Kamis, 18 Oktober 2012

Payung abu-abu


PAYUNG ABU-ABU
Aku membereskan daganganku dan menunggu adikku pulang menjajakan dagangan asongannya. Aku menatap ke langit¸sepertinya akan turun hujan. Aku semakin cemas memikirkan Gilang.
“kak Agil!!” seseorang berseru kepadaku, aku menatap kearahnya dan melambaikan tanganku yang berdebu itu. Seorang bocah berusia 6 tahun langsung memelukku.
“kakak, tadi jualan Gilang laku semua lo! Coba deh ka lihat dagangan Gilang. Habis kan?”
Aku tersenyum kepadanya dan mengacak rambutnya,”iya, Alhamdulillah J. Ayo kita pulang sayang”
Umurku dengan adikku hanya berbeda 4 tahun. Meskipun aku masih kecil tapi aku merasa aku bukanlah anak kecil yang suka merengek kepada orangtua. Aku ingin membuat orangtuaku bahagia, aku ingin membuktikan kepada mereka kalau aku bias sukses walaupun aku tidak sekolah.
Seandainya aku bisa sekolah mungkin aku sekarang sudah duduk di kelas IV SD dan adikku duduk di kelas I SD, aku dan adikku suka sekali mengikuti pelajaran di SD Sukira. Meskipun kami hanya belajar melalui kaca jendela namun itu tidak menyurutkan niat kami untuk maju. Toh, guru-gurunya juga membiarkan kami belajar.
Satu-satunya orang yang kukenal di SD itu hanyalah Pak Buhar, satpam sekolah itu yang mengizinkan aku dan adikku mengikuti pelajaran di sana. Beliau benar-benar orang yang baik.
Aku dan adikku mempercepat langkahku karena hujan mulai turun membasahi bumi. Namun kami terlambat, hujan turun sangat deras, aku memutuskan untuk berteduh di bawah pohon beringin, aku takut adikku sakit.
“sssshhhh…kka..kak..Gilang..bbrrr,..ke..dinginan..huhhuuh” adikku menggigil di sampingku.
“sabar ya adikku sayang :0” aku memeluk adikku erat-erat.
Seseorang menyentuh pundakku yang membuatku terlonjak kaget, “maaf anda siapa?” tanyaku kebingungan dengan jantungku yang masih berdetak kencang.
“aku Raditya. Panggil saja aku Adit” lelaki yang kira-kira berusia 10 tahun diatasku ini mengulurkan tangannya untuk menjabat tanganku.
Akupun tersenyum kepadanya dan menjabat tangannya, “iya kak Adit. Ada perlu apa ya kak Adit sama Agil?”
Raditya pun tersenyum, “oh jadi namamu Agil ya? aku hanya kasihan melihat adikmu daritadi terus menggigil kedinginan, aku mau memberikan kalian ini”. Dia menyodorkan sebuah payung berwarna abu-abu dengan tulisan “Super Junior” diatasnya.
“ehmm..tapii..”
“sudah ambil saja gadis kecil.” Dia meletakkan payung abu-abu itu di tanganku. Aku hanya menatapnya kagum dan tak terasa airmataku mengalir.
“ayo kita pulang” ajakku kepada Gilang, tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada Kak Raditya itu.
***
                Sesampainya di rumah aku dan adikku disambut oleh ibuku. Ibuku langsung memeluk adikku dan menyuruhnya untuk ganti baju.
                “kalian darimana sayang?” Tanya ibuku
“maaf ibu, tadi kehujanan, tapi Alhamdulillah Bu ada orang yang memberikan payung ini” aku menyodorkan payung abu-abu itu kepada ibuku.
“oh, kamu tidak lupa berterima kasihkan kepada orang itu?”
“iya ibu. Oh iya bu gimana keadaan ayah?”
“Sudah agak baikan nak. Jagain ayahmu gih, ibu mau masak dulu.” Ibuku mengecup lembut rambutku dan meninggalkanku.
Aku berjalan menuju kamar ayahku, ayahku beberapa hari ini memang suka sakit-sakitan, mungkin karena sekarang musim penghujan. Ayahku ternyata sudah tidur, kupandangi wajah ayahku, terlihat sangat letih dan kulihat lingkaran hitam kecil di sekitar matanya. Tak terasa airmatakupun menetes, namun buru-buru kusapu karena Gilang datang ke kamar ayahku.
“kakak….” Tak berani diteruskannya kalimat itu karena melihat ayah sedang tertidur pulas. “Gilang sudah selesai ganti baju, kakak ganti baju aja dulu biar Gilang yang jagain ayah” kata Gilang dengan setengah berbisik.
Aku hanya tersenyum dan meninggalkan mereka untuk mengganti bajuku yang basah karena kecipratan air hujan.
Malam ini aku pasti tidur sangat kedinginan karena rumah kami bocor apabila hujan turun sangat lebat. Bagaimana kalau sampai ayah kedinginan? Bagaimana kalau sakit ayah tambah parah? Aku bergidik tak berani meneruskan khayalanku sendiri. Kutenangkan diriku sendiri.
***
                Aku kembali membereskan daganganku dan menunggu adikku pulang ke rumah, 1 jam sudah berlalu dan magrib pun telah tiba namun adikku masih belum muncul. Tak lama kemudian adikku datang menemuiku sambil menangis, ada apa gerangan?
                “Gilaang..kamu kenapa?” tanyaku cemas.
“gilang tadi hampir ditangkap petugas kamtib kak L” adikku menjelaskannya sambil terisak. Aku berusaha menenangkan adikku dan mengajaknya pulang.
Lagi..lagi..hujan.. untung aku membawa payung abu-abu pemberian kak Raditya itu. Aku dan adikku berlari-lari kecil menuju rumahku.  Namun langkah kami terhenti begitu melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah kami.
Siapa orang penting yang datang ke gubuk reyot kami? Batinku. Adikku juga tak kalah kaget, dengan segera dia mendekati mobil itu dan menyentuhnya, namun aku mengisyaratkan kepadanya untuk segera masuk.
Meskipun kesal toh adikku tetap masuk juga, di dalam rumah ada sebuah suara yang membuat bulu kudukku merinding, sebuah suara yang begitu menyedihkan. Aku langsung mencari asal suara itu, aku berjalan ke kamar ayahku, terhempaslah semua barang daganganku. Jantungku berdetak sangat kencang, kulihat ibuku menangis keras mengguncang-guncang tubuh ayahku yang terbujur kaku tak berdaya.
“ayah kenapa bu?” tanyaku sesenggukan
“ayaahhmuuu, nakk.. ayahmuu sudah tidak adaaa……”
Spontan saja aku dan Gilang yang daritadi mengikutiku di belakang menghambur kepelukan ibuku. Gilang langsung mendekati jasad ayahku “ayaahh jangan pergi yaahhh..” dia mengguncang-guncang tubuh ayahku.
Aku tidak mengerti, kenapa ayahku tak dibawa kerumah sakit? Kenapa ibuku meringis kesakitan saat aku memeluknya? Aku masih belum mengerti. Mungkin adik dalam kandungan ibuku turut berduka karena ayah yang belum sempat dikenalnya sudah tiada. Aku baru sadar kalau ada orang lain di sini. Seorang pemuda yang terlihat salah tingkah melihat keberadaanku yang kemudian menggeser tempat duduknya dengan kepala yang terus-menerus menunduk. Siapa gerangan pemuda ini? Aku seperti mengenalnya.
Betapa terperanjatnya aku sewaktu tahu pemuda ini adalah kak Raditya! Apa yang dia lakukan di gubuk reyot kami? Ibuku melepaskan pelukanku dan berbicara dengan kak Raditya, meminta kak Raditya untuk menemuinya di luar dan menyuruhku untuk menjaga jasad ayahku.
Aku hanya bisa menangis, kak Raditya memandangku dan memelukku. “maafkan kakak ya Agil.. kakak tidak bermaksud…” dia sengaja tidak meneruskan ucapannya. Beberapa kali ia mencoba menghembuskan nafasnya.
“apa kak?” tanyaku bingung
“kakak tidak bermaksud.. untuk membuat ayahmuu seperti ini….”
Spontan saja aku terperanjat dan melepaskan pelukannya, “KAKAK PEMBUNUUHHH!!!” aku langsung mendorong dan mengusirnya.
“maafkan kakak Gil, kakak tidak bermaksud untuk melakukannya..itu kecelakaan..” dia berlutut di hadapanku.
“KELUAR DARI KAMAR AYAHKU!!” aku mengusirnya. Apa yang telah aku lakukan? Seandainya saja ayah masih hidup pasti dia akan memarahiku habis-habisan. Kak Raditya pun keluar dari kamarku.
***
Sebulan sejak kematian ayah beban hidup kami jadi makin berat, ibuku menjadi pembantu rumah tangga. Malam ini majikan ibu tidak ada di rumahnya, aku berniat untuk membantu ibuku menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan menyuruh Gilang untuk menjaga rumah, aku tak tega membiarkan ibuku bekerja sendirian apalagi sekarang usia kehamilan ibu sudah menginjak bulan ke tujuh.
Aku berjalan menemui ibuku, aku mengetuk rumah majikan ibu dengan perlahan, ibu yang membukakan pintu untukku.
“mau apa kamu kesini Agil?” Tanya ibuku
“agil hanya ingin membantu ibu.” Jawabku.
“tapii…” belum sempat ibuku menyelesaikan kalimatnya aku langsung menjawab, “gak apa-apa bu. Sini agil bantuin.”
Rumah majikan ibu ternyata sangat besar, mana kuat ibuku membersihkannya sendiri. Aku mulai mengelap seluruh lantai rumah ini. Namun betapa terkejutnya aku sewaktu ingin mengganti air kotor, ibuku terjatuh pingsan di dapur.
Aku langsung panik dan meminta bantuan dari luar, kebetulan Mang Ujang seorang tukang becak lewat, beliau membantuku membawa ibuku ke rumah Bi Inah teman ibuku yang seorang dukun beranak, aku takut terjadi apa-apa dengan ibuku. Sementara Mang Ujang mengantarkan ibuku. Aku mencari kunci rumah majikan ibuku dan langsung mengunci rumah majikan ibu, kemudian aku menitipkannya pada tetangga.
Betapa lelahnya tubuh ini namun aku tetap berlari menyusul ibuku ke rumah Bi inah. Ibuku masih pingsan, aku sangat khawatir. Entah siapa yang telah memanggil Gilang sehingga dia sudah lebih dulu sampai di rumah Bi inah.
Kondisi ibu sudah sangat parah, kata Bi inah ibu mengalami keguguran dan harus segera di bawa ke rumah sakit, tapi aku tidak mempunyai uang, siapa orang yang harus kumintai tolong? Dimana aku harus meminjam uang? Arrrggghh…
Belum sempat aku meminta pertolongan ternyata ibu sudah menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya.
Oh Tuhan., cobaan apalagi yang Kau berikan untukku? Aku sudah cukup menderita Ya Tuhan.
***
                6 tahun kemudian…
                Inilah aku seorang anak yatim-piatu yang mulai beranjak dewasa, umurku sudah 16 tahun, adikku sudah mulai menginjak remaja. Aku bisa menghidupi adikku sendiri dengan cara menjadi tukang cuci. Walau terkadang aku harus menahan perih di perutku hanya untuk melihat adikku supaya bisa makan.
                Meskipun aku dan adikku tidak sekolah tapi kami rutin mengikuti pelajaran di SMP dan SMA di desa kami. Toh tak ada yang bisa menghalangi kami untuk bisa pintar meskipun kami hanya orang miskin.
Pagi ini aku kembali mengambil cucian kotor milik tetangga untuk kucuci di sungai, sementara adikku sekarang menjadi tukang semir sepatu. Aku berjalan menuju sungai, namun aku merasa seseorang mengikutiku, namun tak kuhiraukan, untuk apa seseorang mengincar anak yatim-piatu miskin sepertiku?
Sesampainya di sungai aku mulai mencuci, gemericik air sungai yang menyejukkan hatiku membuatku lupa akan segalanya, aku begitu menikmati pekerjaanku sampai-sampai aku tak sadar ada seseorang mendekatiku sampai di sungai. Dia menyentuh pundakku dan membuatku berteriak kaget. Tapi tunggu dulu, sepertinya aku mengenalinya. Aku mencoba mengingatnya.
“kak Raditya?” tanyaku ragu-ragu.
“ternyata kau masih mengingatku Gil. Tak kusangka sekarang kau sudah sebesar ini.” Kak Raditya tersenyum kepadaku.
“untuk apa kak ke sini? Belum puaskah kakak membuatku menderita? Sekarang aku dan Gilang menjadi anak yatim-piatu kak!!” tak terasa mataku mulai berkaca-kaca.
“kakak benar-benar minta ma’af Agil, ada apa dengan ibumu?”
“kak tak perlu tau apa yang terjadi dengan keluargaku, aku sudah cukup menderita. Apa hanya dengan minta maaf bisa mngembalikan semuanya? Tidak kak!!” tak kusangka aku meneriaki orang ini.
“tapi kakak benar-benar menyesal Gil, sekaranglah saatnya kakak membantu kamu dan Gilang. Kakak sudah janji sama almarhumah ibu kamu untuk menyekolahkanmu dan Gilang sampai sukses seperti Kakak. Tapi waktu kakak kembali ke rumah kalian. Kalian sudah tidak ada. Beberapa tahun kakak mencari kalian namun tak kunjung ketemu juga, hingga akhirnya kakak bisa…”
“cukupp kak” aku memotong pembicaraan kak Raditya “aku tidak akan sudi menerima bantuan dari kakak” hatiku masih sakit kak semenjak kematian ayah, aku dan keluargaku sangat menderita.
Namun kak Raditya terrus menerus membujukku, dia tak pernah absen menemuiku dan Gilang hanya untuk sekedar membawakan makanan, memang sekarang aku dan adikku tak tinggal di gubuk kami lagi karena kami tak punya cukup uang untuk membayar sewanya. Akhirnya kami sekarang hidup di kolong jembatan beserta pemulung dan orang tak mampu lainnya. Gilang pun sudah membujukku berkali-kali untuk menerima bantuan dari kak Raditya namun aku masih bersikeras untuk menolaknya hingga suatu saat Gilang membuatku saadar akan semuanya.
“tolonglah kak, terima saja bantuan dari kak Raditya, toh kakak kan juga dulu bercita-cita jadi orang sukses, Gilang juga pengen sekolah kak, buat apa kakak terus menerus mengingat kesalahan kak Raditya? Toh itu juga murni kecelakaan kak, bukan maksud kak Raditya untuk membunuh ayah. Tolonglah kak jangan egois seperti ini.. jangan buat ibu ayah dan adik kita di surga kecewa kak, tolong fikirkan ini” ucapan Gilang kali ini benar-benar membuatku sadar akan keegoisanku selama ini. Akhirnya kuputuskan untuk menerima bantuan dari kakak raditya. aku dan adikku disekolahkan di sekolah swasta berasrama dengan biaya yang cukup mahal. Diam-diam aku sangat bersyukur atas bantuan kak Raditya kepada kami.
***


                10 tahun sudah berlalu, aku dan adikku sekarang sudah menjadi orang sukses, kami bekerja di salah satu perusahaan Kak Raditya yang ternyata benar-benar orang kaya namun baik hati, tak pelit dan sombong, buktinya dia rela membantu orang miskin dan dekil sepertiku dan Gilang. Kulirik sebuah payung lusuh berwarna abu-abu yang kupajang di kantorku.
                Payung yang senantiasa menemaniku dan Gilang dalam panasnya terik matahari dan tetes air hujan. Payung yang mempertemukanku dengan kak Gilang. Payung abu-abu bertuliskan “Super Junior” yang sekarang aku tahu maknanya. Kak Raditya memang membuatku dan Gilang menjadi Junior yang hebat, yang pasti sekarang bisa membuat orangtua dan adik kecilku tersenyum di surga J


TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar