang sekarang tergantung di lehernya...
Seuntai kalung emas putih dengan bandul berbentuk kupu-kupu yang di dalamnya di penuhi berlian-berlian kecil itu benar-benar terlihat menarik di lehernya.
Kris menjauhkan tubuhnya dari Mello dan mencubit pipi Mello perlahan, “jaga baik-baik kalungnya ya, mbem....”
Sementara itu Mello masih diam membisu, ini benar-benar di luar dugaan, jantungnya mungkin sudah kehilangan katup-katupnya karena terlalu banyak memompa darah, tubuhnya terasa lunglai dan ia tak sanggup menggerakkan anggota tubuhnya.
Bibirnya terasa di jahit, untuk mengucapkan terima kasih pun ia tak sanggup, entah hari ini terlalu banyak kejutan yang ia dapatkan dari Mr.Limited Editionnya yang membuatnya lupa bagaimana caranya bernapas, lelaki yang di cintainya ini benar-benar berbeda............
**
Kris’s POV
Hah... mataku tak henti-hentinya menatap langit-langit kamar. apasih yang kupikirkan dari tadi? sudah beberapa hari ini aku memberikan harapan pada gadis itu.
Kutekan dadaku pelan, yah getar itu jelas masih ada dan terasa, sama dengan getar yang kurasakan terhadap orang yang ku cintai beberapa tahun lalu.
Kalau di tanya soal perasaan, suka atau tidak suka aku masih belum bisa memastikannya. Tau yang namanya kebiasaan? Entah rasa suka, sayang, atau bahkan cinta aku tak tahu, yang jelas hidupku sudah sangat terbiasa dengan kehadiran Mello di sisiku.
Dia datang dengan kurang ajarnya dan menjadi keping puzzle di hatiku dan mulai menggeser kedudukan keping puzzle yang lain, walaupun ia sedang marah padaku atau membuang muka ketika memandangku itu lebih baik dari pada aku tak melihatnya sama sekali. Asalkan dia masih berada dalam jangkauan mataku aku sudah merasa aman, kalau tidak bisa melihatnya sama sekali, aku merasa gila.
Mello dan Miranda, dua nama yang mengisi hatiku pada jaman yang berbeda namun sama-sama memberikan efek luar biasa pada hatiku, mungkin aku terkena kutukan huruf M? Apa lagi hal buruk yang ku alami nanti selain mencintai dua orang sekaligus? Terjebak skandal Making love? Atau... Menikah?
Melihat hubunganku dengan Mello selama ini akhirnya membuat pertahanan diriku jebol juga. Perlahan tapi pasti ia mulai mengikis pintu hatiku dan akhirnya membuat sebuah lubang kecil untuknya...
Dan untuk Miranda.... apa hubungan kita harus berakhir? Tapi... mendengar namamu di sebut saja masih memberikan efek maha dashyat pada hatiku, kemudian aku terhenyak dan kembali ke dalam masalaluku... mimpiku.. sedangkan Mello? Ah diam-diam menghanyutkan, hadirnya di mimpi kadang tak terasa, hanya muncul sekelebat tapi begitu aku melihatnya.. aku selalu merasa de javu.
Mengenai kalung itu, entah kenapa hatiku tergerak untuk membelikannya saat aku tahu dia ulang tahun di cafe siang itu...
“aku pulang dulu” pamitnya.
“oke” kataku, tapi begitu Mello berbalik, aku malah menahan tangannya.
“a..apa?” tanyanya gugup.
“kalo butuh duit langsung minta ke sini aja, jangan sampai aku tiba-tiba melihat kalungmu itu terpajang di etalase perhiasan. Kalo sampe terjual maka aku takkan segan-segan membenamkan kepalamu itu ke neraka” ancamku.
Ia hanya mengangguk-angguk kesal, “ih memangnya aku cewek nggak tau diri banget apa sampai nggak bisa jaga pemberian orang” gerutunya.
Diam-diam aku tersenyum. Mungkin ini tidak adil bagi hidupnya karena aku masih saja sering membentaknya, tapi di luar semua itu, aku masih memperhatikannya, bandul berbentuk kupu-kupu itu melambangkan dirinya.
 Dia datang menemuiku sebagai ulat, ulat yang ku anggap benar-benar mengganggu hidupku, tapi ia berjalan pelan dan tanpa kusadari sudah menggerogoti hatiku perlahan dan sampai saat ini ia bukanlah seekor ulat lagi, tapi kupu-kupu yang cantik dan... bebas.. bebas karena aku tak ingin mengekangnya.
Entah aku bahkan tak tahu tindakanku selanjutnya, apa aku harus benar-benar melupakan Miranda dan membuka lembaran baru dengan menjadikan Mello kekasihku?
Maafkan aku yang meninggalkanmu
Ketika rasa kita membeku
Seiring waktu berduka
Pernah ku mencoba untuk melupakanmu
Tetapi yang terjadi hanyalah ku tak bisa lupakanmu
Mencintaimu membunuh keangkuhanku
Kehadiranmu membius hatiku
Ajari aku hapuskan mimpi burukku
Mungkinkah dirimu cintaku selamanya
Pernahku mencoba tuk melupakanmu
Tetapi kau selalu di sisiku, di sisiku, di sisiku.
-the fly-
***
Hallo readers siapa saja yang membaca ffku, ada yang bersedia jadi pacarnya Kris di sini? Kkkk jujur aku naik darah sendiri sama tokoh Kris di sini(?). makasih yaaa udah baca *tebar lope*

1 komentar:

  1. thor, kalau gua mau jadi pacarnya Mello saja. heheheheh *digampar DO featuring Kris*

    BalasHapus